Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 32

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 32

Tanpa terasa, dia mulai mengerutu sambil berpikir, "Aku bisa memilih tempat ini sebagai markas besar karena daerah ini terletak sangat rahasia dan terpencil. Bila seseorang tidak hafal dengan keadaan di sekitar ini, biarpun dilakukan penyelidikan, namun tanpa kesan yang mendalam bisa jadi akan menyebabkan orang tersesat jalan!" Berpikir demikian, dia pun mengamati jalan di depan sana dengan saksama, lalu dalam benaknya, "Celaka bila kuteruskan perjalanan ke depan, bukankah akhirnya akan tiba di Bukit Muh Cho San?" Tempat dia berhenti sekarang adalah di bawah sebuah tebing yang curam. Di hadapannya terbentang sebuah tebing batu karang setinggi beberapa puluh kaki, di sebelah kiri adalah jurang yang dalam, sedangkan di sebelah kanan adalah tebing yang curam. Pohon siong hampir memenuhi seluruh bukit, boleh dibilang dia telah sampai di tempat yang sangat berbahaya.

Dalam gelisahnya, peluh mulai membasahi seluruh kepalanya. Dia ingin kembali ke jalan semula, tetapi suasana segera dirasakan tidak beres. Sebab, dia teringat kalau Kok Siu Cu dan Thian Si Hua serta teman-teman lain diundang olehnya untuk membantu usahanya. Bila sekarang dia menghindari tempat yang berbahaya untuk mencari kenyamanan, bagaimana tanggapan orang? Padahal, dia mana mungkin tahu kalau Pat Huang Sin Mo sudah terpikat oleh kecantikan Cu Siau Hong sejak pertemuan pertama mereka. Ketika dirasakan kesempatan baik telah diperoleh, kini dia sudah memutar haluan dengan tujuan "mengerjai" si nona kecil itu.

Sudah barang tentu Rasul Serigala Langit tidak akan menduga sampai ke situ. Dia malah mengira Pat Huang Sin Mo masih mengejar musuh di atas bukit, maka dia pun bersuit nyaring beberapa kali dengan maksud ingin mengadakan kontak dengan orang-orangnya.

Siapa tahu, meskipun sudah bersuit enam tujuh kali, sama sekali tidak terdengar sedikit jawaban pun.

Tahulah Rasul Serigala Langit sekarang, bahwa satu *li* di sekitar tempat itu sama sekali tidak terdapat seorang pun.

Akhirnya, dia berusaha untuk memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu. Dirasakan bukit karang itu terlalu berbahaya dan tidak gampang dinaiki. Sedangkan tebing sebelah kanan, meski berbahaya, namun masih bisa didaki kendatipun banyak duri dan jarum pohon siong yang akan menusuk badan.

Sambil menggeretakkan gigi, dia lantas meloloskan pedang dari punggungnya dan menerobos hutan pohon siong sambil mendaki tebing batu tersebut.

Pohon siong tumbuh amat rapat. Jarum-jarum pohon siong pun menusuk tubuhnya. Sekalipun Rasul Serigala Langit telah berusaha untuk membacok ke sana kemari, tetapi sedikit saja dia lengah, ranting kayu sempat menyambar wajahnya yang membuat dia meringis menahan rasa dongkolnya.

Dalam gusarnya, pedangnya lantas diayunkan semakin kalap membacok ke sana kemari.

Siapa tahu, hancuran kayu bertebaran ke mana-mana dan rontok di atas tubuhnya. Masih banyak di antaranya yang menusuk badan dan menimbulkan luka-luka kecil.

Memang, luka tertusuk jarum pohon siong tidak terlalu sakit. Namun, rasa nyeri dan terutama rasa gatal inilah yang membuat dia sedikit tidak dapat menahan diri.

Rasa dongkol yang membara membuat Rasul Serigala Langit mengumpat sepanjang jalan. Mula-mula dia menyumpahi Sik Tiong Giok, tetapi akhirnya Kok Siu Cu pun turut disumpahi.

"Manusia bedebah semua, ke mana perginya telur-telur busuk itu? Sialan, mengejar sampai di mana mereka? Masa mengejar sampai di neraka semua?" Setelah menyumpah serapah, rasa dongkolnya pun berkurang banyak, sementara tubuhnya juga telah mencapai atas tebing itu.

Dia mengembuskan napas lega, kemudian ia bersuit lagi beberapa kali.

Mendadak, dari balik tebing sebelah depan sana terdengar suara jawaban. Hanya saja suaranya tidak terlalu keras, seakan-akan dipancarkan dari suatu wilayah setengah *li* jauhnya dari situ.

Atas bergemanya suara jawaban tadi, Rasul Serigala Langit segera melupakan rasa letih dan merasakan semangatnya berkobar. Dia berpekik kembali sekeras-kerasnya dengan tujuan ingin mengetahui arah lawan secara tepat.

Pada saat dia sedang bersuit nyaring itulah, mendadak dari balik semak belukar melompat keluar seekor macan kumbang yang menerjang ke hadapannya. Kemunculan yang sangat mendadak dari binatang itu membuatnya terkejut sekali.

Apa mau dikata, di saat munculnya macan kumbang itu, kebetulan sekali suara jawaban bergema pula di udara. Hal itu membuatnya gagal untuk menentukan dari mana arah jawaban tadi berasal.

Bisa dibayangkan betapa dongkolnya Rasul Serigala Langit menghadapi keadaan begini. Pedangnya disiapkan untuk membacok macan kumbang itu.

Sayang sekali, macan kumbang tadi sudah kabur entah ke mana.

Tiba-tiba, dari atas bukit sana berkumandang pula suara lolongan serigala yang sangat nyaring.

Sewaktu mengikuti Kakek Serigala Langit dulu, Rasul Serigala Langit pernah berdiam selama beberapa tahun di Bukit Long San. Karena itu, dia tidak merasa takut terhadap serigala. Walaupun demikian, dia cukup mengetahui bahwa cakar serigala amat tajam. Bila sampai tersambar oleh cakarnya, sudah dapat dipastikan akan terluka parah.

Sekarang dia khawatir sekali kalau datangnya serangan dari atas kepala. Bila ini sampai terjadi, tidak mudah baginya untuk menghindar ataupun berkelit.

Maka, kaki kirinya cepat-cepat mendayung ke belakang. Kemudian, dengan jurus burung belibis membalikkan badan, dia melintangkan pedangnya di depan dada siap membabat serigala tersebut.

Siapa sangka, pada saat dia membalikkan badan dan mendongakkan kepalanya itulah...

"Wusss!" Diiringi desingan tajam, segumpal tanah lumpur telah datang menyambar dan persis menghantam wajahnya.

"Plak!" Lumpur itu buyar ke mana-mana dan mengotori seluruh wajahnya, sampai matanya perih dan mukanya sakit sekali.

Pada saat dia sedang membersihkan wajahnya dari lumpur, lolongan serigala kembali bergema, lalu dirasakan datangnya desingan angin tajam yang menerkam tubuhnya.

Sambil memaksakan diri untuk membuka matanya, Rasul Serigala Langit mencoba untuk berkelit ke samping. Sayang, keadaan sudah terlambat, seekor serigala besar telah menerkam tubuhnya.

Tiba-tiba saja dia merasakan iga kiri dan bahu kirinya sakit sekali, sedemikian sakitnya sampai membuat tubuhnya mundur beberapa langkah dengan sempoyongan. Nyaris ia terjerembap ke tanah.

Ketika ia mencoba untuk mengamati serigala tersebut, ternyata binatang itu sudah turun dari atas tebing, entah terluka atau kehabisan tenaga. Rupanya, binatang itu tidak mampu merangkak bangun lagi. Ia hanya mencakar-cakar batu dengan keempat kakinya sembari memperdengarkan suara lolongan yang memedihkan.

Sekarang Rasul Serigala Langit dapat merasakan bahwa bahu kirinya sudah terluka oleh cakar serigala. Rasa gusar dan dongkol dia rasakan. Mendadak, dia melompat bangun dan pedangnya langsung diayunkan ke depan membacok tubuh serigala itu.

Percikan darah segar memancar ke mana-mana. Serigala itu terpotong menjadi beberapa bagian dan isi perutnya berhamburan di mana-mana.

Setelah rasa gusarnya terluapkan, dia baru teringat akan timpukan lumpur serta munculnya serigala liar yang tampaknya sudah terluka itu. Kedua hal tersebut dirasakan sangat mencurigakan. Mungkinkah kejadian ini cuma suatu peristiwa yang kebetulan saja? Sementara berbagai ingatan masih berkecamuk dalam benaknya, tiba-tiba dari atas tebing kembali berkumandang dua kali suara pekikan nyaring.

Tidak memedulikan keadaan tubuhnya lagi, buru-buru Rasul Serigala Langit balas bersuit. Dari atas kembali bergema suara jawaban.

Rasul Serigala Langit segera merasakan semangatnya kembali berkobar. Sambil menahan rasa sakit tertusuk oleh jarum pohon cemara, dia melanjutkan rambatannya ke atas tebing.

Tak jauh mencapai puncak tebing, buru-buru dia berteriak keras, "Siapakah rekan yang berada di atas?" "Aku adalah Kok Siu Cu!" jawaban dari atas bergema nyaring. "Apakah Cu Pangcu yang berada di bawah?" "Benar...!" Baru sepatah kata terucap, dan kata-kata berikutnya belum sempat meluncur keluar dari mulutnya, mendadak muncul kembali serangan pasir yang sangat gencar dari atas tebing.

Padahal Rasul Serigala Langit sedang membuka mulutnya hendak berbicara, maka tak terhindarkan lagi, pasir yang menyerang secara tiba-tiba itu langsung masuk ke dalam tenggorokannya.

Bisa dibayangkan bagaimana keadaan Rasul Serigala Langit itu. Dia harus muntah berulang kali sebelum dapat membersihkan mulut dan tenggorokannya dari ganjalan pasir.

Beberapa saat kemudian, dari atas tebing batu tampak munculnya seseorang. Dia tidak lain adalah Guntur Sakti Api Membara, Kok Siu Cu.

Di bawah sorotan rembulan, tampak dengan jelas bahwa Kok Siu Cu mandi lumpur. Keadaannya sangat mengenaskan.

"Saudara Kok, apakah kau telah menjumpai jejak musuh? Mana saudara Mo lainnya?" Kok Siu Cu menghela napas panjang. "Aduh, Pangcu, lebih baik kau tidak usah banyak bicara dulu. Kali ini aku, Kok tua, benar-benar sudah dipecundangi orang habis-habisan."

"Hei, apa yang sebenarnya telah terjadi atas dirimu?" tanya Rasul Serigala Langit terkejut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment