Chapter 31
Berkobar hawa amarah Cu Siau Hong. Dia berteriak keras, "Sik Tiong Giok, ayo kembali! Menyergap orang secara diam-diam bukan tindakan seorang enghiong. Beranikah kau kembali?"
Dia berteriak hingga tenggorokannya pecah, tetapi pihak lawan sudah pergi jauh. Akhirnya, dia hanya bisa menutupi wajahnya sambil berdiri termangu-mangu. Perasaan kosong dan pedih menyelimuti seluruh benaknya.
Tak lama kemudian, Rasul Serigala Langit dan Pat Huang Sin Mo tiba di situ. Dia nyaris termakan oleh pukulan Thian Si Hua, si gonggongan bernyawa pendek. Meskipun Rasul Serigala adalah manusia yang bengis dan buas, dia sangat menyayangi putri kesayangannya ini dan selalu menuruti keinginannya. Putrinya adalah lambang kekasih dalam impian. Meski perempuan itu tidak mencintainya, dia justru melimpahkan semua kasih sayangnya kepada putrinya.
Cu Siau Hong sendiri tidak mengetahui siapa ibunya. Namun, di bawah kasih sayang ayahnya yang luar biasa, dia telah memperoleh kebahagiaan. Sungguh tak disangka hari ini dia malah dipermainkan orang dan kehilangan pedang, bahkan kena ditempeleng. Bisa dibayangkan betapa sakit hatinya gadis itu.
Dalam kegusarannya, beberapa kali dia ingin melaporkan peristiwa itu kepada ayahnya. Namun, entah kekuatan apa, dia merasa ada baiknya untuk melindungi orang itu. Pikirnya, "Orang itu berwajah tampan, ilmu silatnya juga hebat. Meskipun demikian, andaikata Pat Huang Sin Mo, si tua bangka ini, sampai turun tangan sendiri, mungkin dia tetap akan keok, bahkan bisa jadi akan terancam bahaya maut." Selain menaruh perasaan khawatir, sesungguhnya gadis ini pun membencinya. Perasaan yang saling bertentangan itu membuat si nona tak bisa mengambil keputusan dengan tepat, karenanya dia hanya menangis terus tanpa henti.
Rasul Serigala Langit memandangnya dengan perasaan iba. Katanya kemudian, "Anak Hong, apakah kau telah dipermainkan orang?"
"Dia... dia telah merampas pedangku..." Cu Siau Hong segera menangis terisak.
"Dia? Apakah dia adalah seorang bocah lelaki yang masih muda belia?" tanya Pat Huang Sin Mo.
"Benar!" Cu Siau Hong mengangguk-angguk. "Lelaki muda itu yang telah merampas pedangku, kini dia sudah kabur!"
"Bocah keparat, besar amat nyalinya!" seru Pat Huang Sin Mo kemudian sambil mendepak-depakkan kakinya berulang kali. "Bukan saja sudah mengacau di markas besar kita, berani pula membakar gedung. Hmm! Ayo kita menyebarkan diri untuk melakukan pencarian. Hari ini kita harus berhasil menangkap bocah keparat itu dalam keadaan hidup-hidup!"
Setelah perintah diturunkan, semua orang mengiyakan dan segera menyebarkan diri. Dalam waktu singkat, bayangan tubuh mereka sudah lenyap di balik kegelapan.
Semua orang sudah pergi. Di tepi sungai, tinggal Cu Siau Hong seorang yang masih berdiri sambil memandang kegelapan malam dengan wajah termangu-mangu. Mendadak, sesosok bayangan manusia melayang turun dari jarak lima kaki di hadapannya. Setelah mencapai permukaan tanah, dapat dilihat bahwa orang tersebut tak lain adalah Sik Tiong Giok. Kehadiran pemuda ini seketika membuat Cu Siau Hong tertegun. Dia seperti sudah melupakan peristiwa yang baru saja dialaminya. Dengan penuh perasaan khawatir, segera tegurnya, "Eeeh, mengapa kau kembali lagi? Mereka semua hendak membekukmu hidup-hidup!"
"Dengan kepandaian mereka belum cocok untuk menangkapku," Sik Tiong Giok tertawa. "Kalau tidak percaya, suruh saja mereka kembali ke sini. Tanggung mereka akan kuhajar sampai babak belur!"
"Kau anggap kepandaianmu hebat? Hmm, sekalipun kau dapat mengungguli ayahku, belum tentu bisa mengalahkan Pat Huang Sin Mo!"
"Darimana kau tahu kalau aku tak sanggup mengalahkan Pat Huang Sin Mo?"
"Aku dengar cerita ayah, dulu ia pernah bertarung melawan In Thian Sam Siu seorang diri!"
"Hmmm, kalau membual mah gampang sekali," cibir Sik Tiong Giok sambil mendengus dingin. "Aku tak percaya dengan obrolan-nya itu. Jika kau ingin tahu, suruh saja dia kembali. Katakan kalau Pangeran Serigala Langit, Sik Tiong Giok, ingin berjumpa dengannya!"
"Aaah, jadi kau benar-benar adalah putra si kakek serigala langit...?" Cu Siau Hong menjerit kaget. "Waaah... makin tak becus kalau begitu!"
"Budak ingusan, kau berani memandang rendah aku?" Mendadak Sik Tiong Giok melotot.
Cu Siau Hong sama sekali tidak menggubrisnya. Dia malah mencibirkan bibirnya sambil berkata lagi, "Apa sih hebatnya dengan dirimu? Dahulu Sik Thian Kun juga telah disekapnya selama dua puluh tahun di Bukit Serigala Langit, hanya saja..."
"Budak sialan!" Sik Tiong Giok membentak lagi sambil berkerut kening. "Kau berani menyebut nama ayahku dengan seenaknya saja?"
Cu Siau Hong mengerling sekejap ke arahnya, kemudian berkata lebih lanjut, "Siapa tahu justru ia berhasil mempelajari sejenis ilmu silat yang maha sakti di bukit tersebut. Tentu saja kejadian ini sama sekali tidak disangka oleh Pat Huang Sin Mo!"
Sik Tiong Giok segera tersenyum. "Betul-betul tak kusangka kau si budak bisa mengetahui banyak tentang persoalan ini. Itulah sebabnya dia tak akan bisa mengungguli aku sekarang!"
"Tak ada salahnya kau membual kalau memang kegemaranmu membual!" Sekali lagi Cu Siau Hong mengerling ke arahnya. "Tapi masalah ini menyangkut soal nyawa, lebih baik janganlah kelewat takabur!"
"Siapa sih yang takabur? Kau tidak percaya? Buktikan sendiri setelah pertarunganku dengan-nya dilangsungkan. Sekarang aku belum ingin berkelahi dengannya, karena aku datang untuk menyelamatkan jiwa seseorang!"
"Kau hendak menolong siapa?"
"Seorang nona, dia adalah putri Bun Suki."
"Ooh, kau maksudkan nona she Bun itu?"
"Benar. Dia berada di mana sekarang?"
"Darimana aku bisa tahu?"
Tiba-tiba Sik Tiong Giok menangkap setitik perasaan cemburu di balik wajah cantik nona berbaju merah ini. Buru-buru katanya lagi sambil tertawa, "Padahal aku sendiripun tidak kenal dengannya. Berhubung ayahnya minta bantuan ku dan akupun merasa sungkan untuk menolak, maka aku datang menolongnya. Nona, bila kau tahu, tolong beritahulah kepadaku dan anggaplah kau sedang menolongku!"
Sebenarnya Cu Siau Hong tak ingin menggubrisnya, tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya. "Manusia angkuh yang tinggi hati seperti diapun bersedia minta tolong kepadaku. Jika tidak kujawab, sudah pasti hal ini akan melukai perasaannya!" Ya, memang begitulah hubungan antara manusia dengan manusia seringkali memang sukar diduga dan susah dipahami. Kerap kali seseorang yang mempunyai rasa setia kawan yang tebal, justru tidak menaruh serius terhadap sikap lawannya. Sebaliknya, seseorang yang tak berperasaan setia kawan di waktu biasa, justru menampilkan sikap yang merupakan kebalikannya. Apalagi kalau hal ini terjadi di dalam hubungan antara lelaki dan perempuan, keadaan tersebut makin sering ditemukan.
Cu Siau Hong hanya berpikir menjaga perasaan lawan, tapi dia tak pernah berpikir mengapa harus bersikap demikian, apalagi dia dicemooh dan dihina belum lama berselang. Apakah lawan pun memikirkan hal yang sama? Sayang sekali gadis tersebut sudah melupakan segalanya. Perasaannya menjadi begitu tenang dan bahagia setelah ia berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan lelaki setampan Sik Tiong Giok. Begitulah, setelah termenung sejenak, pelan-pelan dia berkata, "Sekarang dia jatuh sakit di jeram Soh Liong Kian..."
"Apa, dia sakit.... Sakit apa?" tanya Sik Tiong Giok terkejut.
Cu Siau Hong mengerling lagi ke arahnya, kemudian baru menjawab, "Aku kan bukan seorang tabib, darimana bisa kuketahui penyakit apa yang diderita olehnya?"
Kembali Sik Tiong Giok termenung sebentar. "Aku tebak dia pasti jatuh sakit akibat siksaan kalian, kalau tidak, seorang yang sehat walafiat masa dapat jatuh sakit secara tiba-tiba?"
Cu Siau Hong mengerling sekejap, lalu serunya manja, "Heei, kalau bicara sedikitlah tahu perasaan, siapa yang telah menyiksanya? Jika dia sedang jatuh sakit, apa boleh buat?"
"Aku tidak percaya, belum pernah kudengar ada orang yang suka dirinya jatuh sakit!"
"Kalau tidak percaya ya sudahlah, tapi dia benar-benar telah jatuh sakit!"
"Bersediakah kau mengajakku untuk menjenguknya? Dalam sekilas pandangan saja aku akan mengetahui penyakit apakah yang sedang diderita olehnya."
Cu Siau Hong membereskan rambutnya sambil mengedipkan matanya yang jeli, kemudian baru katanya, "Baiklah, enci itu memang benar-benar patut dikasihani." Dia lantas membalikkan badan dan berjalan ke dalam lembah sebelah dalam, diikuti Sik Tiong Giok di belakangnya.
Dalam pada itu, kebakaran telah dipadamkan, hanya tinggal sisa asap tebal yang menyelimuti angkasa. Rasul Serigala sekalian telah keluar dari lembah untuk melakukan pengejaran. Mereka melakukan penggeledahan dengan memencarkan diri, setiap sudut diperiksa. Setiap ada jejak yang mencurigakan, tanda bahaya dibunyikan sehingga suasana benar-benar sangat tegang.
Rasul Serigala sendiri menganggap dia sudah hafal dengan keadaan medan di situ, maka semua pelosok diperiksanya dengan seksama. Wilayah di sekitar sana disebut orang sebagai Tebing Bayangan Setan, karena batu karang berserakan di mana-mana sehingga keadaannya mirip bayangan setan. Biarpun tempat itu tak enak dilewati, di mana tersebar semak belukar yang lebat, namun tidak menghalangi bagi perjalanan Rasul Serigala Langit untuk menembusinya.
Bila perjalanan diteruskan dan melewati Tebing Bayangan Setan, maka perjalanan menjadi semakin sulit dilewati. Batu cadas yang tajam dan licin tersebar di mana-mana. Lumut hijau menyelimuti seluruh permukaan tanah. Biarpun seseorang memiliki kepandaian silat yang sangat hebat, sulit rasanya untuk melalui daerah itu. Dalam waktu singkat, Rasul Serigala Langit sudah menempuh perjalanan sejauh empat puluh tujuh li, bukan saja tiada musuh yang terkejar, bahkan bayangan tubuh dari Pat Huang Sin Mo sekalipun tak terlihat sama sekali.