Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 37

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 37

Melihat itu, Pat Huang Sin Mo tertawa terbahak-bahak. Kemudian serunya, "Selama dua puluh tahun si tua bangka Serigala disekap dalam Bukit Serigala, tak dinyana ia justru berhasil mendapatkan ilmu gerak tubuh sedemikian hebat. Hitung-hitung, ia memang pantas disebut jagoan lihai!" Sembari berkata, tubuhnya mendesak maju. Sepasang telapak tangannya digunakan bersama, sebentar tangan kanan menghantam ke kiri, sebentar tangan kiri menghantam ke kanan. Pokoknya, satu dengan tenaga keras, yang lain dengan tenaga lunak. Dalam sekejap mata sudah melancarkan enam, tujuh serangan berantai.

Sik Tiong Giok pun bergelinding kian kemari dengan cepat. Sekuat tenaga ia membendung ancaman-ancaman yang datang.

Sebetulnya, di dalam ilmu gerak tubuh Serigala Menggelinding ini terselip banyak sekali jurus pembunuh. Sayang sekali, tenaga dalamnya masih berselisih setingkat, sehingga dalam penggunaannya, Sik Tiong Giok hanya mampu melindungi diri.

Sekali lagi, Pat Huang Sin Mo tertawa seram. "Bocah muda, sepuluh jurus sudah lewat. Kau harus berhati-hati sekarang!" Dengan suatu gerakan yang sangat cepat, ia melepaskan sebuah pukulan. Tenaga serangannya sangat membetot sukma.

Sik Tiong Giok segera menghimpun tenaga dalamnya untuk menahan ancaman itu, tapi tiba-tiba saja, suara pekikan aneh menggema di sisi telinganya. Seperti ada berlaksa ekor kuda yang berlari bersama, membuat darah di dalam dadanya bergolak keras.

Cepat-cepat ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk memberikan perlawanan.

Pat Huang Sin Mo tertawa seram setelah menyaksikan ilmu pukulan Irama Iblisnya mendatangkan hasil yang gemilang. Serangan pun segera dilanjutkan. Secara beruntun, ia melepaskan tujuh serangan yang memaksa Sik Tiong Giok mundur sejauh tiga kaki.

Dengan demikian, tinggal sisa tiga jurus lagi. Bila iblis tua tersebut tidak mampu membekuk Sik Tiong Giok, maka ia pun terpaksa harus menaati perkataannya sendiri dan mengundurkan diri dari dunia persilatan.

Oleh sebab itu, bukan hanya iblis tua itu saja yang merasakan hatinya menjadi tegang dan berat, bahkan Rasul Serigala sekalian pun dapat merasakan ketegangan ini.

Sik Tiong Giok segera memusatkan perhatiannya dengan saksama. Tiba-tiba ia melihat seluruh rambut Pat Huang Sin Mo bergoyang tanpa terhembus angin, kemudian pelan-pelan ia melepaskan sebuah serangan ke depan.

Dengan cepat ia mengetahui bahwa iblis tua tersebut sedang mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya. Ia tak berani berlama-lama. Mendadak, sambil membentak keras, sepasang telapak tangannya didorongkan ke muka melepaskan pukulan.

Serangan itu begitu cepat datangnya sehingga sukar dibayangkan dengan kata-kata.

Angin serangan yang dahsyat dan kuat pun dengan cepat meluncur ke arah Pat Huang Sin Mo.

Pat Huang Sin Mo tertawa seram. Tiba-tiba gerak serangannya dipercepat beberapa kali lipat.

"BLAAAAMM!" Suatu bentrokan maha dahsyat segera berkumandang memenuhi seluruh angkasa. Pasir dan debu beterbangan ke mana-mana, desingan angin tajam yang disertai dengan segulung kekuatan maha dahsyat langsung mendesak tubuh Sik Tiong Giok.

Dengusan tertahan bergema dari bibir anak muda itu. Kuda-kudanya menjadi goyah dan badannya mundur sejauh tiga empat kaki dari posisi semula.

Bagaikan bayangan setan, Pat Huang Sin Mo maju terus mendesak lebih ke depan. Tiba-tiba saja ia melepaskan sebuah pukulan lagi dari kejauhan.

Serangan itu begitu cepat datangnya sehingga sukar dibayangkan dengan kata-kata, di mana angin serangan menyambar lewat, desingan tajam memancar ke empat penjuru.

Sik Tiong Giok semakin mengerti, dalam serangan tersebut, gembong iblis tua itu tentu sudah menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya.

Dengan nama besar Pat Huang Sian Mo di dalam dunia persilatan, dan kepandaian silatnya yang begitu dahsyat, memang hanya beberapa gelintir manusia saja yang mampu menerima serangan tersebut.

Pemuda itu sadar bahwa tenaga kemampuannya belum sanggup untuk menerima ancaman yang datang, namun ia pun tak mampu menghindarkan diri.

Sebab serangan yang telah dipersiapkan Pat Huang Sin Mo dalam telapak tangan yang lain sudah siap dilancarkan setiap saat. Asal ia berani berkelit, niscaya pukulan tadi akan segera mengejar datang.

Sik Tiong Giok menyadari akan datangnya ancaman bahaya maut, tapi sebagai seorang pemuda yang berdarah panas, ia merasa tak sudi menunjukkan kelemahan sendiri di hadapan orang.

Terpaksa, sambil membulatkan tekad, ia berpekik nyaring. Segenap tenaga dalam yang dimilikinya dihimpun dalam telapak tangan, lalu segera mendorongnya ke muka.

Pucat pasi wajah Cu Siau Hong setelah melihat kekasihnya bersiap sedia menyambut ancaman musuh dengan kekerasan. Tak tahan lagi, ia menjerit kaget.

Dalam sekejap mata inilah kedua pukulan itu sudah saling membentur satu sama lain. "BLAAAAMMMMM!" Di tengah benturan keras, tubuh Sik Tiong Giok melejit ke tengah udara. Tindakan ini sama sekali di luar dugaan iblis tua tersebut, ia menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya.

Ternyata, pemuda tampan tersebut telah memanfaatkan tenaga pukulannya untuk melejit ke udara dan mundur ke belakang. Dengan cepat, ia telah sampai di atas dinding batu.

Setelah tertegun sejenak, Pat Huang Sin Mo segera menjejakkan kakinya ke atas tanah dan secepat kilat bergerak ke muka. Serangan yang semula telah dipersiapkan ternyata sama sekali tidak dilepaskan begitu saja.

Hal ini bukan dikarenakan Pat Huang Sin Mo merasa iba terhadap lawannya, sebaliknya, di sinilah letak kebusukan hati gembong iblis tua tersebut. Ia bermaksud akan menunggu sampai tubuh Sik Tiong Giok terjatuh dari atas dinding, kemudian baru melepaskan serangan terakhirnya.

Sayang sekali, perhitungannya salah besar, sebab Sik Tiong Giok hanya berhenti sebentar di atas dinding. Kemudian sambil menekan permukaan tanah, ia memanfaatkan tenaga tadi untuk melejit kembali ke tengah udara.

Dalam waktu singkat, tubuhnya sudah melayang turun di luar dinding pagar dan lenyap dari pandangan mata.

Atas kejadian tersebut, Pat Huang Sin Mo baru benar-benar dibuat tertegun. Pikirnya, "Aku benar-benar pikun dan bodoh. Setiap orang tahu kalau Kakek Serigala Langit memiliki ilmu meringankan tubuh yang luar biasa. Ia bisa bergerak di tengah udara, bisa melejit dan melambung, tentu saja tak mungkin bakal terjatuh ke tanah!" Berpikir demikian, ia melirik sekejap ke arah Cu Siau Hong, kemudian membentaknya, "Ayo kejar!" Ketika mendengar seruan tersebut, Rasul Serigala sekalian pun segera melejit ke udara dan melakukan pengejaran.

Di luar pagar pekarangan merupakan sebuah tebing yang penuh ditumbuhi semak belukar yang amat lebat. Rumput ilalang mencapai setinggi lutut.

Tatkala Pat Huang Sin Mo sekalian melompat turun dari pagar dinding dan baru saja mengamati keadaan di seputar sana, mendadak dari kejauhan terlihat ada sesosok bayangan hitam sedang meluncur ke muka dengan kecepatan luar biasa.

Dengan perasaan terkejut bercampur keheranan, Rasul Serigala Langit berseru tertahan, "Waah, cepat amat gerak tubuh si bocah keparat itu!"

"Di masa lampau, gurumu memang termasyhur di dunia persilatan karena ilmu meringankan tubuhnya," ucap Pat Huang Sin Mo. "Aku lihat muridnya yang kecil ini telah memperoleh seluruh warisannya. Bila dibiarkan hidup terus, aku khawatir, lama-kelamaan dia akan semakin mengerikan!"

Mendengar ucapan itu, Rasul Serigala Langit mendengus marah. Teriaknya kemudian dengan gusar, "Kalau begitu, manusia tersebut tidak bisa dibiarkan hidup lebih lama lagi!"

"Masa Saudara Cu tidak akan mengingat hubungan kalian sebagai sesama saudara seperguruan?" goda si Gonggongan Bernyawa Pendek Thian Si Hua sambil tertawa.

Merah padam wajah Rasul Serigala Langit. Setelah tertawa dingin, barulah ia berkata, "Hubungan kami sudah lama putus. Di masa lalu, ia tak pernah bersikap baik kepadaku, masa aku harus bersetia kepadanya? Apalagi demi cita-cita besar kita sekarang, kau kira aku akan membiarkan tua bangka tersebut hidup terus!"

"Betul!" kembali Thian Si Hua tersenyum. "Kalau tidak berhati keji, memang tak pantas disebut lelaki. Mari kita melakukan pengejaran lebih jauh."

Sementara pembicaraan masih berlangsung, ketiga orang itu sudah melejit ke depan dan meneruskan pengejarannya atas bayangan manusia yang bergerak di depan sana.

Sementara itu, langit sudah terang. Di atas dinding pagar tampak seseorang masih berdiri termangu-mangu di situ. Ia tak lain adalah Cu Siau Hong.

Memandang ke tempat kejauhan, tiba-tiba gadis itu bergumam lirih, "Moga-moga Thian melindunginya, sehingga ia dapat lolos dengan selamat dari Lembah To Hwee Kok ini!" Wajahnya tampak lusuh, pikirannya kalut. Setelah termangu-mangu beberapa saat, ia baru mengundurkan diri dari sana.

Sementara itu, Sik Tiong Giok belum pergi jauh. Ia justru menyembunyikan diri di bawah dinding pekarangan.

Ketika mendengar suara doa dari nona tadi, ia merasa terharu sekali. Dadanya menjadi sesak dan darah panas hampir saja muntah keluar dari mulutnya.

Ternyata pemuda itu mundur dengan meminjam tenaga pukulan dari Pat Huang Sin Mo. Waktu itu, darah dalam dadanya sudah bergolak keras, boleh dibilang keadaannya ketika itu gawat dan sangat kritis.

Untung saja, tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna. Dengan memaksakan diri menarik hawa murninya, ia mencoba menekan gejolak dalam dadanya dan berhasil kabur dari tempat tersebut.

Setelah roboh ke tanah, pemuda itu pun mengerti, pihak lawan pasti akan mengejar ke sana. Karena itu, dengan cepat ia menyambar dua batu dan melemparkannya ke depan sehingga menimbulkan suara nyaring.

Kebetulan pula, dari depan sana muncul sesosok bayangan manusia. Akhirnya, Pat Huang Sin Mo sekalian pun mengejar ke mana perginya bayangan manusia tadi.

Sik Tiong Giok sendiri sama sekali tak berani bergerak. Ia berbaring terus di balik semak belukar tanpa berkutik, sebab khawatir jejaknya ketahuan musuh.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment