Chapter 28
Percikan bunga api segera memancar ke mana-mana. Di tengah lapisan kabut yang remang-remang, terdengar ia berseru keras, "Penghianat Ting Kian Hiong, kau pantas menerima hukuman kelima dari persatuan perkumpulan. Hukumanmu adalah dipenggal sebuah lenganmu." Belum selesai perkataan itu diutarakan, kalajengking berekor dua, Ti Wi, yang berada di sisinya sudah melompat ke muka dengan cepat, sebab kesempatan baginya untuk membalas dendam telah tiba.
Goloknya langsung diputar dan tubuhnya melompat ke belakang punggung Ting Kian Hiong.
"Duuuuk!" Sebuah tendangan keras mengakibatkan lelaki itu roboh terjerembab ke tanah.
Mula-mula, dia memotong tali temali yang mengikat tubuh lawan. Setelah itu, dia mencengkeram lengan kiri Ting Kian Hiong dan menariknya ke samping. Selanjutnya, golok segera diayunkan ke bawah dengan ganas.
"Kraaaasss!" Lengan bercampur darah terlepas dari tubuh dan Ti Wi pun melemparkannya ke hadapan Ong Pit.
Ting Kian Hiong menjerit kesakitan, suaranya tinggi melengking dan amat menusuk pendengaran.
Sik Tiong Giok, yang bersembunyi di luar dan mengintip peristiwa itu, segera merasakan punggungnya basah oleh keringat dingin saking ngerinya. Bulu kuduknya tanpa terasa berdiri. Ia betul-betul merasa ngeri menyaksikan kekejaman orang.
Ting Kian Hiong sendiri, meski sepasang kakinya masih terikat kencang, dalam gusar dan kesakitannya, seolah-olah mempunyai kekuatan yang luar biasa. Setelah melompat bangun, tubuhnya langsung menerjang ke arah Ti Wi.
Kalajengking berekor dua, Ti Wi, bukan manusia bodoh. Setelah melancarkan bacokan tadi, ia telah menghindarkan diri ke samping.
Sayang sekali, gerakan tubuhnya kalah cepat daripada Ting Kian Hiong. Lengan kanan lawan tahu-tahu berhasil mencengkeram kuat tulang pertama pada belakang lehernya. Cengkeraman itu menembus sampai ke dalam daging, membuat Ti Wi tak mampu lagi membalikkan tubuhnya.
Karena kesakitan, Ti Wi menjerit ngeri, suaranya keras dan amat menggigilkan hati.
Gui Jim, seorang gembong iblis yang berada di sisi arena, langsung menerkam ke muka setelah menjumpai Ti Wi menjadi korban kekalapan Ting Kian Hiong. Goloknya langsung diayunkan ke muka dan...
"Kraaasss!" Tanpa ampun, lengan kanan Ting Kian Hiong turut terpapras buntung menjadi dua bagian.
"Aduuuuh..." Sekali lagi, jeritan ngeri yang menyayat hati bergema memenuhi angkasa. Darah kental memercik ke mana-mana, membuat lantai penuh dengan banjir darah.
Menggunakan kesempatan tersebut, Gui Jian melancarkan sebuah tendangan yang menyebabkan Ting Kian Hiong roboh terjerembab ke tanah dan tak sadarkan diri.
Dalam keadaan begini, keadaan si kalajengking berekor dua, Ti Wi, paling mengenaskan. Separuh lengan Ting Kian Hiong yang terpapras buntung masih mencengkeram tengkuk Ti Wi kencang-kencang. Bahkan, masih tampak getaran keras pada buntungan lengan tersebut.
Ti Wi yang ketakutan di samping kesakitan, segera roboh terjungkal ke atas tanah. Untung, seorang lelaki kekar segera memapahnya hingga tidak sampai roboh ke tanah.
Melihat Ti Wi jatuh pingsan, tetapi lengan Ting Kian Hiong masih mencengkeram tengkuknya kencang-kencang, Gui Jian segera bertindak cepat dengan mencengkeram buntungan lengan itu dan membetotnya keras-keras ke belakang.
Atas kejadian ini, kalajengking berekor dua, Ti Wi, semakin menderita. Ia tampak semakin tersiksa oleh kejadian ini.
Akibat dari bacokan yang keras tadi, sebagian besar daging dan kulit tengkuk di tubuh Ti Wi menjadi terkelupas sama sekali...
"Aduuuh...!" Tubuhnya melejit ke udara karena kesakitan sebelum roboh kembali ke tanah. Darah segar langsung memancar keluar seperti sumber mata air...
Ong Pit mengerutkan kening melihat kejadian ini, tetapi tiada terlintas perasaan apa pun di atas wajahnya. Dia malah membentak lagi dengan suara dingin.
"Hukum rajam tubuh penghianat ini!" Begitu perintah diturunkan, beberapa orang lelaki yang berada di sisi arena serentak mengayunkan senjata masing-masing untuk memotong buntung sepasang kaki Ting Kian Hiong.
Dalam dunia persilatan, Ting Kian Hiong terhitung seorang lelaki berhati keras. Apa mau dikata, siksaan yang diterimanya kelewat berat. Jangan lagi tubuhnya terdiri dari darah daging, biar terbuat dari baja pun tak akan bisa tahan.
Setiap kali siksaan dilakukan, ia menjerit-jerit kesakitan macam ayam yang disembelih. Suaranya keras bagai jeritan setan di tengah kegelapan malam, membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengar akan berdiri semua karena ngerinya.
Dalam waktu singkat, tubuh Ting Kian Hiong tinggal segumpal bola daging yang masih mengguling-guling dengan berlumuran darah kental. Mendadak, Ong Pit tertawa seram. Dia merampas sebilah golok dan langsung membacok leher Ting Kian Hiong. Setelah batok kepalanya terpisah, dia lepaskan pula sebuah tusukan yang persis menembus ulu hati Ting Kian Hiong. Saat itulah sisa mayat tersebut baru tak bergerak lagi.
Tragedi yang amat mengerikan ini betul-betul membuat Sik Tiong Giok mandi keringat dingin. Sekalipun ia bernyali besar, tak urung hatinya pun berdebar keras-keras, malah hampir saja ia menjerit tertahan.
Entah sedari kapan langit berubah menjadi mendung. Angin dingin dan hujan rintik membasahi permukaan tanah. Tanpa terasa, ia bergidik sambil berpikir, "Mau apa aku datang kemari? Mengapa hanya bersembunyi saja macam orang dungu?" Berpikir demikian, ia tak berani berangan lagi. Menggunakan kesempatan saat orang-orang di rumah gubuk itu sedang membereskan sisa mayat, ia menerobos keluar dari tempat persembunyian dan menuju dasar lembah.
Peristiwa berdarah yang membuatnya menonton kelewat asyik membuat pemuda tersebut membuang banyak waktu dengan percuma. Menanti perjalanan diteruskan lagi beberapa saat, ia baru sadar kalau fajar telah menyingsing.
Kenyataan ini membuat hatinya sangat terkejut. Ia tak berani melanjutkan perjalanan lagi, khawatir ketahuan musuh. Karena itu, ia pun bergerak menuju tempat yang sepi dan terpencil di arena bukit itu.
Baru saja sebuah bukit dilalui, mendadak dari balik hutan belukar melesat tiba sesosok bayangan manusia.
Dengan perasaan bergetar keras, Sik Tiong Giok segera berpikir, "Jangan-jangan musuh yang sengaja kuhindari malah saling bertemu di sini!" Perasaan tegang makin mencekam perasaannya. Namun, setelah melihat jelas wajah pendatang itu, ia baru merasa sedikit di luar dugaan.
Mimpi pun ia tidak menyangka kalau pendatang adalah toapeknya, si kakek naga langit Sin Bun.
Begitu mencapai tanah, kakek naga langit tertawa terbahak-bahak lebih dulu, kemudian baru menegurnya, "Hei anak muda, aku malah mengira kau sudah kabur?" "Aai, orangnya meski belum kabur, nyawaku justru sudah kabur karena ketakutan!" Sik Tiong Giok menghela napas.
"Bocah muda, cepat ceritakan kembali apa yang telah terlihat dalam rumah gubuk!" akhirnya ia menambahkan.
"Kelewat mengenaskan. Aku betul-betul tidak percaya kalau mereka berhati begitu kejam dan buasnya!" Kakek naga langit tertawa.
"Sesungguhnya kejadian semacam ini bukan sesuatu yang aneh. Mereka memang sudah terbiasa melakukan kekejaman semacam ini. Kalau tidak, mengapa disebut orang sebagai kaum iblis yang berjalan sesat?" "Toapek, kita tak boleh berpeluk tangan belaka. Kita lebih-lebih tak boleh berpeluk tangan membiarkan kaum laknat malang melintang semaunya sendiri!" "Apa maksudmu berkata demikian?" tanya kakek naga langit sambil tertawa.
"Aku bermaksud mengobrak-abrik sarang iblis yang ada di bukit Kiu Nia Ban ini, bagaimana menurut pendapatmu?" Kakek naga langit mengerutkan dahinya beberapa saat, kemudian berseru setelah tertawa terbahak-bahak, "Haaah... haah... haah... baik, kita lakukan seperti kehendakmu, Nak. Cuma kita mesti mencari tempat dulu untuk menghimpun tenaga. Dengan semangat dan tenaga yang baru, kita baru bisa bertarung dengan mereka." "Aku rasa hutan ini baik sekali untuk beristirahat, tak mungkin kaum bajingan akan menemukan-nya!" Sik Tiong Giok berkata sambil tertawa.
Maka, tua dan muda, dua orang itu pun menyelinap masuk ke dalam hutan belukar itu untuk beristirahat.
Sehari pun lewat tanpa terasa. Lambat laun, udara menjadi gelap kembali. Rembulan tertutup oleh awan tebal, membuat suasana diliputi kegelapan total.
Perkumpulan Siu Lo Pang belum lama bergabung. Segala sesuatunya masih baru, maka tak heran penjagaan di sekitar sana pun amat ketat.
Siapa tahu, justru dalam penjagaan yang amat ketat inilah suatu peristiwa telah terjadi.
Waktu itu, perjamuan sedang dilangsungkan di lembah To Hui Kok, bawah bukit Toa Im Hong. Tiba-tiba saja suara suitan tanda bahaya dibunyikan orang keras-keras.
"Tiiitt... tiiittt...!" Suara sumpritan yang dibunyikan susul-menyusul ini membuat suasana di lembah menjadi sangat gaduh.
Rasul Serigala Langit adalah seorang jago kawakan yang sudah amat berpengalaman dalam dunia persilatan. Tentu saja ia masih dapat menahan diri meski mendapat tanda bahaya. Disamping mengirim orang untuk melakukan penyelidikan, ia pun melayani seorang manusia aneh yang duduk di kursi utama dengan arak wangi.
Manusia aneh tersebut berdandan sangat aneh. Ia menggunakan pakaian jubah tosu yang dibalik. Rambutnya yang panjang terurai sebahu. Wajahnya bulat dan bengis. Dalam sekilas pandang saja, orang tahu kalau manusia ini pasti bukan manusia baik-baik.
Dia memang tak lain adalah Pat Huang Sin Mo, Mo Sia Ih.
Di samping itu, masih terdapat lagi beberapa orang yang semuanya merupakan jago-jago lihai golongan iblis yang khusus diundang oleh Rasul Serigala Langit. Di antara mereka terdapat pendeta, tosu, maupun preman.
Kawanan iblis tersebut rata-rata merupakan kawanan jago yang pernah malang melintang dalam dunia persilatan dan menderita kerugian di tangan Im Hay Sam Siu (tiga kakek dari Im Hay). Akhirnya, meski mereka malang melintang banyak melakukan kejahatan dengan Thian Liong Siu, toh kena dibasmi pula oleh si kakek naga langit sekalian.