Chapter 23
Ki Beng tertawa. "Nona Pui, kau tidak salah. Hanya saja pangeran kecil kami belum terbiasa dengan sebutan itu. Meski sekarang mendongkol, sebentar lagi dia akan tersenyum kembali."
"Lantas, mengapa dia jadi marah?"
"Pangeran adalah orang yang berjiwa terbuka, polos, dan jujur. Ia paling benci dengan segala macam sebutan yang muluk-muluk."
"Kalau dia tidak suka, mengapa kalian harus bersikap demikian?" tanya Pui Khi Im semakin heran.
"Sebab untuk menghadapi Rasul Serigala Langit, biarpun kita cuma jago silat kasaran, tata krama tidak boleh ditinggalkan!"
Biarpun sejak kecil Pui Khi Im sudah terbiasa dimanja, ia cukup banyak belajar sastra dan tata krama. Setelah termenung sebentar, pelan-pelan ia berujar, "Ya, aku tahu sekarang. Untuk melenyapkan binatang iblis tersebut dari dunia persilatan, kita wajib bersatu padu. Jika ingin bersatu, kita harus mempunyai seorang pemimpin. Apakah kita hendak menunjangnya menjadi pemimpin kita?"
"Benar..." Ki Beng tertawa. "Kita harus mendukungnya menjadi Pangeran Serigala Langit."
Pui Khi Im pun tertawa, diikuti oleh Ki Beng bersaudara.
Sementara itu, Sik Tiong Giok yang baru saja naik ke loteng tiba-tiba mendengar Bun Su Khi berkata sambil menghela napas panjang, "Kasihan putriku yang bernasib malang itu. Entah dia masih hidup atau sudah mati sekarang."
Mendengar perkataan itu, hati Sik Tiong Giok berdebar keras. Bayangan Nona Bun segera melintas di benaknya. Diam-diam ia berpikir, "Orang lain bersedia menurunkan derajat sendiri dengan menjadi pengikutku, berjuang dan memeras keringat serta pikiran demi kepentinganku. Mengapa aku tidak berusaha pula untuk menolong putri orang yang telah hilang itu?" Dasar jiwa pemuda, apa yang dipikirkan segera dilakukan. Ia pun melangkah naik ke atas loteng.
Ketika si Tangan Sakti Penggosok Awan, Bun Su Khi, mendengar suara langkah kaki, ia segera tahu bahwa Sik Tiong Giok yang datang. Sebab tanpa perintah, mustahil orang lain akan naik ke loteng tanpa permisi.
Tiba di dalam ruangan, Sik Tiong Giok tertegun karena heran. Ternyata si Pertapa Nelayan Bertangan Besi, Siau Kun, telah sembuh. Ia bahkan ikut serta dalam pembicaraan tersebut.
Setelah tertegun, Sik Tiong Giok buru-buru bertanya, "Siau Locianpwe, kau... kau telah sembuh kembali?"
Siau Kun tertawa terbahak-bahak. "Ha, ha, ha! Bila tabib nomor satu telah datang menyembuhkan lukaku, siapa bilang lukaku tidak akan segera sembuh?"
"Benarkah pil penawar racun Giok Kim Wan memiliki khasiat yang begitu hebat?" Sik Tiong Giok kaget bercampur heran.
"Bila tidak berkhasiat hebat, bagaimana mungkin dia disebut tabib nomor satu di kolong langit?"
Mendengar ucapan itu, Sik Tiong Giok manggut-manggut berulang kali. Sorot matanya dialihkan ke wajah Bun Su Khi, lalu ia berkata, "Bun Locianpwe, ada suatu persoalan yang ingin aku rundingkan denganmu."
"Kami pun kebetulan ada urusan yang hendak dirundingkan denganmu," sambut Bun Su Khi sambil tertawa.
"Ada urusan apa mencari aku?" tanya Sik Tiong Giok terkejut.
"Betul, apakah kau bersedia atau tidak?" tanya Siau Kun kemudian.
"Kau belum menjelaskan kepadaku persoalan apa yang dimaksud, bagaimana mungkin aku bisa menyetujuinya?"
"Asal kau bersedia menyetujuinya, kami pasti akan memberitahukannya kepadamu," ucap Bun Su Khi.
Hoa Tho Bertangan Racun, Pui Cu Yu, segera menimpali, "Demi kejayaan dunia persilatan, demi menyelamatkan umat dari segala bencana, Pangeran! Hanya kau yang sanggup memikul beban berat tersebut saat ini. Sanggupilah permintaan kami ini!"
"Aku belum mengetahui apa yang sedang kalian rundingkan, bagaimana mungkin aku bisa menyanggupinya?"
Siau Kun tertawa. "Pokoknya persoalan ini tidak akan mendatangkan kerugian bagi dirimu. Sebaliknya, justru sangat bermanfaat bagi umat persilatan. Sanggupilah dulu permintaan kami ini, apa susahnya?"
Sik Tiong Giok termenung sambil berpikir sebentar. Akhirnya ia berkata dengan gagah, "Baik, aku bersedia mengabulkan permintaanmu. Asal bermanfaat bagi umat persilatan di dunia ini, aku, Sik Tiong Giok, bersedia mengorbankan nyawaku."
Siau Kun segera tertawa. "Sungguh tidak disangka kau mempunyai jalan pemikiran hingga mencapai taraf setinggi itu. Seandainya kau mati, kami semua pun tidak akan punya muka untuk hidup terus di dunia ini. Kekacauan sudah mulai melanda dunia persilatan. Badai berdarah telah mencuci dunia ini. Untuk menghapuskan bencana besar yang sedang mengancam, kita putuskan untuk membangun kembali Partai Serigala Langit. Kita harus bekerja sama dengan berbagai partai untuk bersatu padu menghadapi Rasul Serigala Langit tersebut!"
Semangat Sik Tiong Giok berkobar mendengar ucapan itu. Ia berseru sambil bertepuk tangan, "Bagus sekali! Kalau persoalan macam ini, tentu saja aku akan menyanggupinya!"
"Sebenarnya yang kami mohon persetujuanmu bukan masalah ini, melainkan masalah lain."
"Masalah apakah itu?" tanya Sik Tiong Giok heran.
"Kami berharap kau sudi menjadi Pangeran Serigala Langit," pinta Bun Su Khi dengan hormat.
Belum lagi ucapan tersebut selesai diutarakan, Sik Tiong Giok sudah melompat-lompat sambil berteriak, "Wah, kalau soal itu aku tidak sudi melakukannya! Apalagi aku masih muda!"
Siau Kun segera mengerling sekejap ke arah Pui Cu Yu dan Bun Su Khi. Kemudian mereka bertiga bersama-sama menjatuhkan diri dan berlutut di tanah. Sambil menyembah, mereka berkata, "Pangeran tidak usah menampik lagi. Kami semua bersedia mendampingimu serta menaati perintahmu!"
Sik Tiong Giok menggoyangkan tangannya berulang kali mencoba menolak lagi, tetapi Siau Kun mendahuluinya, "Apakah Pangeran hendak menjilat kembali kata-katanya sendiri?"
Sik Tiong Giok pun mati kutu. Terpaksa ia menganggukkan kepala dengan perasaan berat. Ujarnya, "Baiklah, aku bersedia mengabulkan permintaanmu, cuma aku pun ada satu permintaan yang mesti kalian setujui."
Mendengar kata-kata tersebut, ketiga orang itu saling bertukar pandangan lagi. Kemudian mereka berkata bersama-sama, "Kami bersedia menerima perintah. Masalah apakah itu?"
Sekelumit senyuman menghiasi ujung bibir Sik Tiong Giok. Ia berkata kemudian, "Harap kalian bangkit lebih dulu, kalau tidak, aku tidak akan berbicara."
Sekali lagi ketiga orang itu menyembah, kemudian baru bangkit bersama-sama. Enam pasang mata dialihkan ke wajah Sik Tiong Giok.
"Aku hendak pergi ke Bukit Kiu Nia San," ujar Sik Tiong Giok tiba-tiba.
"Bukit Kiu Nia San?" Siau Kun terperanjat. "Tempat itu kan sarang dari Rasul Serigala Langit?"
"Justru karena tempat itu merupakan sarang penjahat, aku merasa wajib untuk mengunjunginya."
Cepat-cepat Bun Su Khi menggoyangkan tangannya berulang kali. "Tidak! Tidak boleh! Sekarang kau adalah pimpinan dari suatu partai besar, tidak boleh menyerempet bahaya begitu saja!"
"Baiklah," kata Sik Tiong Giok sambil merajuk, "bila kalian tidak setuju, aku pun tidak bersedia menjadi pangeran atau apa pun. Pokoknya aku tetap akan mengunjungi Bukit Kiu Nia San!"
Desakan ini tentu saja menyulitkan Bun Su Khi. Tanpa terasa ia berpaling dan memandang ke arah Siau Kun. Siau Kun sendiri berlagak seolah tidak melihat, malah berkata kepada Sik Tiong Giok sambil tertawa, "Siapa bilang kami tidak menyetujuinya? Cuma, karena kita baru mendirikan partai, sedikit banyak harus diselenggarakan upacara agar segenap umat persilatan mengetahui peristiwa tersebut. Kalau tidak, siapa yang bakal tahu tentang Partai Thian Long Pay kita?"
"Maksudmu kau hendak menyebarkan surat undangan Bu Lim Hiap untuk menyelenggarakan Enghiong Hwee? Itu tidak perlu!"
"Lantas, bagaimana menurut Pangeran?"
"Kita cukup menyebarkan surat pemberitahuan Bu Lim Hiap yang mengabarkan kepada segenap umat persilatan bahwa kita telah muncul dan berdiri. Mengapa harus repot-repot menyelenggarakan hal ini? Aku tidak sudi mengurusi persoalan macam itu," kata Sik Tiong Giok dingin. "Semuanya ini merupakan ide kalian sendiri, jadi lebih baik diselesaikan oleh kalian sendiri saja."
Selesai berkata, ia lantas membalikkan badan dan menuruni loteng bambu itu.