Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 52

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 52

Tampak si bocah memandang lelaki itu sambil tertawa cekikikan, "Hei lelaki besar, bukan saja kau sudah menarik orang secara paksa, sekarang berani pula menginjak kakiku sehingga aku terbangun dari tidurku yang nyenyak. Kau harus membayar ganti kerugian padaku!" Lelaki itu hanya berdiri terbelalak tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Peluh sebesar kacang kedelai bercucuran tiada hentinya. Ketika mendengar ucapan tersebut, ia berpaling ke arah Ki Beng dan memandangnya dengan pandangan minta tolong.

Dari keadaan lelaki itu, Ki Beng segera tahu bahwa lelaki itu sudah ditotok jalan darahnya oleh si bocah. Apalagi lelaki itu berwajah lugu dan telah menyelamatkan nyawanya.

Maka kepada si bocah cilik itu, katanya.

"Saudara cilik, orang ini adalah tuan penolongku. Dia bukan orang jahat. Pandanglah mukaku dan lepaskan dia!" Namun, si bocah cilik itu tetap berdiri tanpa berkata-kata. Terhadap ucapan Ki Beng, ia bersikap acuh tak acuh.

Ki Beng menjadi tidak senang hati karena ucapannya tidak ditanggapi sebagaimana mestinya.

Diam-diam, pikirnya.

"Bocah ini benar-benar jual lagak." Sambil berpikir demikian, ia maju beberapa langkah ke depan bermaksud mengulangi permintaannya.

Siapa sangka, setelah dipandang lebih teliti, ia kaget dan berdiri tertegun.

Ternyata, bocah cilik itu telah ditotok pula jalan darahnya oleh seseorang.

Ia berdiri di situ dengan mata terbelalak dan mulai melongo.

Tak terlukiskan rasa terperanjat Ki Beng setelah menyaksikan kesemuanya ini. Padahal, sewaktu lelaki itu ditotok jalan darahnya oleh si bocah, ia sudah memperhatikan sekeliling dengan saksama. Namun, kenyataannya ia sama sekali tidak menyaksikan sesosok bayangan manusia pun ketika bocah cilik itu ditotok jalan darahnya.

Dengan mata terbelalak, ia celingukan dan memperhatikan sekeliling itu. Namun, belum juga ditemukan sesosok bayangan manusia pun.

Mendadak, sebuah ingatan melintas dalam benaknya. Dengan cepat, dihampirinya lelaki itu dan ditekuk ketiaknya keras-keras.

Lelaki kekar itu mengembuskan napas panjang dan sadar kembali. Ia segera memberi hormat pada Ki Beng. Namun, sebelum mengucapkan sesuatu, tiba-tiba sorot matanya tertumbuk pada bocah yang masih berdiri di sisinya. Amarahnya segera meledak. Dengan cepat, ia melompat ke depan dan melepaskan sebuah tendangan yang sangat keras.

Ki Beng bermaksud hendak menghalangi perbuatannya itu, sayang, keadaan sudah terlambat. Tampaknya, jika tendangan lelaki itu bersarang tepat, niscaya si bocah akan patah tulang.

Padahal, saat itu jalan darah si bocah sudah tertotok hingga badannya sama sekali tidak mampu berkutik. Tentu saja, mustahil baginya untuk menghindarkan diri.

Di saat yang sangat kritis inilah, sesosok bayangan manusia muncul secara tiba-tiba di sisi badan bocah itu. Seorang kakek kurus telah mengayunkan tangannya dan menyambut tendangan lelaki kekar itu.

Begitu berjumpa dengan si kakek, lelaki kekar itu segera berteriak keras.

"Kau suruh aku menolong orang marga Ki itu dan dibawa kemari, tapi kau sendiri sudah bersembunyi ke mana? Hampir saja aku dihabisi si bocah kunyuk ini! Ayo cepat minggir, biar kuhajar dia sampai remuk badannya!"

"Goblok kau, benar-benar tidak tahu malu!" ucap si kakek sambil tertawa, "Kau anggap orang itu mudah dihadapi? Coba kalau aku tidak segera menotok jalan darahnya, sejak tadi kau sudah dipecundangi olehnya. Mengerti?"

"Aku tidak percaya! Cepat lepaskan aku, biar kucoba menghajarnya! Aku pasti dapat menghajar bocah kunyuk itu!" teriak sang lelaki kekar itu keras-keras.

"Baiklah," si kakek segera tertawa. "Kalau sudah menderita kerugian nanti, jangan salahkan aku, lho." Sambil berkata, ia lantas menepuk bahu si bocah cilik itu. Sang bocah segera sadar kembali.

Dia membelalakkan matanya lebar-lebar sambil termenung beberapa saat. Kemudian, sambil menjejakkan kakinya ke atas tanah, ia langsung menerjang ke arah kakek itu.

Dengan cekatan, si kakek berkelit di samping. Kemudian, sambil tertawa cekikikan.

"Hei bocah cilik, kalau ingin berkelahi, tuh! Ada orang sudah siap melayanimu. Percuma kau mencari aku si orang tua sebagai sasaran."

Sementara itu, si lelaki kekar tadi sudah membentak keras, "Telur busuk kecil, kalau ingin berkelahi, silakan mencari toyamu..."

"Huuuh, kau ini manusia macam apa? Siapa namamu? Sebutkan cepat agar aku bisa memberi pelajaran yang setimpal nanti!" kata si bocah dengan suara dingin.

Lelaki kekar itu tertawa terbahak.

"Hahaha... Telur busuk kecil, sebelum mengetahui namaku, perkuat dulu kuda-kudamu agar jangan sampai terjerembap bila sudah mendengar namaku nanti..."

Bocah itu segera mengayunkan tangannya sambil memperlihatkan kedua jari tangannya, lalu berkata, "Sudah dua kali kau memakiku. Ingat baik-baik nanti, sebentar aku akan membuat perhitungan kepadamu. Ayo sebutkan dulu siapa namamu?"

"Aku adalah Kepala Tembaga Lengan Baja Ciu Siang yang sudah termasyhur namanya dalam dunia persilatan. Sudah pernah mendengar namaku? Takut tidak?"

Bocah cilik itu segera tertawa cekikikan.

"Jago Iihay di dalam dunia persilatan banyak sekali jumlahnya. Siapa sih yang pernah mendengar seorang prajurit tanpa nama macam dirimu itu?"

"Bocah keparat, kau berani menghinaku?" bentak Ciu Siang penuh amarah.

"Huuuh, kalau seekor kerbau dungu pun harus kuhormati, buat apa aku mesti berkelana di dalam dunia persilatan?" Bocah itu tertawa.

Sekali lagi, Ciu Siang mendengus keras-keras. "Bocah keparat!" makinya. "Rasanya kau belum akan puas sebelum merasakan penderitaan di tanganku. Ayo kemarilah! Mari kita bertarung! Coba lihat siapa yang lebih unggul di antara kita berdua!" Begitu selesai berkata, ia lantas membuat ancang-ancang dengan kepalan di tangan kiri dan telapak tangan di tangan kanan.

Ki Beng mengenali gerakan tersebut, yang disebut Han Ki Poh atau Langkah Ayam Sakti. Kuda-kudanya kuat dan tangguh. Sikap pukulannya mantap.

Kalau tidak memiliki kepandaian yang tangguh, tidak mungkin ia akan memperlihatkan posisi semantap ini.

Tanpa terasa, dia mulai mengkhawatirkan keselamatan bocah cilik itu.

Berpikir demikian, dia pun segera berkata kepada Ciu Siang.

"Saudara Ciu, aku rasa pertarungan tidak perlu dilanjutkan lagi. Sebab, bila pertarungan sampai berkobar, niscaya ada korban yang berjatuhan. Hal ini kurang baik rasanya."

"Oh, tidak apa-apa," Ciu Siang tertawa. "Kita 'kan cuma saling menutul saja. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak bakal melukai bocah keparat itu..."

Belum habis ia berkata, entah bagaimana si bocah turun tangan. Tahu-tahu saja, Ciu Siang sudah roboh terjerembap di atas tanah.

Tindakan semacam ini boleh dibilang tidak terlihat oleh Ki Beng secara jelas. Ia hanya melihat bocah itu sedikit menggerakkan badannya, dan tahu-tahu Ciu Siang sudah roboh terjengkang.

Terdengar bocah cilik itu mengejek sambil tertawa.

"Tadi kau sudah memakiku sebagai si telur busuk kecil sebanyak dua kali. Sekarang kubayar dengan sebuah tendangan pantat. Nah, takluk tidak?"

"Tidak bisa dihitung, tidak bisa dihitung!" teriak Ciu Siang keras-keras. "Aku 'kan tidak bersiap sedia tadi. Ayo kita ulangi lagi! Bila kau mampu merobohkan aku lagi, nah, itu baru termasuk hitungan."

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tubuhnya sudah melompat ke hadapan bocah cilik itu dengan kecepatan tinggi. Kemudian, "Wess!" ia sudah melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Jangan dilihat Ciu Siang memiliki perawakan tubuh yang kekar. Ternyata, orangnya licik dalam melancarkan serangannya. Ia menggunakan sebuah jurus tipuan. Baru sampai di tengah jalan, tiba-tiba saja serangannya ditarik kembali. Kemudian, menyusul disertakan dengan sebuah tendangan kilat. Tendangan inilah baru terhitung serangan yang sesungguhnya.

Siapa sangka, gerakan tubuh bocah itu ternyata sepuluh kali lipat lebih cepat dari gerakan tubuhnya.

Baru saja ia menarik kembali pukulannya sambil melepaskan tendangan, bocah cilik tadi sudah turun tangan mencengkeram pergelangan tangan Ciu Siang. Mengikuti gerakannya menarik pukulan, ia mendorong tubuh lelaki itu ke belakang.

Didorong secara tiba-tiba, Ciu Siang kehilangan keseimbangan badannya dan mau tak mau jatuh terjerembap. Di saat badannya mencapai tanah, saat itulah tendangan baru dilepaskan.

Dengan demikian, ia pun terjatuh lebih keras lagi sampai mulutnya meringis menahan rasa sakit.

Sambil tertawa, bocah cilik itu segera berkata, "Kali ini adalah untuk kedua kalinya kau terjatuh. Ayo cepat bangun, bukankah masih ada jurus ketiga menantikanmu?"

Ciu Siang melotot besar-besar. Tiba-tiba ia berseru, "Aku tidak mau bangun lagi. Kalau mau pukul, silakan dipukul. Hanya saja, aku perlu memberitahukan kepadamu, aku telah melatih ilmu Toi Pu San..."

Begitu perkataan itu diutarakan, bukan saja Ki Beng segera tertawa geli, bocah cilik itu pun turut tertawa terkekeh-kekeh sambil mengejek, "Tidak kusangka kau bocah besar ternyata mau mengingkari janji? Suhu yang manakah yang mengajarkan kepadamu? Huuuh, tidak tahu malu!"

Si kakek yang selama ini hanya berdiri di samping segera menyela, "Bocah cilik, kau jangan bicara seenaknya sendiri. Hati-hati kalau sampai ada yang tidak senang hati oleh perkataanmu itu!"

Si bocah segera melototkan matanya bulat-bulat setelah mendengar perkataan itu. Segera bentaknya,

"Siapa yang tidak senang mendengarkan perkataanku? Suruh dia keluar menjumpai aku. Akan kubuat dia terjerembap dan mencium tanah dua kali!"

Si kakek segera tertawa terbahak-bahak. "Ha ha ha... Bocah cilik, kau benar-benar anak harimau yang baru memunculkan diri. Tidak takut langit dan tidak pula takut bumi. Baiklah, aku akan mengalah tiga jurus untukmu. Coba akan kulihat apakah kau sanggup membanting tubuhku atau tidak."

Bocah cilik itu mengiyakan. Sepasang tangannya segera disilangkan ke depan. Tangan kiri diayun ke muka, sementara tangan kanan berjaga-jaga. Jurus ini dinamakan Harimau Hitam Mencuri Hati.

Angin pukulannya yang menderu seperti amukan ombak samudra langsung menghantam perut kakek kurus itu.

Namun, si kakek tetap berdiri di tempat dengan senyum terkulum dan seolah-olah tidak merasakan suatu apa pun.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment