Chapter 55
Sampai pada detik tersebut, Sik Tiong Giok masih tetap tenang seakan tidak pernah terjadi sesuatu pun. Bahkan, sambil menoleh ke arah lelaki tersebut, ia tertawa.
Ciu Siang adalah seorang lelaki kasar yang polos dan terbuka. Setelah mencoba sendiri, ia segera takluk seratus persen.
Ujarnya kemudian sambil tertawa terbahak-bahak, "Ha ha ha, Saudara cilik, aku merasa takluk kepadamu." Selesai berkata, dia membalikkan badan dan berlalu dari situ.
Ki Beng segera mengikutinya, sedangkan si Kalajengking, Su Cing, memperhatikan Sik Tiong Giok sekejap, kemudian berlalu pula dari sana.
"Bocah cerdik, sekarang harus melihat kemampuan kita. Apabila Liau Huan, si padri bengis itu, tak mampu kita ringkus, kita benar-benar akan kehilangan muka."
"Tak usah khawatir, Toa Supek. Padri itu sudah berada dalam cengkeramanku, dia tak akan bisa lolos dari cengkeraman kita."
"Baik, hari ini Supek akan mendengarkan petunjukmu. Akan kulihat sampai di manakah kemampuan yang dimiliki putra angkat dari Kakek Serigala Langit." Sementara berbicara, mereka segera berangkat menuju ke arah selatan.
Tiga lima li kemudian, sampailah mereka di sebuah kompleks tanah pekuburan yang dikelilingi pohon siong yang amat lebat. Di bagian tengah terdapat sembilan buah kuburan yang berjejer, tingginya mencapai beberapa kaki.
Waktu itu tampak dua orang pendeta sedang menerobos keluar dari kuburan nomor tiga dari sebelah kiri. Dia melompat naik ke atas kuburan itu, lalu memperhatikan sekeliling. Setelah memeriksa seputar tanah pekuburan itu, dia kembali ke muka kuburan tadi sambil berseru rendah, "Suhu, cepat keluar, di sini sudah tak ada orang." Sesosok bayangan manusia segera menerobos keluar dari balik gua tersebut. Dia adalah seorang hwesio yang tak lain adalah Liau Huan, si padri bengis itu.
"Apakah kalian sudah memeriksa dengan jelas?" tegurnya rendah. "Kalian mesti tahu si Bangau Sakti adalah seorang manusia cerdik yang banyak akal muslihatnya."
"Kami sudah memeriksa dengan jelas," sahut kedua orang hwesio itu bersama-sama. "Bukan saja tak nampak bayangan manusia, bayangan bangau pun tak nampak."
Liau Huan Taysu berpikir, lalu katanya, "Aku masih tetap khawatir, sebab tua bangka tersebut termashur karena kelicikan dan kecerdikannya. Kita jangan sampai masuk perangkap."
Belum selesai ia berkata, tiba-tiba dari belakang tubuhnya terdengar suara nyaring, "Dugaanmu memang sangat tepat. Kami telah mempersiapkan arak wangi dan membuat api unggun, tinggal menunggu daging keledai gundul untuk teman minum arak. Kau anggap masih bisa kabur dari sini?"
Begitu mendengar suara manusia, kedua orang pendeta itu segera berpaling. Mereka menjumpai di bawah sebuah pohon siong berdiri seorang pemuda berusia enam atau tujuh belas tahunan. Dalam gelisahnya, serentak mereka menerjang ke muka.
Pemuda itu tak lain adalah Pangeran Serigala Langit, Sik Tiong Giok. Melihat kedua orang itu menerjang datang, ia segera bergerak ke samping sehingga terjangan kedua orang hwesio itu pun menemui tempat kosong.
Sementara kedua orang padri itu masih tertegun, tiba-tiba tengkuknya terasa mengencang dan mereka sudah dicengkeram orang dengan keras.
Terdengar pemuda itu mengejek lagi sambil tertawa nyaring, "Dengan kemampuan yang kalian miliki pun ingin bertarung melawanku?" Dalam pembicaraan itu, sepasang lengannya segera direntangkan ke samping seakan hendak melemparkan tubuh kedua orang pendeta itu ke udara.
Tiba-tiba Liau Huan Taysu merogoh ke dalam sakunya, kemudian mengayunkan tangannya ke depan. Cahaya kuning segera meluncur disertai desingan angin tajam.
Dua buah kencrengan telah menyambar ke depan dengan kecepatan luar biasa. "Bocah keparat, kau berani mencari gara-gara dengan Hud-ya-mu?" bentaknya.
Kedua kencrengan ini dilepaskan dengan mengerahkan segenap tenaga. Apalagi dilepaskan setelah memancing pihak lawan berbicara dan dalam keadaan tidak siap, sehingga ia menganggap pihak lawan tentu akan terluka.
Siapa tahu Sik Tiong Giok cukup cerdik dan sama sekali tidak sudi termakan oleh perangkap tersebut. Sambil mengayunkan lengannya, ia menjawab, "Aku adalah Pangeran Serigala Langit, Sik Tiong Giok." Bersamaan dengan selesainya jawaban tersebut, terdengar dua kali jeritan ngeri yang menyayat hati memecahkan keheningan. Percikan darah segar memancar ke mana-mana dan menyembur sampai sejauh beberapa depa.
Ternyata kedua buah kencrengan itu sudah menancap di dada kedua orang padri tadi sehingga lambungnya robek dan isi perutnya berhamburan keluar.
Dengan kening berkerut, Sik Tiong Giok merentangkan kembali sepasang lengannya. Kedua sosok mayat itu segera dilemparkan ke depan. "Ai, keledai gundul," ejeknya kemudian, "bila senjata kencrenganmu itu tidak mengenal orang, jangan salahkan aku yang berhati keji."
Liau Huan Taysu benar-benar amat gusar, matanya jadi merah sambil menggertakkan gigi menahan emosi. "Anak jadah, berani amat kau mencelakai jiwa murid-muridku! Bila aku tak berhasil mencincang tubuhmu sehingga hancur berkeping-keping, percuma saja aku hidup sebagai manusia!"
Sik Tiong Giok tertawa, "Sesungguhnya kau memang seekor keledai bodoh, siapa bilang kau ini manusia? Ayo, cepat menyerah dan mengaku kalah saja. Lebih baik mengaku kalah sekarang daripada menyesal di kemudian hari."
Dalam pembicaraan itu, ia segera menjejakkan kakinya ke atas tanah dan siap menerjang ke muka. Namun, tiba-tiba ia merasa angin tajam menyambar lewat, dengan cepat ia membalikkan badan untuk menghadap.
Ternyata dua buah senjata kencrengan emas telah menyambar lewat dari atas kepalanya. Ilmu melepaskan senjata kencrengan yang dimiliki Liau Huan Taysu memang terbukti ampuh; dalam sekejap mata sepasang tangannya sanggup melepaskan dua belas buah senjata tanpa henti.
Saat Sik Tiong Giok sedang berkelit dari ancaman kedua buah senjata kencrengan yang pertama, suara desingan tajam telah memenuhi angkasa dan seluruh udara diliputi cahaya kuning yang menyilaukan mata.
Sik Tiong Giok berpekik nyaring, tubuhnya melesat ke depan menyambut datangnya bayangan kuning tersebut. Sambil berkelit, ia menerobos maju. Dalam waktu singkat, dua belas senjata kencrengan itu sudah berguguran ke atas tanah, tetapi ujung bajunya sama sekali tidak robek atau cedera.
Namun ketika serangan sudah lewat, bayangan tubuh Liau Huan Taysu juga turut lenyap dari pandangan.
Pada saat itulah, Kakek Naga Langit yang bertugas mencegah kaburnya padri itu ternyata tidak berhasil menghalangi musuhnya. Terpaksa sambil menampilkan diri, ia berkata sambil tertawa, "Bocah cilik, tampaknya kau sendiri pun sulit untuk membekuk keledai gundul itu."
"Aaah, belum tentu. Sampai waktunya kau toh akan mengetahui dengan sendirinya," ujar Sik Tiong Giok tersenyum.
"Sudahlah, tak usah marah-marah, mana orang yang sedang kau kejar?"
"Aku tebak di sekitar tempat ini pasti terdapat lorong rahasia yang lain, dan di antara lorong rahasia tersebut tentu masih hadir pula manusia yang lain."
"Dari mana kau bisa tahu?"
Sambil menunjuk senjata rahasia yang berhamburan di atas tanah, Sik Tiong Giok berkata, "Coba lihat, di antara kencrengan-kencrengan tersebut terdapat pula panah pendek yang disambit dari jarak empat-lima kaki. Sudah pasti senjata rahasia itu dibidikkan oleh jago lihai, aku tak percaya kalau padri keparat itu sanggup berbuat demikian."
Mendengar perkataan itu Kakek Naga Langit manggut-manggut, lalu katanya sambil mengawasi pemuda tersebut, "Mengapa kita tidak pergi ke belakang kuburan tersebut untuk melakukan pemeriksaan?"
Mendengar itu, Sik Tiong Giok segera mengerdipkan matanya berulang kali, lalu sengaja berteriak, "Supek, bukankah sudah kubilang, keledai gundul itu pasti mempunyai jalan rahasia lain untuk melarikan diri? Mana mungkin kita bisa menemukannya lagi. Lebih baik kita pergi saja untuk sementara waktu, toh masa mendatang masih panjang. Di kemudian hari aku pasti berhasil membekuknya."
"Baiklah, terserah padamu." Tiba-tiba ia menjumpai dua sosok mayat pendeta yang tewas itu, buru-buru katanya lagi, "Bocah cilik, mari, kita turun tangan menguburkan jenazah dari keledai-keledai gundul kecil itu."
Sambil tertawa, Sik Tiong Giok menggoyangkan tangannya berulang kali, sahutnya, "Kawanan keledai gundul itu sudah menodai tempat ibadah, berani pula membakar rumah dan membunuh orang. Biar mayat mereka jadi santapan serigala, buat apa kita mesti mengotori tangan sendiri?"
Mendengar perkataan itu, Kakek Naga Sakti tahu bahwa Sik Tiong Giok sedang menggunakan siasat untuk menipu musuhnya, maka dia segera menyahut, "Baik, aku akan menuruti kemauanmu. Peduli mau dimakan anjing atau serigala, yang penting pokoknya ada pembalasan yang setimpal bagi mereka." Selesai berkata, mereka berdua lantas memasuki hutan.
Tak selang berapa saat kemudian, tiba-tiba batuan di muka sebuah kuburan bergerak ke samping dan muncullah sebuah mulut gua. Kemudian menongollah sebuah kepala gundul yang ternyata bukan lain adalah Liau Huan Taysu.
Dia celingukan sekejap memandang sekeliling tempat itu, lalu melompat keluar, disusul kemudian seorang tosu memunculkan diri pula dari balik gua.
Untuk beberapa saat lamanya Liau Huan Taysu memperhatikan sekeliling tempat itu, kemudian baru berkata, "Sute, lindungilah aku, akan kuseret kedua sosok mayat itu masuk ke dalam gua."
Belum lagi perkataan tersebut selesai diutarakan, mendadak dari kejauhan sana terdengar suara bentakan nyaring, "Lihat serangan!"
Mengiringi suara bentakan tersebut, terasa ada beberapa gulung desingan angin tajam yang menyergap datang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Dalam terkejut, Liau Huan Taysu dan tosu tersebut tidak sempat lagi untuk mengelak. Tahu-tahu senjata rahasia sudah menyambar datang dan pipi mereka terasa dingin, darah segar segera bercucuran membasahi seluruh wajahnya.
Tak terlukiskan rasa terkejut dari padri bengis itu, sedemikian terperanjatnya sampai ia menjerit kaget.