Chapter 43
Atas kejadian tersebut, Sik Tiong Giok menjadi sangat curiga. Ia segera berpikir, "Berbicara soal ilmu meringankan tubuh yang kumiliki, semestinya tidak berada di bawah kemampuan lawan. Memang aku berangkat sedikit lebih lambat, namun ilmu `Lari Serigala` ajaran Suhu merupakan suatu ilmu meringankan tubuh yang sangat termasyhur di dalam dunia persilatan. Aku tidak percaya jika tidak berhasil menyusulnya."
Berpikir sampai di situ, tiba-tiba saja sebuah ingatan melintas di dalam benaknya. Ia segera berpikir, "Bisa jadi Nona itu bukan Cu Siau Hong. Ia sangat binal dan nakal, tapi aneh, mengapa justru memiliki raut wajah yang begitu mirip dengannya?" Baru saja ingatan tadi melintas di dalam benaknya, mendadak dari kejauhan terdengar suara genta dibunyikan orang.
"Denting... denting..." Mendengar suara genta itu sekali lagi, hati Sik Tiong Giok tergerak. Niatnya untuk menggeledah sisa daerah di sekitarnya segera diurungkan. Ia membalikkan tubuh dan berlari menuju ke arah asal suara genta tersebut.
Beberapa *li* dapat dilalui dengan cepat. Setelah semakin mendekat, terlihat olehnya sebuah bangunan biara muncul di balik tikungan bukit di depan.
Pemuda itu segera mempercepat larinya. Dalam dua atau tiga kali lompatan, ia sudah sampai di depan pintu biara. Kemudian, tanpa berpikir panjang, ia masuk dengan melompati pagar pekarangan.
Tapi sebelum langkah lebih jauh diambil, sebuah ingatan kembali melintas dalam benaknya. Ingatan tersebut membuatnya menjadi ragu-ragu untuk bertindak lebih jauh.
"`Bagaimanapun juga, tempat ini adalah sebuah biara untuk kaum rahib,` demikian pikirnya. `Padahal aku seorang lelaki. Masakan aku mesti masuk tanpa permisi? Andaikata secara kebetulan rahib sedang bertukar pakaian atau mandi, wah... bisa-bisa kacau. Aku bisa dituduh mengintip mereka mandi.`"
Sementara itu, dari belakang terdengar suara *bok hi* dipukul orang dengan lirih. Irama yang teratur mengiringi lantunan doa, bergema memecahkan keheningan.
Waktu itu magrib sudah menjelang. Meski tidak terlalu gelap, kabut hampir menyelimuti seluruh permukaan tanah.
Sik Tiong Giok segera melompat turun dan berjalan menelusuri sebuah jalan setapak menuju ke gedung utama di bagian belakang.
Aneka bunga tumbuh di sekeliling halaman. Pada ujung serambi di bagian kanan terdapat sebuah pintu bulat. Dari sanalah suara *bok hi* tersebut berasal.
Sik Tiong Giok memperhatikan sekejap keadaan di sekitarnya, kemudian melanjutkan perjalanannya dengan menelusuri serambi panjang itu.
Belum jauh ia melangkah, tiba-tiba terdengar seseorang membentak dengan suara yang nyaring, "Lihat serangan!" Kemudian terasa tiga gulungan desingan angin dingin menyerang tubuhnya.
Serangan semacam ini bukan hanya disertai dengan tenaga yang kuat, datangnya ancaman pun sangat cepat bagaikan sambaran kilat.
Tidak hanya itu, selain senjata rahasia yang meluncur dari arah tengah langsung mengancam tubuhnya, dua batang yang lain justru datang dari kedua sisi.
Berada dalam keadaan seperti ini, ke mana pun ia hendak berkelit, sulit untuk meloloskan diri dari lingkungan pengaruh senjata rahasia lawan.
Namun, Sik Tiong Giok sendiri pun termasuk seorang ahli ilmu senjata rahasia. Dengan cekatan sekali, ia mengeluarkan ilmu `Gelindingan Serigala` untuk meloloskan diri dari sergapan ketiga senjata rahasia tersebut.
Ditinjau dari suara senjata rahasia yang membentur tanah, pemuda itu segera mengetahui bahwa senjata rahasia yang dipergunakan untuk menyerang adalah biji tasbih yang terbuat dari kayu. Hal itu semakin mengejutkan hatinya, tanpa terasa pikirnya, "Pihak lawan dapat melancarkan serangan dengan disertai tenaga yang begitu kuat, padahal hanya memakai biji tasbih yang terbuat dari kayu. Jelas sekali bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang ini benar-benar sangat sempurna..."
Begitu berhasil menggelinding di atas tanah dan meloloskan diri dari sergapan, pemuda itu segera melompat bangun.
Pada saat itulah, dari balik tiang serambi melompat keluar seorang niko bertasbih yang memakai baju lebar.
Niko itu baru berusia sekitar lima puluh tahun, berwajah tegas dan bermata tajam. Dengan suara dingin ia segera menegur, "Manusia jahanam, besar sekali nyalimu berani mendatangi Kuil Bambu Siu Tiok An kami di tengah malam begini. Jangan kabur..."
Buru-buru Sik Tiong Giok membungkukkan badan memberi hormat, katanya dengan cepat, "Taysu, harap Anda sudi mendengarkan penjelasanku lebih dulu..."
"`Tak usah kau jelaskan,` tukas si niko tanpa emosi. `Pokoknya siapa yang berani mendatangi Kuil Siu Tiok An kami di tengah malam buta, berarti dia memiliki ilmu silat yang hebat. Pinni ingin mencoba seratus gebrakan dengannya lebih dulu.`"
"`Betapapun besarnya nyaliku, aku juga...`" Belum selesai ia berkata, tiba-tiba segulungan desingan angin dingin telah menyerang lagi dadanya.
Cepat-cepat Sik Tiong Giok menepiskan tangannya ke samping. Telapak tangannya segera merasa membentur sesuatu kekuatan yang besar. Ketika ia sadari, ternyata sebiji tasbih kayu. Hal ini membuat hatinya makin terkesiap.
Dengan suara dalam, niko itu kembali berkata, "Berhati-hatilah, Siau Sicu. Pinni akan melancarkan serangan lagi." Belum selesai ia berkata, tubuhnya bagaikan segulungan asap langsung menerjang ke depan.
Saat tubuhnya bergerak ke depan, tangan kanannya telah meloloskan sebatang senjata yang bentuknya sangat aneh. Panjangnya satu depa dan berbentuk seperti pedang. Namun, pada ujung pedang itu terdapat sebuah mutiara sebesar kepalan tangan. Ketika diayunkan, mutiara itu meluncur ke depan, lepas dari ujung pedang, dan langsung menumbuk ke arah sasaran.
Sik Tiong Giok amat terkejut, pikirnya, "`Heran, senjata apa ini?`" Padahal, mana mungkin ia tahu, dalam dunia persilatan senjata tersebut sudah lama termasyhur karena banyak sekali jagoan dari golongan lurus maupun sesat yang tewas di ujungnya. Pedang itu dinamakan `Lui Cu Kiam` (pedang mutiara geledek).
Enam puluh tahun berselang, dalam dunia persilatan telah muncul seorang gembong iblis yang dinamai Siu Lo Ya Hud. Ia malang melintang dalam dunia persilatan dengan mengandalkan pedang `Lui Cu Kiam` tersebut.
Namun, kedatangan gembong iblis itu bagaikan angin puyuh dan lenyapnya pun cepat. Tak seorang manusia pun yang tahu dari mana Siu Lo Ya Hud itu berasal dan lenyap ke mana, namun suatu kesan mengerikan telah tertanam di hati setiap orang.
Oleh karena itu, ia tidak berani menunda lagi. Dengan siap siaga penuh, pemuda itu berusaha menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Tatkala mutiara geledek itu terlepas dari ujung pedang, terdengarlah suara desingan tajam mendenging di udara. Lalu, dengan membawa sekilas cahaya putih yang menyilaukan mata, langsung menerjang ke dada Sik Tiong Giok.
Saat mutiara geledek itu hampir mengenai sasaran, niko tersebut baru membentak keras.
"`Lihat serangan!`" Menyusul mutiara geledek itu, mendesing lagi tiga gulungan desiran angin tajam yang datang secara berurutan.
Serangan itu langsung mengancam jalan darah `Thian Ti Hiat` di dada sebelah kiri, `Thian Ci Hiat` di lambung, dan `Hu Toh Hiat` di lutut kanan.
Sik Tiong Giok berpekik nyaring. Mendadak ia menjatuhkan diri ke atas tanah dan menggelinding sejauh tiga kaki ke samping. Kemudian, dengan gerakan `Bunga Gugur Dimainkan Air`, tubuhnya melejit dan menggelinding kian kemari seperti gerakan ombak.
Bersamaan dengan lejitan itu, ternyata niko tersebut melepaskan serangannya dengan tasbih kayunya secara beruntun, satu per satu ditujukan ke arah Sik Tiong Giok yang masih bergulingan di atas tanah.
Niko itu mendengus dingin. Mendadak ia menggetarkan tangannya, pedang beserta mutiara geledeknya kembali meluncur ke depan menyusul terkamannya.
Sik Tiong Giok sadar bahwa ia sudah bertemu dengan lawan tangguh hari ini. Tentu saja ia tidak berani menunda lagi. Sambil menghimpun hawa murninya, mendadak ia melejit ke udara setinggi dua atau tiga kaki, kemudian dengan melambung ia meloloskan diri dari sergapan maut tersebut.
Tapi ia tidak menyangka akan kelihaian dari pedang mutiara geledek lawan. Saat tubuhnya sedang berhenti di tengah udara dan naik turun seperti dimainkan gelombang, tiba-tiba terdengar suatu ledakan keras menggema di angkasa...
"Blam!" Menyusul ledakan tadi, mutiara geledek tersebut pecah menjadi ribuan pecahan mutiara kecil yang menyebar ke empat penjuru bagaikan kepungan kawanan lebah.
Sik Tiong Giok baru terkesiap setelah melihat kejadian ini, pikirnya kemudian, "Aduh, celaka!" Belum selesai ia berseru, desingan angin tajam mengiringi ribuan butir mutiara besi telah menyergap tubuhnya.
Serangan dari niko tersebut benar-benar sangat mengerikan.
Berada dalam keadaan seperti ini, serangan mutiara besi itu benar-benar menyebar rata sehingga hampir seluruh jalan darah penting di tubuh Sik Tiong Giok terkurung rapat.
Dalam keadaan begini, Sik Tiong Giok menjadi amat terkesiap. Untuk beberapa saat lamanya, ia tidak tahu bagaimana caranya menghadapi keadaan semacam itu.
Belum selesai ingatan tadi melintas dalam benak Sik Tiong Giok.
Ribuan pecahan mutiara besi itu sudah menghajar di atas tubuhnya.
Pemuda itu mendengus tertahan dan segera roboh terjengkang ke tanah.
Tampaknya Sik Tiong Giok segera akan tewas oleh serangan maut yang disusulkan niko tersebut.
Pada saat itulah, mendadak dari arah samping meluncur datang sesosok bayangan manusia yang kecil ramping sambil berteriak keras, "Taysu, jangan kau bunuh dia!" Tubuhnya menerjang ke depan Sik Tiong Giok. Kemudian, sekali sambar, ia sudah menyambar tubuh pemuda itu dan meluncur ke belakang.
Paras muka niko ini berubah hebat mendengar bentakan itu. Sambil mendengus, segera serunya, "Siluman kecil, kau ingin mati juga?" Ternyata orang yang menyelamatkan Sik Tiong Giok dari musibah adalah nona jelek yang bisa berubah-ubah itu.