Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 50

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 50

"Jangan nakal. Kalau sampai mengagetkan semua padri, kita kan rikuh..." Belum habis ia berkata, mendadak genta itu sudah berbunyi tiada henti.

Traang... traang... traang...

Menyusul tiga kali suara genta bergema, terdengar suara gemerincing nyaring berkumandang memenuhi ruangan. Bersamaan dengan itu, lukisan Delapan Dewa Menyeberang Samudra menggulung sendiri secara otomatis. Kemudian, muncul sebuah pintu kecil di atas dinding. Di depan pintu berdiri pula seorang gadis yang cantik jelita.

Ketika perempuan itu melihat kehadiran orang-orang tersebut, ia menjerit keras dengan perasaan kaget bercampur tercengang. Ia buru-buru mengundurkan diri masuk kembali ke dalam pintu dan berteriak, "Waduh celaka, kenapa dalam kuil bisa muncul perempuan? Kalau begitu, hwesio-hwesio yang berada di sini bukan orang baik-baik."

"Betul," teriak Ki Beng pula. "Saudara sekalian, persiapkan senjata! Ayo kita terjang keluar!"

Tapi, Wan Kui telah menjerit kaget, "Aduh celaka, pintunya lenyap secara mendadak! Kita harus menerjang ke mana?"

Mendengar seruan itu, Ki Beng segera berpaling. Benar juga, pintu tempat mereka masuk ke dalam ruangan tadi kini sudah lenyap tak berbekas. Sebagai gantinya, di situ hanya muncul lapisan dinding berwarna hitam. Bahkan, semua lukisan yang semula tergantung di atas dinding kini sudah tak tampak lagi bayangannya.

Tak terlukiskan rasa terkejut semua orang setelah menghadapi keadaan seperti ini. Buru-buru mereka mendekati dinding tersebut dan mencoba mendorongnya. Namun, usaha tersebut sia-sia belaka sebab lapisan dinding sama sekali tak bergerak. Dengan demikian, kecuali pintu kecil menuju ke ruang rahasia, pada hakikatnya di dalam ruangan tersebut sudah tidak tersedia pintu lain.

Mendadak Ki Beng berseru, "Kita semua benar-benar tolol! Bukankah di depan mata terdapat jendela? Mengapa kita tidak keluar dengan menerobos jendela?"

Mendengar perkataan itu, semua orang serentak lari menuju ke jendela dan mendorongnya sekuat tenaga. Namun sekali lagi, mereka dibuat kecewa. Ternyata, meski jendela terdapat di empat penjuru, semuanya sudah terkunci dari luar. Mendingan kalau terbuat dari kayu, nyatanya semua kerangka daun jendela terbuat dari besi baja dengan terali yang rapat sekali. Beberapa orang di antara mereka mencoba merenggangkan terali besi itu, namun jangan lagi untuk mematahkannya, bergerak pun tidak.

Dalam keadaan seperti ini, semua orang hanya dapat saling berpandangan. Tak seorang pun di antara mereka yang bisa menemukan cara terbaik untuk meloloskan diri.

Tiba-tiba, si tikus air Cuan Siu mengawasi pintu rahasia di atas dinding itu dengan termangu, kemudian berseru, "Saudara sekalian, aku pikir bila rezeki pasti bukan bencana, kalau bencana kita tak akan dapat menghindarinya. Kini semua jalan sudah buntu, tiada orang yang memedulikan kita pula. Menurut pendapatku, lebih baik kita menerobos masuk ke dalam pintu rahasia itu saja. Coba kita lihat apa gerangan yang terdapat di dalamnya."

Semua orang segera termenung sambil memikirkan ucapan itu. Akhirnya, setiap orang berpendapat bahwa kecuali cara tersebut, rasanya memang tiada cara lain yang terbaik lagi.

Maka Ki Beng pun berkata, "Ya, terpaksa kita memang harus berbuat demikian. Aku rasa dengan kemampuan kita berenam masih cukup tangguh untuk menerobos keluar dari sini."

Berhubung tiada pendapat lain yang lebih baik, maka dipimpin oleh si tikus air Cuan Siu, berangkatlah mereka menerobos masuk ke dalam pintu kecil tersebut. Di balik pintu merupakan undak-undakan batu sebanyak puluhan buah, kemudian terbentang sebuah lorong yang sangat panjang dan gelap gulita sehingga tak tampak kelima jari tangan sendiri, seakan-akan mereka sedang berjalan di antara himpitan dua belah dinding saja. Untung saja setelah menempuh perjalanan sejauh lima puluh langkah, di atas dinding tergantung sebuah lentera yang lamat-lamat menerangi keadaan di sekeliling tempat itu.

Kemudian setelah menempuh perjalanan sejauh ratusan langkah lagi, di depan sana muncul pula undak-undakan menuju ke atas. Dari bagian atas itulah sinar terang menyorot masuk. Semua orang bersama-sama muncul dari atas lubang itu. Ternyata jalan keluar berada di belakang sebuah gunung-gunungan.

Waktu itu rembulan sedang bersinar terang di angkasa, pemandangan di sekeliling situ kelihatan amat jelas. Di situ terdapat sebuah kebun bunga yang indah dengan sebuah jalan beralas batu membentang ke muka. Di kedua belah sisinya ditanami aneka macam bunga.

Pada saat mereka sedang berjalan sejauh empat-lima langkah dari gunung-gunungan itulah, mendadak terdengar seseorang tertawa seram, "Heeehh... heehh... aku lihat sicu sekalian benar-benar amat santai..."

Munculnya suara tertawa seram ini amat mengejutkan semua orang sehingga mereka bersama-sama berpaling ke arah asal suara tersebut. Ternyata, di hadapan mereka lebih kurang sejauh beberapa kaki berdiri sebuah gedung yang megah. Pada undak-undakan gedung itulah duduk bersila seorang hwesio gemuk yang berwajah bengis dan bertubuh kekar. Dia bertelanjang dada dan berkaki telanjang, sedangkan di sisinya terletak sebuah sekop.

Di sisi hwesio tersebut berdiri dua orang perempuan muda berwajah cantik yang masing-masing mengenakan mantel merah. Kedua orang perempuan itu baru berusia dua puluh tahunan; wajah maupun gerak-geriknya amat genit dan jalang.

Song Kim yang melihat kejadian ini segera membentak keras, "Hwesio yang tak tahu diri! Perbuatanmu benar-benar tidak senonoh. Bukannya bersembahyang dalam ruang kuil, kau justru menyembunyikan perempuan muda di dalam kuil. Tahukah kau akan hukum kerajaan?"

Hwesio itu tertawa tergelak. "Haaahh... haaahh! Inilah yang dinamakan jalan ke surga tersedia kalian enggan melewatinya, jalan ke neraka tertutup kalian justru mencarinya. Kau kira hukum kerajaan bisa berbuat apa terhadap hud-yamu? Huuuh, lebih baik tak usah menyinggung soal semacam itu."

Ketika mendengar seruan tersebut, semua orang menyadari keadaan yang tidak menguntungkan. Tergopoh-gopoh mereka meloloskan senjata masing-masing dan berusaha menyerobot keluar dari pintu.

"Teeeng..."

Bersamaan dengan bergemanya suara kencreng, tiba-tiba saja semua orang merasakan kakinya menjadi mengencang, lalu roboh bergelimpangan di atas tanah. Makin keras mereka meronta, makin kencang tubuh mereka terbelenggu. Rupanya di atas permukaan tanah telah dipersiapkan sebuah jaring yang amat kuat. Biarpun Ki Beng sekalian memiliki kepandaian silat yang ampuh, semua kemampuan tersebut tak ada gunanya.

"Teeeng..."

Kembali terdengar kencrengan yang berbunyi nyaring. Tiba-tiba muncul enam hwesio dari semak belukar. Serentak mereka menerkam ke arah Ki Beng sekalian, lalu membelenggu mereka semua di dekat pepohonan. Padri bengis itu kembali tertawa terbahak-bahak sambil bangkit berdiri. Dia memutar senjatanya, bersiap-siap mencabut nyawa keenam orang itu.

Dalam keadaan yang amat kritis, tiba-tiba dari kejauhan sana terdengar bunyi bangau yang memekik nyaring. Ki Beng sekalian yang terbelenggu dalam keadaan demikian hanya bisa saling berpandangan saja, kemudian baru mencaci kalang kabut.

Biarpun diumpat habis-habisan, padri bengis itu sama sekali tidak menjadi gusar. Malah sebaliknya, ia tertawa terbahak-bahak lalu katanya, "Kalau kulihat tampang-tampang kalian agaknya sih mirip anggota persilatan, tapi cara kalian kok macam pelajar rudin saja; mampunya cuma mengumpat orang saja..."

"Keledai gundul yang tak tahu malu!" bentak ikan hiu Song Cing dengan gusar. "Kau telah menawan kami dengan akal busuk. Perbuatan semacam ini bukan perbuatan seorang enghiong hohan, biar mati pun toaya sekalian tak akan takut!"

Kembali padri bengis itu tertawa terbahak-bahak. "Sebentar lagi kalian akan menjadi tamu agung di akhirat, mau takluk atau tidak, tidak peduli amat dengan diriku."

"Biar toaya sekalian mampus, kami jadi setan pun tetap akan mengejar sukmamu!" teriak si ikan elang Go Heng.

"Bagus, bagus sekali!" kata padri bengis itu sambil tertawa. "Selama hidupku sudah banyak pertarungan yang kualami, tapi belum sekalipun bertarung dengan setan. Kalau memang begitu, silakan kau berangkat duluan. Cepat-cepatlah jadi setan dan nanti kita bertarung sampai puas."

Seusai berkata, dia mengambil setumpuk kencrengan dari sisi tubuhnya lalu diayunkan ke muka. Segulung cahaya kuning langsung menyambar tubuh Go Heng. Ketika melihat datangnya sambaran benda kuning itu, sebetulnya Go Heng berniat menghindarkan diri. Apa mau dikata, tubuhnya terikat kencang di atas pohon. Jangankan berkelit, untuk meronta pun tak mampu.

Belum lagi ia menjerit, cahaya kuning itu sudah menyambar tiba. Batok kepalanya berikut batang pohon terpapas putung dan rontok ke atas tanah. Percikan darah segar memancar sampai ketinggian dua sampai tiga depa.

Kembali terdengar suara gemerincing yang amat nyaring. Cahaya kuning itu menumbuk ke atas gunung-gunungan lalu rontok ke atas tanah. Ternyata, benda itu hanya merupakan kencrengan belaka. Ilmu kencrengan yang demikian dahsyatnya itu seketika membuat Ki Beng sekalian tertegun saking kagetnya. Mereka lupa berteriak ataupun mengumpat, yang bisa dilakukan hanya memandang lawan dengan mata terbelalak dan mulut melongo.

Sekali lagi padri bengis itu tertawa terbahak-bahak, agaknya dia menganggap Ki Beng sekalian sebagai sasaran untuk latihan senjatanya. Dengan suatu gerakan yang sangat enteng bagaikan seekor burung walet yang terbang di angkasa, dia melejit ke udara sambil meloloskan senjata kencrengnya. Lalu, dengan gerakan menyambar bintang mengejar rembulan secara beruntun, ia melepaskan kencreng demi kencrengan secara gencar.

Dalam waktu singkat, lima anggota perkumpulan Juan Peng itu tewas di ujung senjata lawan dan kini tinggal Ki Beng seorang yang masih hidup. Kembali padri bengis itu tertawa seram kala tubuhnya melompat ke udara dan siap melepaskan senjatanya yang terakhir. Dalam keadaan yang kritis itu, suara pekikan bangau kembali berkumandang. Dengan perasaan terperanjat, terburu-buru hwesio itu menarik serangannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment