Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 42

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 42

Tubuhnya bergeser maju selangkah, pedangnya segera diputar untuk melancarkan tusukan.

Apa mau dikata, gadis jelek itu cukup licik.

Dari sikap lawan yang tidak menyambut serangan pedangnya, ia lantas sadar bahwa kemampuan pemuda tersebut bisa jadi jauh di atas kemampuannya. Ia pun semakin tidak berani gegabah.

Maka, tanpa menunggu sampai pedangnya selesai melancarkan jurus tersebut, mendadak ia memutar pergelangan tangannya membentuk satu lingkaran, lalu merendahkan badannya ke bawah.

Menyusul kemudian, pedangnya berputar lagi membabat tubuh bagian bawah lawan.

Sik Tiong Giok sama sekali tidak tahu kalau jurus pedang yang dipergunakan gadis jelek itu adalah jurus "Angin Dingin Menggugurkan Daun" yang merupakan jurus ilmu pedang tangguh dalam dunia persilatan.

Walaupun demikian, dia pun tidak berani lengah. Segera ia membatin dalam hati.

"Aliran ilmu silat yang ada di dunia ini memang sangat hebat. Aku dengar ada ilmu pukulan sapuan bumi, hari ini mataku benar-benar terbuka setelah melihat ilmu pedang sapuan bumi ini." Berpikir demikian, dengan cepat ia menumpukan rantingnya ke atas tanah. Tiba-tiba saja tubuhnya melambung ke udara dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Lalu dengan menggunakan sedikit kekuatan yang ada, badannya melambung tujuh sampai delapan depa lebih ke atas.

Memanfaatkan kesempatan itulah, ranting pohonnya menyapu ke depan khusus menyambut bagian atas tubuh lawan.

Jurus serangan semacam ini memang benar-benar merupakan suatu taktik yang hebat, suatu taktik penyelamatan dengan mendesak musuh.

"Suatu gerakan tubuh yang bagus!" teriak nona jelek itu dengan suara nyaring.

Di tengah teriakan itu, ia membalikkan badan sambil melayang turun ke sisi kiri anak muda tersebut. Dengan begitu, jarak di antara kedua belah pihak hanya lima depa saja.

Sik Tiong Giok segera melindungi diri dengan ketat. Meski tidak melanjutkan serangan lagi, ia juga tidak berani mengendurkan pertahanan diri. Dengan berhati-hati sekali, pemuda itu mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Nona jelek itu berdiri pula dengan ujung pedang menempel di permukaan tanah. Wajahnya yang bersemu emas tampak berkerut makin kencang, lalu diiringi suara tawa yang merdu ia menegur, "Kau sudah dapat mengenali ilmu pedangku?"

"Apa sih yang aneh?" jawab Sik Tiong Giok. "Ilmu pedang sapuan bumi belum bisa mengelabui diriku."

Belum selesai dia berkata, nona jelek itu sudah tertawa terpingkal-pingkal saking gelinya. Tak tahan lagi ia berseru sambil menahan tawa.

"Pangeran Serigala Langit, wahai Pangeran Serigala Langit. Kalau ilmu pedang nomor wahid di kolong langit, Angin Dingin Menyapu Daun pun tidak kau kenal, buat apa kau pasang gaya di depan orang lain?"

"Huh, ilmu pedang nomor wahid apaan itu? Kau tidak usah mencoba untuk membohongi aku."

"Siapa yang membohongi dirimu? Tampaknya kau seperti tidak puas?"

"Aku memang ingin sekali menyaksikan kehebatan dari ilmu pedang nomor wahid di kolong langit itu. Coba Nona memberi petunjuk lagi kepadaku."

Sepasang mata si nona jelek yang tampak jeli itu berkedip. Tiba-tiba saja sikapnya juga ikut berubah menjadi amat lembut. Katanya kemudian dengan pelan, "Aku rasa kita tidak usah berkelahi lagi. Bukankah kau hendak mencari tuan penolongmu? Nah, pergilah dengan cepat daripada menelantarkan urusan besarmu, apalagi si Tua bermarga Sin tersebut memang sedang menunggumu dengan gelisah."

Dengan termangu-mangu, Sik Tiong Giok mengawasi gadis itu lekat-lekat, sedang dalam hatinya ia berpikir, "Aai, sungguh aneh sekali. Tampaknya gadis jelek ini mengetahui dengan amat jelas segala sesuatu mengenai diriku. Tapi, siapakah dia?"

Karena sedang memikirkan hal tersebut, untuk sesaat pemuda itu jadi lupa memberi jawaban atas pertanyaan si nona. Dia hanya mengawasi wajah gadis tersebut dengan termangu-mangu.

Lama-kelamaan nona jelek itu menjadi rikuh sendiri karena diawasi lawan tanpa berkedip. Sambil menundukkan kepala dan menghentakkan kakinya berulang kali ke tanah, ia berseru, "Hei, mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Mau apa kau mengawasi aku terus-menerus?"

Merah padam wajah Sik Tiong Giok mendengar ucapan lawan. Sebab biarpun nona itu berwajah jelek, bagaimanapun juga dia masih seorang gadis. Tentu saja rasanya rikuh bila wajahnya diawasi terus-menerus.

Maka dengan wajah serius, segera ia berkata, "Nona, mengapa kau bisa mengetahui segala sesuatu tentang diriku dengan begini jelas? Kalau begitu, sudah pasti kaulah yang telah menyelamatkan jiwaku."

Nona jelek itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Bagaimana sih kau ini? Bukankah tadi sudah kukatakan kepadamu bahwa orang yang menolongmu bukan aku? Tapi aku memang tahu siapakah dia."

"Harap Nona bersedia memberi penjelasan kepadaku," kata Sik Tiong Giok sambil memberi hormat.

Nona jelek itu tertawa cekikikan. "Kan sudah kukatakan kepadamu, biar kau menyembah kepadaku pun percuma."

"Asal Nona bersedia memberitahukan hal tersebut kepadaku, biar Sik Tiong Giok harus berlutut dan menyembah kepadamu pun hal tersebut tidak berarti bagiku."

Seraya berkata, pemuda itu benar-benar hendak menjatuhkan diri untuk berlutut.

Mendadak nona itu tertawa cekikikan, "Kau memang lucu sekali. Coba lihat, masa mau menyembah kepada sebatang pohon?"

Sebenarnya Sik Tiong Giok sudah bersiap-siap hendak berlutut. Mendengar ucapan itu, ia lantas mendongakkan kepalanya, tapi seketika itu juga dia dibuat tertegun saking kagetnya.

Ternyata nona jelek yang semula berada di hadapannya, dalam waktu singkat telah berubah menjadi seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan. Saat itu, si nona cantik sedang memandang ke arahnya sambil tertawa. Begitu tertawa, terlihatlah dua baris giginya yang putih bersih dan sangat menarik hati.

"Betul-betul aneh," Sik Tiong Giok keheranan tiada habisnya. "Masa dalam sekejap mata saja paras muka seseorang dapat berubah-ubah?"

Karena terdorong oleh rasa herannya, pemuda itu mencoba memeriksa keadaan di seputar sana. Namun, dua puluh kaki di sekeliling tempat itu sama sekali tidak terdapat tempat yang memungkinkan untuk bersembunyi.

Sungguh aneh sekali, hanya dalam sekejap mata si nona jelek telah lenyap tidak berbekas dan muncul nona cantik di hadapan mukanya. Tak tahan lagi, pemuda itu segera berseru tertahan, "Aneh sekali! Masa aku bertemu setan hari ini? Kalau tidak, mana mungkin wajah seseorang bisa berubah menjadi jelek dan cantik hanya dalam waktu singkat?"

Mendadak gadis itu tertawa cekikikan lagi sambil menegur, "Aku lihat kau memang sudah rada-rada gila. Kau sedang memaki siapa sebagai setan?"

"Hei, kenapa bisa menjadi kau?" teriak Sik Tiong Giok lagi sambil membelalakkan matanya lebar-lebar.

"Idih, kok aneh sih kamu ini!" seru si nona sambil mencibir. "Aku ya aku, kok bisa 'menjadi aku'? Memangnya kau merasa pernah kenal diriku?"

Ternyata bicara soal potongan badan, usia, maupun raut wajah nona ini, hampir semuanya persis seperti Cu Siau Hong. Hanya bedanya, yang satu mengenakan baju merah, yang lain baju hitam, dan lagi nona ini tampak lebih binal.

"Jadi kau... kau bukan Nona Cu?" tanya Sik Tiong Giok dengan wajah tertegun.

"Kau sendiri bermarga Cu? Aku bermarga Li, mengerti?" nona itu tertawa cekikikan.

Sik Tiong Giok semakin keheranan. Ia tidak habis mengerti, bukan saja seseorang bisa berubah dari jelek menjadi cantik, bahkan nama marga pun dapat diganti-ganti. Tanpa terasa dia menggelengkan kepalanya berulang kali sambil berseru, "Aku tidak percaya!"

"Kau tidak percaya, ya sudah," nona itu melotot besar. "Aku tidak ada waktu untuk menemanimu berdebat. Jika ingin berdebat, silakan berdebat sendiri dengan setan. Kalau aku mau pergi saja."

Kemudian, setelah melemparkan sekulum senyum yang sangat manis, nona itu membalikkan badan dan beranjak pergi.

Dengan dipenuhi berbagai kecurigaan serta perasaan tidak habis mengerti, Sik Tiong Giok menyaksikan bayangan punggung nona itu menjauh. Bila dilihat dari potongan badan, bentuk, serta raut wajahnya, sudah jelas nona itu adalah Cu Siau Hong. Mengapa dia mengaku bermarga Li?

Satu ingatan segera melintas di dalam benaknya, "Jangan-jangan dia masih mempunyai kesulitan yang tidak bisa diutarakan? Lebih baik kutanyakan masalah ini sampai jelas."

Belum habis ingatan tersebut melintas, gadis itu sudah berada sepuluh kaki lebih dari tempat semula, bahkan meluncur terus ke depan dengan amat cepat menuju ke sebuah hutan lebat. Melihat gadis itu sudah hampir masuk ke dalam hutan, tiba-tiba Sik Tiong Giok berteriak keras, "Nona, tunggu dulu!"

Sementara itu, si nona sudah tiba di sisi hutan. Ketika mendengar suara panggilan tersebut, ia berhenti sambil memandang sekejap ke arah Sik Tiong Giok. Kemudian diiringi suara tawa merdu, tubuhnya segera menyelinap masuk ke dalam hutan dan lenyap dari pandangan mata.

Sik Tiong Giok tidak berani berlengah lagi. Berhubung ia sudah tahu kalau ilmu meringankan tubuh yang dimiliki lawan tidak lemah, jangankan memasuki hutan lebat, di daratan yang datar pun belum tentu ia bisa mengejarnya, apalagi dalam keadaan begini. Maka dengan cepat ia mengeluarkan ilmu meringankan tubuh "Larian Serigala" untuk menerjang ke arah hutan dengan kecepatan luar biasa.

Tiba di tepi hutan, tanpa berhenti pemuda itu menarik napas panjang. Kemudian dalam beberapa kali lompatan saja, tubuhnya sudah berada puluhan kaki di dalam hutan. Saat itulah dia baru melakukan pemeriksaan atas keadaan di sekeliling tempat itu. Namun, bayangan tubuh gadis tadi sudah hilang lenyap tak berbekas.

Sik Tiong Giok termenung sebentar, kemudian meneruskan lagi pencariannya di hutan tersebut. Namun sepanjang jalan ia tidak berhasil menemukan apa pun. Jangankan bayangan tubuhnya, suara setitik pun tidak kedengaran.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment