Chapter 35
"Entah dia sudah berhasil keluar dari Lembah To Bwee Kok atau belum?" Hati Sik Tiong Giok tergerak setelah mendengar perkataan itu. Ia membatin, "Bukankah itu suara Nona Hong Ji? Tampaknya Nona Bun telah berhasil meloloskan diri. Jika tidak, mengapa dia merasa khawatir?" Tentu saja dia tidak menyangka bahwa orang yang dikhawatirkan sang nona saat ini tidak lain adalah dirinya sendiri, Sik Tiong Giok.
Sementara dia masih termenung, tiba-tiba dari kejauhan muncul sesosok bayangan manusia. Begitu sampai di bawah loteng, sosok itu langsung melompat naik ke ruangan di tingkat dua. Sik Tiong Giok sangat terkejut menyaksikan gerak tubuh yang begitu cepat dari orang tersebut.
Untung saja ia bermata jeli. Saat gerakan tubuh orang itu sedikit terhenti, ia dapat melihat wajah lawan dengan sangat jelas. Ternyata orang itu adalah Pat Huang Sin Mo. Kecurigaan segera timbul dalam benaknya. Ia berpikir, "Sungguh aneh, apa yang dilakukan gembong iblis ini di kamar tidur seorang gadis pada tengah malam buta?" Selagi ia masih termenung, Pat Huang Sin Mo telah membuka pintu dan masuk ke ruangan.
Tiba-tiba terdengar jeritan kaget Cu Siau Hong, "Aaah... Paman Mo...!"
Pat Huang Sin Mo segera tertawa terbahak-bahak. "Ha-ha-ha... Benar, Anak Manis! Tahukah kau betapa besarnya cintaku kepadamu?"
Entah mengapa, setelah mendengar perkataan tersebut, Sik Tiong Giok merasakan api cemburu membakar dadanya. Dalam waktu singkat, hatinya terasa sakit bagaikan diiris-iris pisau; ia benar-benar menderita.
Mendadak terdengar Cu Siau Hong menjerit lagi, "Jangan! Jangan! Aku tidak dapat memenuhi keinginanmu itu...!"
"Ha-ha-ha... Anak Manis, mungkinkah kau bisa menolak?"
"Cepat turun dari loteng ini! Jika tidak, aku akan berteriak!"
Sekali lagi Pat Huang Sin Mo tertawa seram. "Aku percaya tidak ada orang di perkumpulan Siu Lo Pang ini yang berani mencampuri urusanku. Bahkan Cu Bu Ki sendiri pun akan tunduk menuruti perintahku!"
Dari percakapan yang berlangsung, Sik Tiong Giok segera menyimpulkan apa yang sedang terjadi. Ia memejamkan mata rapat-rapat, namun dadanya terasa hendak meledak. Sebuah pikiran melintas di benaknya, "Selama aku, Pangeran Serigala, masih berada di sini, tidak akan kubiarkan iblis ini bertindak gila!"
Dengan darah yang mendidih, ia segera berteriak keras, "Iblis tua bangka! Tak kusangka kau hanyalah binatang bertopeng manusia. Jika punya keberanian, jangan mengusik anak gadis orang! Ayo turun dan bertanding melawanku!"
Teriakan itu dilontarkan pada saat yang tepat. Cu Siau Hong segera memanfaatkan kesempatan itu untuk meloloskan diri dari cengkeraman sang iblis. Tanpa memedulikan pakaiannya yang berantakan dan rambutnya yang kusut, ia segera melarikan diri melalui jendela.
Sekilas pandang, ia melihat Sik Tiong Giok berdiri di tengah halaman. Bagaikan bertemu bintang penolong, ia langsung menerjang maju. Sik Tiong Giok sendiri tidak pernah menganggap nona tersebut sebagai musuh, karena ia merasa gadis itu tidak akan mencelakai nyawanya. Begitu gadis itu mendekat, ia segera merentangkan tangannya dan memeluk tubuh gadis tersebut erat-erat.
Keadaan Cu Siau Hong saat itu sungguh mengenaskan; pakaiannya compang-camping tidak keruan, wajahnya pucat, dan sangat memprihatinkan.
"Kau belum mengalami kemalangan, bukan?" bisik pemuda itu lirih.
Cu Siau Hong menggeleng. Dengan air mata membasahi wajahnya, ia menyahut, "Belum. Mari kita melarikan diri dari sini. Kau tidak akan sanggup mengunggulinya!"
"Siapa dia?" tanya Sik Tiong Giok terburu-buru.
"Pat Huang Sin Mo, Mo Sia Ih!"
"Apa hebatnya Pat Huang Sin Mo?" teriak Sik Tiong Giok dengan gusar. "Aku tidak takut padanya. Malah justru aku sedang mencarinya untuk diajak bertanding. Nanti sekalian akan kubalaskan rasa sakit hatimu!"
Cu Siau Hong terkejut mendengar perkataan itu. Tanpa sadar, ia memegang lengan pemuda itu erat-erat sambil berbisik, "Kau... jangan mengusiknya. Ilmu silat yang dimilikinya sangat hebat!"
Sik Tiong Giok tersenyum tenang. Sepasang matanya mengamati wajah nona itu lekat-lekat. Dengan cepat ia tertarik oleh kecantikannya. Selain berwajah cantik jelita, Cu Siau Hong memiliki sikap yang anggun dan lembut, sehingga membuat siapa pun yang memandang akan menaruh rasa sayang dan kasihan kepadanya. Apalagi dalam keadaan ketakutan seperti sekarang, penampilannya semakin mempesona.
Pada saat itulah, dari kejauhan tiba-tiba melompat sesosok bayangan manusia. Begitu mendekat dan menyaksikan keadaan pasangan muda-mudi tersebut, ia segera meraung gusar, "Bocah keparat, ternyata kau bersembunyi di sini!"
Sekilas pandang, Sik Tiong Giok dapat melihat bahwa lawannya adalah seorang lelaki cebol yang tingginya tidak sampai empat depa. Tubuhnya gemuk dan bulat, persis buah bligo. Mengenali orang itu sebagai "Gonggongan Bernyawa Pendek" Thian Si Hua, pemuda itu tertawa terbahak-bahak.
Serunya, "Hei, cebol Thian Si Hua! Kau jangan takabur dulu. Hari ini aku, Sik Tiong Giok, akan menghukum sampah masyarakat sepertimu dengan setimpal!"
Thian Si Hua terkejut dan tertegun mendengar namanya disebut. Ia tidak menyangka musuhnya mengetahui identitasnya dengan begitu jelas. Setelah tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan, ia berkata, "Anak kecil, jangan bicara semaumu sendiri!"
"Kenapa?" ejek Sik Tiong Giok sambil tertawa. "Apakah kau kurang percaya? Berani tidak berkelahi denganku?"
"Keparat sialan! Kau berani menantangku bertarung? Sudah bosan hidup rupanya?"
"Jadi, kau tidak berani bertarung melawanku?"
Thian Si Hua tertawa seram. "Bocah keparat yang tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, rasakan dulu pukulanku ini!"
Mendadak ia menerjang maju, melontarkan pukulan ke depan. Sik Tiong Giok tidak mencoba menghindar ataupun berkelit. Sebaliknya, ia menyongsong ancaman itu. Mula-mula ia mendorong tubuh Cu Siau Hong ke samping, lalu setelah merendahkan tubuhnya, ia mendesak maju menerjang Thian Si Hua sambil berteriak, "Lihatlah sendiri, aku akan membuatmu menjadi bligo yang menggelinding!"
Meski berpenampilan demikian, Thian Si Hua masih terhitung gembong iblis ternama di dunia persilatan. Dalam hal ilmu silat, ia termasuk jagoan kelas satu. Namun kenyataannya, ia tidak berhasil menyadari gerakan apa yang digunakan Sik Tiong Giok untuk mendekati tubuhnya, apalagi pemuda itu seakan tidak takut terhadap serangannya yang dahsyat.
Selagi ia tertegun, tiba-tiba pinggangnya terasa mengencang, kuda-kudanya goyah, dan... "Blaammm!" Tubuhnya yang gemuk pendek itu terbanting ke atas tanah. Untung saja ilmu silatnya cukup tangguh. Begitu terjatuh, ia segera melompat bangun kembali. Jika orang lain yang mengalaminya, bantingan itu mungkin membuat mereka tidak mampu bangkit lagi.
Dalam kegelapan, mendadak terdengar seseorang menjerit kaget, "Hei, dia benar-benar telah menggunakan ilmu silat warisan dari Tua Bangka Serigala Langit!"
Belum habis jeritan itu, kembali terdengar seseorang berteriak kaget, "Anak Hong, mengapa kau? Apakah bocah keparat itu telah menganiayamu?"
Dengan cepat Sik Tiong Giok berpaling. Ia melihat tiga orang telah muncul: Pat Huang Sin Mo Mo Sia Ih, Lei Hwee Sin Lui Kok Siu Cu, dan Rasul Serigala Cu Bu Ki. Berjumpa kembali dengan ayahnya, Cu Siau Hong merasa sangat sedih. Tidak sempat memberi penjelasan, ia sudah menangis tersedu-sedu sambil menubruk ke dalam pelukan Rasul Serigala.
Sinar buas memancar dari mata Rasul Serigala. Ia melotot sekejap ke arah Sik Tiong Giok, kemudian bertanya dengan lembut, "Anak Hong, kau belum dirugikan olehnya, bukan?"
Cu Siau Hong menggelengkan kepala berulang kali sambil tetap menangis terisak. Rasul Serigala segera mengembuskan napas lega. Ia merasa dadanya kembali enteng, seolah baru saja menyingkirkan batu besar yang menindih tubuhnya.
"Bagus sekali kalau begitu. Namun, aku tidak dapat mengampuni bocah keparat ini! Siapa pun yang berani menganiaya putriku, dia harus mampus!"
Mendengar ucapan itu, Cu Siau Hong menjerit kaget dan segera menghentikan isak tangisnya. Setelah mengedipkan mata berulang kali, ia berkata, "Ayah, kau tidak akan mampu mengunggulinya!"
"Hmm! Suatu saat, aku pasti akan membunuhnya dengan tanganku sendiri," dengus Rasul Serigala.
Perkataan itu membuat hati dua orang bergetar keras. Salah satunya adalah Pat Huang Sin Mo, Mo Sia Ih. Ia sangat memahami apa yang telah diperbuatnya. Walaupun dengan kepandaian silatnya ia mampu menandingi Im Thian Sam Siu, peristiwa itu sudah berlalu dua puluh tahun silam. Bagaimana keadaannya sekarang masih menjadi tanda tanya besar.
Di samping itu, dalam hati kecilnya ia masih memiliki perhitungan; ia hendak menggunakan pengaruh Rasul Serigala serta kemampuannya sendiri untuk melenyapkan Im Thian Sam Siu. Dengan demikian, bukankah dia akan menjadi manusia nomor satu di kolong langit? Seandainya dia dan Rasul Serigala sampai bentrok, hal itu tidak akan menguntungkan pihaknya. Tak heran ia sangat khawatir jika Cu Siau Hong sampai menyingkap kedok jahatnya.