Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 41

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 41

Dia menjadi tidak senang hati setelah mendengar perkataan dari gembong iblis tua tersebut. Dengan suara dingin, dia berkata, "Siapa suruh kalian tidak mau turut serta dalam penggeledahan tersebut, sebaliknya memberi izin kepada ketiga orang nyonya muda untuk melindungi lawan? Coba, kalau bukan ulah ketiga orang hujinmu itu, mana mungkin akan terjadi peristiwa besar semacam ini? Kalau mau menyalahkan, masa kami yang mesti disalahkan?"

Sekali lagi, Pat Huang Sin Mo melototkan matanya bulat-bulat. Dia membuka mulutnya lebar-lebar seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah katapun yang bisa diutarakan keluar.

Akhirnya, dia menyaksikan muridnya yang tertua, Si Bayangan Setan Coa Toan, hanya berdiri bengong di sana. Dengan penuh amarah, dia segera bentak, "Coa Toan, ayo cepat kumpulkan semua adik-adik seperguruanmu! Hari ini kita harus menggeledah Lembah Kiu Boan To Hui Kok ini sampai rata."

Bayangan Setan Coa Toan buru-buru mengiakan sambil beranjak pergi. Tak selang berapa saat kemudian, dia sudah muncul kembali bersama ketujuh orang adik seperguruannya.

Pat Huang Sin Mo segera mengebaskan ujung bajunya, membawa delapan murid dan tiga orang gundiknya, sehingga berjumlah dua belas. Mereka berangkat melompat pagar pekarangan menuju ke tanah perbukitan sana.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan Sik Tiong Giok? Pemuda itu merasa menyesal sekali setelah disekap orang dalam peti besar tersebut. Dalam keadaan demikian, dia hanya bisa memasrahkan keselamatan jiwanya pada nasib.

Dalam suasana yang paras serta susah bernapas, tiba-tiba tutup peti kembali terasa dibuka orang, lalu tampak cahaya berkelebat lewat. Dia kenali cahaya tersebut sebagai sebilah pedang. Segera, pikir di hati, "Habis sudah riwayatku kali ini, sungguh tak kusangka aku bakal mati dalam keadaan seperti ini." Berpikir demikian, dia pun memejamkan matanya rapat-rapat. Dia tahu, bila pedang tersebut ditusukkan ke perutnya, niscaya dia akan tewas dalam keadaan yang mengenaskan.

Siapa tahu, di mana cahaya pedang itu berkelebar lewat, otot-otot menjangan yang dipakai untuk membelenggu tubuhnya segera putus dan patah semua. Kemudian, "Blaaaammmm!" Peti itu kembali ditutup rapat.

Sik Tiong Giok menjadi amat kesal. Kembali, dia berpikir, "Kalau orang itu berniat menyelamatkan jiwaku, mengapa pula harus menutup kembali peti ini?" Tanpa ragu lagi, dia melompat bangun, membuka penutup peti tersebut, dan meloloskan diri.

Suasana dalam ruangan gelap gulita tak tampak sesuatu apa pun. Di antara sinar yang remang-remang, tampak seseorang tergeletak di depan pintu, ternyata orang itu adalah seorang dayang.

Kejadian tersebut membuat Sik Tiong Giok merasa semakin kesal. Sekali lagi, dia berpikir, "Heran, siapa yang telah menyelamatkan diriku? Jangan-jangan perbuatan dari Toa Su Pek Thian Liong Siu...?" Belum lewat ingatan tersebut dari benaknya, tiba-tiba dari luar pintu kedatangan suara pembicaraan manusia. Tergerak hatinya dengan segera, tanpa berpikir panjang, pemuda itu segera menerobos keluar melalui jendela.

Baru melompat keluar dari dinding pekarangan, tiba-tiba dari kejauhan sana tampak sesosok bayangan manusia sedang bergerak ke depan situ dengan kecepatan tinggi.

Tanpa berpikir panjang lagi, Sik Tiong Giok segera melakukan pengejaran dari belakang.

Agaknya, bayangan manusia tersebut berniat untuk menghindarkan diri dari pengejaran Sik Tiong Giok. Semakin gencar pemuda itu menyusulnya, semakin cepat pula orang itu melarikan diri.

Dalam kegelapan malam, hanya dua sosok bayangan manusia bergerak saling berkejaran menjauhi tempat itu.

Dari kentongan keempat sampai fajar mulai menyingsing, mereka masih berkejaran terus tiada hentinya. Waktu itu, mereka sudah meninggalkan wilayah bukit Kiu Nia San dan kini menuju ke daerah bukit Muk Cho San.

Fajar telah menyingsing, sinar sang surya juga memancarkan cahayanya menerangi empat penjuru. Sekarang, semua pemandangan di sekitar sana kelihatan semakin jelas lagi.

Sik Tiong Giok juga dapat melihat orang yang dikejarnya itu makin nyata. Ternyata, dia adalah seorang wanita berbaju hitam, saat ia masih berlarian terus ke depan tanpa berpaling sekejap pun.

Oleh karena wajahnya tak terlihat, Sik Tiong Giok makin penasaran. Dia ingin secepatnya berhasil menyusul perempuan tadi dan mencari tahu duduk persoalan yang sebenarnya.

"Siapakah dia? Mengapa menolong aku?" Meskipun pelbagai kecurigaan berkecamuk di dalam benaknya, pemuda itu sama sekali tidak memperlambat langkahnya, malah pengejaran dilakukan semakin kencang.

Dua jam kembali sudah lewat, dari kejauhan sana bukit Mo Cho San sudah kelihatan semakin jelas.

Tampaknya, perempuan itu sudah mulai kehabisan tenaga, larinya semakin lama semakin melambat. Jelas, ia sudah tak mampu lagi untuk mempertahankan diri.

Sik Tiong Giok menjadi sangat gembira. Dia segera percepat langkahnya menerjang ke depan.

Namun, perempuan berbaju hitam itu cukup cekatan. Di saat Sik Tiong Giok menubruk ke depan, tiba-tiba ia malah menyusup mundur, lalu berbelok ke samping, dan kabur menuju ke arah sebuah hutan lebar.

Dengan demikian, Sik Tiong Giok menjadi menubruk tempat kosong. Menanti dia membalikkan tubuhnya lagi, bayangan tubuh perempuan berbaju hitam itu sudah tak tampak lagi.

Sik Tiong Giok mendengus sambil memutar badan. Sekali lagi, dia menerjang ke arah dalam hutan lebat tersebut.

Hanya dalam dua kali lompatan saja, dia sudah menerjang keluar dari hutan itu. Disanalah, dia melihat perempuan berbaju hitam tadi sedang berusaha untuk melarikan diri.

Dengan suatu gerakan cepat, dia segera melompat melewati perempuan itu, kemudian sambil membalikkan badan, dia hadang jalan perginya.

Tak terlukiskan rasa kaget perempuan berbaju hitam itu. Buru-buru, ia menghentikan langkah, sambil melompat mundur sejauh beberapa kaki, dan saat itulah ia baru berhasil berdiri tegak.

Dengan begitu, mereka berdua pun menjadi berdiri saling berhadapan, meski jaraknya cukup jauh. Sik Tiong Giok masih dapat mendengar dengusan napasnya yang terengah-engah.

Lewat beberapa saat kemudian, perempuan itu baru pelan-pelan membalikkan badannya, lalu kepada Sik Tiong Giok, dia membentak dengan suara sedingin es.

"Siapakah kau? Atas dasar apa kau mengejar aku?" Sik Tiong Giok merasa terkejut sekali, terutama setelah menyaksikan bentuk badan dari perempuan itu. Serunya tertahan, "Aaaah... kau..."

Ternyata, perempuan itu masih muda, kira-kira baru berusia enam belas tujuh belas tahunan, bertubuh kecil dan ramping, tapi montok berisi, suatu bentuk badan yang menarik hati. Hanya sayang, ia justru memiliki seraut wajah yang menakutkan.

Mukanya semu kuning kepucat-pucatan, matanya jeli api, tampangnya jelek, bahkan makin dipandang semakin memuakkan, bikin hati orang jadi bergidik rasanya.

Untuk sesaat, Sik Tiong Giok dibuat terkejut bercampur keheranan. Untuk sesaat, dia menjadi tertegun dan berdiri melongo.

Gadis jelek itu segera mengerdipkan sepasang matanya berulang kali, menyaksikan sikap bengong anak muda tersebut, kemudian tegurnya dengan nyaring, "Hei, sudah kau dengar belum?"

"Apa... apa yang kudengar...?" tanya Sik Tiong Giok tertegun.

"Aku ingin bertanya, siapakah kau? Atas dasar apa mengejarku? Ayo, cepat jawab!" Untuk kesekian lamanya, Sik Tiong Giok dibuat tertegun. Buru-buru, ia menjawab.

"Aku... kenapa? Kau tidak kenal aku?" "Darimana mungkin aku bisa mengenali dirimu...?" "Jika kau tidak kenal aku, mengapa pula harus menyelamatkan diriku...?" Gadis jelek itu segera memutar biji matanya berulang kali, kemudian tertawa cekikikan.

"Siapa sih yang menolong kau? Bukankah kau yang justru mengejar aku?" Sik Tiong Giok benar-benar dibikin kebingungan setengah mati. Akhirnya, dia lagi sambil menggelengkan kepala.

"Dayang yang berada di loteng bambu itu apa tewat di tanganmu?" Gadis jelek itu memutar biji matanya berulang kali, nada suaranya juga secara tiba-tiba berubah menjadi dingin dan kaku.

"Siapa yang ingin kubunuh, orang itu segera akan kubunuh. Kau tak usah mencampuri urusanku..." Sik Tiong Giok segera tersenyum.

"Bukannya aku hendak mencampuri urusanmu, tapi aku hanya ingin mencari tahu siapa yang telah menolong aku. Tahukah kau?" "Sekalipun aku tahu juga tak akan kusampaikan kepadamu. Biar selama hidup kau tak bisa menemukannya." "Siapa sih orang itu?" "Aku tak tahu." Lama kelamaan, Sik Tiong Giok menjadi mendongkol sendiri. Sambil mendengus dingin, segera serunya, "Mengapa kau tidak berbicara?" Meski di atas wajah si nona jelek yang bersemu kekuning-kuningan itu tidak memperlihatkan perubahan apa pun, namun sepasang matanya bersinar tajam, bibirnya dicibirkan, bahkan pedangnya segera diloloskan dari sarung dan digoyang-goyangkan di depan mata Sik Tiong Giok.

Katanya kemudian, "Pokoknya, kalau aku enggan bicara, ya tetap enggan. Kecuali jika kau berhasil mengungguli pedangku ini..." Selesai berkata, kembali ia mendengus. Pedangnya dengan menciptakan sekilas cahaya tajam sekali lagi diputar di depan mata Sik Tiong Giok, membentuk sekuntum-kuntum bunga pedang.

Sik Tiong Giok mendongkol sekali oleh kebinalan perempuan itu. Melihat dia main gertak dengan mempergunakan pedangnya, dalam hati kecilnya segera berpikir, "Budak cilik ini benar-benar sangat binal. Tampaknya, jika aku tak mampu menaklukkannya, dia tak bakal mau menuruti perkataanku." Berpikir sampai disitu, tiba-tiba saja dia maju selangkah ke depan sambil meloloskan pedang.

Tapi, pemuda itu segera meraba tempat yang kosong. Sekarang, dia baru ingat bahwa pedangnya masih tertinggal di ruang loteng bambu.

Tanpa terasa, bayangan wajah Cu Siau Hong muncul kembali di dalam benaknya. Perasaan menyesal pun timbul dari dasar hati kecilnya.

"Hei, jurus serangan apaan itu? Ayo, cabut pedangmu," si nona jelek segera menggoda.

Sik Tiong Giok bergerak cepat, mematakan sebatang ranting pohon, lalu sambil menimangnya dalam gengaman, ia berkata, "Aku akan mempergunakan ranting pohon ini untuk menyambut beberapa jurus seranganmu." "Hmm, jangan kau anggap dirimu itu hebat sekali," jengek si nona jelek sambil mendengus dingin.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment