Chapter 45
"Hihi..." "Huh, jangan keburu gembira dulu," bentak nona jelek. "Kalau sampai tendanganmu melukai Sin Lotau ini, lihat saja nanti biar Suhu meninjumu sampai mampus."
Sekali lagi pemuda bodoh itu tertawa. "Aku tidak takut, Suhu kan paling sayang kepadaku." Melihat sepasang kakak beradik seperguruan ini, Kakek Naga Langit menghela napas di dalam hati. Setelah memandang sekejap ke arah nona jelek, ia kemudian bertanya sambil menuding pemuda bodoh itu.
"Nona, siapakah dia? Hebat benar kepandaian silatnya."
Mendengar ada orang memuji dirinya, tanpa menunggu nona jelek berbicara, pemuda bodoh itu sudah menimbrung lebih dulu. "Hei, orang tua! Masa kau tidak kenal aku? Namaku Apoo. Sumoay menjuluki aku Si Tendangan Geledek. Kau tahu?"
Nona jelek segera melotot sekejap ke arahnya, lalu berkata kepada Kakek Naga Langit dengan hormat, "Sin Susiok, dia adalah kakak seperguruanku bernama Wan Poo. Ia memang khusus mempelajari ilmu tendangan."
"Benar," Apoo si tolol kembali menyela. "Aku cuma berlatih ilmu tendangan, sedangkan tanganku tidak berkemampuan apa-apa. Suhu bilang, hanya dengan mengandalkan tendangan saja, aku sudah dapat menjagoi dunia persilatan. Kau percaya tidak, orang tua? Apakah perlu kulancarkan tendangan lagi untuk kau lihat?"
Kakek Naga Langit segera menggoyangkan tangannya berulang kali sambil tertawa tergelak, "Hahaha... Tidak usah, aku sudah cukup mengetahui kelihaian ilmu tendanganmu."
Sementara mereka bertiga sedang bercakap-cakap, mendadak dari kejauhan terdengar seseorang membentak keras, "Hei, bocah keparat! Kau hendak melarikan diri ke mana?"
Menyusul seseorang berseru nyaring, "Enci, jangan terlalu memojokkan orang! Sesungguhnya aku masih ada urusan penting sehingga tidak bisa menanti terlalu lama di sini. Kuharap kau suka melepaskan aku."
"Bukannya aku tidak mau melepaskanmu pergi, tetapi lukamu belum sembuh. Bila kau pergi begitu saja, hal ini sama artinya dengan mencari jalan kematian untuk diri sendiri."
"Toaci," suara nyaring itu kembali bergema, "lepaskanlah aku pergi! Aku percaya masih bisa merawat lukaku ini."
Tampaknya nona itu menjadi marah, ia segera membentak keras, "Omong kosong!"
Semua pembicaraan itu dapat didengar oleh tiga orang yang berada di luar pagar kuil Siu Tiok An dengan sangat jelas. Mendadak nona jelek berseru, "Hei, bukankah itu suara Suciku?"
"Ya, yang seorang lagi adalah Serigala, tetapi... kenapa ia kabur?" seru Kakek Naga Langit seolah memahami sesuatu.
Mendengar Pangeran Serigala sudah kabur, si nona jelek menjadi panik dan segera menyerbu ke depan. "Sumoay, tunggu dulu! Tunggu aku, si dogol!" Apoo si bodoh segera berteriak-teriak. Sambil berteriak, dia ikut lari ke depan. Hal ini membuat Kakek Naga Langit tertinggal seorang diri, berdiri termangu di situ. Tiba-tiba ia mengangkat toyanya dan ikut mengejar dari belakang.
Hanya dalam beberapa kali lompatan saja, tibalah mereka di sebuah tikungan bukit. Di situ ia menjumpai Sik Tiong Giok sedang berdiri berhadapan dengan seorang gadis berambut panjang. Gadis itu sesungguhnya tidak lain adalah anak angkat Siong Hee Lojin yang bernama Toan Hong Koh alias Sam Ciang Cing Si (Rambut Tiga Kaki). Waktu itu si nona sedang melotot ke arah Sik Tiong Giok dengan penuh amarah, kemudian menegurnya dengan dingin, "Anak muda, benarkah kau hendak memaksaku untuk turun tangan?"
"Toaci, aku betul-betul tidak bisa berdiam terlalu lama di sini. Namun, jika kau memaksa juga untuk turun tangan, ya, apa boleh buat..." sahut Sik Tiong Giok sambil mengangkat kepala.
Toan Hong Koh kembali mendengus dingin. "Baik, akan kulihat apakah kau masih berkemampuan untuk pergi dari sini." Sepasang telapak tangannya direntangkan, lalu kakinya melangkah dengan ilmu Thian Kang Poh Hoat menerkam ke depan. Dengan cekatan, Sik Tiong Giok berkelit ke samping serta meloloskan diri dari cengkeraman musuh, lalu berseru setengah merengek, "Toaci, jangan terlalu memaksaku!"
Toan Hong Koh maju lagi ke depan dan menghadang jalan pergi Sik Tiong Giok sekali lagi. Hardiknya, "Asal kau mampu menerobos keluar dari sini, aku tidak akan menghalangi kepergianmu lagi!"
Angin pukulan menderu-deru. Sekali lagi ia melancarkan cengkeraman maut dengan jurus Naga Mega Membentangkan Cakar. Kelihaian Serigala, semacam ilmu menghindarkan diri yang dimiliki Sik Tiong Giok, telah didapat dari warisan langsung Kakek Serigala Langit. Tak heran kalau begitu tubuhnya berkelit, tahu-tahu ia sudah menerobos lewat.
Siapa sangka, Toan Hong Koh bergerak jauh lebih cepat lagi. Ia tampak menggelengkan kepalanya; rambutnya yang panjang langsung menggulung di udara dan bagaikan ular raksasa segera menyambar serta melilit pinggangnya secepat kilat, kemudian melemparkannya ke udara. Si nona jelek yang melihat kejadian ini menjadi sangat terkejut, tanpa terasa ia menjerit, "Suci!"
Perlu diketahui, ilmu kepala yang dimiliki Toan Hong Koh ini termasuk semacam ilmu aneh di dalam dunia persilatan. Barang siapa yang tubuhnya terlilit oleh rambut panjang itu, maka betapa pun lihainya kepandaian silat yang dimiliki orang itu, tetap akan percuma saja. Apalagi jika dia sudah marah dan membanting lawannya dengan rambut panjang itu; meski tubuhnya terbuat dari kulit baja tulang besi pun niscaya akan hancur lebur dibuatnya.
Begitulah keadaan Sik Tiong Giok waktu itu. Sekujur badannya seperti dibelenggu kencang-kencang; sedikit pun ia tidak mampu meronta lagi. Dalam keadaan begini, dia hanya bisa memejamkan mata sambil menunggu ajalnya.
Dalam keadaan gusar tadi, sesungguhnya Si Rambut Tiga Kaki Toan Hong Koh memang berniat mengeluarkan ilmu simpanannya, paling tidak untuk membuat kepala Sik Tiong Giok salah urat. Namun, karena si nona jelek menjerit kaget, hatinya menjadi tergerak sehingga cepat-cepat dia menggunakan jurus Angin Menggulung Genta Emas untuk melemparkan tubuh Sik Tiong Giok ke udara.
Bagaikan sebuah gasing, tubuh Sik Tiong Giok segera berputar kencang di udara. Semakin berputar, badannya melambung semakin tinggi, hingga dalam sekejap mata ia hanya tampak seperti titik bayangan saja. Untung sekali pemuda itu sudah melatih ilmu gelindingan serigala semenjak kecil, sehingga putaran ini sama sekali tidak membuatnya pusing.
Sementara itu, si nona jelek telah menghadang di hadapan Toan Hong Koh sambil menegur, "Suci, mengapa kau turun tangan sekeji ini?" Dengan pandangan dingin, Toan Hong Koh melirik sekejap ke arah nona jelek. Ia sepertinya merasa menyesal atas perbuatannya itu, namun sebagai seorang perempuan yang tinggi hati, ia tidak mau menyerah begitu saja. Katanya penuh amarah, "Siapa suruh bocah muda ini membuat hati orang dongkol dan sama sekali tidak tahu diri?"
Kakek Naga Langit yang berada di sampingnya segera tertawa tergelak, "Hahaha... Nona Toan, tidak usah ribut-ribut lagi. Biar aku yang minta maaf kepadamu."
"Ah, di saat keadaan belum jelas di mana kita tidak tahu siapa kawan siapa musuh, memang tidak ada salahnya bila orang menjadi curiga. Masa aku menyalahkan orang..." tukas si nona jelek.
Belum habis dia berkata, Toan Hong Koh telah tertawa cekikikan. "Wah, wah, nampaknya pagar makan tanaman. Kau sakit hati rupanya karena dia kubanting tadi."
Nona jelek menjadi tersipu-sipu dan menundukkan kepalanya rendah-rendah. Katanya sambil menghentakkan kakinya berulang kali, "Suci, beginikah sikap seorang kakak terhadap adiknya?"
Kembali Toan Hong Koh tertawa cekikikan. "Kenapa dengan kakak? Toh dapat mencegah si adik agar jangan kawin." Godaan ini semakin membuat jengah si nona jelek sampai ia tidak berani mendongakkan kepalanya.
Apoo si bodoh yang mendengar nona jelek mau kawin, buru-buru berteriak dari samping, "Eh, nanti dulu! Sumoay cuma akan kawin denganku! Siapa pun tidak boleh merebutnya!"
Seruan ini membuat suasana menjadi semakin kocak. Toan Hong Koh tidak dapat mengendalikan rasa gelinya lagi sehingga ia tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan si Kakek Naga Langit pun ikut tertawa tergelak.
Hanya Sik Tiong Giok seorang yang berdiri termangu lebih kurang tiga kaki dari situ. Ia tidak bergerak maupun berbicara, bahkan lupa untuk melarikan diri. Ia cuma berdiri tertegun di situ sambil mengawasi beberapa orang yang ada di hadapannya. Mendadak si Kakek Naga Langit menggapai ke arahnya sambil berseru, "Bocah cilik, kemari kau cepat!"
Sik Tiong Giok baru dapat menghilangkan rasa curiga dan bimbangnya setelah melihat paman gurunya turut hadir di situ. Mendengar seruan itu, ia lantas maju menghampiri. Sambil menuding ke arah dua orang nona yang berada di hadapannya, Kakek Naga Langit berkata sambil tertawa, "Mari kuperkenalkan kepadamu. Kedua orang ini adalah murid perempuan dari Siong Bee Lojin: Si Rambut Tiga Kaki Toan Hong Koh dan Gadis Suci Berubah-ubah, Li Pong."
Dengan wajah masih termangu-mangu, Sik Tiong Giok mengiyakan, sementara di hati kecilnya ia berpikir, "Oh, dia bernama Gadis Suci Berubah-ubah. Tidak heran kalau ia bisa berubah menjadi jelek dan cantik..."
Belum habis pikiran tersebut melintas, Apoo si bodoh telah menimbrung pula. "Hei, orang muda! Aku beri tahu kepadamu, namaku adalah Wan Poo, tetapi nama itu tidak enak didengar, jadi panggil saja aku Apoo. Orang menyebutku Pek Lek Tui si Kaki Geledek, tiada tandingannya di kolong langit, mengerti?"
Sambil tersenyum, Sik Tiong Giok manggut-manggut. Katanya, "Sudah lama aku mendengar nama besarmu. Aku memang tahu kau tidak ada tandingannya di kolong langit."
Tidak terlukiskan rasa gembira Apoo si bodoh setelah mendengar ucapan tersebut. Ia tertawa terbahak-bahak semakin keras. "Hahaha! Bocah muda, kau memang sangat hebat. Kau bisa tahu aku tidak ada tandingannya lagi di kolong langit!"
Dengan gemas, Toan Hong Koh mendelik sekejap ke arah si bodoh, kemudian baru berujar kepada Kakek Naga Langit.