Chapter 36
Orang kedua adalah Cu Siau Hong sendiri. Dari ucapan ayahnya, ia sadar ayahnya salah mengira Sik Tiong Giok sebagai pelaku mesum tersebut, padahal sejatinya ia telah jatuh cinta kepada lelaki itu.
Namun, dari sorot mata ayahnya, ia menangkap pancaran sinar buas yang mengerikan hati. Bagaimana mungkin hatinya tidak terkesiap.
Berpikir demikian, ia berencana menjelaskan kepada ayahnya bahwa pelaku tindak kejahatan susila terhadap dirinya bukanlah Sik Tiong Giok, melainkan Pat Huang Sin Mo.
Akan tetapi, sebelum rahasia itu terungkap, Pat Huang Sin Mo telah menimbrung lebih dulu.
"Bocah keparat ini memang menggemaskan, kita tidak boleh mengampuninya!" "Haaah... haaaah... haaaah... Makhluk tua, apakah kau ingin berkelahi denganku?" cibir Sik Tiong Giok sambil tertawa terbahak-bahak.
Pat Huang Sin Mo tertawa seram.
"Sejak pertarunganku melawan Im Thian Sam Sio dua puluh tahun silam, hingga kini aku belum pernah turun tangan lagi. Aku memang sangat berhasrat mencoba kepandaian silatku; ingin kuketahui apakah masih cukup mantap atau tidak?" Sementara itu, Kok Siu Cu, yang telah dipermainkan orang habis-habisan selama setengah malam, merasa dongkol karena tidak dapat melampiaskan amarahnya. Ketika mendengar ucapan itu, dengan cepat ia menimbrung, "Cousu pelindung hukum adalah atasan kita semua, mengapa Anda harus turun tangan sendiri? Biar aku saja yang mencoba kepandaian silat orang ini!" Pat Huang Sin Mo tertawa dingin, "Biarpun aku sudah tua, tapi yakin belum sampai keropos sehingga tidak mampu menahan pukulannya. Jika dalam dua puluh gebrakan mendatang aku tidak berhasil membekuk keparat ini, aku akan segera mengundurkan diri dari dunia persilatan!" Sejak tadi Rasul Serigala memang ingin membunuh Sik Tiong Giok, seakan hendak menghilangkan duri dalam matanya. Dengan cepat ia menyahut setelah mendengar perkataan itu, "Kalau begitu, merepotkan cousu untuk segera turun tangan..." Cu Siau Hong sangat mengkhawatirkan keselamatan kekasih hatinya, tetapi ia merasa kurang leluasa untuk menghalangi. Oleh sebab itu, ia hanya bisa mengerling berulang kali kepada Sik Tiong Giok dengan maksud agar pemuda itu meninggalkan tempat tersebut secepatnya.
Namun, Sik Tiong Giok adalah pemuda yang tinggi hati; pada hakikatnya ia seolah tidak mengenal arti takut. Di samping itu, ia pun berhasrat mencoba kepandaian orang itu, maka sahutnya kemudian, "Bagus sekali, silakan kalian maju bersama-sama, aku tidak akan merasa jeri." Meskipun demikian, ia juga tidak berani terlalu gegabah; sorot matanya dengan cepat memperhatikan sekeliling tempat itu.
Kurang lebih sepuluh kaki di belakang tubuhnya, ia melihat sebuah dinding batu setinggi lebih dari tiga kaki.
Di lembah To Hwee Kok yang begitu luas, sesungguhnya hanya Khi Cui Gan saja yang dikelilingi dinding batu setinggi itu, sebab di tempat inilah putri kesayangan Rasul Serigala berdiam. Untuk menghindari segala kemungkinan yang tidak diinginkan, dibangunlah sebuah dinding batu yang tinggi.
Tinggi dinding tadi mencapai lebih dari tiga kaki. Dengan tenaga dalam yang dimiliki Sik Tiong Giok sekarang, tentu saja bukan masalah sulit baginya untuk melaluinya. Tetapi jika dalam pertarungan, apalagi menghadapi jagoan golongan iblis yang berkepandaian tinggi, ia belum yakin bisa melampaui dinding tersebut untuk melarikan diri, jika ternyata nanti ia tidak berhasil menandingi musuhnya.
Sekalipun otaknya berputar keras mencari akal, paras muka Sik Tiong Giok tetap dihiasi senyuman yang ramah.
Sementara itu, fajar sudah mulai menyingsing, tetapi suasana remang-remang masih menyelimuti seluruh jagat.
Paras muka Pat Huang Sin Mo, Mo Sia Ih, diselimuti hawa nafsu membunuh yang sangat tebal. Sambil mengawasi Pangeran Serigala tanpa berkedip, ia berkata dingin, "Bocah muda, silakan kau turun tangan lebih dulu, keluarkan semua kepandaian yang masih kau miliki. Aku ingin tahu sampai dimanakah taraf kepandaian yang kau miliki!" Kata-kata takabur yang sombong dan meremehkan itu segera memancing rasa gusar dan tinggi hati Sik Tiong Giok. Ia mendengus dingin, "Baik, silakan kau lancarkan seranganmu!" Telapak tangannya direntangkan, kemudian sambil mendesak maju ke depan, ia melepaskan sebuah serangan dahsyat.
Pat Huang Sin Mo memang seorang yang takabur, tetapi ia juga sadar bahwa lawan adalah murid Im Thian Sam Sio, tak heran jika ia tidak berani bertindak gegabah.
Ditambah lagi, ia dapat menyaksikan serangan musuh sangat hebat. Biarpun gerak serangannya tampak lamban, kenyataannya sangat cepat. Dalam keterkejutan, ia buru-buru memusatkan seluruh kekuatannya untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Ketika telapak tangan Sik Tiong Giok hampir menempel di dada Pat Huang Sin Mo dan tenaga serangannya belum dilancarkan, tiba-tiba ia merasakan ketenangan lawan dalam menghadapi ancaman tersebut. Penemuan ini membuat hatinya terkesiap. Sambil membentak, serangannya segera dipercepat.
Bersamaan waktunya, telapak tangan dimuntahkan keluar dan segulung tenaga serangan pun dilepaskan.
Pat Huang Sin Mo sama sekali tidak menangkis ancaman tersebut; sebaliknya, ia justru menyambut datangnya pukulan itu dengan keras lawan keras.
"Blaaaaaammm!" Tenaga pukulan dari Sik Tiong Giok mengenai tepat di dadanya, menyusul kemudian dari serangan telapak tangan menjadi kepalan dan sekali lagi disodok ke muka.
Sebetulnya Pat Huang Sin Mo bermaksud hendak mengandalkan tenaga dalamnya yang sempurna untuk menyambut serangan itu dengan kekerasan; ia ingin mengetahui sampai dimanakah tenaga pukulan yang dimiliki lawan.
Setelah bentrok terjadi, ia baru menyadari bahwa musuh yang berusia muda ini sesungguhnya memiliki tenaga dalam yang amat sempurna.
Kepandaian ini memang sangat hebat. Meskipun dadanya diisap ke dalam, ternyata kakinya sama sekali tidak bergeser. Walaupun begitu, ternyata jarak antara dada dengan pukulan lawan terselisih sejauh beberapa depa.
Sik Tiong Giok pun sangat terkejut; ia tak menyangka iblis tua tersebut berani menyambut serangan yang maha dahsyat itu dengan kekerasan.
Berhubung dada lawan ditarik ke belakang, dalam keterkejutannya ia tak berani maju lebih ke depan. Buru-buru ia ganti jurus dan maju sambil memiringkan badan; telapak tangannya juga berubah menggunakan jurus Serigala Lari ke Empat Penjuru.
"Blaaaammmmm!" Sekali lagi sebuah pukulan maha dahsyat menerjang dada dan tulang iga. Pat Huang Sin Mo memutar separuh badannya; secepat sambaran kilat ia mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan lawan.
Serangan itu kelihatannya sederhana dan biasa, namun kecepatan gerak dan ketepatan serangannya sangat mengejutkan hati orang.
Biarpun Sik Tiong Giok terkesiap menghadapi kejadian ini, paras mukanya sama sekali tidak berubah. Buru-buru ia mengangkat pergelangan tangannya dan menyapu wajah lawan dengan cepat.
Sapuan itu kelihatannya seperti tidak disertai tenaga, padahal inilah jurus Hati Buddha Gigi Serigala yang merupakan jurus serangan paling ganas dalam ilmu Dua Belas Tangan Cacat. Seandainya sampai tersambar, biarpun tidak sampai mematikan, paling tidak tulang dan kulit akan hancur, tentu saja sakitnya bukan alang kepalang...
"Serangan bagus!" Pat Huang Sin Mo segera berseru setelah menyaksikan kejadian ini.
Ia sama sekali tidak menggeserkan posisi tubuhnya, hanya secara tiba-tiba saja pergelangan tangannya digetarkan ke depan.
Pada saat ujung bajunya dikebaskan ke muka itulah, tiba-tiba lengannya seolah makin panjang; kelima jari tangannya bagaikan kaitan langsung mencengkeram siku musuh.
Pertarungan jarak dekat ini sama-sama dilakukan kedua orang itu dengan ilmu silat tingkat tinggi. Dalam waktu singkat mereka berdua telah saling bergebrak sebanyak dua puluh jurus. Hal ini membuat Cu Siau Hong yang menonton jalannya pertarungan itu segera melototkan matanya bulat-bulat seperti orang terpesona.
Ketika ujung jari tangan Sik Tiong Giok hampir menyentuh ujung baju lawan, pemuda itu segera merasakan adanya ketidakberesan. Cepat ia lancarkan tiga buah tendangan berantai yang mengancam tiga bagian tubuh Pat Huang Sin Mo.
Bersamaan waktunya, tubuhnya mengikuti tendangan tersebut; ia menjatuhkan diri ke belakang dan mundur sejauh dua tiga depa.
Melihat gerak perubahan jurus lawan amat dahsyat ditambah lagi tendangannya sangat buas dan jahat, mau tidak mau Pat Huang Sin Mo harus menggeserkan posisinya. Dengan begitu, kedua belah pihak pun terpisah sejauh beberapa depa.
Iblis tua itu sama sekali tidak membiarkan musuhnya mempunyai peluang. Sepasang lengannya kembali digetarkan sambil menerkam ke depan; sepasang tangannya digunakan bersama, sementara telapak tangan kirinya melancarkan sebuah pukulan maha dahsyat. Tangan kanannya dengan enteng dan cekatan mencengkeram beberapa urat nadi di siku dan pergelangan tangan lawan.
Sik Tiong Giok memang tidak sempat melihat dengan jelas jurus serangan apakah yang digunakan lawan, namun ia dapat merasakan betapa ganasnya ancaman tersebut. Tentu saja ia tidak berani bertindak gegabah; buru-buru digunakan ilmu gerakan tubuh serigala menggelinding untuk menghindar.
Terdengar ia berpekik nyaring; tubuhnya berputar secepat angin dan bergeser ke samping, lalu disambutnya serangan tangan kiri musuh dengan kekerasan.
"Blaaammm!" Sepasang telapak tangan lawan sekali lagi saling membentur satu sama lainnya.
Tenaga dalam Sik Tiong Giok ternyata masih kalah setingkat, akibatnya ia tergetar sampai berputar beberapa kali.