Chapter 46
"Suhu telah memperhitungkan dengan tepat kedatangan Seng Susiok. Agar tidak mengurangi kegembiraannya, lebih baik kita cepat pulang ke rumah!"
"Hahaha, baik, baiklah. Sudah bertahun-tahun kami memang tak pernah berjumpa. Kebetulan sekali aku memang ada maksud untuk memberi salam kepadanya. Ayo kita berangkat!"
Tapi baru berjalan sejauh tiga langkah, tiba-tiba ia berpaling ke arah Sik Tiong Giok seraya berkata lagi,
"Hei, bocah! Kenapa kau masih termangu-mangu? Tubuhmu sudah terluka oleh mutiara geledek. Jangan mengira karena sekarang sudah sehat, keadaannya tidak mengkhawatirkan lagi. Jika keadaan seperti ini dibiarkan, seratus hari kemudian kau akan mati dengan sekujur badan yang melemah. Jika kau tidak cepat mencari pertolongan, akan kulihat apakah kau akan punya muka untuk bersua dengan semua orang!"
"Ayo cepat berangkat!"
Sik Tiong Giok baru merasa terkesiap sesudah mendengar perkataan itu. Tanpa terasa, ia mengikuti di belakang mereka. Namun, dalam hati kecilnya, ia belum juga dapat melupakan si Nona Jelek Li Peng.
Baru berjalan beberapa langkah, ia telah berpaling lagi ke belakang.
"Aaaah!" Tiba-tiba saja ia berseru tertahan.
Ternyata Li Peng sudah pergi entah sejak kapan, bahkan pergi tanpa meninggalkan jejak. Tidak heran ia sangat terkejut.
"Pangeranku, apakah kau sedang mencari sumoi-ku?" seru Toan Hong Koh sambil tertawa. "Ia sudah pergi karena masih ada urusan lain. Dua hari lagi baru akan pulang. Sudahlah, kau tak usah terlalu gelisah seperti semut dalam kuali panas."
Wajah Sik Tiong Giok merah padam karena jengah. Pikirnya kemudian,
"Siapa yang gelisah? Coba kalau bukan untuk menyampaikan rasa terima kasihku, buat apa aku mencarinya? Cuma, ia memang baik sekali. Sayangnya, wajahnya yang jelek membuat orang tak tahan untuk melihatnya terlalu lama."
Walaupun dalam hati kecilnya berpikir begitu, pemuda itu tetap membungkam diri. Dengan kepala tertunduk, ia mengikuti di belakang Kakek Naga Langit menuju ke dalam bukit itu.
Tanah perbukitan tersebut amat curam dengan medan yang terjal. Setengah hari kemudian, mereka baru selesai menelusuri jalan bukit itu. Saat itu, hari sudah terang dan keadaan medan bertambah melebar.
Pepohonan nan hijau dengan kicauan burung yang merdu membuat suasana di sana semakin semarak.
Memandang pemandangan yang begitu indah, Sik Tiong Giok merasakan hatinya amat lega dan damai. Pada hakikatnya, ia merasa bagaikan berada dalam surgaloka. Pikirnya,
"Orang kuno bilang, terdapat surgaloka dunia. Betulkah di dunia ini terdapat surgaloka?"
Sementara ia masih termangu-mangu, mendadak dari kejauhan sana berkumandang suara gelak tawa yang amat nyaring.
"Hahaha... Seng Lote, sudah kuhitung bahwa kau bakal datang! Tentunya kau merasa kagum, bukan, atas ketepatan perhitunganku ini!"
Bersamaan dengan menggemanya suara itu, muncul pula sesosok bayangan manusia di atas pohon siong yang berada sepuluh kaki di depan. Ia duduk bersila di atas sebuah ranting pohon yang amat kecil.
Kejadian ini dengan cepat membuat Sik Tiong Giok terkejut bercampur keheranan. Untuk sesaat, ia sampai berdiri melongo dengan mata terbelalak lebar.
Padahal ranting pohon itu kecil dan ramping. Bagaimana mungkin bisa menahan berat badan kakek yang begitu besar? Namun, dalam kenyataannya, kakek berambut putih itu dapat duduk di atas ranting dengan begitu tenang dan mantap. Dari sini dapat diketahui bahwa taraf kepandaian silat yang dimilikinya telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa.
Ketika mendengar seruan tadi, dari tempat jauh Kakek Naga Langit menyahut,
"Kakak Tua memang dewa di antara manusia. Tentu saja perhitunganmu amat tepat, siau te betul-betul amat kagum dan takluk."
"Mana? Sudah kau bawa kemari anak yatim piatu marga Tio itu?" tanya si kakek itu seraya tertawa.
"Sudah, sudah kuajak kemari. Sayangnya, ia sudah terluka oleh mutiara geledek!"
Sambil berkata, diam-diam ia menjawil ujung baju Sik Tiong Giok seraya berbisik,
"Bocah, cepat beri hormat kepada Siong Hee Lojin!"
Sik Tiong Giok tertegun, lalu serunya agak tercengang,
"Sapek, kau jangan keliru! Aku marga Sik, bukan dari marga Tio."
"Ya, aku tahu kau marga Sik, bocah. Tapi aku lebih mengerti kalau kau dari marga Tio. Ayo cepat, jangan kau sia-siakan kesempatan baik ini!"
Di bawah desakan Kakek Naga Langit, terpaksa Sik Tiong Giok maju dua langkah ke depan. Setelah memberi hormat, ia berkata,
"Sik Tiong Giok menjumpai Siong Hee Locianpwee."
Siong Hee Lojin tidak menjawab. Dari atas pohon, ia mengawasi seluruh tubuh Sik Tiong Giok dengan sinar mata yang tajam bagaikan sembilu.
Sik Tiong Giok menjadi sangat keheranan karena tidak mendengar suara jawaban lawan. Dalam keheranannya, ia lantas mendongakkan kepalanya. Namun begitu sepasang mata bertemu dengan sorot mata lawan, hatinya bergetar keras. Buru-buru ia menundukkan kepalanya lagi.
Kakek tersebut segera tertawa tergelak.
"Hahaha! Thian tidak menumpas keturunan keluarga Tio! Hal ini sungguh merupakan suatu kebahagiaan untuk kita semua. Arwah Tay Coa Hongte yang berada di alam baka pun dapat merasa tenang dan turut bahagia!"
Ucapan tersebut semakin membingungkan Sik Tiong Giok. Pelbagai ingatan segera muncul di dalam benaknya. Pikirnya kemudian, "Aneh, benar-benar sangat aneh. Aku kan marga Sik, kenapa mereka sengaja mengganti nama margaku jadi marga Tio? Bahkan ada hubungannya dengan Kaisar Tay Cou Hongtee. Betul-betul sangat aneh."
Agaknya Siong Hee Lojin dapat membaca suara hati si anak muda tersebut. Sambil tertawa terbahak-bahak, ia lantas berkata,
"Nak, bukankah kau merasa keheranan? Terus terang saja kukatakan kepadamu, sebenarnya kau berasal dari keluarga Tio. Tapi di dalam kekuasaan kerajaan asing, pengakuan semacam ini bisa mengakibatkan bencana bagimu. Itulah sebabnya kau harus mengikuti nama marga ayah angkatmu, Sik Thian Kun, untuk sementara waktu."
Sik Tiong Giok segera merasa hawa darah panas mendidih di dalam dadanya. Mendadak ia mendongakkan kepalanya, kemudian berseru dengan lantang, "Lantas siapakah ayahku? Di mana pula ibuku?"
Siong Hee Lojin menghela napas panjang, "Aaaah, ayahmu sudah lama meninggal dunia. Sedangkan ibumu... ia belum ingin berjumpa denganmu. Biar kuberitahukan kepadamu, telah waktunya tiba nanti. Namun, dalam seratus hari mendatang, kau mesti berdiam di sini untuk sementara waktu guna mengobati lukamu. Kalau tidak, biarpun kau tahu siapa ibumu, belum tentu ibumu bersedia menjumpaimu. Mengerti?"
Sik Tiong Giok masih ingin berbicara, namun Kakek Naga Langit yang berada di sampingnya telah menukas dengan lembut,
"Bocah, kau cepat berterima kasih kepada orang tua itu. Bila masih ada persoalan, lebih baik ditanyakan sesudah lukamu disembuhkan nanti."
Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Sik Tiong Giok terus menjura seraya berkata,
"Aku yang muda mengucapkan banyak terima kasih atas petunjuk dari Locianpwee."
Siong Hee Lojin tersenyum. Kepada Toan Hong Koh, ia berkata,
"Hong Koh, ajaklah ia pergi ke Istana Cui Wa Kiong dan siapkan orang yang diperlukan. Tengah malam nanti, aku akan menyembuhkan luka-lukanya."
Toan Hong Koh mengiakan. Kepada Sik Tiong Giok, serunya cepat, "Saudara Cilik, ayo ikut aku!"
Sekali lagi Sik Tiong Giok berterima kasih kepada Siong Hee Lojin, kemudian baru mengikuti di belakang Toan Hong Koh untuk beranjak pergi dari sana.
Setelah menembus sebuah hutan lebat, tak sampai sepuluh kaki kemudian mereka telah memasuki kembali sebuah lembah.
Waktu itu matahari baru terbit. Aneka bunga tumbuh di sekitar pepohonan yang rindang. Bunyi kicauan burung bercampur dengan suara air terjun di kejauhan sana membuat pemandangan dan suasana benar-benar romantis.
Apalagi ketika segulung angin pagi berembus lewat dan membawa aroma bunga yang harum, ia semakin terpikat dibuatnya.
Sik Tiong Giok berseru tertahan. Ia betul-betul dibuat tertegun oleh keindahan alam yang terpapar di depan mata.
Tiba-tiba Toan Hong Koh berhenti. Sambil berkata dengan senyum terkulum, "Sesudah melewati hutan pohon siong itu, kita akan sampai di Istana Cui Wi Kiong."
Ternyata mereka berdua telah tiba di tepi tebing. Dari tebing tersebut, dapat terlihat bangunan rumah di tepi seberang sana.
Sik Tiong Giok semakin keheranan lagi. Ia menjadi termangu untuk beberapa saat.
Sambil tertawa, Toan Hong Koh berseru,
"Sekarang kau cukup mengikuti di belakangku. Jangan sekali-kali kau salah melangkah, sebab bisa jadi tubuhmu akan terperosok ke dalam jurang dan mati konyol."
"Di sini kan tiada jalan untuk menyeberang? Bagaimana mungkin kita bisa mencapai tepi seberang sana?"
"Dengan ilmu meringankan tubuh yang kau miliki, apa sih susahnya untuk melewati jembatan alam? Coba kau saksikan dulu gerakan tubuhku ini."
Selesai berkata, ia lantas melompat terus ke dalam jurang dan meluncur ke depan dengan menginjak di atas awan berjalan.
Gerakan tubuhnya enteng dan cepat, rasanya jauh lebih hebat daripada gerakan tubuh kawanan jago biasa.
Di tengah jalan, ia berhenti sebentar seraya berpaling. Serunya keras-keras,
"Saudara Cilik, ayo cepat kemari!"
Biarpun Sik Tiong Giok agak ragu, namun ia enggan memperlihatkan kelemahan di hadapan orang lain. Terpaksa, sambil menggigit bibir, ia turut melompat ke muka.
Sesudah kakinya menginjak di atas awan bergerak tadi, ia baru tertawa geli. Rupanya, di balik awan tadi terbentang dahan pohon siong yang berfungsi sebagai jembatan penyeberangan. Pikirnya kemudian,
"Sejak kapan sih nyaliku menjadi kecil? Kalau toh ada tempat berpijak, buat apa aku mesti takut? Cuma pembangunan jembatan alam ini memang luar biasa. Bagi mereka yang tak mengetahui keadaan yang sesungguhnya, siapa yang berani mencoba secara sembarangan...?"
Biarpun dalam hati berpikir, kakinya sama sekali tidak berhenti melangkah. Awan putih dilewati dengan cepat, angin berembus di sisi tubuhnya. Ini membuat anak muda tersebut merasa seolah-olah dirinya sedang terbang di angkasa.
Saking gembiranya, tanpa terasa lagi ia mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak.
Tak sampai seperminum teh kemudian, kedua orang itu sudah menyeberangi jembatan alam.