Chapter 34
Aku kan tak pernah bertemu denganmu, darimana mungkin bisa tahu siapakah dirimu?" Perempuan cantik berbaju hijau itu tertawa merdu. Setelah mengerling genit, katanya kemudian, "Kita sudah pernah bertemu muka, masa kau sudah lupa ketika dengan cambukmu kau menghalau tujuh macan kumbang di jalan raya Soat Lam..."
"Oooh, kalau begitu kau adalah perempuan setan berbaju hijau Bwee Soat Yan, satu di antara lima walet dari Telaga Tong Ting?"
"Nah, tebakanmu memang tepat sekali!" Bwee Soat Yan tersenyum manis. "Besar amat nyalimu, berani juga membuat huru-hara dalam lembah Hwee Kok kami!"
"Apa sih hebatnya dengan lembah kalian? Jangan lagi hanya membuat huru-hara, bahkan aku akan meratakan sarang iblis ini dengan permukaan tanah!"
"Huuuh, mengibuli," Bwee Soat Yan mencibirkan bibir. "Jangan kau anggap setelah mengejar tujuh macan kumbang dari Bukit Pa San, lantas kau bisa malang melintang sesukamu. Siapa pun yang berada di dalam lembah To Bwee Kok ini mampu untuk menahan dirimu!"
"Haaah... haaah... haaaah... orang-orang lembah To Bwee Kok. Aku lihat masih belum ada seorang manusia pun yang bisa kuhargai," Sik Tiong Giok tertawa nyaring.
Bwee Soat Yan berkerut kening lalu mendengus, "Bocah muda, kau benar-benar amat takabur. Beranikah kau bertarung melawanku?"
"Siapa bilang tidak berani?" Sik Tiong Giok tertawa. "Aku cuma khawatir kalau pinggangmu yang ramping sampai patah, nah di kemudian hari kau tak dapat memikat orang lagi!"
Bwee Soat Yan mengerling sekejap ke arah Sik Tiong Giok, kemudian berkata, "Sungguh tak kusangka kau, si bocah muda, pandai betul menggoda orang. Bagaimana kalau kita beradu ilmu meringankan tubuh saja?"
"Baik!" Sik Tiong Giok tertawa. "Bagaimana cara kita bertanding? Asal kau mengajukan caranya, aku tak akan menolak."
"Bagaimana kalau kita beradu kecepatan? Kita lihat siapa yang akan lebih cepat di antara kita?"
"Bagus sekali, dan aku pun bersedia mempersilakan kau berlari lima kaki lebih dahulu."
"Hmmm, kau jangan kelewat takabur dulu, ayo sekarang kejarlah diriku..." Belum habis serunya, tubuhnya sudah meluncur lebih dahulu ke depan. Dalam waktu singkat, tubuhnya sudah berada tujuh delapan kaki dari posisi semula.
Sik Tiong Giok baru merasa terkejut setelah menyaksikan pihak lawan memiliki gerakan tubuh yang cepat bukan main. Tapi dasar anak muda yang ingin mencari kemenangannya sendiri, dia tak sudi mengaku kalah begitu saja. Sambil menghimpun tenaganya, ia pun melakukan pengejaran secepatnya.
Lima walet dari Telaga Tong Ting memang memiliki kepandaian silat yang luar biasa, terutama dalam ilmu meringankan tubuh. Ia sudah termasyhur selama bertahun-tahun. Ketika berlarian, ternyata kecepatannya seperti sambaran petir.
Namun, Sik Tiong Giok juga berasal dari perguruan kenamaan. Bakatnya bagus ditambah masih muda dan bertenaga besar. Coba kalau ia tidak mengeluarkan tenaga dalam sebesar dua belas bagian, mungkin ia sudah kalah sedari tadi.
Kejar-mengejar pun segera terjadi. Tampak dua sosok bayangan manusia bagaikan sambaran kilat cepatnya melewati beberapa bukit dan sekejap mata kemudian belasan li telah dilalui, namun siapa lebih unggul dan siapa lebih kalah belum juga diketahui.
Baru saja Sik Tiong Giok hendak mengejar lebih jauh, mendadak satu ingatan melintas di dalam benaknya. Segera pikirnya, "Aduh celaka, aku sudah tertipu oleh siasat perempuan cabul ini. Dia sengaja hendak memancing kepergianku rupanya. Dengan begini, bukankah Nona Bun akan disekap orang lagi?"
Kendatipun ia berpikir demikian, tentu saja anak muda tersebut enggan membatalkan niatnya di tengah jalan, sebab bila sampai berbuat demikian, sama artinya ia sudah kalah di tangan lawan. Dengan tabiatnya, tentu saja ia tak sudi mengaku kalah di hadapan orang lain.
Maka sambil menggigit bibir, larinya dipercepat. Dalam beberapa kali lompatan saja, ia telah menghadang di hadapan Bwee Soat Yan, kemudian sambil tertawa terbahak-bahak serunya, "Nah, siapa menang siapa kalah sudah ketahuan, bukan!"
Bwee Soat Yan tertawa pula terkekeh-kekeh, "Yaa, sudah. Kali ini anggap saja kau yang menang. Berani tidak bertanding adu jotos denganku?"
"Hmmm, sudahlah, kau tak usah menggunakan otak licik lagi untuk menipuku. Sia-sia mah tak akan sudi tertipu oleh akal busukmu itu..." Selesai berkata, ia lantas menghentikan langkahnya dengan maksud hendak balik kembali untuk menolong Bun Ciang Cu.
Dengan susah payah, setan perempuan berbaju hijau Bwee Soat Yan berhasil memancingnya sampai di situ, sudah barang tentu ia tak sudi melepaskannya begitu saja. Tubuhnya berkelebat cepat dan sekali lagi menghadang di hadapannya, "Bocah muda marga Sik, jangan mencoba kabur sebelum memberi beberapa petunjuk kepadaku...!"
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, ia segera meloloskan ruyung lemasnya yang melilit di atas pinggang. Ruyung lemas ini bentuknya jauh berbeda dengan ruyung-ruyung lemas pada umumnya. Di atas ruyung tadi penuh dengan kaitan-kaitan yang halus dan lembut. Barang siapa terkena sambarannya, sudah dapat dipastikan kulit dan daging tubuhnya akan tercopot sebagian besar.
Setelah mempersiapkan ruyung lemasnya, Bwee Soat Yan baru berseru dengan suara merdu, "Saudara cilik, senjataku ini disebut Ruyung Ular Kala. Di atas setiap kaitan tersebut telah diberi racun yang sangat jahat. Kuanjurkan kepadamu lebih baik bersikaplah hati-hati...." Nada ucapan tadi sangat halus, lembut, dan penuh perhatian, sedikit pun tidak mirip sikap seseorang terhadap musuhnya.
Kendatipun demikian, ternyata, serangan yang kemudian dilancarkan ganas dan buas sekali. Tak ada sedikit pun perasaan belas kasihan di dalam serangannya itu. Hal ini sudah barang tentu membuat Sik Tiong Giok menjadi sangat terkejut. Buru-buru ia menghindarkan diri ke samping lalu serunya, "Aku mah tak sudi bertarung melawanku. Maaf, selamat tinggal!" Ia lantas merebut jalan di sisi arena dan tetap berusaha untuk kembali ke Jeram Soh Liong Kian guna menyelamatkan Bun Ciang Cu.
Sik Tiong Giok tersenyum. Tubuh bagian atasnya segera dijatuhkan ke belakang untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut, kemudian tubuhnya maju sekali lagi dan melejit sejauh empat lima kaki dari posisi semula.
Bwee Soat Yan mengerti bahwa ia tak bakal dapat menyusul lawannya. Satu ingatan segera melintas di dalam benaknya. Mendadak serunya dengan suara merdu, "Waah, rupanya putra si kakek serigala tak lebih cuma gentong nasi yang tak berguna. Percuma kehadiranmu di dunia persilatan, sebab hanya akan merusak nama baik ayahmu saja... benar-benar menggelikan, haaah... haaah..."
Sik Tiong Giok segera menghentikan langkahnya setelah mendengar perkataan itu. Pikirnya dengan cepat, "Yaa, aku tak boleh merusak nama baik ayah, apalagi membuatnya tercemar...." Berpikir demikian, ia segera melompat balik ke tempat semula. Bwee Soat Yan tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Dengan cepat ia menerjang tiba. Ruyung ekor kalajengkingnya membawa desingan angin berbau amis langsung menyapu datang.
Sik Tiong Giok berkerut kening. Pedangnya digetarkan dan balas menyapu ruyung ekor kalajengking tersebut.
"Aduuh mak! Kau sungguh tak tahu malu!" teriak Bwee Soat Yan keras-keras. "Masa kau pergunakan pedang milik anak gadis untuk bertarung?"
"Huuh, tak tahu malu!" Sik Tiong Giok mendengus dingin. Dengan cepat ia sarungkan kembali pedang itu pada punggungnya. "Aku pun tetap dapat mengungguli dirimu!" Sepasang tangannya segera direntangkan kemudian tubuhnya berputar ke sana kemari dengan kecepatan luar biasa. Kendatipun serangan ruyung dari Bwee Soat Yan begitu dahsyat, cepat, dan ganas, ternyata tak sebuah pun di antaranya yang dapat menjawil ujung bajunya.
Dalam sekejap mata, dua puluh gebrakan sudah lewat. Tiba-tiba Bwee Soat Yan membentak lagi, "Kalau kemampuanmu cuma bisanya menghindar ke sana kemari, terhitung lelaki macam apakah dirimu itu?"
Sik Tiong Giok tertawa. "Jadi kau ingin memanasi hatiku agar ku rebut cambukmu itu? Apa sih sulitnya?" Sembari berkata, ia membungkukkan badannya untuk memungut dua batang ranting kering dari atas tanah, kemudian sepasang matanya mengawasi bayangan ruyung musuh tanpa berkedip, menanti sapuan ruyung itu hampir mendekati dirinya. Tiba-tiba saja ia menyongsong ancaman tadi dengan sepasang ranting itu.
"Lepas tangan!" hardiknya keras-keras. Kedua batang ranting tersebut menjepit ruyung ekor kalajengking tadi, satu di atas dan yang lain di bawah, kemudian membetotnya ke belakang. Menyusul kemudian kaki kanannya melepaskan tendangan. Dalam waktu singkat, tiga buah tendangan berantai telah dilontarkan.
Mimpi pun Bwee Soat Yan tidak menyangka kalau ilmu bagian bawah musuh begitu lihai. Ia berniat mengerahkan tenaganya untuk merampas ruyung tersebut, tahu-tahu ujung kaki Sik Tiong Giok telah menutul di atas lututnya. Seketika itu juga ia merasakan tubuhnya menjadi kesemutan, tenaga dalamnya menjadi buyar, dan tubuhnya langsung terjatuh ke atas tanah...
Dengan suatu gerakan yang cepat, Sik Tiong Giok merampas gagang ruyung tadi, kemudian baru berkata sambil tertawa, "Nah, bagaimana dengan putranya kakek serigala langit... tidak goblok, bukan?" Ruyung hasil rampasan tadi segera dibuang kembali ke atas tanah, kemudian menerjang ke muka dengan cepat. Bahkan ia lari dengan kecepatan tinggi sebab kuatir bila sampai terlambat, Bun Ciang Cu sudah terjatuh kembali ke tangan lawan.
Begitulah, dengan kecepatan bagaikan sambaran petir ia balik ke markas besar Siu Lopang di Lembah To Bwee Kok. Siapa tahu karena tidak paham dengan jalan di situ, tujuan yang seharusnya adalah Jeram Soh Tiong Kian, ia malah sampai di Tebing Ki Cui Gan. Sebuah bangunan loteng yang indah muncul di tepi bukit yang disekeliling sungai kecil. Pada saat itulah terdengar dari atas loteng bergema suara helaan napas seseorang, "Aaa..."