Chapter 54
"Sebetulnya aku sudah datang sejak tadi, hanya saja kalian tidak mengetahuinya."
"Toako, kalau begitu kau sudah mendengar semua pembicaraan kami? Kau harus berusaha mencari akal untuk membekuk keledai gundul liar itu..."
"Tadi bukankah kalian mengatakan andaikata Losam hadir di sini, maka si padri bengis itu tak akan bisa kabur? Hal ini mana bisa terjadi? Tapi sekarang orangnya tidak berada di sini. Nampaknya kami harus menggantungkan diri kepadamu!" seru Ku Tiok Lojin cepat.
Kakek Naga Langit tersenyum, ucapnya sambil mengelus jenggot: "Di depan matamu sekarang sudah terdapat seseorang yang pasti akan berhasil membekuk si padri bengis Liau Huan."
"Apakah Losam telah datang bersamamu?" tanya Kakek Bangau Sakti terperanjat.
Kakek Naga Langit menghela napas panjang. "Aaai, saat ini Losam sudah membenciku hingga merasuk ke tulang sumsum. Masih untung kalau dia tidak mengajakku untuk beradu jiwa, mana mungkin ia bersedia menempuh perjalanan bersamaku?"
"Lantas siapa yang kau maksudkan?" tanya Kakek Bangau Sakti lagi dengan tercengang.
"Dia adalah putra angkat Losam, keturunan dari Kaisar Tio Song, sang Pangeran Serigala Langit, Sik Tiong Giok."
Mendengar perkataan tersebut, Kakek Bangau Sakti dan Ku Tiok Lojin sama-sama berseru kaget, "Dia? Mengapa dia pun datang kemari?"
Kakek Naga Langit mendengus. "Hem, selamanya Sik Losam adalah orang yang cerdik dengan pelbagai akal dan muslihatnya, sedang si Pangeran kecil jauh lebih pintar dan luar biasa lagi. Di bawah bimbingannya—boleh dibilang di bawah bimbingan jenderal ternama—tiada yang lemah. Dengan bantuan bocah ini, aku yakin usaha kita tak akan gagal."
"Di mana orangnya sekarang? Bolehkah aku bertemu dengannya?"
Kakek Naga Langit segera berpaling dan menuding ke belakang seraya berkata, "Coba kau lihat, bukankah dia telah datang?"
Dari kejauhan tampak sesosok bayangan putih bergerak mendekat, kian lama kian jelas hingga akhirnya tampak bayangan manusianya. Dalam sekejap mata, ia sudah berada di depan mata. Ternyata orang tersebut adalah seorang pemuda yang baru berusia enam belas atau tujuh belas tahunan. Dari sorot matanya yang tajam, bisa diketahui bahwa tenaga dalam yang dimilikinya benar-benar sudah mencapai puncak kesempurnaan.
Begitu tiba di tempat tujuan, pertama-tama yang dilihat Sik Tiong Giok adalah Ki Beng. Ia segera menghampirinya, menggenggam tangan, dan berseru sambil tertawa, "Ki Toako, mengapa kau pun datang kemari?"
Bertemu dengan Sik Tiong Giok, baru saja Ki Beng hendak memberi hormat, tahu-tahu lengannya sudah dicengkeram hingga ia sama sekali tidak mampu berkutik. Terpaksa ia berujar kemudian sambil menghela napas panjang, "Lapor Pangeran, Ki Beng adalah orang yang lahir untuk kedua kalinya di dunia ini."
"Sebenarnya apa yang telah terjadi? Ayo cepat katakan, aku sendiri pun masih mempunyai kabar gembira untukmu," seru Sik Tiong Giok dengan gelisah.
Secara ringkas, Ki Beng segera bercerita tentang semua pengalaman yang telah dialaminya selama ini hingga pada akhirnya ia diselamatkan orang. Selesai mendengar penuturan tersebut, dengan mata melotot karena gusar, Sik Tiong Giok segera berseru, "Hweesio keparat, aku tidak boleh mengampuni bajingan seperti ini..."
"Bocah cilik, bagaimana hasil pengintaianmu barusan? Apakah sudah berhasil menemukan suatu titik terang?" sela Kakek Naga Langit dari samping.
Sik Tiong Giok tertawa. "Perhitungan dari Ku Locianpwee memang amat jitu, aku telah berhasil menemukan tempat persembunyian padri keparat itu."
"Bagus, akan kucatat jasamu itu," puji Kakek Naga Langit sambil tertawa.
Buru-buru Sik Tiong Giok berkata lagi, "Bagaimana dengan ketiga orang yang berada di dusun tengah bukit Be Bui Nia itu?"
"Oooh, soal itu mah gampang. Mari kuperkenalkan dulu dua orang kepadamu, mereka tentu akan sanggup menyelamatkan ketiga orang tersebut."
Mendengar perkataan tersebut, Sik Tiong Giok segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Ku Tiok Lojin serta Kakek Bangau Sakti. Dari perawakan mereka—yang seorang jangkung dan seorang ceking—ia tidak menjumpai keistimewaan apa pun. Namun, ditinjau dari usianya yang telah lanjut, segera pikirnya, "Jangan-jangan mereka adalah seorang cianpwee atau pertapa yang sudah lama hidup mengasingkan diri."
Baru berpikir sampai di situ, Kakek Naga Langit telah menuding ke arah Ku Tiok Lojin seraya berkata, "Dia adalah Ku Tiok Lojin dari Leng San Sam Yu, adik seperguruan dari Siong Hee Lojin."
Cepat-cepat Sik Tiong Giok memberi hormat seraya berseru, "Boanpwee Sik Tiong Giok menjumpai Locianpwee!"
Menyaksikan pemuda itu menyembah ke arahnya, Ku Tiok Lojin tidak balas memberi hormat, sebaliknya hanya memandang ke arah bocah itu dengan wajah tertegun dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Lama-kelamaan, Pangeran Serigala Langit Sik Tiong Giok jadi jengah sendiri; wajahnya berubah menjadi merah padam.
Pada saat itulah si kakek baru berseru: "Bagus sekali, mengagumkan."
Kakek Naga Langit yang menjumpai hal tersebut segera membentak pula sambil tertawa: "Hei kau si bambu yang kosong isinya, benar-benar pantas bila dinamakan si bambu kosong, memangnya kau tak mampu berbicara?"
Ku Tiok Lojin tertawa tersipu-sipu. "Baik bakatnya maupun kecerdikannya, bocah ini benar-benar amat hebat, apa lagi yang mesti kukatakan?"
Kakek Naga Langit tersenyum sambil menuding ke arah Kakek Bangau Sakti, kembali ia berkata, "Bocah cilik, dia adalah Ji Supekmu, An Ning. Orang menyebutnya sebagai Kakek Bangau Sakti. Sudah kau lihat bangau tersebut? Itulah binatang peliharaannya merangkap kendaraan pribadinya, ayo cepat memberi hormat kepadanya."
Mendengar perkataan tersebut, Sik Tiong Giok segera berjalan menuju ke hadapan Kakek Bangau Sakti dan menyembah seraya berkata, "Keponakan menjumpai Ji Supek."
Kakek Bangau Sakti segera meraup tangannya ke muka sambil diam-diam mengerahkan tenaga dalamnya; dia bermaksud mencoba sampai di manakah kemampuan tenaga dalam yang dimiliki Sik Tiong Giok, sementara di luar ia berkata sambil tertawa, "Bangun, bangun, di antara orang sendiri kau tak usah banyak adat."
Belum selesai perkataan tersebut diutarakan, tiba-tiba saja tubuhnya bergetar keras. Bukannya berhasil membangunkan Sik Tiong Giok, dia sendiri malah tergetar mundur sejauh dua langkah.
Menyaksikan peristiwa tersebut, Kakek Naga Sakti segera tertawa terbahak-bahak. "Haaahh... haaah, Loji wahai Loji, rupanya kau sudah salah menduga. Memangnya kau tidak melihat bahwa bocah tersebut telah memperoleh seluruh tenaga dalam yang dimiliki Losam...?"
"Tak heran kalau dengan usianya yang masih begitu muda, ternyata memiliki kemampuan yang begini hebat," seru Kakek Bangau Sakti kemudian dengan perasaan terkejut bercampur tercengang.
Sementara itu, Sik Tiong Giok telah memberi hormat dan bangkit kembali. Dengan wajah gelisah, segera serunya kepada Kakek Naga Langit, "Toh Supek, kau harus berusaha untuk menyelamatkan ketiga orang itu."
"Persoalan apa sih yang membuat Pangeran Serigala Langit pun menjadi gelisah?" sela Ku Tiok Lojin.
"Seng Jiu Phu Hua Ki Thian Bin bersama Hoa Tou bertangan racun Pui Cu Yu dan pertapa nelayan bertangan besi Siau Kun telah terkurung di sebuah dusun di bawah tebing He Hui Nia yang dikuasai iblis wanita Ular Sakti Pek Soh Kim. Aku lihat dalam persoalan ini terpaksa aku mesti merepotkan kalian berdua untuk turut mengurusinya."
Ku Tiok Lojin termenung dan sebelum ia sempat menjawab, Ki Beng telah menimbrung, "Locianpwee sekalian, kini ayahku sedang menjumpai kesulitan. Ki Beng bersedia menjadi pembuka jalan untuk menghadapi persoalan ini, semoga cianpwee sekalian suka membantuku."
Ku Tiok Lojin manggut-manggut. "Baiklah, dia menyetujui, aku bersedia untuk membantumu. Cuma bagaimana dengan Liau Huan, si padri keparat itu?"
"Aku pasti akan berhasil membekuknya, sampai waktunya tentu akan kugusur orang itu ke hadapan Locianpwee untuk menerima hukuman," kata Sik Tiong Giok cepat.
Ku Tiok Lojin tertawa. "Aku sih tidak harus membekuknya dalam keadaan hidup. Bila dapat membunuhnya sehingga melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan, hal ini lebih baik lagi."
Seusai berkata, dia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ. Kakek Bangau Sakti melompat pula ke punggung bangaunya, siap berlalu dari sana. Mendadak Ciu Siang berteriak keras, "Hei, orang tua, tunggu dulu, tunggu aku!"
"Bocah dungu, mau apa kau?" tegur Ku Tiok Lojin.
Sambil menuding ke arah Sik Tiong Giok, Ciu Siang berseru kembali, "Aku akan berjumpa dulu dengan saudara cilik ini sebelum pergi. Pokoknya aku tak bakal sampai terlambat, harap kau suka tunggu sebentar saja."
Sembari berkata, ia lantas berjalan menuju ke sisi Sik Tiong Giok dan menarik tangan pemuda itu sambil tertawa, "Saudara cilik, aku dengar kau sangat hebat, mari kita bersahabat."
"Ahh, mana bisa..." Sik Tiong Giok tertawa, "di kemudian hari aku masih banyak membutuhkan petunjuk Toako."
Belum selesai ia berkata, Ciu Siang telah mengerahkan tenaganya untuk menggencet lengan pemuda itu keras-keras. Tapi Sik Tiong Giok masih tetap tersenyum dengan wajah yang tenang, seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu apa pun. Padahal, Ciu Siang telah mengeluarkan ilmu Pah Ong Kong Teng (Raja Bengis Mengangkat Hiolo) dengan tujuan melemparkan tubuh Sik Tiong Giok ke tengah udara hingga ia terjerembap dan mendapat malu di hadapan orang banyak.
Siapa tahu, biarpun dia telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya dan seluruh otot sudah menonjol keluar, tubuh lawan masih tetap terpantek ke tanah dan sama sekali tak mampu berkutik. Biarpun demikian, ia tetap tidak puas. Tenaganya dikerahkan hingga mencapai dua belas bagian, kemudian ketika ditambah satu bagian lagi, tiba-tiba lengan kanannya berbunyi gemeretak. Ia segera sadar bahwa dirinya sudah menggunakan tenaga melampaui batas; apabila tidak segera mengendurkan tenaganya, bisa jadi lengan sendiri yang akan patah menjadi dua.
Karenanya, buru-buru ia lepaskan cekalannya.