Chapter 39
Sambil menarik kembali tangannya, ia segera menegur dingin, "Sam ci, rupanya kau sengaja mencari gara-gara di saat badanku sedang tak enak?"
"Tebakan su moay memang tepat sekali," Chin Bi Cun tertawa. "Di hari-hari biasa aku tak pernah berhasil mengungguli dirimu, maka hari ini mumpung kau masih sakit, aku memang bermaksud untuk memberi pelajaran untukmu."
"Baiklah," Koan Hong Cun tertawa dingin. "Coba kita buktikan siapa yang lebih unggul di antara kita."
Sementara pembicaraan berlangsung, kedua orang itu sudah saling bertarung sendiri.
Sik Tiong Giok yang berada di atas loteng, bisa menyaksikan semua peristiwa itu dengan jelas. Pertarungan mereka berdua jauh berbeda dengan pertarungan dua orang dayang tadi. Boleh dibilang semua jurus serangan yang digunakan adalah jurus-jurus serangan yang tangguh.
Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah bertarung dua puluh gebrakan lebih.
Tampaknya Koan Hong Cun memang berada dalam kondisi yang lemah. Tiba-tiba saja dia berkerut kening, kemudian melompat keluar dari arena. Dengan suatu gerakan cepat, dia menyambar sebilah golok yang tergeletak di atas rak senjata.
Chin Bi Cun pun tak mau memberi kesempatan kepada lawannya. Cepat dia meloloskan pula sebilah golok.
Bacok membacok, babat membabat pun segera berlangsung amat seru.
Kedua orang itu bertarung sangat serius, seakan-akan mereka sedang beradu jiwa saja.
Mendadak, Koan Hong Cun bertindak kurang hati-hati. Chin Bi Cun yang melihat ada kesempatan baik segera memanfaatkannya dengan melancarkan sebuah tendangan.
Dengan jurus ayam mematuk ular, dia menendang pergelangan tangan Koan Hong Cun sehingga tak ampun lagi goloknya terjatuh ke atas tanah.
"Nah, su moay! Kau harus mengaku kalah hari ini!" seru Chin Bi Cun kemudian sambil tertawa merdu.
"Aah, belum tentu!" Di tengah dengusan dingin, Koan Hong Cun melompat mundur ke belakang.
Chin Bi Cun segera mengejar dengan ketat sambil mengejar serunya tertawa, "Kau benar-benar seorang budak yang keras kepala, hmmm! Aku harus menaklukkan dirimu hari ini."
Belum habis dia berkata, Koan Hong Cun telah mencabut sebatang tombak dari rak senjata, kemudian sambil membalikkan badan melancarkan sebuah tusukan.
Chin Bi Cun segera menangkis dengan goloknya, kemudian tubuhnya mendesak maju lebih ke depan. Kali ini goloknya membacok bahu lawan.
Koan Hong Cun melintangkan tombaknya di depan dada dengan jurus raja lalim membuang tombak, dia menyapu tubuh bagian tengah Chin Bi Cun.
Dengan suatu gerakan cekatan, Chin Bi Cun menghindarkan diri ke samping. Setelah melepaskan diri dari jurus serangan tersebut, tubuhnya mendesak maju lebih ke depan.
Pertarungan yang amat seru pun kembali berkobar di tengah arena.
Orang bilang: "Seinci lebih panjang seinci lebih tanggung."
Dengan demikian, Chin Bi Cun telah menderita kerugian dalam hal senjatanya yang kelewat pendek.
Tiba-tiba, Koan Hong Cun mengeluarkan jurus naga sakti membalik badan. Mata tombaknya dengan memancarkan cahaya tajam segera menusuk ke tenggorokan Chin Bi Cun bagaikan seekor ular beracun.
Sik Tiong Giok yang menyaksikan kejadian itu dari atas loteng menjadi sangat gelisah. Dia lupa kalau dirinya sedang mengintip pertarungan orang. Tanpa sadar, serunya tertahan, "Aduh, celaka!"
Siapa tahu Chin Bi Cun sama sekali tidak termakan oleh serangan tersebut. Dia memutar goloknya untuk menangkis, lalu dengan saksama langkah tujuh bintang, tubuhnya tahu-tahu sudah meliuk ke samping, lolos dari tusukan ujung tombak itu.
Ketika secara tiba-tiba mendengar ada orang berteriak dari atas loteng, kedua orang itu serentak menghentikan pertarungan dan menengok ke atas loteng.
Setelah berteriak tadi, Sik Tiong Giok sudah sadar kalau keadaan bakal runyam. Sebetulnya dia bermaksud untuk menyingkir saja dari situ. Siapa sangka, belum berapa langkah jejaknya sudah terlihat oleh Koan Hong Cun yang berada di bawah. Perempuan muda itu segera membentak nyaring, "Hei, kau si bocah ingusan darimana, berani amat datang kemari! Ayo cepat turun!"
Mendengar teriakan tersebut, Sik Tiong Giok segera berpikir di dalam hati kecilnya, "Jelek-jelek begini akupun termasuk seorang ketua partai. Bila tidak turun, sudah pasti akan ditertawakan oleh dua orang perempuan busuk itu. Yaa, lebih baik aku turun saja untuk bertarung dengan mereka, siapa tahu suasana akan bertambah ramai?"
Setelah berpikir begitu, diapun meloloskan pedangnya dan melompat turun dari atas loteng.
Entah apa sebabnya, setelah memandang pedang tersebut, tanpa terasa dia pun teringat kembali dengan pemiliknya, yaitu Nona Cu Siau Hong.
Sementara dia masih tertegun, tiba-tiba Koan Hong Cun sudah maju mendesak sambil melepaskan sebuah tusukan dengan tombaknya.
Sik Tiong Giok segera mengebaskan pedangnya mempergunakan jurus menuding matahari menggaris langit.
Criiinggg...!
Diiringi suara dentingan keras, tahu-tahu tombak itu terpapas kutung menjadi dua bagian. Akibatnya, Koan Hong Cun menjadi terperanjat setengah mati.
Chin Bi Cun yang mengetahui kalau senjata lawan adalah sebilah pedang mustika, serta merta tak berani menyerang dengan mempergunakan senjatanya. Dia seperti mati kutu untuk sesaat.
Sik Tiong Giok tidak sungkan-sungkan. Dia mendesak ke muka dan melepaskan sebuah bacokan lagi.
Koan Hong Cun segera berteriak berulang kali, "Ho ji, Ciu kiok, kalian cepat mengambil senjata..."
Tapi belum habis teriakan tersebut, kembali terdengar suara gemerincingan nyaring. Golok yang berada di tangan Chin Bi Cun pun ikut terpapas kutung.
Sik Tiong Giok yang mengetahui bahwa pedangnya adalah sebilah pedang mustika, tanpa terasa semangat segera berkobar. Setelah tertawa terbahak-bahak, dia berseru, "Ayo, berapa banyak senjata tajam yang kalian miliki? Keluar semua, kalau tidak, maaf bila aku tak akan melayani lebih jauh."
Dia mengira dengan mengutarakan kata-kata tersebut, pihak lawan pasti akan ketakutan setengah mati. Oleh sebab itu, seusai berkata, dia pun membalikkan badan, siap meninggalkan tempat tersebut.
Siapa tahu, pada saat dia membalikkan badan inilah mendadak terdengar Koan Hong Cun membentak keras, "Bocah tengik, kau anggap masih bisa keluar dari sini? Kalau hendak pergi, tinggalkan dulu selembar jiwamu..."
Dalam pembicaraan mana, dia menggetarkan pergelangan tangannya dan mengeluarkan sebuah benda. Sik Tiong Giok dapat melihat kalau benda itu berantai, bentuknya bulat bersinar tajam dan besarnya secawan teh, terbuat dari baja dengan lapisan emas, sedang rantainya berbentuk seperti tulang ikan hitam bercorak segitiga. Entah benda apa namanya.
Sementara dia masih tertegun, Koan Hong Cun telah melontarkan senjatanya ke depan.
Terpaksa dia harus menggunakan pedangnya untuk membacok. Siapa tahu rantai tersebut sama sekali tidak patah, malah telah berbunyi nyaring. Mata senjata menukik ke bawah dan mengancam tubuhnya.
Setelah mengetahui kalau bacokan pedangnya tidak berhasil mematahkan senjata lawan tadi, Sik Tiong Giok telah sadar kalau gelagat tidak menguntungkan. Siapa sangka, ujung bandulan yang lain telah menyerang pula. Buru-buru dia menyayunkan telapak tangannya untuk menangkis, baru lolos dari ancaman senjata.
Lian Cu Liang adalah senjata berbentuk piau segitiga yang dihubungkan dengan rantai, jadi senjata tersebut bermuka dua. Ketika pemuda itu mencoba membacok, ternyata bacokannya pun tidak mendatangkan hasil.
Atas terjadinya peristiwa ini, Sik Tiong Giok menjadi gugup. Dalam keadaan demikian, dia merasa lebih mengambil langkah seribu saja. Tanpa banyak bicara, tubuhnya segera melejit dan kabur menuju ke atas dinding pekarangan.
Baru saja tubuhnya mencapai atas pekarangan, senjata dari Chin Bi Cun telah menyerang kembali, sedangkan bandulan Koan Hong Cun juga menyerang kakinya.
Sik Tiong Giok serta-merta memiringkan kepalanya menghindari serangan senjata Liang Ju Liang, lalu melompat meloloskan diri dari babatan senjata bandulan.
Sayang dia tak menduga kalau senjata Liang Cu Liang itu mempunyai keistimewaan lain. Tahu-tahu saja sepasang kakinya sudah terbelenggu erat-erat, kemudian badannya terasa dibetot orang ke bawah dan...
"Bluuummm!" Ia terjatuh dari atas dinding pekarangan.
Agaknya Sik Tiong Giok memang sedang bernasib sial. Sejak terjun ke dalam dunia persilatan, belum pernah ia menderita kekalahan beruntun seperti apa yang dialaminya hari ini, terutama sekali dikalahkan oleh dua orang perempuan muda. Hal ini membuatnya menyumpah tiada habisnya.
Baru saja dia hendak melejit dengan gerakan ikan lele melentik, tahu-tahu Koan Hong Cun telah menekan tubuhnya ke bawah, menyusul kemudian Ciu Kiok membelenggu tubuhnya dengan tali otot kerbau. Maka tak berkutiklah Sik Tiong Giok.
Menggunakan kesempatan itu, Koan Hong Cun merampas pedangnya dan diperiksa. Sekejap kemudian serunya kaget, "Aduuh, bukankah pedang ini milik Hong Ji si budak itu?"
Mendengar ucapan mana, Chin Bi Cun segera mendekati dan turut memeriksa pedang tersebut, kemudian sambil menendang tubuh Sik Tiong Giok hardiknya, "Bocah jelek, darimana kau dapatkan pedang itu? Ayo cepat akui..."
Sik Tiong Giok tidak tahu kalau wajahnya sudah dilumuri debu dan pasir setelah mendekam hampir semalam suntuh di balik semak belukar. Mukanya yang hitam, separuh putih, separuh ini membuat tampangnya benar-benar jelek sekali. Ketika mendengar perkataan tersebut, dalam hati kecilnya ia lantas berpikir, "Hmmm, kau berani mengatakan aku jelek? Memangnya kau sendiri cantik?"
Chin Bi Cun jadi bertambah mendongkol sewaktu dilihatnya Sik Tiong Giok cuma melotot ke arahnya tanpa menjawab. Ia segera menendang tubuhnya keras-keras seraya membentak, "Bocah keparat, ayo bicara, pedang itu kau peroleh darimana...?"
"Aku mendapatkan dari merampas dari tangan seorang nona cilik, ada apa? Memangnya tidak boleh?"
"Hmmm, omong kosong! Ngaco belo tak keruan..." Kebetulan dayangnya datang membawa secawan air teh. Koan Hong Cun segera menyambar cawan tersebut dan mengguyurkan air dalam cawan tersebut ke atas wajah Sik Tiong Giok.