Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 22

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 22

Setelah menempuh perjalanan air dan melihat kepandaian Sik Tiong Giok yang begitu hebat, diam-diam Pui Cu Yu membatin, "Jangan-jangan Thian menurunkan jagoan ini untuk menyelamatkan dunia persilatan dari bencana?" Berbeda dengan Pui Khi Im yang sudah pernah menyaksikan kebolehan Sik Tiong Giok saat memukul mundur musuh, kini ia melihat pula kemampuan pemuda itu dalam mengemudikan sampan. Ditambah lagi wajah pemuda itu yang tampan, entah mengapa muncul perasaan aneh di hati kecilnya hingga ia mengamati wajah pemuda itu dengan termangu.

"Sret..." Sampan kecil itu menembus tumbuhan ilalang tebal setinggi dua kaki. Di depan sana muncul jalan air yang sempit dan memanjang. Menyaksikan hal itu, Pui Khi Im berseru tertahan.

"Ah, sungguh sangat rahasia letak tempat ini!" Sik Tiong Giok tertawa.

"Bukan sekadar rahasia, letaknya bahkan sangat berbahaya. Di bawah jalan air ini terpasang dua belas buah Jaring Penggusur Naga. Perahu yang lebih kuat pun akan pecah dan penumpangnya tewas jika sampai tertumbuk!"

"Wah, kau memang sangat luar biasa!" puji Pui Khi Im sambil menghela napas. "Hanya seorang diri ternyata sanggup membuat persiapan yang begitu sempurna."

"Kau tak usah memujiku," Sik Tiong Giok tertawa. "Tempat ini terbentuk secara alami, sedangkan peralatan yang berada dalam air adalah peralatan yang dipasang pihak perkumpulan Oh Juan Pang setelah mereka mengalihkan markas besarnya ke sini."

"Tapi kau berhasil menguasai mereka?"

"Ah, siapa bilang? Justru karena kasih sayang dari merekalah..." Sambil berkata, pemuda itu melanjutkan dayungannya menelusuri jalan air, seakan-akan ia tidak menaruh perhatian serius terhadap jebakan di bawahnya.

Di sepanjang jalan, perahu kecil itu berbelok ke kiri dan ke kanan melewati banyak tikungan. Hal ini membuat Nona Pui bingung dan tidak bisa membedakan lagi arah mata angin. Pui Cu Yu yang mengamati keadaan tersebut membatin bahwa Selat Say Leng Sia benar-benar merupakan tempat yang sangat berbahaya. Orang yang berdiam di tempat serahasia ini sudah pasti bukan orang sembarangan. Orang awam yang memasuki daerah ini mungkin akan berputar-putar selama sepuluh hari tanpa bisa menemukan tujuannya. Sementara ia masih termenung, tiba-tiba perahu itu bergetar keras kemudian berhenti bergerak.

Pui Khi Im mencoba memperhatikan keadaan di sekitar, namun sejauh mata memandang hanya ada tumbuhan ilalang yang lebat tanpa jalan tembus. Ia mengira Sik Tiong Giok kurang hati-hati karena terus berbincang hingga membuat perahu itu kandas. Namun, sebelum kata-kata hiburan diucapkan, Sik Tiong Giok sudah melompat naik ke daratan.

"Pui Locianpwe, Nona Pui, kalian boleh naik ke daratan. Di depan sana terletak Lembah Im Tun Kok!" Pui Cu Yu mengiyakan dan segera naik ke daratan diikuti Pui Khi Im serta keempat muridnya.

Mereka berjalan sejauh setengah li di antara tumbuhan ilalang setinggi dada sebelum pemandangan di depan sana menjadi lebih terbuka. Kemudian muncul beberapa batang pohon siong yang menjulang tinggi serta sebuah jalan batu yang rapi dan sangat bersih. Sekeliling tempat itu dipenuhi aneka bunga yang indah, benar-benar sebuah pemandangan yang menawan hati. Menyaksikan hal ini, Pui Cu Yu sampai termangu dibuatnya.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari atas pohon melompat turun seseorang yang segera berseru kepada Sik Tiong Giok sambil menjura, "The Piau, pemimpin kedua belas dari perkumpulan Ngo Oh Juan Pang, menyambut kedatangan Pangeran."

"Terima kasih, Kakak The," Sik Tiong Giok tertawa sambil melambaikan tangan. The Piau kembali memberi hormat, lalu membalikkan badan dan meniup tanduk kerbau keras-keras. "Tut... tut..."

Dari semua pemandangan dan kejadian yang disaksikan, di dalam hati Pui Cu Yu timbul perasaan kagum terhadap pemuda tampan ini. Sekarang ia baru tahu bahwa pemuda ini benar-benar seorang pemimpin dunia persilatan.

Sebagai orang yang masih muda dan berdarah panas, Pui Khi Im bertanya sambil tertawa, "Hei, kau ini sebetulnya pangeran apa? Sungguh tak kusangka kalau engkau masih berdarah bangsawan."

Sik Tiong Giok tertawa getir. "Pangeran Serigala bukan keturunan bangsawan. Aku tidak lebih dari seorang pemimpin gerombolan saja."

Pui Khi Im segera tertawa cekikikan. "Wah, kalau bicara seenaknya saja. Berani sekali kau menyebut diri sebagai raja gerombolan. Siapa yang telah mengangkatmu? Tahukah kau bahwa pemimpin gerombolan berarti seorang Bun Un Lim Bengcu?"

Belum habis ia berkata, Pui Cu Yu membentak tiba-tiba, "Khi Im, kau tak boleh sembarangan bicara!"

Pui Khi Im langsung cemberut dan berseru, "Ayah, kau ini memang keterlaluan. Masa orang hanya ingin bertanya saja tidak boleh?"

Pui Cu Yu tidak menggubris ocehan putrinya. Sambil tertawa ia berkata kepada Sik Tiong Giok, "Harap Pangeran jangan marah, putriku masih muda dan sudah terbiasa kumanja."

Sik Tiong Giok tertawa terbahak-bahak. "Hahaha... Pui Locianpwe, mengapa Anda malah turut menyanjungku? Aku, Sik Tiong Giok, tidak pantas menjadi pangeran apa pun. Apa yang terlihat hanya sandiwara belaka."

Baru saja ia selesai bicara, mendadak terdengar seseorang berkata dengan suara lantang, "Kehidupan manusia di dunia ini pada dasarnya memang merupakan sandiwara. Namun, bila peranan dalam sandiwara itu tidak menonjol, percumalah hidup di dunia ini."

Dengan perasaan terkejut, Sik Tiong Giok segera mendongakkan kepalanya. Ternyata orang yang baru muncul adalah ketua Ngo Oh Juan Pang, si Tangan Sakti Penggulung Awan, Bun Cu Khi.

"Oh, rupanya Paman Bun!" serunya gembira.

"Ya, aku memang sengaja datang untuk menyambut kedatangan Pangeran!" kata Bun Cu Khi sambil memberi hormat.

"Ah, pangeran lagi, pangeran lagi. Sungguh menjemukan hatiku!" Sik Tiong Giok menghentakkan kakinya berulang kali. "Aku hanya seorang manusia biasa, mengapa harus dipanggil pangeran terus-menerus?"

Bun Cu Khi tertawa. "Kini kita harus menghadapi Rasul Serigala Langit dengan perkumpulan Siu Lo Pang miliknya. Bila kita tidak memiliki sebutan yang jelas, bagaimana mungkin bisa mengumpulkan umat persilatan agar berpihak kepada kita? Kau adalah ahli waris dari Partai Serigala, sedangkan Cu Bu Ki hanyalah orang yang mencatut nama perguruanmu. Bila kita tidak menjelaskan, bagaimana mungkin umat persilatan bisa membedakan mana Partai Serigala yang benar dan mana yang palsu? Bagaimana mungkin kita bisa menumpas manusia bermarga Cu tersebut? Bukankah dengan begitu kau bakal menyia-nyiakan harapan Sik Tua?"

Belum habis ia berkata, Sik Tiong Giok memotong, "Sudah, sudahlah, Paman Bun yang baik, aku menerima saranmu. Cukup, bukan?"

Bun Cu Khi tersenyum, lalu ia memberi hormat kepada Pui Cu Yu. Karena mereka merupakan kenalan lama, setelah berbincang sejenak mereka masuk ke dalam lembah bersama-sama. Sambil berjalan mereka terus berbincang hingga melupakan keadaan sekitar.

Keadaan di dalam Lembah Im Tun Kok sudah jauh berbeda dibandingkan setahun yang lalu. Jika sebelumnya hanya berdiri tiga buah gubuk tua, kini bangunan gedung sudah berdiri di mana-mana. Sekitar dua atau tiga ratus anggota Ngo Oh Juan Pang telah pindah ke sana. Penjagaan sangat ketat dan disiplin dijunjung tinggi dalam suasana yang serius. Di tempat gubuk reyot semula berdiri, kini telah berubah menjadi bangunan megah yang merupakan pusat komando Partai Serigala Langit.

Bun Cu Khi langsung mengajak Pui Cu Yu naik ke loteng untuk menolong si Pertapa Nelayan Bertangan Baja, Siau Kun. Sik Tiong Giok yang tertahan oleh Pui Khi Im diajak berbincang tanpa henti. Kebetulan Ki Beng dan Ki Soat Ji juga muncul, namun sikap mereka terhadap Sik Tiong Giok berubah menjadi sangat hormat, tidak seperti Pui Khi Im yang masih bisa bergaul dengan santai dan wajar.

Melihat sikap mereka, Sik Tiong Giok melototkan matanya dan menegur, "Kakak Ki, sejak kapan kau belajar banyak gaya? Mengapa kau bersikap demikian kepadaku?"

"Di hadapan Pangeran, Ki Beng tidak berani bersikap kurang ajar," ujar Ki Beng sambil membungkukkan badan memberi hormat.

Sekali lagi Sik Tiong Giok menghentakkan kakinya ke tanah. "Wah, tampaknya kalian semua benar-benar sudah salah didik oleh Paman Bun!"

"Di pundak Pangeranlah hidup dan mati dunia persilatan bergantung. Sekalipun Ketua Bun tidak memberi petunjuk, kami berdua juga tidak berani bersikap kurang ajar."

"Cukup! Aku tidak mau mendengarkan perkataan seperti itu lagi!" Dengan perasaan dongkol, Sik Tiong Giok menutupi telinganya rapat-rapat.

Ia segera membalikkan badan dan berjalan pergi, tetapi baru beberapa langkah ia berpaling lagi dan berkata kepada Pui Khi Im, "Nona Pui, kau tidak boleh meniru cara mereka!"

Siapa sangka, sebelum perkataan itu selesai, Pui Khi Im justru menjura dalam-dalam seraya berkata, "Baik, Pangeran. Pui Khi Im tidak berani bersikap kurang ajar."

Sik Tiong Giok pun dibuat semakin dongkol. Tanpa berbicara lagi, ia segera membalikkan badan dan beranjak masuk ke dalam gedung.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment