Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 40

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 40

Tak ayal lagi, seluruh wajah Sik Tiong Giok terguyur. Kotoran dan lumpur yang semula mengotori wajahnya pun ikut terbilas sehingga tampaklah wajahnya yang tampan.

Untung saja air teh itu tidak terlalu panas, hangat dan beraroma harum. Sik Tiong Giok yang pada dasarnya memang haus segera menjilatnya dengan ujung lidah.

Dua nyonya muda bertampang genit yang berada di hadapannya itu seketika tertegun. Apalagi setelah mengamati wajah anak muda itu dengan saksama, perasaan mereka kembali tergetar hebat.

"Woos, tampan sekali pemuda ini..." pikir mereka hampir bersamaan.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar si nenek penjaga pintu berteriak keras, "Cousu, dia datang!" Buru-buru Koan Hong Cu berseru kepada Ciu Kiok, "Cepat angkut bocah itu ke dalam kamarku dan baringkan di dalam peti besar!" Ciu Kiok mengiakan dan membawa Sik Tiong Giok kabur ke dalam kamar. Setelah melewati loteng bambu, ia berbelok ke barat menuju ke sebuah pesanggrahan. Di sana ia membaringkan pemuda itu ke dalam peti dan menutup kembali peti tersebut.

Sik Tiong Giok menjadi sangat menderita.

Bayangkan saja, jika peti itu ditutup dari luar, suasana di dalam peti pasti amat sumpek. Jangankan bergerak, bernapas pun rasanya sulit.

Tanpa terasa, pemuda itu berpikir, "Aduh, hari ini aku benar-benar sedang sial..." Selain murung dan kesal, ia pun menyesali kecerobohannya sendiri sehingga berakibat demikian.

Pada saat itulah, Pat Huang Sin Mo sedang berbincang-bincang dengan ketiga gundiknya tentang perbuatan onar Sik Tiong Giok di Lembah Hwee Buan Kok mereka.

Chin Bi Cun gembira bercampur iri kepada Koan Hong Cun yang mengangkangi Sik Tiong Giok seorang diri. Maka, setelah mengerling sekejap ke arah lawan, ia berkata sambil tertawa, "Lo Taucu (orang tua), apakah kalian telah berhasil membekuknya?"

"Bocah keparat itu sudah pasti terluka parah karena pukulanku. Meski belum tertangkap dalam keadaan hidup-hidup, tapi aku yakin ia tak akan hidup lama lagi." "Aku tebak ia pasti sudah mati," sela Koan Hong Cun dengan cepat.

Sembari berkata, ia melotot sekejap ke arah Chin Bi Cun penuh amarah.

Chin Bi Cun segera berkata sambil tertawa, "Aah, aku rasa belum tentu. Bila ia benar-benar sudah mati, apakah kalian sudah menemukan jenazahnya?" "Aku sendiri pun merasa keheranan terhadap kejadian ini," ucap Pat Huang Sin Mo. "Sehari semalam kami sudah melakukan pencarian, namun sama sekali tidak ditemukan jenazahnya." "Jangan-jangan ia sudah lolos dari bukit ini?" kata Koan Hong Cun kemudian.

Tapi Chin Bi Cun kembali menimbrung.

"Lembah Kiu Boan To Hui Kok pada hakikatnya merupakan sebuah barisan pembingung sukma. Bagi mereka yang tidak memahami jalan rahasia di situ, aku percaya ia tak akan berhasil meloloskan diri."

Pat Huang Sin Mo segera bertepuk tangan sambil berteriak keras, "Tepat sekali! Kiu Boan To Hui Kok adalah sebuah jalan rahasia yang membingungkan sukma. Jangankan bocah keparat itu, bahkan aku sendiri pun kadangkala masih suka tersesat. Bagaimana mungkin keparat itu dapat meloloskan diri?" Chin Bi Cun tersenyum, "Aku tahu jejak si bocah keparat itu, dia, dia..." "Cepat katakan, dia berada di mana?" buru-buru Pat Huang Sin Mo bertanya.

Atas kejadian tersebut, yang paling merasa gugup sudah barang tentu Koan Hong Cun. Sepasang matanya melotot besar ke arah Chin Bi Cun, namun di balik sinar matanya itu terselip sinar penuh permohonan.

Chin Bi Cun masih tetap tersenyum simpul, kembali ia berkata, "Tentu saja ia berhasil kami tangkap..." "Haah... haah... haah..." mendadak Pat Huang Sin Mo tertawa tergelak, "Aku tidak percaya dengan mengandalkan kemampuan kalian, kemampuan kalian berdua, bocah keparat itu berhasil ditawan! Kau tahu dia kan ahli waris Kakek Serigala Langit, salah satu di antara tiga kakek dari In Thian?"

Chin Bi Cun segera mencibirkan bibirnya yang mungil dan tertawa dingin penuh rasa tidak puas, serunya, "Kau tidak percaya kalau kami berhasil membekuknya? Kalau tidak percaya, silakan bertanya sendiri kepada Ji Ci, apakah kita sedang membohongimu atau tidak."

Hoan Ing Cun segera manggut-manggut sambil menjawab dingin, "Benar, kami telah berhasil menangkap seseorang, hanya saja kami tidak mengetahui apakah dia adalah bocah keparat ber-margakan Sik atau bukan."

"Aah, jadi sungguh! Itulah namanya dicari sampai sepatu jebol belum juga ketemu, tahu-tahu ditemukan tanpa membuang tenaga. Ayo jalan, cepat bawa aku ke sana, di mana dia berada?"

"Sekarang dia berada di dalam kamarnya Su Moay..." Belum habis ia berkata, si gembong iblis tua itu sudah melototkan matanya besar-besar dan mengawasi Koan Hong Cun dengan penuh amarah.

Lamat-lamat terpancar pula segulung hawa nafsu membunuh dari balik matanya.

Untung saja Chin Bi Cun berkata lebih jauh, "Berhubung kami takut dia berhasil kabur, maka untuk sementara waktu kami menguncinya di dalam peti besar di dalam kamar Su Moay. Kami sedang menunggu kau sampai pulang dan meminta hadiah untuk jasa tersebut."

Dengan adanya penjelasan ini, paras muka gembong iblis tua itu menjadi jauh lebih tenang, namun cukup membuat Koan Hong Cun bermandikan keringat dingin saking ngerinya.

Memanfaatkan kesempatan tersebut, Chin Bi Cun segera berseru lagi dengan manja.

"Lo Tau Cu, kau cepat berjanji dulu, hadiah apa yang hendak diberikan untuk kami?" Pat Huang Sin Mo tertawa terbahak-bahak, "Haaahhh... haaahhh... haahhh... Tunggu saja sampai kuperiksa dengan jelas apakah bocah keparat yang kalian tangkap benar-benar adalah keparat yang kumaksud. Bila benar, terserah apa saja yang kalian minta."

"Baik, kalau begitu marilah kita berangkat sekarang juga." Sembari berkata, ia segera berjalan lebih dulu di depan menuju ke kamar tidur Koan Hong Cun.

Baru tiba di depan pintu, mendadak Hoan Ing Cun berseru keheranan, "Hei, mengapa di dalam kamar tidak disulut lampu lentera?"

Koan Hong Cun segera menyambung, "Dayangku Ciu Kiok memang semakin lama semakin tidak tahu diri, sudah pasti ia molor lagi."

Berbicara sampai di situ, ia lantas berteriak keras, "Ciu Kiok! Ciu Kiok..." Namun tiada jawaban yang terdengar. Suasana tetap hening, sepi, dan tidak terdengar sedikit suara pun.

Chin Bi Cun segera berkata, "Biar aku masuk untuk memeriksanya, perempuan setan itu memang pantas diberi hajaran." Dari meja, ia menyambar sebuah lilin dan segera melangkah masuk ke dalam kamar sebelah barat.

Mendadak dari dalam kamar berkumandang suara benturan keras disusul seseorang menjerit kaget. Menyusul kemudian, lilin pun menjadi padam sehingga suasana menjadi gelap gulita.

"Aduh celaka, mengapa Ciu Kiok dibekuk orang?" terdengar Chin Bi Cun berteriak keras.

Mendengar seruan tersebut, Pat Huang Sin Mo segera menyusup ke dalam kamar dengan cepat. Ia langsung menuju ke arah peti, menyingkirkan penutupnya, dan berniat untuk merobohkan Sik Tiong Giok lebih dahulu.

Siapa tahu, begitu peti dibuka, ternyata di situ tak tampak sesosok bayangan manusia pun.

Dengan terjadinya peristiwa ini, bukan saja Pat Huang Sin Mo dibuat tertegun, bahkan ketiga gundik pun turut dibuat terkejut sampai melongo-longo.

Pada saat itulah, tiba-tiba tampak cahaya merah berkilauan disusul asap tebal menyebar ke mana-mana, membuat keempat orang itu merasakan matanya menjadi pedih dan air mata serasa mau bercucuran keluar.

Baru sekarang mereka sadar bahwa kebakaran sudah melanda bangunan rumah itu. Buru-buru mereka berseru, "Ayo cepat kabur, terjadi kebakaran di sini!"

Ternyata, sewaktu Chin Bi Cun roboh terjengkang ke atas tanah tadi, lilin yang berada di tangannya terlepas dan jatuh di atas pembaringan. Jilatan api dengan cepat membakar kain kelambu yang tipis dan menyambar ke mana-mana. Apalagi bangunan dinding terdiri dari potongan bambu, bisa dibayangkan bagaimana akibatnya.

Dalam waktu singkat, api sudah berkobar menjadi besar serta menjalar ke empat penjuru.

Bambu memang merupakan bahan yang mudah terbakar, tak mungkin kobaran api bisa dipadamkan secepatnya. Terpaksa, beberapa orang itu berusaha untuk menerjang keluar dari kepungan api untuk menyelamatkan diri.

Bukan cuma buronan mereka yang berhasil tertangkap kembali terlepas, akibatnya mereka harus menanggung kerugian yang lebih besar lagi, yakni terjadinya kebakaran besar di bangunan rumah mereka.

Pat Huang Sin Mo, dengan membawa ketiga gundiknya, menerjang keluar dari kepungan api dengan susah payah. Walaupun akhirnya berhasil terlepas dari ancaman bahaya, namun keadaan mereka boleh dibilang sudah mengenaskan sekali.

Tak selang beberapa saat, Rasul Serigala Langit dan sekalian iblis yang melihat timbulnya kebakaran segera berdatangan untuk memberi bantuan. Dengan kerja sama banyak orang, tak sampai satu jam kemudian, api berhasil dipadamkan.

Namun Pat Huang Sin Mo dibuat begitu mendongkol sampai sekujur badannya gemetar. Ia menyumpahi Sik Tiong Giok berulang kali, bahkan sumpahnya, "Bila suatu hari binatang cilik yang terkutuk itu sampai terjatuh ke tanganku, aku bersumpah tak akan jadi manusia bila tak mampu menguliti kulitnya."

Si Gonggongan Bernyawa Pendek Thian Si Hua buru-buru menghibur, "Causu, kau tak usah menyumpahi terus. Percuma saja kalau hanya bicara di bibir, yang penting kita mesti berusaha untuk menangkapnya hidup-hidup."

Kontan Pat Huang Sin Mo melototkan matanya bulat-bulat lalu mendengus, "Hmm, selama ini entah apa saja yang kalian geledah di sekitar bukit ini? Bayangan saja tak mampu dibekuk, justru orangnya malah kena didesak sampai datang ke mari."

Si Gonggongan Bernyawa Pendek Thian Si Hua termasuk juga seorang jagoan angkuh yang berwatak tinggi hati.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment