Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 30

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 30

Secepat apa pun kawanan iblis itu bertindak untuk memadamkan api, setelah api berkobar di mana-mana dan membakar semua benda yang ditemuinya, tidak mudah untuk memadamkan seluruh kebakaran itu dalam waktu singkat.

Pat Huang Sin Mo menjadi sangat gusar. Wajahnya merah padam dan urat-urat hijau menonjol keluar. Biarpun marah, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara itu, Rasul Serigala memukul dadanya sendiri karena mendongkol melihat rumahnya ludes menjadi abu. Ia merasa sangat sedih hingga hatinya terasa perih.

Mendadak terdengar si "Gonggongan Bernyawa Pendek", Thian Si Hua, membentak keras, "Bocah keparat, kau hendak kabur ke mana?" Serentak semua orang berpaling. Benar saja, di balik deretan pepohonan di sebelah kanan, tampak bayangan manusia yang bergerak-gerak.

Tiba-tiba Thian Si Hua memekik nyaring dan menerjang ke depan dengan gusar, sementara kawanan penjahat lainnya segera maju melakukan pengepungan. Thian Si Hua menerobos maju dan menerjang ke balik pohon. Ternyata di sana berdiri seseorang yang mengenakan pakaian berwarna merah. Dari bayangan punggung orang itu, Rasul Serigala Langit mengenali sosok tersebut sebagai putri kesayangannya, Siau Hong.

Dalam pada itu, Thian Si Hua sudah gelap mata. Tanpa memedulikan apakah lawannya laki-laki atau perempuan, ia segera membentak keras, "Bocah keparat, mau kabur ke mana kau?" Sebuah pukulan dahsyat langsung dilontarkan ke depan dengan kecepatan tinggi.

Rasul Serigala yang menyaksikan kejadian ini menjadi sangat gelisah. Ia segera melompat ke depan sambil berseru keras, "Locianpwee, jangan salah paham! Dia adalah putriku!" Di tengah teriakan itu, ia melepaskan sebuah serangan untuk menangkis serangan dari Thian Si Hua tersebut.

Setelah mendengar seruan tadi, Thian Si Hua baru sadar bahwa lawannya adalah seorang gadis. Ia bergegas membuyarkan serangan sambil melompat mundur. Namun, atas kesalahannya ini, ia menjadi tersipu sendiri.

Gadis berbaju merah itu masih tetap berdiri termangu dengan wajah bingung, seolah-olah belum menyadari apa yang terjadi. Dengan rasa gusar, Rasul Serigala segera menegur, "Anak Hong, mengapa kau datang ke mari?"

Gadis berbaju merah itu berpaling. Ketika melihat ayahnya berdiri di samping beberapa orang yang berdandan aneh, dengan perasaan sedih ia segera berseru, "Ayah!" Dengan cepat ia menghambur ke pelukan Rasul Serigala dan menangis tersedu-sedu. Hal ini membuat Pat Huang Sin Mo beserta jago-jago sesat lainnya yang berdiri di sisinya menjadi kehilangan akal.

Rasul Serigala menjadi kelabakan sendiri. Sambil mengelus rambut putrinya, ia menegur berulang kali, "Anak Hong, jangan menangis. Jika ada persoalan, ceritakan saja kepadaku!" Beberapa kali Cu Siau Hong mengangkat kepalanya sambil memandang ayahnya dengan air mata bercucuran, namun tak sepatah kata pun diutarakannya. Hal ini membuat Rasul Serigala menggaruk-garuk kepala dengan panik. Ia menghela napas berulang kali, benar-benar kehilangan akal.

Rupanya Cu Siau Hong muncul setelah mendengar tanda bahaya tadi karena didorong rasa ingin tahu tentang peristiwa yang terjadi. Ketika sampai di tepi sungai, tiba-tiba dilihatnya ruangan utama telah dijilat api. Ia segera membalikkan badan mendekati tempat tersebut. Pada saat itulah, dari balik pohon tiba-tiba muncul seorang sastrawan muda bertubuh tegap dan berwajah tampan.

Selama ini Cu Siau Hong hidup di sarang penjahat. Boleh dibilang ia adalah gadis di sarang penyamun yang tak pernah bertemu dengan pemuda tampan seperti itu. Untuk beberapa saat ia tertegun dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Agaknya pemuda itu pun menyadari kehadirannya. Sambil tersenyum, ia segera menyapa, "Ah, aku mengenalku. Bukankah kau bernama Hong-ji?" Mendengar ucapan itu, ditambah terpikat oleh ketampanan wajah lawannya, Cu Siau Hong segera terpesona dan seakan melupakan segalanya.

Sementara itu, api telah membakar semua bangunan. Cahaya merah yang membubung ke angkasa membuat suasana menjadi terang benderang. Di bawah cahaya api yang membara inilah, Cu Siau Hong dapat menyaksikan paras pemuda tampan tersebut dengan lebih jelas. Hal itu memancing pelbagai ingatan di benaknya. Diam-diam ia membatin, "Ah, tampan sekali pemuda ini."

Sastrawan tampan yang berdiri lima depa di hadapannya itu kembali bertanya, "Apakah kau bernama Nona Hong?"

Cu Siau Hong tidak merasa rikuh atau jengah. Pelan-pelan ia menyahut, "Kau mengenalku? Lantas, siapakah dirimu?"

"Aku bernama Sik Tiong Giok."

Nama ini membuat Cu Siau Hong sangat terkejut. Ia segera berseru, "Jadi kau adalah putra Kakek Serigala Langit yang bernama Sik Tiong Giok? Mau apa kau datang ke Bukit Kiu Nia San ini?"

"Hm, apa aku tidak boleh kemari?" dengus Sik Tiong Giok. "Kalau aku ingin kemari, siapa yang dapat menghalangi niatku?"

Cu Siau Hong melotot sekejap ke arah lawan bicaranya dengan wajah murung, lalu berujar, "Ya, kalau kau ingin kemari, memang tidak ada orang yang bisa menghalangi kedatanganmu."

"Jika kau sudah tahu tidak bakal bisa menghalangi diriku, mengapa masih berdiri di situ dengan pedang terhunus? Cepat berikan pedang itu kepadaku!"

Cu Siau Hong tertegun mendengar perkataan itu, namun ia bertanya dengan lembut, "Untuk apa kau meminta pedang ini?"

"Apa lagi yang perlu ditanyakan? Tentu saja akan kugunakan untuk berkelahi!"

Cu Siau Hong tertegun kembali. Ia segera berseru, "Apakah kau hendak berkelahi dengan ayahku?"

"Bukan cuma ayahmu, aku pun akan bertarung melawan orang-orang yang ada bersama ayahmu. Aku akan merobohkan mereka semua satu per satu!"

Tiba-tiba Cu Siau Hong menjerit kaget, "Aduh, galak sekali kau ini!"

Sik Tiong Giok tertawa. "Ada apa? Kau tidak percaya? Sewaktu berada di Un Cha Oh, aku pernah berkelahi dengan ayahmu, tetapi ia bukan tandinganku!"

Cu Siau Hong semakin terkejut hingga membelalakkan matanya lebar-lebar. Ia maju beberapa langkah hingga hampir menempel di samping Sik Tiong Giok, lalu bertanya, "Sungguhkah kau memiliki kepandaian silat yang begitu tinggi? Kau mampu mengalahkan ayahku?"

Sik Tiong Giok mendongakkan kepala dan tertawa dingin tanpa henti. "Huh, apa yang aneh dengan hal tersebut? Biarpun ada dua atau tiga orang Cu Bu Ki, belum tentu mereka tandinganku!"

"Tetapi aku rasa kau tidak akan sanggup mengalahkan Pat Huang Sin Mo. Aku mendengar dari ayah bahwa ia sangat lihai dan memiliki jurus silat yang amat hebat!"

Sik Tiong Giok mendengus dingin. Mendadak ia mengulurkan tangannya ke depan sambil berkata ketus, "Kau tidak usah mengkhawatirkan keselamatanku lagi. Ayo, cepat serahkan pedang itu padaku!"

Cu Siau Hong sama sekali tidak menyangka kalau pemuda berwajah tampan ini ternyata berhati sekeras baja. Hal itu membuatnya merasa amat kecewa sehingga tanpa sadar ia mundur setengah langkah. Katanya, "Demi kepentinganmu sendiri, lebih baik jangan berkelahi dengan mereka!"

"Siapa yang menyuruhmu mencampuri urusanku? Mau diserahkan kepadaku atau tidak?" Sik Tiong Giok tiba-tiba melotot.

Cu Siau Hong segera menunjukkan sikap yang patut dikasihani. Dengan wajah bimbang, ia menggeleng. Melihat itu, Sik Tiong Giok tampak kehilangan kesabaran. Setelah termenung sebentar, ia berseru, "Baiklah, jika kau tidak bersedia memberikannya, akan kurampas pedang itu dengan kekerasan!"

Tangan kirinya berkelebat cepat, sementara tangan kanannya mencoba merebut pedang itu. Tanpa disadari, Cu Siau Hong mengeluarkan sebuah gerakan tubuh. Ia bergoyang ke kiri dan ke kanan secara aneh, tahu-tahu tubuhnya sudah mundur beberapa depa.

Sik Tiong Giok tertawa terbahak-bahak. Ia melejit ke udara, lalu berputar dan menukik ke bawah. Tangan kirinya tetap bergerak menyambar, sementara tangan kanannya dipergunakan untuk merebut pedang. Tatkala serangan tersebut sudah mendekati tubuh lawan, mendadak tangan kanannya berubah jurus dan berbalik menyambar.

Perubahan ini terjadi sangat mendadak dan di luar dugaan. Cu Siau Hong sama sekali tidak menyangka lawan akan menggunakan jurus serangan seaneh ini. Untuk menghindar, jelas ia tidak sempat lagi. Terasa desingan angin tajam menyambar lewat; serangan itu sudah mengarah ke wajahnya.

Entah mengapa, ternyata gadis ini tidak bersedia melawan. Hanya dua butir air mata yang jatuh bercucuran. Ia memejamkan mata rapat-rapat, bersiap menerima pukulan itu tanpa perlawanan.

Sik Tiong Giok bukan manusia berhati keji. Melihat lawan memejamkan mata sambil meneteskan air mata, ia sangat terperanjat. Ketika telapak tangannya hampir menempel di wajah nona kecil itu, ia bergegas menarik kembali hawa murninya.

"Plak!" Tahu-tahu ia sudah menampar wajah Cu Siau Hong dengan keras. Menyusul kemudian, pergelangan tangannya berputar. Sebelum tubuhnya mencapai permukaan tanah, ia telah merampas pedang lawan dan melejit sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.

Sejak kecil Cu Siau Hong sudah terbiasa dimanja oleh ayahnya. Jangankan ditampar, disentuh dengan ujung jari pun tak pernah. Kini ia ditampar keras oleh orang asing. Serta-merta ia menutupi wajah dengan kedua tangan, lalu menjerit melengking, "Jangan memukul aku! Kau berani menampar aku?"

"Mengingat kau hanya seorang gadis, aku hanya meminjam pedangmu dan mengampuni nyawamu. Jika tidak, pasti sudah kucabut nyawamu!" Selesai berkata, ia menjejakkan kaki ke tanah dan seperti seekor burung walet, tubuhnya langsung meluncur ke balik kegelapan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment