Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 24

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 24

Bun Su Ki tertegun sejenak, lalu berkata kepada Siau Kun, "Saudara Siau, mengapa kau malah menyetujui Pangeran pergi menyerempet bahaya?"

Siau Kun tertawa. "Tidakkah kau lihat keteguhan hatinya? Kau pikir kita dapat menghalangi niatnya?"

"Tetapi kita tidak bisa membiarkan Pangeran pergi menjemput bahaya begitu saja."

"Walaupun begitu, tahukah kau jika kita mendesaknya berlebihan, dia bisa kabur secara diam-diam..."

Belum selesai perkataan itu diutarakan, tiba-tiba dari bawah loteng terdengar seseorang berseru keras, "Lapor Pangcu, Pangeran telah pergi seorang diri dengan menumpang perahu!"

Mendengar laporan tersebut, Bun Su Ki segera mengentakkan kakinya berulang kali hingga lantai loteng bambu itu berbunyi gemeretak nyaring. Sementara itu, Siau Kun bertepuk tangan sambil berseru, "Nah, apa kataku tadi? Dia sudah pergi, bukan?"

Hanya si "Tabib Tangan Racun" Pui Cu Yu yang tersenyum tenang sambil mengelus janggutnya. "Aku dapat merasakan watak keras kepala Pangeran. Begitu dia mengatakan akan berangkat, aku yakin tidak ada orang yang bisa mengajaknya kembali."

Untuk sesaat Bun Su Ki kehilangan akal. Dia buru-buru bertanya, "Kakak Tua, apakah kau mempunyai usul yang baik?"

"Hanya ada satu cara bagi kita sekarang, yakni kita harus menguntitnya secara diam-diam sambil memberikan bantuan bilamana perlu..."

"Tapi... bila kita berbuat demikian, berarti rencana yang telah kita rundingkan tadi menjadi sulit diwujudkan."

"Itu tidak masalah. Kita laksanakan saja sesuai rencana, hanya saja kau harus sedikit lebih repot. Aku dan Siau Lote akan menguntit Pangeran, sedangkan kau bertindak menurut rencana..."

Bun Su Ki mengerutkan dahi. Setelah berpikir sebentar, perlahan dia berkata, "Ya, terpaksa kita memang harus berbuat begini!"

Ketika matahari menjelang tenggelam di ufuk barat, di mulut Selat Say Leng Sia muncul sebuah perahu kecil. Pendayungnya adalah seorang sastrawan muda yang tidak lain adalah Pangeran Serigala Langit, Sik Tiong Giok.

Setelah keluar dari selat, perahu itu melaju ke timur mengikuti arus. Sekitar satu jam kemudian, dari mulut selat muncul lagi sebuah perahu yang ditumpangi oleh dua orang kakek. Perahu itu pun melaju ke arah timur. Penumpangnya adalah Pui Cu Yu sang "Tabib Tangan Racun" dan Siau Kun sang "Pertapa Nelayan Bertangan Baja".

Saat itu Sik Tiong Giok bergegas ingin menolong rekannya, maka siang dan malam ia menempuh perjalanan menuju Bukit Kiu Nia San. Bukit Kiu Nia San terletak di sebelah utara dan berjajar dengan Bukit Pu Cho San. Meskipun bukitnya tidak terlalu tinggi, tempat itu penuh dengan jurang yang berbahaya.

Setelah menempuh perjalanan semalam suntuk, Sik Tiong Giok naik ke darat di Kota Thian Keh Tih, kemudian melanjutkan perjalanan darat menuju timur. Senja itu dia sudah sampai di Cing Ko Tin. Dari sini, jarak perjalanan sampai ke kaki bukit tinggal tiga puluh li lagi.

Setelah menempuh perjalanan siang dan malam tanpa henti, pemuda itu mulai keletihan. Karena tidak mengenali lokasi tersebut, dia tidak berani meneruskan perjalanan secara gegabah. Akhirnya, dia memutuskan untuk mencari penginapan di dusun tersebut. Selain itu, dia pun khawatir jejaknya diketahui musuh, sehingga dia sengaja memilih penginapan kecil yang terpencil agar bisa beristirahat sebaik-baiknya. Dengan demikian, esok pagi dia akan mendapatkan semangat dan tenaga baru untuk melanjutkan perjalanan menuju Bukit Kiu Nia San.

Penginapan itu tidak terlalu besar, hanya terdiri dari tujuh atau delapan kamar. Di depannya terdapat ruang besar berbentuk segitiga. Di hadapan ruang utama terdapat tiga atau empat kamar, dan bagian belakang ruangan merupakan tanah liar yang penuh semak belukar.

"Aku rasa tempat semacam ini merupakan tempat istirahat yang paling serasi," pikirnya dalam hati.

Belum sempat pikiran itu berlalu, dari depan pintu penginapan muncul tiga orang. Mereka memeriksa kamar secara terburu-buru, lalu mengunci diri di dalam. Menyusul kemudian dua orang lagi yang meminta sebuah kamar. Gerak-gerik mereka pun sangat mencurigakan. Bedanya dengan rombongan pertama, kedua orang ini mulai berteriak dan menyanyi keras begitu masuk ke kamar. Sebentar berteriak minta air, sebentar berteriak minta teh; intinya mereka terus gaduh tanpa henti.

Tiba-tiba dari pintu depan terdengar seseorang bersenandung dengan suara keras, "Jangan murung di siang hari, musim semi takkan kembali..."

Menyusul senandung keras itu, masuklah seorang kakek berambut putih yang membawa tongkat. Paras muka kakek ini tidak menunjukkan sesuatu yang luar biasa, kecuali gerak-geriknya yang nampak renta. Justru tongkat di tangannya yang cukup mencolok; benda itu putih mulus dengan panjang mencapai delapan kaki, bahkan memancarkan sinar kemerah-merahan yang amat tipis.

Sik Tiong Giok terheran-heran menyaksikan semua itu. Pikirnya, "Dilihat dari tongkat yang dipegang kakek itu, sudah jelas ia adalah seorang pertapa berkemampuan tinggi."

Belum habis pikiran itu melintas, mendadak dari kamar sebelah terdengar seseorang berseru, "Aku, Ting Losam, sudah malang melintang di utara dan selatan. Berbagai benda pusaka pernah kusaksikan. Jangan-jangan tongkat itu pun termasuk pusaka?"

Seseorang yang lain menyahut, "Asal benda itu pusaka, nilainya pasti amat tinggi. Tapi aneh, mengapa bisa jatuh ke tangan seorang tua bangka celaka?"

"Sungguh kejadian yang mencurigakan."

Tampaknya Ting Losam tidak dapat mengendalikan rasa ingin tahunya. Dia berkata lagi, "Kalau begitu, biar aku keluar untuk memeriksanya."

"Losam, mengapa kau suka sekali mencari urusan?" cegah rekannya. "Kau harus tahu situasi yang kita hadapi sekarang amat berbahaya, bahkan bisa mengancam nyawa. Sekarang kita harus merahasiakan identitas sebaik-baiknya agar bisa lolos dari bahaya maut. Jika kau bertindak sesuka hati, itu sama saja mencari kematian sendiri!"

Setelah perkataan itu, suasana menjadi hening. Ketiga orang itu tidak berbicara lagi. Sementara itu, langit pun makin gelap. Sik Tiong Giok yang diam-diam mengamati semua peristiwa tersebut menduga bahwa malam nanti akan terjadi sesuatu. Pemuda ini segera memutuskan untuk ikut menyaksikan kejadian tersebut.

Selewat kentungan kedua, Sik Tiong Giok baru saja tertidur lelap ketika dari atap rumah terdengar suara gemeresik yang sangat lirih. Terkejut, ia segera melompat bangun dan menengok keluar jendela. Tampak sesosok bayangan hitam sedang melayang di luar rumah dengan kecepatan tinggi, melakukan perondaan di sekeliling bangunan tersebut.

Sik Tiong Giok berpikir, "Dilihat dari gerakan tubuhnya yang cepat dan ringan, jelas dia adalah seorang ahli bela diri tingkat tinggi. Kemunculannya yang tiba-tiba di tengah kegelapan malam serta gerak-geriknya yang mencurigakan pasti memiliki tujuan tertentu."

Selagi dia termenung, tiba-tiba dari tengah halaman terdengar seseorang berseru lantang, "Ting Kian Hiong! Dengan mengandalkan kemampuanmu yang sedikit itu, berani-beraninya kau berkhianat dengan meninggalkan Bukit Kiu Boan San tanpa pamit! Hmm! Nampaknya kau benar-benar ingin mencari jalan kematian!"

Pintu kamar sebelah terbuka dan muncullah ketiga penghuninya. Orang bernama Ting Kian Hiong itu adalah seorang kakek berusia lima puluh tahunan. Dia segera menjura kepada pria berbaju hitam itu, lalu memohon, "Saudara Chee, dahulu kita adalah sahabat karib. Mengapa kau tidak bersedia memberi jalan bagi kami bersaudara?"

Dari atas atap rumah, mendadak terdengar seseorang mengejek sambil tertawa dingin, "Orang bermarga Ting, tidak usah berlagak minta dikasihani. Melihat keberanianmu meninggalkan Kiu Boan San, sudah jelas kalian tidak memandang Pangcu sebelah mata pun. Apa lagi yang kau takuti?"

Mendengar ucapan itu, Ting Kian Hiong mendongak dan memandang ke arah atap. Dengan cepat dia mengenali orang itu sebagai musuh bebuyutannya, si "Kalajengking Berekor Dua" Ti Wi. Sadar nasib buruk akan menimpanya, kakek itu berseru dengan amarah meluap sambil tertawa dingin, "Orang bermarga Ti, ucapanmu benar! Setelah kami tiga bersaudara berani melarikan diri dari Bukit Kiu Boan San, berarti kami sudah tidak memikirkan soal hidup dan mati lagi!"

"Hmm, sayang sekali kalian sudah tidak punya waktu lagi untuk meloloskan diri!" Kalajengking Berekor Dua Ti Wi mendengus dingin. "Jika tahu diri, lebih baik menyerahkan diri secepatnya. Apakah harus menunggu sampai kami turun tangan?"

Ting Kian Hiong tertawa terbahak-bahak, "Hahaha! Sebenarnya kami berencana kembali ke Kiu Boan San setelah menengok rumah sebentar, bahkan berniat memohon hukuman dari Pangcu. Namun, setelah mendengar perkataanmu, wahai manusia bermarga Ti, bukan saja aku tidak akan minta ampun, jika kami bisa lolos hari ini, semua intrik busuk orang-orang Siu Lo Pang akan kami siarkan di dunia persilatan agar kaum pendekar bisa menumpas kalian semua!"

Tampaknya kesabaran Ti Wi sudah habis. Dia tertawa dingin lalu berteriak, "Heheh! Rekan-rekan sekalian!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment