Chapter 38
Dalam keadaan terluka parah seperti ini, jangan lagi yang muncul adalah Pat Huang Sin Mo, seorang anggota perkumpulan biasa pun sudah cukup untuk membekuknya.
Begitulah, dalam keadaan demikian dia berbaring sampai seharian penuh. Sampai matahari sudah tenggelam dan malam pun menjelang tiba, ia buru-buru bangkit berdiri.
Siapa tahu, baru saja bangkit berdiri, tiba-tiba kepalanya pusing sekali sehingga sekali lagi dia roboh terjungkal ke atas tanah. Ia terjatuh cukup parah, dadanya menjadi sesak sehingga tak ampun lagi darah segar membasahi seluruh permukaan tanah.
Dalam keadaan begini, dia hanya bisa menghela napas panjang dan buru-buru masuk ke balik kegelapan di mana dia duduk mengatur pernapasan. Suasana di sekeliling tempat itu diliputi oleh keheningan yang luar biasa, yang terdengar hanya suara jangkrik yang bernyanyi.
Kurang lebih setengah jam kemudian, pemuda itu baru merasa lukanya sedikit agak membaik. Pelan-pelan dia pun bangkit berdiri dan berjalan menuju ke depan sana. Beberapa kaki kemudian, di kejauhan sana tampak tanah perbukitan membentang sejauh pandangan. Ia menelusuri bukit itu menuju ke utara. Setelah berjalan satu dua li kemudian, tibalah ia di depan sebuah selat sempit.
Untuk menghindari pemeriksaan dari orang-orang Siu Lo Pang, dia pun menyusup ke balik lembah itu sambil meneruskan perjalanannya. Kurang lebih satu jam kemudian, sampailah pemuda itu di ujung selat tadi.
Tiba-tiba dari depan situ berkumandang suara yang amat gaduh, lalu kedengaran seseorang sedang menggerutu, "Aku lihat dia memang betul-betul iblis sejati, tak heran kalau dia menyebut diri sebagai Pat Huang Sin Mo. Semenjak kedatangannya di sini, belum sehari pun kita bisa hidup dengan tenang, sialan! Di tengah malam buta begini pun kita diperintahkan untuk memeriksa bukit!"
"Li Sua, kau jangan mengomel terus," seseorang segera menghibur, "kalau sampai kedengaran iblis tua itu, kau bisa diberi penderitaan yang lumayan."
"Apa yang mesti ditakuti? Sekarang pikiranku sudah lebih terbuka, cepat atau lambat pasti akan kujumpai hari seperti itu. Sekalipun tidak sampai terdengar iblis tua itu, bila kita bertemu dengan si iblis kecil pun tak akan berbeda jauh."
"Apa benar iblis kecil itu adalah putra Lo Pangcu? Sekarang dia telah menyebut diri sebagai Pangeran Serigala Langit."
"Aku rasa berita ini tak bakal salah. Bila dia bukan putra Lo Pangcu, mana mungkin memiliki kepandaian silat yang begitu hebat sampai pangcu kita pun beberapa kali jatuh pecundang di tangannya. Coba kau bayangkan sendiri, memangnya kita sanggup untuk menghadapinya?"
"Tapi dia kan sudah termakan sebuah pukulan iblis tua itu, siapa tahu orangnya sudah mampus?"
Begitulah, rombongan yang terdiri dari tujuh delapan orang itu melakukan perjalanan menelusuri selat sempit itu sambil berbicara tiada hentinya. Sik Tiong Giok menjadi terperanjat sekali setelah mendengar pembicaraan tadi. Buru-buru dia menarik kepalanya dan menyembunyikan diri baik-baik.
Setelah bersembunyi hampir dua jam lamanya, Sik Tiong Giok meneruskan perjalanannya lagi menelusuri sebuah kebun buah dan tiba di depan sebuah pagar pekarangan yang menghalangi perjalanannya. Keadaan Sik Tiong Giok saat ini tak ubahnya seperti seekor burung yang sedang ketakutan. Berjumpa dengan dinding pekarangan, hatinya lantas terkesiap, apalagi dari balik dinding pekarangan itu terdengar suara tertawa perempuan yang merdu.
Tanpa terasa pikirnya, "Heran, tempat apakah ini? Mengapa terdapat perempuan yang sedang bergurau di situ?"
Terdorong oleh rasa ingin tahunya, pemuda itu pun melupakan kehebatan musuhnya. Setelah mengamati sebentar keadaan di sekeliling tempat itu, dia mendekati sebatang pohon siong, lalu melompat naik ke atas pohon tadi dan dari situ mengintip ke dalam.
Indah sekali pemandangan di balik dinding pekarangan itu. Aneka bunga tumbuh di sana-sini, ditambah pula dua buah lentera yang memercikkan sinar, membuat suasana lebih romantis. Di bawah lentera terletak sebuah meja besar; kain taplak merah yang melapisi meja dikombinasikan dengan tiga kuntum bunga putih.
Di sisi sebelah kiri meja merupakan sebuah rak senjata; berbagai macam senjata terdapat di situ. Duduk pada kursi utama adalah seorang perempuan muda berusia dua puluh tahunan, beberapa kuntum bunga menghiasi kepalanya. Ia berbaju warna hijau dan cukup mempesona hati.
"Apa-apaan mereka itu...?" pikir Sik Tiong Giok dengan perasaan kesal.
Tiba-tiba terdengar lagi suara gelak tertawa yang berkumandang dari balik pintu loteng, kemudian muncul lagi seorang perempuan muda berusia dua puluh tahunan yang mengenakan pula pakaian berwarna hijau. Senyum manis membuat wajahnya tampak lebih cantik daripada perempuan pertama. Dengan langkah yang lemah gemulai, dia berjalan mendekati meja dan duduk di samping perempuan muda pertama. Seorang dayang segera menghidangkan air teh.
Nyonya muda yang baru saja muncul itu segera bertanya kepada dayang yang menuang air teh barusan, "Ciu Kiok, mana nyonyamu?"
"Lapor Sam Hujin, nyonya kami sedang tak enak badan."
"Sakit apa sih nyonya kalian? Bukankah pagi tadi ia nampak sehat-sehat saja?" tanya Sam Hujin.
"Bukan sakit parah, mungkin hanya sedikit masuk angin sehingga malas makan dan minum."
"Itu mah bukan penyakit namanya," Sam Hujin tertawa merdu. "Suruh saja dia keluar untuk berlatih beberapa jurus silat. Bila badan sudah berkeringat pasti akan sembuh dengan sendirinya, cepat undang dia ke mari, katakan saja aku yang mengundangnya."
Dayang itu mengiyakan dan membalikkan badan menuju ke bangunan loteng itu. Sik Tiong Giok yang mengintip semua kejadian tersebut dalam hatinya segera berpikir, "Biarpun perempuan ini berwajah baik tapi tertawa sebelum berbicara sehingga menunjukkan sikap yang tak sedap, sudah jelas bukan perempuan baik-baik..."
Belum lenyap ingatan tersebut, terdengar suara mendehem memecah keheningan, lalu tampak dayang tadi muncul dari balik ruangan sambil menuntun seorang nyonya muda lain. Walaupun wajahnya nampak aras-arasan, namun wajahnya memancarkan pula sinar kejalangan. Ternyata ketiga orang perempuan muda itu tak lain adalah tiga orang istri muda Pat Huang Sin Mo. Mereka adalah Hoa Ing Cun, Chin Bi Cun, serta Koan Hong Cun.
Tiga orang istri muda tersebut selain berwajah cantik, ilmu silat mereka pun sangat hebat. Hoa Ing Cun mempunyai ilmu Ular Emas yang disebut kepandaian nomor wahid di kolong langit. Selain ganas dan kejam, dia pun sukar dihadapi. Senjata Lian-cu-liang dari Chin Bi Cun dan sepasang Lian-cun-jui dari Koan Hong Cun juga merupakan ilmu-ilmu yang jarang ada tandingannya.
Ketiga orang perempuan itu rata-rata bersifat jalang dan cabul, tapi mereka pun agak takut dengan gembong iblis tua itu. Oleh sebab itu setiap malam mereka selalu melatih ilmu silatnya dengan tekun agar suatu ketika bila ada kesempatan mereka bisa mengambil langkah seribu. Kebetulan pada malam ini Koan Hong Cun merasa kurang enak badan, Chin Bi Cun segera memaksanya untuk keluar.
Dalam keadaan begini, timbullah satu ide dalam benak Chin Bi Cun dengan memerintahkan dayangnya Ho Ji agar berlatih dengan dayang Koan Hong Cun yang bernama Ciu Kiok. Mendapat perintah, kedua orang dayang itu segera mempersiapkan diri dan terjun ke arena.
Sik Tiong Giok bersembunyi di atas pohon. Tiba-tiba saja ia menampak sesosok bayangan hitam berkelebat di atas bangunan rumah itu. Hatinya segera tergerak, buru-buru ia melompat turun dari atas pohon kemudian secara diam-diam menyusup ke dalam bangunan loteng itu. Karena sosok tadi sama sekali tidak ditemukan, maka pemuda itu pun menengok kembali ke arah halaman rumah di mana dua orang sedang melatih diri.
Ilmu silat yang dilatih kedua orang dayang tersebut bernama Mi Kau Kun. Sayang sekali permainan dari dayang-dayang itu tak memakai ukuran sehingga seperti dua ekor jago sedang bertarung; hampir saja Sik Tiong Giok tertawa kegelian.
Sementara itu pertandingan antara kedua orang dayang itu berlangsung makin tak karuan, akhirnya Hoa Ing Cun tak tahan sehingga sambil mendengus dingin segera bangkit dan masuk ke dalam gedung. Chin Bi Cun yang melihat itu segera melirik sekejap, kemudian sambil menggebrak meja membentak, "Cukup Ciu Kiok, jangan membuat malu nyonya kalian. Coba lihat Ji Hujin sudah kalian buat mendongkol, ayo cepat hentikan latihanmu!"
Dayang yang bernama Ciu Kiok itu menjadi tersipu-sipu malu, wajahnya berubah menjadi merah padam. Buru-buru dia menghentikan latihannya dan berkata sambil tertawa, "Sam Hujin, bukankah sudah kukatakan kalau aku tak mampu?"
Tampaknya Chin Bi Cun sengaja hendak mencari gara-gara, sambil tertawa terkekeh-kekeh dia segera berseru, "Aku tebak nyonya kalian sengaja merahasiakan ilmu silatnya dan tak pernah mewariskan ilmu silat sejati kepadamu!"
Ciu Kiok hendak membantah setelah mendengar ucapan itu, tapi Koan Hong Cun segera maju sambil menampar, kemudian membentak, "Budak sialan, menggelinding jauh-jauh dari sini!"
Bila tamparan itu bersarang tepat di wajah dayang tersebut, sudah dapat dipastikan beberapa buah giginya pasti copot. Untung di saat kritis Chin Bi Cun segera menangkap pergelangan tangan Koan Hong Cun sambil berkata, "Sumoay, bila kau menamparnya, aku pasti akan kehilangan muka, maka bila ingin bertarung, lebih baik kita berdua saja yang bertarung."
Sambil berkata dia sengaja menarik perempuan muda itu ke arahnya. Koan Hong Cun sama sekali tidak menduga sampai ke situ sehingga hampir saja ia terjerembap ke atas tanah. Kontan paras mukanya berubah hebat, langkahnya sempoyongan.