Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 27

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 27

Sik Tiong Giok segera merasakan ketegangan yang luar biasa. Cepat-cepat ia menghentikan langkahnya, lalu melesat ke samping untuk menyembunyikan diri di balik sederet batuan cadas.

Ketika ia telah menyembunyikan diri dan mengintip dari balik celah-celah batuan, ternyata sosok si kakek Naga Langit sudah tidak tampak lagi.

Oleh karena itu, Sik Tiong Giok mulai mengawasi keadaan di sekelilingnya. Lebih kurang tiga puluh kaki di hadapannya terbentang tebing curam yang menjulang setinggi langit.

Ketika menengok ke bawah, di sana terdapat sebuah selat sempit. Di dalam selat itu berdiri beberapa gubuk, dan lamat-lamat sinar lentera nampak memancar dari balik gubuk-gubuk tersebut.

Namun anehnya, suasana di sekeliling tempat itu amat hening dan tidak tampak sesosok bayangan manusia pun yang berlalu-lalang.

Malam begitu hening dan sepi. Yang terdengar hanya suara angin yang mengembus daun kering dan menimbulkan suara gemerisik.

Sik Tiong Giok harus menyembunyikan diri di balik batu tanpa berkutik. Hal ini membuatnya semakin lama merasa kian kesepian dan jemu.

Pada saat itulah, tiba-tiba tampak cahaya lentera berkelebat dari balik gubuk di tengah selat, kemudian lamat-lamat terdengar suara bentakan keras.

Tergerak hatinya menyaksikan hal itu, ia segera berpikir, "Jangan-jangan Toa Supek telah menyerbu ke dalam gubuk itu. Aku harus membantunya." Sambil berpikir demikian, sepasang tangannya segera menekan batu cadas itu, ujung kakinya menjejak tanah, dan tubuhnya melejit ke udara dengan gerakan Si Khong Leng Khong (melesat mengambang di angkasa).

Ia kemudian berjumpalitan beberapa kali dengan gerakan burung walet masuk ke sarang. Hanya tampak segulung bayangan semu melintas, dan tahu-tahu ia sudah meluncur ke tengah selat.

Begitu mencapai permukaan tanah, ia lantas menggelinding dan menyembunyikan diri di balik batuan karang.

Tempat itu letaknya jauh lebih tinggi daripada gubuk-gubuk tersebut, sehingga tidak heran jika ia dapat menyaksikan keadaan di dalam ruangan secara jelas.

Agaknya gubuk itu sudah sangat lama tidak dihuni. Selain pintunya ambruk dan jendelanya lepas dari engsel, debu dan sarang laba-laba berada di mana-mana. Terutama dinding di sebelah kiri dekat pintu yang sudah roboh sebagian.

Namun di depan pintu gerbang, tampak dua orang lelaki bergolok yang sedang berjaga-jaga di sana.

Semakin melihat, Sik Tiong Giok merasa kian heran. Ia tidak melihat sosok si kakek Naga Langit, pun tidak tahu apa yang terjadi di dalam gubuk tersebut.

Sementara ia masih termenung, tiba-tiba dari kejauhan berkumandang suara langkah kaki manusia.

Menyusul kemudian terdengar seseorang berseru dari balik gubuk itu, "Sudah datang!" Bayangan manusia berkelebat. Dari balik gubuk muncul dua orang yang segera menelusuri jalan bukit untuk melakukan penyambutan.

Selang beberapa saat, dari jalan bukit tadi muncul pula serombongan manusia yang berjalan mendekat dengan langkah cepat.

Tiba-tiba dari rombongan itu melompat seseorang yang melesat ke muka bagaikan sambaran kilat. Dalam beberapa kali lompatan saja, ia telah tiba di depan pintu ruangan, lalu membentak, "Apakah semuanya telah dipersiapkan?" Sebelum memperoleh jawaban dari kedua penjaga pintu itu, ia sudah melejit kembali dan menerobos masuk ke dalam ruangan.

Kemudian ia melompat keluar lagi dan tanpa berpaling segera menggabungkan diri dengan rombongan.

Dengan ketajaman matanya, Sik Tiong Giok dapat mengenali orang itu sebagai si Kalajengking Berekor Dua, Ti Wi, yang pernah bertarung melawan tiga bersaudara Ting di rumah penginapan tadi.

Hatinya segera tergerak, ia berpikir, "Jangan-jangan mereka datang ke mari untuk menjatuhkan hukuman kepada orang she Ting tersebut." Belum habis pikiran itu melintas, rombongan tersebut sudah tiba di depan rumah. Semuanya bersenjata tajam dan penjagaannya betul-betul sangat ketat.

Satu di antara mereka menggendong sebuah bungkusan besar pada punggungnya. Tiga atau empat orang lelaki kekar melindungi di belakang mereka, dan serentak semua orang memasuki gubuk tadi.

Dalam waktu singkat, dua buah lilin besar telah dinyalakan di dalam ruangan, menerangi seluruh isi gubuk. Ketika bungkusan dibuka, ternyata isinya adalah seorang manusia.

Orang itu bertelanjang dada, sepasang tangannya ditelikung ke belakang dan berada dalam posisi berlutut.

Di kedua belah sisinya berdiri berjaga-jaga enam atau tujuh orang yang bersenjata lengkap. Hal ini membuat gubuk yang sepi itu tiba-tiba saja diliputi oleh hawa nafsu membunuh yang sangat mengerikan.

Orang yang berdiri di bagian tengah ruangan adalah wakil Congkoan dari Ruang Hukuman perkumpulan Siu Lo Pang, Ong Pit.

Dengan suara dingin tiba-tiba ia berkata, "Ting Kian Hiong, lebih baik kau akui sendiri semua perbuatan yang telah kau lakukan, daripada kami harus membuang tenaga dengan percuma."

"Aku orang she Ting mengaku salah," ujar Ting Kian Hiong yang berlutut di atas tanah dengan sedih. "Yang kumohonkan sekarang adalah tebasan dari Ong Hu Congkoan yang bisa menewaskanku seketika, agar aku tidak usah menderita dosa dan penderitaan lebih lama lagi."

"Namun jika kau berani mencemooh atau menghinaku, jangan salahkan jika aku akan mencaci makimu habis-habisan!"

Ti Wi, si Kalajengking Berekor Dua yang membawa golok, segera menggerakkan senjatanya di hadapan Ting Kian Hiong lalu membentak, "Orang she Ting, coba kau lihat benda ini! Bila kau berani bicara tidak senonoh, akan kusuruh kau merasakan bagaimana rasanya disayat-sayat dengan golok!"

Ting Kian Hiong mengerling sekejap ke arahnya, lalu tertawa dingin tiada henti. "Orang she Ti, kau tidak usah memamerkan kehebatanmu di depan Ting Toaya. Selama aku masih berkelana dalam dunia persilatan bersama Lo-pangcu, kau masih belum apa-apa!"

"Hmm, kau tidak usah berlagak sok. Sebagai jago silat kawakan, tidak semestinya tindakanmu melanggar peraturan!"

Sekali lagi Ting Kian Hiong mendengus dingin, "Hmm... itu belum seberapa. Semua perbuatan yang dilakukan Ting Toaya selamanya ditanggung sendiri olehku. Sekarang aku masih hidup, hal ini sudah merupakan keberuntungan bagiku. Biarpun melanggar peraturan perkumpulan, paling banter hanya selembar nyawa yang dipertaruhkan. Apa urusannya denganmu, keparat busuk?"

Ti Wi yang diumpat segera merasakan telinganya panas karena malu. Goloknya segera digerakkan dan ujungnya ditempelkan di atas dada Ting Kian Hiong.

"Cuuuh!" Ting Kian Hiong meludah tiba-tiba, kemudian memaki kalang kabut.

"Orang she Ti, kau berani merusak peraturan dengan menyiksa aku demi kepentingan pribadi! Aku lihat kau kurang didikan dari angkatan tua rupanya, hmmm!"

"Dengan kehadiran Hu Congkoan di sini, asal kau berani mengusik diriku barang seujung rambut saja, tanggung kau akan merasakan penderitaan yang jauh lebih hebat daripada apa yang kurasakan!"

Mendengar ucapan tersebut, Ti Wi seketika bungkam seribu bahasa. Perhatian semua orang segera dialihkan ke wajah Ong Pit sambil menantikan reaksinya.

Ong Pit dikenal sebagai manusia licik, sudah barang tentu dia bukan seorang manusia yang gampang dipengaruhi oleh keadaan. Menghadapi kasus semacam ini, ternyata dia tidak berbicara maupun menggubris. Pandangan matanya diarahkan ke bawah dan bersikap acuh tak acuh, membuat orang lain tidak dapat menduga apa maksud hatinya yang sebenarnya.

Gui Jian menjadi tak tega menyaksikan keadaan tersebut, buru-buru ia berujar kepada Ti Wi, "Ti Lote, buat apa kau mesti terburu nafsu? Kau anggap orang she Ting ini masih bisa lolos dari ketajaman senjata kita? Mari kita nantikan dahulu keputusan hukuman dari Ong Hu Congkoan!"

Mendengar perkataan itu, Ti Wi baru menarik kembali goloknya dan mengundurkan diri dengan perasaan mendongkol. Dalam keadaan begitulah Ong Pit baru membentak dengan suara lantang.

"Ting Kian Hiong, kau telah melanggar peraturan perguruan. Sekarang kau masih berani bersikap sombong dan takabur. Apakah kau anggap mata golokku tidak tajam?"

"Ong Toa harap jangan sok berkuasa!" Ting Kian Hiong berbicara tanpa rasa takut. "Kau pun tidak usah berpura-pura menanyakan kepadaku apa sebabnya aku kabur dari perkumpulan. Aku adalah seorang lelaki yang punya prinsip awal dan akhir. Lebih baik aku mampus daripada salah melangkah. Nah, kalau ingin turun tangan, lebih baik lakukan saja secepatnya!"

Ong Pit tertawa dingin. Ia segera berpaling ke belakang dan berseru kepada dua orang lelaki bergolok, "Siapkan lukisan Leluhur kita!"

Kemudian kepada Ting Kian Hiong ia berkata lagi, "Ting Kian Hiong, dengan perbuatanmu semestinya kau hanya menerima hukum cambuk tujuh kali. Tapi jika kau berusaha untuk kabur, pasti akan kusuruh kau merasakan seratus bacokan golok agar kau mati tidak bisa, hidup pun tidak dapat. Kalau tidak begitu, percuma aku, Ong Pit, menjabat sebagai Ketua Ruang Hukuman!"

Ting Kian Hiong tertawa terbahak-bahak dengan seramnya. "Ong Toa, kau tidak usah banyak cerewet lagi. Aku sudah cukup mengetahui tentang kelicikan dan kekejamanmu, ternyata memang bukan nama kosong belaka! Aku tahu saat karmaku telah tiba. Kalau ingin bertindak, ayolah dikerjakan dengan segera!"

Ong Pit kembali tertawa dingin. Dia menuju ke depan meja, mengambil segenggam hio dan menyulutnya pada lilin. Kemudian ia bersembahyang di depan lukisan sambil berkomat-kamit. Setelah mengangkat hio tadi tiga kali ke atas, dia membalikkan badan dan secara tiba-tiba menyebarkan hio tersebut ke atas tanah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment