Chapter 25
"Sudah kalian dengar perkataan dari Ting Kian Hiong itu?" "Sudah!" Jawaban serentak diberikan dari empat penjuru. Menyusul itu, dari atas atap rumah di empat penjuru bermunculan bayangan-bayangan manusia yang semuanya berjumlah lima, enam orang lebih.
Agaknya Ti Wi beranggapan bahwa sahutan rekan-rekannya sudah cukup baginya untuk dijadikan sebagai bukti pengkhianatan ketiga lawannya. Hawa nafsu membunuh mulai menyelimuti seluruh wajahnya. Dengan suara menggelegar ia menghardik, "Nah, Ting Kian Hiong, bila ingin melaporkan intrik ketua kami, lebih baik melaporkan saja secara langsung kepada Giam Ong Loya Cu di akhirat." Bersamaan dengan selesainya perkataan tersebut, dia melayang turun ke bawah dengan kecepatan tinggi dan melancarkan sebuah pukulan yang amat dahsyat. Serta-merta Ting Kian Hiong berkelit ke samping, kemudian serunya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ha-ha-ha... bagus sekali! Kalaupun Saudara sekalian tak sudi mengingat-ingat hubungan persahabatan kita yang lampau, terpaksa kami bersaudara harus mempertaruhkan nyawa untuk menembus kepungan kalian semua!" "Hmm, kau anggap masih bisa lolos dari sini?" Ti Wi mendengus dingin.
Sekali lagi dia menggerakkan tubuhnya sambil melancarkan tubrukan kilat. Gerakan tubuhnya sungguh amat cepat. Baru saja Ting Kian Hiong melompat turun ke tanah, desingan angin tajam telah mengancam datang dari belakang punggungnya.
Pada saat itulah dari samping arena melompat datang Ting Kian Jin. Pedangnya, dengan memainkan jurus Tan Hong Tia Ci atau Burung Hong Merentang Sayap, segera melancarkan sebuah babatan kilat ke arah depan.
Jurus serangan ini merupakan sebuah jurus penolong yang lebih menjurus pada pertarungan mati-matian. Berhubung serangan pedang itu datang amat dahsyat, terpaksa Ti Wi harus melepaskan niatnya untuk mengejar Ting Kian Hiong dengan buru-buru mengelak ke samping kiri.
Sementara itu, Ting Kian Jin hanya memikirkan bagaimana caranya menolong kakaknya dari ancaman bahaya. Dia seolah-olah lupa dengan ancaman bahaya yang tertuju kepada dirinya sendiri.
Saat pedangnya membabat ke depan dan Ti Wi, si Kalajengking Berekor Dua, mengelak ke samping karena kaget, seorang lelaki bergolok menerkam datang secepat kilat.
Ketika cahaya tajam berkelebat lewat, Ting Kian Jin menjerit kesakitan, "Aduh!" Darah segar segera berhamburan di mana-mana. Lengan kanannya yang menggenggam pedang terpotong putus menjadi dua bagian oleh bacokan golok itu sehingga terpental sejauh beberapa kaki dari posisi semula.
Ting Kian Hiong menjadi sakit hati setelah menyaksikan adiknya terluka parah. Sambil meraung keras dia menerkam ke depan. Sebuah cengkeraman kilat langsung diarahkan ke tubuh lelaki bergolok itu.
Pada saat yang bersamaan Ti Wi juga membalikkan tubuhnya sambil melompat ke depan. Ketika kakinya melancarkan sebuah tendangan, sekali lagi Ting Kian Jin menjerit kesakitan. Tubuhnya terpental sejauh lebih dari dua kaki. Ketika mencapai tanah dia mendengus tertahan, lalu jiwanya melayang meninggalkan raganya.
Sekejap kemudian, Ting Kian Hiong juga telah berhasil mencengkeram lelaki bergolok itu. Jeritan kaget segera bergema di angkasa. Lelaki bergolok itu hanya merasakan segenap kekuatan tubuhnya hilang lenyap secara tiba-tiba. Golok yang semula tercekal di tangan pun jatuh ke tanah.
Ti Wi yang menyaksikan peristiwa itu menjadi sangat terkejut. Buru-buru ia berteriak, "Rekan-rekan semua, perketat pengepungan! Jangan kita biarkan para pengkhianat berhasil meloloskan diri!" Pangeran Serigala Langit Sik Tiong yang bersembunyi di dalam kamar segera berkerut kening setelah menyaksikan kejadian itu. Baru saja dia bersiap-siap melompat keluar dari jendela untuk memberi pertolongan, mendadak bahunya telah ditekan seseorang.
Menyusul kemudian seorang dengan suara parau dan tua berbisik, "Jangan mencari penyakit untuk dirimu, Nak!" Dengan perasaan pusing, Sik Tiong Giok berpaling. Ternyata di belakang tubuhnya telah berdiri seorang kakek bertongkat sedang manggut-manggut ke arahnya, sambil tersenyum simpul.
Sebelum dia sempat menanyakan sesuatu, kembali si kakek telah berkata lagi, "Biarkan saja anjing-anjing itu saling menggigit. Toh kedua belah pihak sama-sama bukan manusia baik-baik." "Empek Tua, kau mengenali mereka?" tanya Sik Tiong Giok.
Kakek itu manggut-manggut sambil menuding keluar jendela. Menanti Sik Tiong Giok berpaling kembali, situasi pertarungan di luar halaman telah berubah.
Lo Sam dari keluarga Ting telah terkapar di tanah dalam keadaan tak bernyawa. Sementara itu, Ting Kian Hiong bagaikan orang kalap memutar tubuh musuhnya yang berhasil dibekuk tadi di satu tangan, sementara tangan yang lain menggenggam pedang. Secara garang ia menerjang kian kemari.
Kawanan penyergap tersebut betul-betul bersifat pengecut. Sewaktu melihat datangnya sergapan dari Ting Kian Hiong yang begitu garang, serentak mereka angkat kaki dan menghindarkan diri.
Dalam waktu singkat Ting Kian Hiong telah berhasil mencapai depan pintu. Andaikata ia berhasil melangkah keluar dari pintu gerbang tersebut, maka ibarat burung yang terlepas dari sangkarnya, akan sulitlah bagi mereka untuk membekuknya kembali.
"Blaam!" Mendadak pintu depan ditendang seseorang sehingga terpentang lebar. Kemudian dua orang telah muncul di depan pintu dan menghadang jalan Ting Kian Hiong sambil membentak, "Pengkhianat bernyali besar, kau anggap masih bisa kabur dari sini?" Melihat kehadiran kedua orang itu, Ting Kian Hiong menjadi ketakutan setengah mati sehingga sukma serasa melayang meninggalkan raganya. Dia tahu kesempatan baginya untuk melarikan diri pada malam ini mungkin akan jauh lebih sulit daripada naik ke surga. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Apabila dia meminta ampun, sudah dapat dipastikan dia akan diejek dan dicemooh lawan-lawannya. Sebaliknya, bila ingin bertarung, dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang, sudah jelas tak akan bisa bertahan sebanyak sepuluh gerakan. Meskipun begitu, dia merasa lebih gagah menyerah saja daripada mati secara konyol.
Berpendapat demikian, tiba-tiba saja ia melepaskan pedangnya dan membuangnya ke atas tanah. Kemudian ujarnya, "Memandang wajah emas kedua Congkoan, aku Ting Kian Hiong bersedia menyerahkan diri. Tapi janganlah mencoba untuk menghina. Aku seorang lelaki sejati lebih suka mati daripada dihina. Nah, silakan turun tangan!" Ternyata dua orang yang menghadang di depan pintu gerbang sekarang tak lain adalah Congkoan dan wakilnya dari ruang hukuman perkumpulan Siu Lo Pang, sebuah perkumpulan yang didirikan Rasul Serigala Langit untuk membuat keonaran dalam dunia persilatan.
Kedua orang itu masing-masing adalah Ngo Beng Sin (Dewa Lima Unsur) Can Heng dan Im Cho Lok Poh (Pencatat Hukuman dari Neraka) Ong Pit.
Ketika mendengar perkataan tersebut, Can Heng segera tertawa dingin sambil berkata, "Hmm, tak disangka kalau kau masih tahu diri. Setiap peraturan tentu ada hukumannya. Kau tak usah khawatir, kami tak akan bertindak kurang adil kepadamu. Tak usah bingung..." Sementara berbicara, jari tangannya secepat kilat menotok jalan darah Tay Ih Hiat pada iga kanan Ting Kian Hiong. Lelaki kekar yang garang itu segera merasakan tubuhnya menjadi kaku. Setelah sempoyongan sejenak, akhirnya dia roboh terjungkal ke atas tanah.
Setelah berhasil menaklukkan Ting Kian Hiong, Can Heng baru berpaling ke arah Ti Wi sambil memerintah, "Ikat dia baik-baik dan bawa pulang ke gunung untuk dijatuhi hukuman." Selesai berkata, tiba-tiba dia memberi tanda kepada rekannya, Ong Pit. Kemudian mereka bersama-sama meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal kedua Congkoan itu, Ti Wi mengeluarkan tali otot kerbau yang telah dipersiapkan untuk mengikat tubuh Ting Kian Hiong kencang-kencang. Kemudian dia bersiul memberi tanda dan serentak semua anak buahnya mengundurkan diri dari situ.
Sementara itu, si pemilik rumah penginapan sudah bersembunyi entah ke mana karena ketakutan. Suasana dalam rumah penginapan itu sunyi senyap, tak kedengaran sedikit suara pun.
Sik Tiong Giok merasa darah dalam tubuhnya mendidih keras setelah menyaksikan kejadian itu. Ia berseru gemas, "Betul-betul manusia yang tak tahu hukum! Di tengah kota pun berani melakukan tindak pidana dengan membawa golok! Bedebah! Sungguh bedebah!" "Tempat ini memang termasuk wilayah daerah kekuasaan mereka. Siapa pula yang berani mencampuri urusan mereka? Memangnya sudah pada bosan hidup semua?" sambung si kakek.
Sik Tiong Giok mendengus lagi dengan penuh amarah, "Hmm, kau tidak percaya kalau mereka betul-betul memiliki kemampuan yang begitu hebat? Aku harus melihat apakah mereka betul-betul hebat!" "Bocah, kau memang punya nyali, berani mengikuti aku?" ajak si kakek tiba-tiba sambil tertawa.
"Mengapa tidak? Kalau mau berangkat, ayo kita segera berangkat!" "Baik! Mari ikutilah aku!" Sementara berbicara dia sudah melompat keluar dari jendela. Buru-buru Sik Tiong Giok menyusul di belakangnya.
Dengan gerakan yang cepat berangkatlah kedua orang itu meninggalkan rumah penginapan menuju ke depan.
Tatkala fajar baru menyingsing, mereka sudah tiba di tepi barat Siu Sui. Dari kejauhan tampak tanah bukit berderet-deret.
"Locianpwee!" Sik Tiong Giok segera berpaling sambil bertanya, "Kita hendak ke mana?" "Tempat ini bernama Siu Sui. Setelah melewati sungai termasuk wilayah Kiu Nia San. Lembah To Hui Kok di Bukit Kiu Boan San terletak di balik tanah perbukitan ini. Ke sanalah tujuan perjalanan kita ini!" Tak terlukiskan rasa kaget Sik Tiong Giok setelah mengetahui tujuan kakek itu adalah Lembah To Hui Kok di Bukit Kiu Boan San. Buru-buru dia bertanya, "Locianpwee, jadi kau pun hendak ke To Hui Kok di Bukit Kiu Boan San? Tapi ada urusan apa?" "Ah, seperti juga kau, aku hendak menolong orang!" Kakek itu menghela napas panjang.