Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 47

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 47

Tiba-tiba terdengar suara tawa menggema dari arah depan. "Sudah puluhan tahun lamanya aku tak pernah berkunjung ke istana Cui Wi Kiong, rasanya suasana di tempat ini makin lama semakin nyaman saja." Mendengar ucapan itu, Mana Sik Tiong Giok berseru kaget.

"Cici, bukankah itu suara Thian Liong Supek? Mengapa ia bisa tiba lebih duluan daripada kita?"

"Ya, dia memang supekmu," sahut Toan Hong Koh sambil tertawa.

"Ia bersama suhu menyeberang langsung dari tebing Gi Pek Gay, karena itu bisa tiba lebih duluan." Belum habis ucapan itu, terdengar si blo'on A Poo sudah berteriak, "Suci, kalian cepatan sedikit, suhu sedang menantimu untuk menyiapkan arak wangi!" Toan Hong Koh mengiyakan dan mempercepat perjalanannya menuju puncak bukit.

Tak lama kemudian sampailah Sik Tiong Giok di sebuah tebing. Di hadapan matanya kini terbentang bangunan rumah yang amat megah. Di depan pintu gerbang tergantung sebuah papan nama bertuliskan CUI WI KIONG, tiga huruf besar dengan tinta emas yang menyolok.

Mendadak terdengar si blo'on A Poo berteriak lagi.

"Hei, bocah muda cilik, cepatan sedikit kemari!" Baru saja ucapan itu terucap, Siong He Lojin telah membentak keras.

"A Poo, kau tak boleh kurang ajar! Memangnya dia tidak she Siau (kecil)? Lantas aku memanggil apa kepadanya? Kau hanya boleh memanggilnya Pangeran Kecil. Ah... tidak, lebih tepat disebut Pangeran Serigala Langit!"

"Wah, sulit amat untuk disebut, lebih baik aku menyebutnya sebagai... sebagai pangeran cilik saja." Dalam percakapan itu, Mana Sik Tiong Giok sudah melayang naik ke atas bukit dan tiba di dalam sebuah ruangan yang besar dan lebar.

Bangunan gedung itu sangat bersih dengan perabot yang indah. Suasana yang tenang namun anggun ini sekali lagi membuat Sik Tiong Giok termangu.

Si Blo'on A Poo segera maju menghampirinya sambil menarik lengannya. Ia berseru, "Saudara Pangeran Cilik, ayo berangkat! Di dalam istana Cui Wi Kiong itu masih terdapat banyak tempat yang menarik, sampai seumur hidup pun takkan habis terlihat. Nanti bila lukamu sudah sembuh, tentu akan kutemani melihat-lihat sampai puas!" Ketika diusik secara tiba-tiba oleh lelaki bodoh itu, Sik Tiong Giok terkejut sampai berseru tertahan, namun ia mengikuti juga menuju ke dalam gedung.

Beginilah, sejak hari itu Sik Tiong Giok berdiam untuk sementara waktu di dalam istana Cui Wi Kiong.

***

Pertapa nelayan bertangan baja, Siau Kun, dan Hoa Tou bertangan racun, Pui Cu Yu, yang bertugas menyusul sang pangeran, tiba-tiba kehilangan jejaknya setibanya di kota Kang Ciu. Atas peristiwa ini, dengan nada kesal Pui Cu Yu berkata, "Siau toako, coba lihat, kita benar-benar tak berguna! Masa jejak pengejaran bisa lenyap tak berbekas. Jika pangeran sampai terjadi sesuatu, bagaimanakah pertanggungjawaban kita nanti?"

"Apa boleh buat," jawab Siau Kun sambil menggaruk-garuk kepala. "Lebih baik kita mengejar terus lebih jauh."

Maka berangkatlah kedua orang itu meninggalkan Kang Ciu, menelusuri pantai Telaga Phoa, menuju arah barat daya. Menjelang magrib mereka tiba di tebing Bee-hui-nia. Dari situ mereka akan menelusuri jalan raya menuju Kui Nia Sen, yang merupakan jalan gunung curam dan berbahaya. Bagi kebanyakan orang, niscaya mereka akan beristirahat semalam sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya, sebab perjalanan itu terkenal amat berbahaya. Namun, bagi kedua jago persilatan ini, jalan gunung macam begitu tentu tidak menyulitkan. Karena itu, mereka memutuskan untuk menempuh perjalanan malam itu juga.

Ketika tiba di Bukit Bee-hui San, malam sudah menjelang. Dalam kegelapan yang mencekam seluruh jagat, terpaksa kedua orang itu harus melanjutkan perjalanan dengan mengandalkan ketajaman mata mereka. Tiba-tiba angin berhembus kencang, menyusul kemudian awan hitam menyelimuti udara. Sambil memandang cuaca yang semakin memburuk, pertapa nelayan bertangan baja Siau Kun berseru kepada Pui Cu Yu dengan cemas.

"Pui toako, bisa celaka kita jika dilihat keadaan cuacanya. Mungkin hujan segera akan turun. Mari kita mencari tempat pondok di atas bukit sana."

"Sekarang kita sudah berada di tengah gunung, ke mana harus pergi mencari tempat berteduh?" sahut Pui Cu Yu.

Sementara pembicaraan berlangsung, mendadak dari kejauhan terdengar suara bangau berpekik. "Hei, dengar, suara apakah itu?" seru Siau Kun terkejut. "Seperti pekikan bangau, mungkinkah di atas gunung yang seperti ini terdapat tempat tinggal jago persilatan?" Sambil berkata, ia mencoba mendongakkan kepala dan memperhatikan keadaan sekitar. Di antara awan hitam yang menggulung-gulung, masih terselip sedikit cahaya rembulan di balik awan.

Mendadak Siau Kun menjerit kaget. "Hei, benar-benar seekor bangau..." Buru-buru Pui Cu Yu ikut berpaling. Benar saja, di atas sebuah batu cadas berdiri seekor bangau raksasa yang berkepala merah dan berbadan putih mulus. Waktu itu sang bangau sedang membersihkan bulu-bulunya dengan cakarnya yang tajam.

"Aai, seekor bangau yang amat besar, jarang kulihat bangau sebesar ini," gumam Pui Cu Yu.

"Aaaah..." Tiba-tiba pertapa nelayan bertangan baja Siau Kun menjerit kaget lagi. Buru-buru Pui Cu Yu berpaling. Ternyata di sisi bukit muncul seekor ular hijau yang panjangnya mencapai tujuh delapan depa. Biarpun mendengar seruan manusia, bangau putih itu hanya berpaling sebentar, lalu melihat ular tadi dan segera menangkapnya. Tapi ular itu amat licik. Melihat sang bangau, cepat-cepat ular itu melarikan diri ke dalam gua dan lenyap tak berbekas.

Hebat sekali patukan burung bangau itu. Ketika mengenai batu cadas, hancurlah batu itu menjadi berkeping-keping. Bangau itu menjadi gusar rupanya karena kehilangan korban. Tiba-tiba ia mematuk berulang kali ke sana kemari. Dalam waktu singkat, batu cadas seluas enam tujuh depa sudah terpatok sampai hancur lebur.

Berhubung tempat persembunyiannya terbongkar, ular itu berusaha melarikan diri. Sayang, baru saja kepalanya menongol keluar, patukan si bangau telah tiba. Tanpa ampun, ular itu terpatuk kencang. Tapi ular itu pantang menyerah. Dengan tubuhnya sepanjang tujuh delapan depa, ia melilit sepasang kaki si bangau kencang-kencang. Bangau itu tidak menjadi gugup. Ia mematuk kepala ular itu sampai putus, lalu menggerakkan paruhnya berulang kali. Dalam waktu singkat, tubuh ular tadi sudah terpotong-potong menjadi belasan bagian dan ditelan ke dalam perut.

Akhirnya, setelah mengebaskan sayapnya dan berpekik keras, bangau itu terbang ke udara dan lenyap di balik kegelapan. Suasana pulih kembali dalam keheningan malam yang semakin gelap. Angin berhembus makin kencang, tapi kedua pertapa nelayan menjadi tegang sekali atas peristiwa yang baru saja mereka jumpai.

Entah berapa saat kemudian, Siau Kun berbisik, "Sebenarnya, bagi kita orang persilatan, beristirahat di udara terbuka adalah kejadian yang lumrah. Tapi aku selalu beranggapan bahwa bukit ini mengandung bahaya maut yang amat besar. Mari lebih baik kita berteduh untuk sementara waktu di rumah penduduk."

"Aku pun berpendapat demikian," sahut Pui Cu Yu sambil mengangguk. "Munculnya bangau sakti itu jelas bukan tanpa sebab. Siapa tahu kalau di atas bukit ini memang banyak terdapat binatang beracun."

Sementara pembicaraan berlangsung, mereka telah menempuh lagi perjalanan sejauh tiga li lebih. Tiba-tiba awan hitam membuyar. Rembulan yang bersinar terang muncul kembali dari ujung langit. Dalam remangnya suasana inilah mereka menjumpai sebuah bangunan rumah di kejauhan sana. Siau Kun berdua cepat-cepat mendekati rumah itu dan mengetuk pintu berulang kali. Setelah berteriak setengah harian lebih, dari dalam rumah itu baru terdengar ada yang menyahut.

"Siapa di situ? Ada urusan apa sih menggedor pintu keras-keras?"

"Kami kemalaman di tengah jalan dan ada maksud untuk menginap semalam di sini. Harap kau sudi memberi izin kepada kami untuk beristirahat sebentar."

Orang yang berada di dalam menghela napas panjang, katanya tiba-tiba dengan suara lemas. "Sekarang jiwaku sedang terancam mara bahaya, mau melarikan diri dari sini pun susah. Mengapa kalian malah datang menghantarkan diri? Tempat ini sangat berbahaya, ku sarankan kepada kalian, cepat-cepatlah pergi dari sini."

Mendengar perkataan itu, si pertapa nelayan bertangan baja Siau Kun mengira orang itu enggan memberi tempat kepadanya. Ia menjadi sangat mendongkol sehingga mengetuk pintu lagi berulang kali. Namun, kali ini tiada suara jawaban dari dalam.

Buru-buru Pui Cu Yu berseru, "Saudara Siau, mari kita menempuh perjalanan lagi. Kalau toh orang lain enggan menahan kita, biar pun kau gedor pintu rumah sampai jebol juga percuma."

"Hmmm, orang-orang di sini betul-betul tidak berperasaan," dengus Siau Kun mendongkol. "Masa mereka tidak berperasaan sama sekali untuk memberi kesempatan kepada orang guna beristirahat?"

Belum selesai dia berkata, tiba-tiba dari balik rumah terdengar seseorang merintih penuh penderitaan. Timbulnya suara rintihan itu dengan cepat memancing rasa ingin tahu dalam hati Siau Kun. Ia segera memberi tanda kepada Pui Cu Yu, lalu melompat masuk ke dalam halaman tersebut.

Di tengah halaman mereka menjumpai seorang kakek berusia lima puluhan tahun, yang rambutnya telah beruban semua, sedang berbaring di atas ranjang dengan telanjang dada. Wajahnya terlihat amat lemas dan kuyu. Ketika orang itu melihat kehadiran Siau Kun, cepat-cepat ia membentak keras, "Nampaknya kau sudah bosan hidup! Ayo cepat kabur dari sini! Apa gunanya kalian malah datang menghantarkan diri?"

Dengan seksama Siau Kun mengamati wajah orang itu, tiba-tiba ia menjerit kaget. "Hei, bukankah kau adalah Ki Loko? Mengapa bisa jadi begini? Bagaimana kalau ku bantu dirimu?"

"Aku adalah Ki Thian, bin siapa pula kau?"

"Saudara Ki, masa kau tidak mengenali diriku lagi? Aku adalah Siau Kun." Sambil menjawab, selangkah demi selangkah ia berjalan menghampirinya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment