Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 53

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 53

Saat telapak tangan bocah tadi menekan perutnya, tiba-tiba perut itu sudah melesak masuk ke dalam. "Ayo, bocah cilik, gunakan segenap kekuatanmu!" serunya sambil tersenyum. Bocah itu segera mempergunakan segenap kekuatannya untuk menekan, tetapi tiba-tiba saja telapak tangannya turut terjerumus ke dalam liang yang dalam sekali, menyusul kemudian tubuhnya ikut bergerak maju ke depan.

Perut kakek itu seperti terbuat dari kapas; sama sekali tidak tampak sedikit tenaga pun di sana. Begitu merasakan gejala yang aneh, bocah itu segera sadar kalau keadaan tidak beres. Cepat-cepat dia menghimpun tenaga dalamnya dan menarik kembali telapak tangannya. Siapa sangka, andaikata telapak tangannya tidak ditarik kembali, keadaan mungkin masih mendingan. Begitu tangannya ditarik, seketika itu juga ia merasakan datangnya segulung kekuatan mahabesar yang menghisap telapak tangannya kuat-kuat sehingga ia sama sekali tidak mampu berkutik lagi.

Sekarang ia baru sadar bahwa keadaan gawat. Cepat-cepat ia merengek, "Locianpwe, tecu masih muda dan tidak tahu urusan. Ampunilah kesalahanku ini!"

Si kakek tertawa. "Bukankah kau mengatakan akan membantingku dua kali? Mengapa tidak kau pergunakan tenagamu?"

Merah padam wajah bocah tersebut setelah mendengar ucapan itu. Cepat-cepat ia menjawab, "Semula aku tak tahu kalau kau..."

"Oooh, sekarang sudah tahu rupanya? Kau tahu siapakah aku?" tukas si kakek tertawa.

"Kau adalah seorang Bu lim cianpwee..."

Belum selesai perkataan tersebut diutarakan, kakek itu sudah membentak sambil tertawa, "Bocah cilik, kau memang sangat licik. Memang Pek im loji hanya mewariskan ilmu silat yang begini-begini saja kepadamu?"

Mendengar kakek itu kenal dengan gurunya, bocah tersebut semakin bertambah terperanjat. Matanya yang besar dikerdipkan berulang kali, titik air mata pun jatuh berlinang. "Locianpwee," katanya kemudian, "kalau toh kau kenal dengan guruku, masa kau tega untuk menyulitkan boanpwee?"

Kakek itu segera tertawa terbahak-bahak, "Haah... haah... haah... bocah cilik, kau memang pintar. Baiklah, berdiri baik-baik..." Belum selesai ia berkata, tiba-tiba saja perutnya dikembungkan kembali. Seketika itu juga si bocah merasakan datangnya segulung tenaga yang amat besar mendorong tubuhnya. Tak bisa dibendung lagi, ia mundur sejauh puluhan langkah ke belakang dengan sempoyongan. Cepat-cepat ia mempergunakan jurus Naga Melenting Harimau Mendekam untuk memantapkan badannya.

Setelah termangu-mangu beberapa saat, akhirnya ia menjatuhkan diri berlutut seraya berkata, "Si Kalajengking Kecil Su Cing menjumpai Locianpwee, mohon cianpwee sudi memberikan julukanmu."

"Kau memang setan yang pintar. Pernahkah dengar suhumu bercerita tentang Ku Tiok Lojin di antara Leng San Sam Yu?"

Mengetahui kalau kakek itu adalah sahabat karib gurunya, cepat-cepat si Kalajengking Kecil Su Cing mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali untuk menyembah, lalu dengan senyum dikulum ia berkata, "Oooh, rupanya Ong Supek yang datang. Su Cing memberi hormat pada kau orang tua!"

Ku Tiok Lojin tertawa. "Ayo cepat bangun, tak usah menjilat pantat lagi dihadapanku. Mana gurumu?"

"Dia sedang berkunjung ke Cui Wi Kiong. Sekarang aku lagi pergi mencarinya. Ketika di sini, aku pun bertemu dengan toako ini sedang melarikan orang..."

"Maka tanganmu ikut menjadi gatal, bukan?" sambung Ku Tiok Lojin sambil tertawa.

Ciu Siang yang berada di sisinya segera menyela, "Siapa bilang aku sedang melarikan orang? Kau tahu, aku sedang menyelamatkan orang!"

Sementara pembicaraan baru selesai, tiba-tiba dari tengah udara berkumandang suara pekikan bangau yang amat nyaring. Sambil mendongakkan kepalanya, Ku Tiok Lojin segera tertawa terbahak-bahak. "Haah... haah... haah... Itik Liar, kau lagi-lagi melepaskan si bangaumu!"

Bangau putih tersebut berputar satu lingkaran terlebih dulu di tengah udara, kemudian melesat ke bawah dengan kecepatan tinggi. Di atas punggung bangau tersebut bertengger seorang kakek ceking yang segera menyahut, "Ooooh... rupanya sahabat karib yang telah datang, mengapa kau pun terjun kembali ke dunia keramaian?"

"Aku datang karena harus menyelamatkan jiwa seseorang, sayang kedatanganku agak terlambat sedikit. Bagaimana dengan kau, si Itik Liar? Apa sebabnya kau datang kemari? Apakah kau hendak berangkat menghadiri pertemuan kaum dewa?"

Ternyata kakek ceking ini bukan lain adalah Loji atau orang kedua di antara Im Thian Sam Siu yang disebut Kakek Bangau An Ning. Sambil tertawa ia segera menyahut, "Aku si Bangau Liar tidak berjodoh untuk menghadiri pertemuan para dewa. Seperti tujuanmu, aku pun kemari untuk menolong orang."

"Waaah, kalau begitu tujuan kita sama, tapi siapa orang yang telah kau selamatkan itu?"

"Bukankah orangnya sudah dibopong keluar oleh murid kesayanganmu itu?"

"Sekarang aku sudah berubah haluan dan mengejar musuh," sahut Kakek Bangau Sakti sambil tertawa. "Apakah kau sedang mengejar si pendeta kencrengan Liau Huan? Kenapa kau biarkan dia berhasil kabur?"

Kakek Bangau Sakti menghela napas panjang. "Aaaai... dia memang kelinci yang licik dan cerdik, aku benar-benar tak mampu mengejarnya."

Ku Tiok Lojin tertawa. "Andaikata si Kakek Serigala hadir pula di sini, aku yakin si bajingan keledai gundul itu tak akan sanggup meloloskan diri."

Kembali Kakek Bangau Sakti tertawa getir. "Sayang sekali Losam kita salah langkah sehingga akhirnya harus mengalami nasib yang amat tragis. Dalam dunia persilatan saat ini sudah tiada ahli waris dari Kakek Serigala Langit lagi..."

Belum selesai perkataan tersebut diutarakan, tiba-tiba Ki Beng telah menimbrung, "Kakek Serigala Langit Locianpwee belum mati. Ia masih tetap hidup dalam keadaan sehat walafiat..."

Mendengar perkataan itu, Ku Tiok Lojin serta Kakek Bangau Sakti jadi tertegun, lalu hampir bersamaan waktunya mereka berseru, "Darimana kau bisa tahu kalau dia belum tewas?"

"Sebab aku mendengar hal ini dari anak angkatnya, Sik Tiong Giok. Konon Kakek Serigala Langit Locianpwee menyembunyikan diri di sebuah tempat yang terpencil di Bukit Wu San, tempat mana tepatnya tidak kuketahui."

Ku Tiok Lojin segera berpaling ke arah Kakek Bangau Sakti, lalu serunya tercengang, "Hei Itik Liar, benarkah Losam kita mempunyai seorang anak angkat...?"

Kakek Bangau Sakti segera manggut-manggut. "Benar, dia adalah seorang bocah yang ditolong dari balik markas tentara."

"Aaah, jadi dia adalah anak yatim piatu dari Tio Song?" pekik Ku Tiok Lojin terperanjat.

Sekali lagi Kakek Bangau Sakti manggut-manggut. "Benar. Demi anak yatim piatu tersebut, boleh dibilang Losam kita telah menerima penghinaan dan cemoohan serta mengundang kesalahpahaman umat manusia terhadap dirinya. Akhirnya dia harus tewas dalam keadaan mengenaskan."

"Tapi menurut perkataan dari bocah she Ki ini, bukankah dia belum tewas?"

Kakek Bangau Sakti menghela napas panjang. "Aaai, moga-moga saja Thian tetap melindungi jiwanya dan memberi kesehatan serta keselamatan baginya."

Ku Tiok Lojin termenung beberapa saat, setelah itu sembari menggeleng ia berkata, "Peristiwa lama dari dunia persilatan ini benar-benar membuat aku merasa tidak mengerti. Gara-gara putra Tio Song, mengapa Sik Thian Kun bisa memancing terjadinya badai di dalam dunia persilatan...?"

"Yaa, hal ini harus disalahkan pada ambisi Losam kita untuk menjadi terkenal. Pada saat itu kaum Tartar baru menyerbu daratan Tionggoan dan fondasinya belum kuat. Dalam keadaan begini, siapa yang mampu mendukung Kaisar Tio Song, dia pula yang akan menjadi termasyhur. Siapa sih manusia persilatan yang tak ingin menjadi terkenal..."

"Yaa, benar, setiap manusia memang bermimpi ingin menjadi seorang Ba Lian Bengcu."

"Itulah dia, mengapa kaum Tartar dari Mongolia tak akan memberi kesempatan kepada Tio Song untuk bangkit dari reruntuhannya."

"Benar, hal semacam ini pasti akan mengancam usaha mereka untuk mengakar di sini. Padahal di mana-mana terdapat pejuang yang ingin merdeka dari penjajahan, tentu saja mereka harus membabat rumput sampai ke akar-akarnya."

"Begitulah," Kakek Bangau Sakti melanjutkan, "di bawah tekanan kedua belah pihak, ditambah lagi ada sementara orang yang sengaja menghasut, apalagi dengan watak Losam kita yang lebih suka hancur sebagai kemala daripada utuh sebagai batu genting, dengan menyerempet bahaya dia hadapi tekanan mereka itu."

"Yaaa benar, selain kita sebagai saudara-saudaranya, orang lain memang tak akan memahami wataknya itu."

Sekali lagi Kakek Bangau Sakti menghela napas panjang. "Dugaanku keliru besar, bahkan sampai Lotoa kita pun menaruh kesalahpahaman terhadapnya. Andaikata ia tidak menampilkan diri, mungkin Bukit Serigala tak akan mengalami musibah dalam pertarungan yang amat seru itu. Anak murid Perguruan Serigala Langit tertumpas dan Losam sendiri terjatuh ke dalam jurang yang dalam."

"Untung saja kau si Itik Liar masih bersimpati kepadanya, bagaimanapun juga Kakek Serigala Langit tentu akan sedikit terhibur hatinya."

"Uiaaa, mana kau tahu? Waktu itu pun aku termasuk di antara orang yang terbuai dalam impian. Setelah peristiwa itu lewat, aku baru mendusin dari keadaan, tapi menyesal kemudian tak ada gunanya..."

Belum selesai dia berkata, mendadak terdengar seseorang berkata dengan suara yang tua dan nyaring, "Loji, mengapa kau belum pernah mengubah watakmu itu? Kejadian yang sudah lewat buat apa mesti disinggung kembali?"

Menyusul seruan itu, manusianya pun ikut muncul dari balik sebatang pohon besar. Ternyata dia adalah Kakek Naga Langit Sin Bun. Ku Tiok Lojin segera tertawa terbahak-bahak, "Haah... haaahh... haaaha, kau si Ular Panjang nampaknya memang berumur panjang. Baru saja menyinggung soal kau, eeeh tahu-tahu kau sudah datang."

Kakek Naga Langit tertawa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment