Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 48

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 48

Ki Thian bin tampak sangat gelisah. Dengan suara parau, ia berseru, "Hei, cepat berhenti! Jangan dekati aku. Jika berani mendekat dalam jarak tiga depa, kau akan tertular celaka. Lebih baik cepatlah pergi!"

Siau Kun segera berhenti mendengar peringatan itu. Ia bertanya dengan heran, "Saudara Ki, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Bagaimana caranya menolongmu?"

Ki Thian bin kembali merintih kesakitan. "Aku terkena racun jahat. Siapa pun yang mendekat dalam jarak tiga depa akan tertular. Sekarang aku sedang berjuang mempertahankan hidup. Kau tidak punya cara untuk menyelamatkanku."

"Walau tak ada cara, tetap harus dicoba. Apa kau pikir aku akan berdiam diri melihatmu menderita? Di luar sedang menanti Hoa-tou Bertangan Racun, siapa tahu dia bisa memunahkan racun dalam tubuhmu?"

"Aaai, aku rasa dia pun belum tentu mampu," kata Ki Thian bin sambil menghela napas.

"Biar kuundang dia masuk ke mari," ucap Siau Kun.

Selesai berkata, ia membalikkan badan dan melangkah maju. Namun, belum jauh melangkah, dari belakang terdengar seseorang membentak, "Berhenti! Kalau sudah sampai di sini, kau kira bisa pergi dengan selamat?"

Siau Kun berhenti dan berbalik. Di bawah sebatang pohon kecil dekat pembaringan tadi, kini berdiri seorang nyonya muda tanpa busana; ia hanya dibalut selembar kain sutra tipis hingga kulit tubuhnya yang putih mulus terlihat jelas.

Siau Kun adalah seorang pendekar budiman. Ia belum pernah menyaksikan perempuan dengan dandanan semerangsang itu. Tak kuasa menahan malu, wajahnya memerah padam, ia membentak sambil menundukkan kepala, "Siapa kau?"

Perempuan cantik bertubuh bugil itu tertawa cekikikan. "Meski kau tidak mengenalku, aku tahu kau adalah penghianat dari Siu-lo-pang bernama Siau Kun, bukan?"

"Aku orang bermarga Siau, tak pernah berganti nama. Benar, aku Siau Kun. Siapa kau?"

"Pernah dengar nama Coa-ci-mo-li (Perempuan Iblis Sakti)? Nah, akulah orangnya."

Peluh dingin seketika bercucuran membasahi tubuh Siau Kun setelah mendengar nama iblis perempuan ular sakti tersebut. Dengan mata terbelalak, ia mengawasi perempuan itu lekat-lekat. Benar saja, di atas pohon tadi tampak dua ekor ular raksasa berwarna merah melingkar dengan keadaan yang mengerikan.

Perlu diketahui, Perempuan Iblis Ular Sakti adalah gembong iblis yang angkat nama bersama Siau-lo-ya-hud puluhan tahun silam. Jika dihitung, usianya sudah delapan puluh tahun, namun ia tampak seperti wanita berusia dua puluh tahunan.

Siau Kun, si Pertapa Nelayan Bertangan Baja, terkejut dan terkesiap. Ia berdiri tertegun dengan wajah termangu. Perempuan Iblis Ular Sakti meliriknya sekilas, lalu tersenyum. Tangannya meraba kepala secara tiba-tiba, dan betapa terkejutnya Siau Kun saat melihat rambut di kepala wanita itu terdiri dari ratusan ekor ular kecil berwarna hitam.

Wanita itu menangkap seekor ular hitam kecil dan hendak melemparkannya ke arah Siau Kun.

Mendadak Ki Thian bin membentak keras, "Kau sudah cukup mencelakaiku, sekarang mengapa kau hendak mencelakai jiwanya pula? Ayo, cepat lepaskan dia!"

"Huh, enak sekali bicaramu. Siapa suruh dia masuk kemari? Apalagi dia penghianat dari Siu-lo-pang, mana mungkin aku mengampuninya?"

"Kau bukan berasal dari Siu-lo-pang, apa urusannya denganmu? Biarkan saja dia pergi."

Perempuan Iblis Ular Sakti mendengus dingin. "Tidak bisa! Setiap orang yang melihat tubuhku harus mati. Jika ingin hidup, dia harus menyanggupi syaratku."

"Kau maksudkan seperti aku, tunduk di bawah gaunmu dan menderita akibat racun ular yang menyerang hati?" dengus Ki Thian bin.

Perempuan Iblis Ular Sakti tertawa. "Apa artinya penderitaan selama beberapa hari? Toh, dalam beberapa hari lagi kau tetap akan menjadi lelaki yang gagah."

"Lelaki gagah apa?" seru Ki Thian bin sambil tertawa getir. "Paling banter menjadi tengkorak yang seluruh badannya penuh racun ular."

Perempuan itu kembali mendengus. "Aku tak peduli apa katamu, pokoknya aku tak bisa melepasnya."

Sembari berbicara, ia mengibaskan tangan. Seekor ular kecil meluncur ke arah Siau Kun dengan kecepatan luar biasa. Siau Kun merasa terkejut, namun ia tak gentar. Diam-diam ia menghimpun hawa murni untuk bersiap menghadapi serangan. Begitu musuh menyerang, ia melompat ke samping dan melayangkan pukulan kuat.

"Plak!"

Ular kecil itu jatuh ke tanah dan tidak berkutik lagi.

"Wouw, kau pantas disebut Tangan Baja," seru Perempuan Iblis Ular Sakti. "Nampaknya kemampuanmu hebat juga. Bagus, sekarang rasakan barisan selaksa ularku ini!"

Ia menggelengkan kepala. Bau amis seketika menusuk hidung, diikuti munculnya awan hitam yang menggulung tubuhnya. Siau Kun segera mengayunkan tangannya berulang kali. Deruan angin pukulan memekikkan telinga, menahan serangan kelompok ular tersebut untuk sementara. Namun, tekanan semakin berat dan Siau Kun mulai kewalahan.

Pada saat kritis, sesosok bayangan manusia melompat masuk dari pintu depan. Begitu tiba di halaman tengah, orang itu menggetarkan tangan dan melontarkan segenggam pasir lembut. Anehnya, meski dilempar tanpa tenaga, pasir itu mampu mengendalikan kawanan ular kecil. Ular-ular itu melingkar di atas tanah dan diam tak berkutik.

Perempuan Iblis Ular Sakti terkejut. Setelah melihat siapa yang datang, ia membentak, "Pui Cu-yu, lagi-lagi kau merusak permainanku! Hutang piutang tiga puluh tahun silam harus diperhitungkan hari ini!"

Orang yang datang tak lain adalah Hoa-tou Bertangan Racun, Pui Cu-yu. Ia tidak sabar menunggu di depan pintu dan menyusul masuk saat mendengar keributan. Ia menggunakan bubuk belerang untuk mengusir ular-ular tersebut.

Pui Cu-yu terperanjat melihat lawannya. "Celaka, kenapa aku harus bertemu musuh bebuyutanku dalam keadaan seperti ini?" Namun, ia tertawa paksa, "Soh-kim, tak kusangka kau muncul kembali di daratan Tionggoan."

Perempuan Iblis Ular Sakti mendengus, "Kau menganggap aku sudah mampus? Kalau begitu, aku kecewa melihat harapanmu itu."

"Aku hanya berharap kau bisa bertobat," ujar Pui Cu-yu.

"Tiga puluh tahun lalu kau menghancurkan ribuan ekor ular dan binatang beracunku. Hari ini kau menghancurkan ular hijauku lagi. Hutangmu sudah bertumpuk, hari ini harus kau lunasi!"

"Soh-kim," Pui Cu-yu tertawa paksa. "Siapa pun yang berbuat kejahatan pasti menerima ganjaran."

"Aku tidak percaya hukum karma. Jika ada, hukum itu hanya berlaku untukmu!"

Perempuan itu bersiul keras dan mengibaskan tangan. Bau amis menyelimuti arena. Ki Thian bin membentak keras, sementara Pui Cu-yu mendengus tertahan. Siau Kun menoleh dan terpaku melihat dua ekor ular raksasa berwarna merah menerjang. Seekor melingkar di bawah pembaringan Ki Thian bin, sedangkan yang lain melilit tubuh Pui Cu-yu dengan lidah merah yang menempel di tengkuknya, menciptakan pemandangan yang sangat mengerikan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment