Chapter 29
Ketika mendengar Rasul Serigala Langit bermaksud membangun kembali Partai Serigala Langit, mereka berbondong-bondong memunculkan diri. Kebetulan mereka mendapat undangan dari Rasul Serigala Langit, itulah sebabnya mereka segera datang memenuhi undangan tersebut.
Tatkala mereka sudah berkumpul semua, barulah diketahui ternyata Rasul Serigala telah mengundang pula Pat Huang Pin Mo dan Mo Sia Ih.
Gembong iblis ini mengira ilmu silatnya sudah tiada tandingan di kolong langit. Dia ingin mengangkangi dunia persilatan dan beradu kepandaian dengan para pendekar.
Karenanya, nama Partai Serigala Langit pun diubah menjadi perkumpulan Siu Lo Pang dengan mengangkat dirinya sebagai Siu Lo Cousu. Markas besar pun didirikan di Bukit Kiu Nia San.
Hari ini mereka sedang menyelenggarakan perjamuan untuk menjamu Liong Hwee Sin Lui (naga api guntur sakti) Kok Siu Cu.
Siapa tahu, dalam keadaan inilah tanda bahaya dibunyikan. Hal tersebut membuat Rasul Serigala Langit menjadi tersipu-sipu karena malu dan mendongkol.
Kok Siu Cu adalah seorang jago kawakan. Ia sudah melihat perubahan wajah Rasul Serigala Langit. Buru-buru ia berkata sambil tertawa, "Cu Pangcu, kita ini orang sendiri, kau tidak usah sungkan-sungkan!" Rasul Serigala tertawa.
"Kok Cianpwee jauh-jauh datang sebagai tamu, aku merasa tidak ada habisnya berterima kasih. Masa aku harus meninggalkan tamu hanya karena urusan kecil?" Kok Siu Cu kembali tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahaha.... Sanjungan Cu Pangcu membuatku malu sendiri." Sementara kedua orang itu saling merendah, mendadak Pat Huang Sin Mo berseru sambil tertawa dingin, "Kalian berdua tidak usah saling merendah lagi! Tamu dari jauh telah datang, mengapa tidak dipersilakan masuk?" Ucapan tersebut membuat semua orang tertegun. Serentak semua menengok keluar pintu, namun tidak tampak sesosok bayangan manusia pun.
Kok Siu Cu melirik sekejap ke depan. Tiba-tiba sambil mendongakkan kepalanya, dia membentak.
"Jauh-jauh Anda datang sebagai tamu, mengapa tidak langsung masuk ke dalam ruangan? Silakan turun!" Dari atas tiang rumah segera berkumandang suara nyaring, "Bangunan rumah kalian dibangun begini tinggi, wah! Tidak gampang rasanya untuk lompat turun ke bawah!"
"Hm, bila Sobat begitu tidak tahu diri, jangan salahkan kalau aku akan memaksamu turun!" Kok Siu Cu mendengus.
Gelak tawa keras segera bergema dari atas ruangan, "Hahahaha.... Masa kau mempunyai kemampuan seperti itu? Mengapa tidak dicoba?"
"Aku tidak percaya kalau kau tidak dapat turun!" bentak Kok Siu Cu keras-keras.
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, tangan kanannya segera menekan ujung meja dan tubuhnya melejit ke udara, langsung menerjang ke arah tempat persembunyian lawan.
Perlu diketahui, kepandaian silat yang dimiliki Liong Hwee Sin Lui Kok Siu Cu sudah terhitung jagoan yang jarang ada tandingannya di kolong langit, apalagi berada di hadapan Pat Huang Sin Mo. Dia bermaksud untuk memperlihatkan kebolehannya.
Tubuhnya segera melesat ke udara setinggi tiga empat kaki. Baru saja kakinya akan menginjak tiang rumah, pada saat itulah bayangan manusia berkelebat, segulung angin tajam telah menyambar, dan "Plaak!" tahu-tahu Kok Siu Cu sudah kena ditempeleng keras-keras.
Walaupun tempelengan tersebut tidak terlalu berat, tetapi tepat menyambar jalan darah Koan Kek Hiat dan Tay Eng Hiat di tubuhnya. Hal tersebut membuat pandangan matanya berkunang-kunang, hawa murninya membuyar, dan tubuhnya segera terperosok jatuh ke bawah, "Blaaaamm...!" Tubuhnya tepat terbanting jatuh di tengah meja perjamuan.
Percikan kuah dan sayur berhamburan ke mana-mana, hancuran mangkuk dan piring berserakan di sana-sini. Suasana di sekeliling tempat itu kontan saja menjadi kacau balau.
Rasul Serigala menjadi amat gusar. Dengan cepat ia menjejak kaki, siap menerjang ke atas ruangan.
Mendadak dari atas ruangan terdengar lagi seseorang berseru sambil tertawa.
"Pengkhianat, kau pun ingin digebuk?" Tergerak hati Rasul Serigala setelah mendengar perkataan ini, dia tidak berani mendekati lebih ke depan dan segera melayang turun ke bawah. Tegurnya sambil mendongakkan kepala.
"Hei, siapakah kau?" "Kita adalah kenalan lama dalam dunia persilatan, masa kau lupa denganku?" Orang di atas ruangan tertawa.
Rasul Serigala semakin terkejut setelah mendengar perkataan ini. Tetapi berhubung di situ hadir Pat Huang Sin Mo, nyalinya menjadi bertambah besar. Bentaknya nyaring, "Oooh, Siau Giok Ji rupanya! Rupanya kau memang sengaja mencari jalan kematian untuk diri sendiri. Jangan harap kau bisa melarikan diri lagi hari ini!"
Orang yang berada di atas atap memang tidak lain adalah Sik Tiong Giok. Ia segera tertawa terbahak-bahak setelah mendengar seruan itu, katanya kemudian, "Aaah, apakah kau mampu menebak secara jitu? Baik, akan kubuktikan kepadamu kalau aku memang mampu pergi semauku sendiri!"
Dalam pembicaraan tersebut, tampak sesosok bayangan abu-abu melayang turun dari atap dan melesat keluar melalui jendela.
Mendadak sesosok bayangan manusia berkelebat dari samping arena. Kemudian seseorang berseru sambil tertawa dingin, "Kembali! Tidak segampang ini bagimu untuk kabur dari sini!"
Terdorong oleh tenaga pukulan itu, Sik Tiong Giok menjadi terhenti sejenak dan melayang turun ke bawah.
Ketika dipandangnya sekejap pihak lawan, ternyata orang itu adalah seorang kakek jelek bertubuh cebol. Sambil mendengus, ia segera menegurnya, "Siapa kau?" Kakek cebol berwajah jelek itu tertawa dingin.
"Aku bernama Gonggongan Bernyawa Pendek Thian Si Hua! Pernah mendengar nama ini?" Sik Tiong Giok tertawa.
"Sayang sekali aku tidak pernah mendengar nama itu. Tetapi aku tahu perubahan dari makhluk apa dirimu itu! Paling banter dari seekor anjing hitam besar, bukan begitu?"
Tidak terlukiskan rasa gusar Si Gonggongan Bernyawa Pendek Thian Si Hua. Saking mendongkolnya, dia membentak, "Bocah keparat, mencari mati rupanya kau?"
Mendadak cakar setannya menyambar ke tubuh Sik Tiong Giok.
Menghadapi cakar setan yang mengancam datang itu, Sik Tiong Giok tetap berdiri tenang tanpa menggerakkan tubuhnya sedikit pun juga. Tetapi begitu ancaman sudah tiba di depan mata, tahu-tahu dia menarik tubuhnya dan berkelebat dari bawah ketiak Thian Si Hua.
Pada dasarnya, bocah ini memang mempunyai watak binal. Tetapi berhubung di waktu biasa selalu terbelenggu oleh tata krama, kebinalannya tidak pernah tersalurkan.
Tidak heran kilau kesempatan yang sangat baik ini segera dimanfaatkan dengan sangat baiknya. Dalam sekali kelebatan saja, dia sudah membalik badan sambil melepaskan sebuah tendangan.
"Duuukk..." Sebuah tendangan kilat langsung menghajar lengan Thian Si Hua keras-keras.
Tenaga tendangan tersebut benar-benar sangat besar. Thian Si Hua mencelat sejauh tujuh atau delapan langkah ke belakang. Itu pun belum menghentikan gerakan tubuhnya sehingga akhirnya terjerembap di atas meja rapat di hadapan Pat Huang Sin Mo.
"Groooobyaaakk....!" Kuah dan sayur kontan berhamburan ke mana-mana dan mengotori sebagian tubuh Pat Huang Sin Mo.
Pat Huang Sin Mo mendengus dingin saking gusarnya. Dengan cepat dia melompat bangun dan bermaksud untuk mencari Sik Tiong Giok guna melampiaskan rasa mendongkolnya.
Siapa tahu, bayangan musuh sudah hilang lenyap entah ke mana.
"Kejar!" Pat Huang Sin Mo segera membentak keras.
Dengan bentakan ini, bayangan manusia pun berkelebat di tengah ruangan. Secara berebut, mereka berhamburan keluar dari dalam ruangan.
Tetapi Sik Tiong Giok tidak kabur. Sebaliknya, ia malah berdiri di atas ruangan seberang sambil menggoda para pengejarnya.
"Ayo, mari, kemari semua! Kalau ada yang sudah bosan hidup, mari maju ke depan lebih dulu!"
Pat Huang Sin Mo tertawa dingin. Dia menggerakkan tangannya, menitahkan kepada semua orang agar menyebarkan diri dan mengepung Sik Tiong Giok di tengah arena.
Kemudian, diiringi bentakan keras, dia melejit ke udara dan melesat ke atas atap rumah. Di saat tubuhnya hampir mencapai atap rumah, mendadak Sik Tiong Giok melontarkan sepasang telapak tangannya sejajar dengan dada.
Dalam keadaan begini, buru-buru dia mendorong pula telapak tangannya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
Siapa tahu, serangan dari Sik Tiong Giok ini bukan ditujukan ke atas tubuhnya, melainkan menghantam atap rumah di mana ia berpijak sekarang.
Tatkala serangannya sedang didorong ke muka inilah, mendadak kakinya terasa menginjak tempat kosong. Diiringi suara gemuruh yang memekakkan telinga, atap rumah berhamburan ke mana-mana.
Untung saja kepandaian silat yang dimiliki Pat Huang Sin Mo memang terhitung hebat. Cepat-cepat dia mengerahkan tenaganya sambil melompat ke atas atap rumah bagian lain. Kemudian, baru ia berpaling ke arah semula, namun apa yang terlihat membuatnya segera menjerit kaget.
Rupanya Sik Tiong Giok kembali hilang lenyap entah ke mana. Dia mencoba memeriksa ke bawah. Di situ pun terlihat anak buahnya masih melakukan pengepungan secara ketat. Hal tersebut membuatnya segera berpikir, "Jangan-jangan bocah keparat itu mempunyai kepandaian terbang ke langit atau menyusup ke dalam tanah?" Ingatan tersebut belum melintas, mendadak dari balik lubang atap rumah mengepul keluar asap berwarna hitam. Dengan perasaan kaget, dia segera menjerit.
"Aduh celaka, bocah keparat itu melepaskan api!" Benar juga, dari bilik ruangan sebelah kiri terlihat api mulai berkobar dengan hebatnya, disusul suara manusia yang berteriak-teriak.
Dalam keadaan begini, Pat Huang Sin Mo sekalian menjadi tidak punya waktu lagi untuk mengejar Sik Tiong Giok. Serentak mereka menerjang ke arah tempat kebakaran itu. Tetapi ketika semua orang menuju ke ruangan sebelah kiri dari ruangan di mana ia berada tadi, kebakaran pun terjadi pula, kemudian disusul ruangan utama pun terjilat api.
Dalam waktu singkat, sekeliling tempat itu sudah berkobar api yang membakar segala sesuatunya. Jilatan api yang membara menyambar ke mana-mana membuat langit menjadi merah.
Peristiwa kebakaran ini dengan cepat mengejutkan segenap orang yang berada di sekitar markas besar Siu Lo Pang. Serentak orang datang berbondong-bondong untuk memadamkan api.