Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 49

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 49

Mendadak Ki Thian Bin bangkit berdiri, kemudian berseru dengan penuh amarah, "Pek Soh Kim, aku benar-benar tidak menyangka kalau hatimu begini keji!"

Perempuan iblis ular sakti itu tersenyum sambil membelai seekor ular hijau kecil. Katanya, "Sekarang, kau sudah tak dapat hidup lebih lama lagi. Setiap saat kau bisa mampus, buat apa sih kau masih saja mencampuri urusan orang lain? Betul-betul suatu perbuatan yang bodoh!"

Ki Thian Bin mendengus, "Hmm, aku tahu bahwa aku pasti mampus, tapi aku tak sudi menyaksikan kau berulah terus melakukan kebrutalan demi kebrutalan."

Pui Cu Yu yang sedang dililit ular sebetulnya sedang mengerahkan tenaganya untuk melawan. Tiba-tiba ia membuka matanya lebar-lebar, kemudian ujarnya dingin, "Saudara Ki, tidak seharusnya mencampuri urusan seperti ini. Menghadapi manusia yang tidak tahu perasaan macam dia, mana mungkin kita bisa membikin terang duduknya persoalan? Kuanjurkan kepadamu, lebih baik lanjutkan saja pengerahan tenaga dalammu untuk melawan racun. Asalkan kita bisa bertahan selama beberapa jam, asal aku, Pui Cu Yu, tak sampai mampus, pasti akan kuobati sampai sembuh betul."

Mendengar perkataan ini, Ki Thian Bin segera terbungkam seribu bahasa. Sebaliknya, pertapa nelayan bertangan besi, Siau Kun, yang ada di sampingnya jadi naik pitam. Mendadak ia maju ke depan, kemudian melepaskan sebuah bacokan ke muka.

Dengan cekatan, perempuan iblis ular sakti berkelit ke samping lalu melemparkan ular kecil itu ke depan. Bersamaan waktunya, ular raksasa berwarna merah yang semula melingkar di sisi badan Ki Thian Bin ikut menyerang pula ke depan.

Pui Cu Yu menjadi sangat terperanjat, serunya tertahan, "Saudara Siau, cepat pergi! Hati-hati dengan ular beracun itu!"

Berada dalam keadaan demikian, sekalipun Siau Kun ingin pergi pun tak mungkin akan berhasil. Apalagi setelah dikepung oleh dua ekor ular yang luar biasa, terpaksa dia mesti mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk memutar sepasang tangan besinya dan bertarung mati-matian melawan kedua ekor ular tersebut.

Permainan ilmu pukulannya memang cukup tangguh, angin serangan segera menderu-deru menyelimuti angkasa. Mendadak....

Plaaaaak!

Ular hijau kecil itu kena terhajar telak sehingga roboh ke atas tanah. Sesudah berkejetan beberapa kali, akhirnya tak berkutik lagi untuk selamanya.

Baru saja Siau Kun bisa mengembuskan napas lega sesudah berhasil membunuh seekor ular, tiba-tiba ia merasakan sepasang kakinya menjadi kencang, kemudian tubuhnya roboh terjungkal ke atas tanah. Ternyata ia sudah dililit oleh ular raksasa merah itu, bahkan sepasang lengannya turut dibelenggu pula erat-erat. Dalam posisi demikian, Siau Kun benar-benar mati kutu. Terpaksa dia mengembuskan napas panjang sambil memejamkan matanya rapat-rapat.

Menyaksikan ketiga orang tawanannya, perempuan iblis ular sakti segera tertawa terbahak-bahak. Serunya, "Sekarang, kalian tak usah menyalahkan diriku lagi. Siapa suruh kalian datang sendiri mencari penyakit? Sekarang kamu berdua akan kusekap dulu selama tiga hari, kemudian baru akan kuhisap darah murni kalian untuk menciptakan obat kuat bagiku. Cuma, kalian tak usah khawatir, aku tak bakal merenggut jiwa kalian semua."

"Lebih baik kau bunuh kami semua!" teriak Ki Thian Bin keras-keras.

"Wah, itu namanya terlalu keenakan bagi kalian semua.." Seusai berkata, dia lantas membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam rumah.

Ketiga orang yang terbelenggu di tengah halaman cuma bisa saling berpandangan dan tertawa getir. Sesudah menghela napas panjang, akhirnya semua orang membungkam seribu bahasa.

Waktu itu, Ngo Oh Pangcu Ban Su Ki merasa amat tidak lega ketika melihat pangeran ciliknya pergi seorang diri, maka ia pun mengutus Ki Beng serta kelima orang muridnya untuk berangkat meninggalkan bukit. Biarpun Ki Beng adalah keturunan dari keluarga persilatan, namun setelah untuk pertama kali menerima tugas berat, ia merasakan beban yang dilimpahkan ke atas pundaknya begitu berat.

Selesai berunding dengan kelima orang muridnya, mereka memutuskan perjalanan dengan jalan menyaru. Dengan demikian, jejak mereka tak sampai menarik perhatian orang banyak. Beberapa hari kemudian, di tepi pelabuhan Bok Sik Kang di kota Heng Ciu, berlabuhlah sebuah kapal kecil. Dari dalam perahu itu muncul enam orang sastrawan yang katanya hendak pergi ke tenaga Keng Gwan Oh, cuma mereka menanyakan kepada orang justru jalan menuju ke kota Sam Tok.

Kedua tempat ini terletak satu di timur dan yang lain di barat, sebetulnya tak masuk akal untuk ditanyakan bersama. Meski ada beberapa orang yang segera menganggap mereka sinting, untung juga masih ada beberapa orang yang berbaik hati untuk menerangkan kepada mereka. Sesudah memperoleh keterangan, mereka berenam baru tahu kalau obrolan mereka sudah tidak benar, tak heran jika sampai ditertawakan orang banyak.

Setelah menempuh perjalanan beberapa hari, tibalah mereka di tengah tanah perkumpulan Kiu Nia San. Bukan saja jalanan makin sukar, bahkan penuh dengan jalan cabang. Lama-kelamaan Ki Beng jadi tertegun sendiri. Setelah menempuh perjalanan sekian lama, gumamnya tiba-tiba, "Sekarang kita harus pergi ke mana?"

"Bukankah Saudara Ki bilang akan pergi ke Sam Tok?" sela Song Cing, seorang anggota perkumpulan.

"Tapi di sini penuh dengan persimpangan jalan, jalan yang manakah akan tiba di Sam Tok?"

"Lebih baik kita tanyakan kepada orang saja, bukankah segera akan kita ketahui?" Go Heng, anggota yang lain, menimpali.

Ki Beng menghela napas panjang, "Ai, di tempat ini begini sepi dan terpencil, kita mesti bertanya kepada siapa?"

Si tikus air Cuan Siu tiba-tiba menuding ke muka sambil berseru keras-keras, "Coba lihat, bukankah di muka sana ada sebuah kuil? Lebih baik malam ini kita menginap di situ, besok pagi baru mencari jalan sambil meneruskan perjalanan, bukankah ini lebih baik?"

Mendengar ucapan itu, Ki Beng segera memandang ke depan arah yang ditunjuk. Kurang lebih setengah li di depan mereka terbentang sebuah hutan yang lebat. Di ujung hutan muncul sebuah bangunan rumah. Ketika segulung angin berhembus lewat, terbawa suara pembaca doa yang lirih. Ternyata tempat itu benar-benar sebuah tempat beribadah.

Ki Beng menjadi sangat gembira. Tak sempat menyapa rekan-rekannya lagi, ia segera berlarian lebih dulu ke depan. Kelima orang rekannya tak berani berayal, serentak mereka mengikuti di belakangnya. Tak selang beberapa saat kemudian, sampailah keenam orang itu di depan pintu kuil. Ketika mendongakkan kepalanya, terbaca lima huruf besar tertera di atas pintu. Tulisan itu berbunyi: Lay Kian Cing Keng Si.

Keenam orang itu saling berpandangan sekejap, kemudian melangkah masuk ke dalam ruang kuil. Seorang padri penerima tamu menyambut kedatangan mereka di luar kuil sambil menyapa, "Apakah Sicu sekalian hendak datang memasang hio? Sayang sekali waktu sudah malam."

"Oh maaf," buru-buru Ki Beng berkata, "kami enam bersaudara tersesat di jalan, karena itu kami punya rencana untuk menginap semalam saja di sini. Apakah diperbolehkan?"

"Kuil kami menerima derma dari segala penjuru orang, tentu saja akan menerima segala penjuru orang. Silakan Sicu sekalian masuk ke dalam."

Mereka berenam dipersilakan masuk ke dalam ruang tamu, di mana seorang pendeta cilik datang menghidangkan air teh. Ketika mereka selesai membersihkan badan, hidangan pun segera dipersiapkan. Padri penerima tamu ini bernama Kak It. Bukan cuma sopan santun, pelayanannya pun amat menarik hati. Ini membuat Ki Beng sekalian merasa amat gembira.

Ketika mereka sudah selesai bersantap, Kak It menghantar mereka menuju ke kamar untuk beristirahat, barulah saat itu dia minta diri kepada semua orang. Kamar tersebut diatur sangat rapi dengan dinding penuh oleh lukisan orang kenamaan, baik perabot maupun peralatan semuanya mewah dan rapi.

Song Kim, meski cuma seorang anggota perkumpulan biasa, namun ia pernah bersekolah dulu. Memandang semua benda yang ada di dalam ruangan tersebut, tiba-tiba katanya, "Saudara Ki, coba kau lihat keadaan dalam kuil ini, terutama sikap serta cara berbicara padri si penerima tamu tadi, jelas dia adalah seorang terpelajar. Cuma anehnya, mengapa tergantung lukisan macam begini di sini? Bukankah kehadiran lukisan-lukisan tersebut sama artinya dengan mencorengkan muka sang Buddha?"

Mendengar ucapan itu, Ki Beng segera mengamati seluruh ruang kuil itu dengan seksama. Benar juga, di timur terdapat jendela pintu di sebelah selatan, pada dinding selatan tergantung lukisan hujan gerimis di kota Siang Yang, di dinding utara tergantung lukisan Ong Gi menikmati salju, sedangkan di bagian tengah justru tergantung lukisan delapan dewa menyerang samudra.

Memandang kesemuanya itu, dia pun manggut-manggut sambil menyahut, "Yaa, memang kurang cocok dengan kehadiran lukisan-lukisan itu, mungkin saja orang lain mempunyai suatu maksud tertentu."

"Traaang!"

Belum habis dia berkata, si tikus air Cuan Siu telah mengambil sebuah lonceng kecil dan memukulnya pelan. Belum lagi suara itu lenyap, mendadak lukisan delapan dewa menyeberang samudra itu telah melesak masuk beberapa depa dari posisi semula.

Kejadian tersebut tentu saja sangat mengherankan semua orang, hingga untuk sesaat semua orang berdiri tertegun.

"Tak heran kalau mereka menggantungkan lukisan tersebut di sini," kata si tikus air Cuan Siu kemudian sambil tertawa, "nampaknya lukisan delapan dewa menyeberangi samudra memang sebuah benda mestika. Nyatanya begitu genta dibunyikan, lukisan itu menjadi hidup dengan sendirinya."

"Sam Suheng," seru Wan Kui sambil tertawa, "coba kau pukul beberapa kali lagi, mari kita lihat apakah delapan dewa benar-benar dapat memperlihatkan kehebatan."

Sebenarnya Ki Beng hendak menghalangi perbuatan rekan-rekannya itu, sayang terlambat. Tahu-tahu si tikus air Cuan Siu telah memukul genta itu sekali lagi.

"Traang!"

Kali ini suara genta tersebut kedengaran jauh lebih keras dan nyaring. Belum reda suara genta itu, Ki Beng melihat seorang hwesio cilik sedang melongok ke dalam kamar mereka, karenanya cepat-cepat dia berseru, "Saudara Cuan!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment