Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 33

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 33

Baru saja aku membelok ke tebing bayangan setan, aku menjumpai seorang bayangan manusia sedang berkelebat di depanku. Aku segera melakukan pengejaran dengan ketat. Ketika pengejaranku hampir berhasil, tiba-tiba dari tengah jalan muncul seorang yang telah menyergapku secara diam-diam, bagaikan setan menghantam dinding baja. Aku tidak dibiarkan lewat, akibatnya bukan saja aku, She Kok, menjadi terkesima hampir setengah malam, bahkan usahaku menjadi gagal total.

"Dan kau telah bertemu dengan cousu pelindung hukum," kata seseorang. "Dengan kepandaian silatnya, aku rasa tak bakal menderita kerugian apa-apa." "Menurut dugaan, delapan puluh persen tua bangka itu tak bakal kemari, kalau tidak, mengapa suitanku berulang-ulang kali tidak mendatangkan reaksi apa pun?" Ketika mendengar perkataan tersebut, satu ingatan segera melintas dalam benak Rasul serigala. Dia cukup mengetahui akan penyakit dari Pat huang sin mo ini, yang paling tidak tahan bila melihat perempuan cantik, ditambah pula iblis tua tersebut gemar memperkosa anak gadis orang untuk menambah tenaga dalam yang dimilikinya. Hal tersebut membuat Pat huang sin mo si iblis menjadi berbahaya setiap kali bertemu kaum wanita.

Rasul serigala pun teringat akan pujian yang berulang-ulang dari Pat huang sin mo sejak kedatangannya di bukit Kiu nia san tentang kecantikan Hong ji. Jangan-jangan dia telah memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk menggagahi gadis tersebut. "Waaah, kalau dia sampai mengincar dan mengerjai putri kesayanganku, bisa berabe akibatnya....!" Berpikir akan hal itu, tanpa terasa Rasul serigala berseru: "Aduh celaka, kita harus cepat-cepat kembali!" "Pangcu, persoalan apa sih yang membuatmu nampak sangat gelisah?" buru-buru Kok Siu cu bertanya.

Jilid 7: Sik Tiong-giok masih kalah setingkat. "Asal sudah sampai di rumah, kau akan tahu dengan sendirinya, ayo cepat berangkat!" Begitu selesai berkata, dia lantas melejit dan meluncur lebih dulu ke depan tanpa memperdulikan keadaan medan yang sangat sulit dilalui. Dalam dua tiga lompatan saja, ia telah tiba di puncak tebing kemudian meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa.

Dalam pada itu, Pat huang sin mo memang sudah memutar haluan dengan menerjang langsung ke tempat kediaman Cu Siau hong. Sayang sekali dia telah menubruk tempat kosong. Ketika dia balik kembali ke tepi sungai, disanapun tidak ditemukan jejak sinona yang sedang diincar. Sudah barang tentu dia tak akan menyangka kalau Cu Siau hong sedang menemani Sik Tiong giok menuju ke jeram soh liong kian ketika itu.

Didasar jeram tersebut berderet-deret terdapat tujuh delapan buah gua, setiap gua dipakai untuk menyekap beberapa orang yang semuanya merupakan jago-jago persilatan yang bernama besar. Pada gua yang terletak di ujung sebelah kanan, dimana hanya diterangi sebuah lentera kecil, tampak seorang nona cantik tergeletak disana, nona tersebut adalah Bun Ciang cu. Dia sedang memandang langit-langit gua sambil memikirkan pelbagai persoalan ketika tiba-tiba terdengar seseorang menegurnya dari luar pintu gua: "Itu, dia berada didalam sana!" Menyusul kemudian terdengar suara gemerincingan suara rantai bergema memecahkan keheningan, pintu besi dibuka orang dan muncullah dua sosok manusia.

Dalam sekilas pandangan saja nona itu dapat mengenali pendatang tersebut sebagai Sik Tiong giok. Kejut dan girang segera meliputi hatinya, tanpa terasa dia berseru tertahan: "Aah! Engkoh Giok, kau telah datang..." Namun sepasang pipinya segera berubah menjadi merah padam karena dia teringat dengan cepat bahwa mereka baru bertemu untuk kedua kalinya, masa dia langsung memanggilnya dengan sebutan yang begitu mesrah. Rasa malu dan menyesal dengan cepat meliputi seluruh perasaannya.

Sik Tiong giok sama sekali tidak menunjukkan sesuatu reaksi atas panggilan tadi, malah katanya sambil tertawa: "Yaa, benar, aku datang untuk menolong mu, kau tidak apa-apa bukan?" "Ayoh cepat ikut aku keluar dari sini....!" Tentu saja Bun Ciang cu merasa sangat gembira setelah mengetahui kalau sang pangeran datang untuk menyelamatkan jiwanya, namun ketika matanya menangkap wajah Cu Siau hong yang berdiri disamping pemuda itu, paras mukanya segera berubah hebat.

Ia mendengus dingin, lalu tegurnya ketus: "Hei, mengapa kau berada bersama-sama si budak mampus itu?" "Mau apa kau datang kemari?" "Aku datang untuk menolongmu, ayo cepatlah turut aku meninggalkan tempat ini." "Mengapa aku harus pergi mengikutimu?" dengus Bun Ciang cu lagi ketus. "Kalau kau tidak ikut pergi, mereka akan membunuhmu!" "Malah enakan dibunuh mereka, aku tak mau pergi!" "Aneh benar" seru Sik Tiong giok dengan perasaan gelisah, "mengapa sih kau justru ngambek didalam keadaan seperti ini?" "Kalau ada persoalan, bicarakanlah setelah kita meninggalkan tempat ini, bersedia bukan?" "Aku justeru mau mengacau, mau apa kau?" bukan mereda, Bun Ciang cu malah semakin naik pitam.

Cu Siau hong yang menyaksikan kejadian tersebut segera mengerdipkan matanya berulang kali, kemudian ujarnya: "Bila enci ini enggan meninggalkan tempat ini, jangan sampai ketahuan ayah, kalau tidak bisa semakin berabe...." Sik Tiong giok cukup mengetahui betapa gawatnya situasi yang dihadapinya saat itu, bila mereka sampai menunda waktu berapa saat lagi, niscaya dia sendiripun akan sulit untuk meloloskan diri.

Berpikir demikian, tanpa memperdulikan perkataan dari Cu Siau hong lagi, buru-buru serunya: "Nona Bun, bagaimana sih kau ini?" "Ayo cepat berangkat!" Seraya berkata, dia lantas menarik tangan gadis tersebut. Pada dasarnya nona Bun memang lagi mengambek, andaikata Cu Siau hong tidak mengatakan sesuatu apa pun, ketika Sik Tiong giok menarik tangannya, dia pasti akan turut meninggalkan tempat tersebut.

Tapi dia menjadi semakin mendongkol setelah mendengar ucapan dari Cu Siau hong tadi, dalam mendongkol dan gusarnya itu, tahu-tahu Sik Tiong giok menarik tangan-nya, kontan saja dia cengkeram tangan Sik Tiong giok dengan sepasang tangannya, kemudian menggigitnya keras-keras. Sik Tiong giok sama sekali tidak menduga sampai kesitu dan nyaris tergigit olehnya, buru-buru dia pergunakan jurus burung nuri mengebaskan sayap untuk melepaskan diri dari cengkeraman orang, kemudian sambil berkerut kening ia menghardik: "Hei, apa-apaan kau ini?" "Kalau aku mau ngaco, mau apa kau?" "Siapa suruh kau mengurusi diriku..?" jerit Bun Ciang cu.

Atas jeritan mana, Sik Tiong giok menjadi kehilangan daya, untuk sementara waktu rasa cemas, mendongkol segera berkecamuk dalam dadanya, membuat ia mendepak-depakan kakinya berulang kali ke atas tanah. Cu Siau hong mengerling sekejap ke arah Bun Ciang cu, kemudian katanya secara tiba-tiba kepada Sik Tiong giok: "Aku rasa enci ini memang tidak seharusnya pergi meninggalkan tempat ini." "Mengapa?" "Sebab bila kulepaskan dia pergi, bagaimana kalau ayahku kembali dan menanyakan persoalan ini kepadaku?" "Katakan saja kalau aku yang telah melepaskan dirinya, jika ayahmu merasa tidak terima, suruh saja dia datang sendiri mencari aku."

"Tidak, tidak bisa, aku tidak dapat melepaskan dia pergi dari tempat ini" seru Cu Siau hong sambil menggelengkan kepalanya. Belum selesai dia berkata, mendadak Bun Ciang cu melompat bangun, matanya yang jeli melotot besar, lalu bentaknya keras: "Siapa berani menghalangi kepergianku, aku akan beradu jiwa dengan-nya!" Ditengah teriakan tersebut dia melonpat bangun dan segera lari keluar dari gua. Cu Siau hong turut membentak keras: "Mau kabur ke mana kau?" Bayangan manusia berkelebat lewat, dia segera mengejar dari belakangnya.

Memandang bayangan punggung kedua orang gadis yang pergi menjauh, Sik Tiong giok menjadi kegelian sendiri sehingga tanpa terasa dia tertawa terbahak-bahak. Gelak tertawanya sendiri masih tak apa, tapi justru telah mengejutkan para penjaga daerah tawanan itu, suara gembrengan dan tanda bahaya segera dibunyikan orang bertalu-talu, teriakan dan bentakan pun bergema dari sana sini.

Tergerak hati Sik Tiong giok menyaksikan keadaan tersebut, buru-buru dia menjejakkan kakinya sambil melompat keluar. Pada saat tubuhnya baru saja melompat keluar dari pintu baja, para penjaga telah sampai disitu. "Blaaammm....!" Diiringi suara benturan nyaring pintu, baja didepan gua tersebut sudah tertutup rapat-rapat.

Pemuda itu segera melompat naik ke atas atap deretan rumah kayu di depan gua, tapi saat itulah obor telah menerangi sekeliling tempat itu, berapa puluh orang lelaki kekar telah mengurung tempat tersebut rapat-rapat. Sudah barang tentu Sik Tiong giok tak akan memandang sebelah mata pun terhadap kawanan manusia tersebut, sambil tertawa dingin dia bersiap sedia meninggalkan tempat itu.

Mendadak dari belakang tubuhnya terdengar seseorang menegur dengan suara yang merdu: "Oooh, rupanya kau sibocah muda?" Dengan perasaan terkejut Sik Tiong giok segera berpaling setelah mendengar suara teguran itu, tampak seorang perempuan cantik berbaju hijau sedang memandang ke arahnya dengan senyuman dikulum dan kerlingan mata yang memikat.

Dari gerak-geriknya yang lembut, terbawa pula sikap kemalu-maluan yang membuat orang makin terpikat. Penampilan-nya sebagai seorang perempuan cantik yang sudah matang, dikombinasikan gerak-gerik lembut yang kemalu-maluan dari seorang dara muda, membuat siapapun yang memandang perempuan ini akan timbul perasaan kasih dan sayang terhadap dirinya.

Sik Tiong giok sama sekali tidak kenal dengan perempuan ini, akan tetapi dia dapat merasakan bahwa perempuan tersebut adalah seorang iblis yang sangat menakutkan. Dilihat dari sorot matanya yang penuh memancarkan sinar cinta dan birahi, bisa dipastikan, setiap lelaki yang kurang kuat iman-nya niscaya akan terperangkap oleh jaring-jaring cinta perempuan tersebut.

Berpendapat demikian, cepat-cepat pemuda itu menenangkan hatinya, lalu menegur dengan suara dingin: "Siapakah kau?" "Aku bernama Bwee Soat yan, masa kau tidak kenal aku?" perempuan cantik berbaju hijau itu menegur sambil tersenyum.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment