Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 56

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 56

Ternyata telinga mereka berdua telah terkena tebasan hingga buntung menjadi dua bagian, apalagi setelah mengetahui senjata rahasia yang dipergunakan untuk menyerang mereka hanyalah dua lembar daun. Ditinjau dari kemampuan lawan dalam menggunakan daun sebagai senjata rahasia, dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki tentu luar biasa.

Akan tetapi, kedua orang ini pun sudah termasyhur karena kekuasaannya. Sambil menahan rasa sakit yang menyayat badan, mereka berteriak berulang kali. Empat tangan diayunkan bersama; dua buah kencrengan yang dilepaskan Liau Huan Taysu dan empat batang panah pendek yang disambitkan oleh sang tosu secara bersama-sama menyambar ke atas sebuah pohon besar. Suara gaduh bergema, memecahkan keheningan. Daun dan ranting berguguran, namun tidak satu pun bayangan manusia yang tampak.

Tiba-tiba, dari atas pohon yang lain terdengar suara gelak tawa seseorang yang disusul dengan seruan nyaring, "Hei, memotong telinga kalian dengan daun merupakan hasil perbuatanku. Apa sih salahnya dengan pohon tersebut? Benar-benar kerbau dungu yang tak punya mata!"

Mendengar teriakan ini, kedua orang tersebut segera berpaling. Benar saja, di bawah sebatang pohon berdiri seorang pemuda yang ternyata tidak lain adalah Sik Tiong Giok. Ia berdiri di sana dengan senyuman dikulum. Walaupun demikian, kedua orang itu terkejut. Jangankan ilmu menyambit daun yang melukai orang dengan membuktikan betapa sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki, bukankah di belakangnya masih terdapat pula seorang Kakek Naga Sakti? Tanpa membuang banyak waktu, kedua orang itu segera membalikkan badan dan melarikan diri kembali ke dalam gua.

Kedua orang ini sama-sama terhitung manusia licik; tidak heran kalau mereka mempunyai pikiran dan perasaan yang sama. Mereka takut dikejar Sik Tiong Giok, lagipula khawatir diserang lagi dengan senjata rahasia. Karena itu, kedua orang tersebut sama-sama menerobos ke dalam gua dengan kepala masuk lebih dulu. Akibatnya, kepala mereka saling beradu, membuat mereka mengaduh kesakitan.

Pada saat itulah, Sik Tiong Giok membentak lagi dengan suara nyaring, "Lihat serangan!" Segenggam jarum segera disambitkan ke muka disertai desingan angin tajam. Begitu hebat serangan tersebut hingga celana mereka tertembus dan robek; ada yang menancap di pantat, ada pula beberapa batang yang menembus lubang anus. Bisa dibayangkan betapa sakit dan menderitanya kedua orang itu. Sambil berteriak-teriak kesakitan, mereka melompat masuk ke lubang gua dengan tergesa-gesa hingga lupa akan anak tangga dan terjerembap ke tanah.

"Brak!" Kepala mereka menumbuk pinggiran anak tangga, membuat kepala pening dan pandangan mata berkunang-kunang. Untuk beberapa saat lamanya, mereka hanya bisa tergeletak di tanah sambil merintih kesakitan.

Sik Tiong Giok sama sekali tidak memanfaatkan waktu itu untuk membekuk mereka. Ia justru menggusur kedua sosok mayat tadi, kemudian melemparkannya ke dalam gua sambil tertawa, "Hei, sambut baik-baik, rekan-rekanmu telah datang!"

Waktu itu, Liau Huan Taysu dan rekannya baru saja berusaha untuk merangkak bangun. Mereka tak menyangka kalau kedua sosok mayat itu bakal dilontarkan ke arah mereka.

Duk!

Tertindih oleh kedua sosok mayat itu, sekali lagi mereka terjungkal ke atas tanah dan merintih kesakitan makin keras. Untung saja Liau Huan Taysu masih cukup tabah; dia segera meronta untuk bangun dan menutup kembali pintu guanya.

Selama peristiwa tersebut berlangsung, Kakek Naga Sakti dapat mengikuti semua kejadian dengan jelas. Mau tak mau ia mesti memuji kepintaran Sik Tiong Giok dalam mempermainkan lawannya. Cuma ada satu hal yang tidak dipahami olehnya; kedua musuh itu sudah jelas tinggal dibekuk, mengapa ia justru membiarkan mereka kabur ke dalam gua? Berpikir demikian, ia pun melompat turun dari tempat persembunyiannya lalu berkata sambil tertawa, "Hei setan cilik, kau memang hebat. Kelicikan dan kebinalanmu tidak kalah dengan ayah angkatmu di masa lampau, cuma ada satu hal yang tidak kupahami."

"Bagian yang mana, bolehkah supek menjelaskan?"

"Bila ditinjau dari kemampuan melukai musuh dengan sambitan daun, seharusnya kau mampu untuk menghabisi kedua orang itu, mengapa kau justru membiarkan mereka kabur?"

Sik Tiong Giok segera tertawa. "Supek tidak tahu, padri bengis tersebut dapat diincar oleh ji supek berarti kejahatan yang telah dilakukan olehnya banyak sekali. Padahal tosu itu berada sejalan dengan padri bengis itu, berarti mereka bukan orang baik-baik. Apakah tidak terlalu sayang apabila membiarkan mereka mati kelewat cepat?"

"Lantas apa rencanamu untuk menghadapi mereka?"

"Aku pernah melihat pemburu yang berburu serigala; dia mengasapi gua tersebut sehingga sang serigala menyerahkan diri."

Kakek Naga Langit manggut-manggut. "Caramu itu memang bagus, cuma rasanya kurang leluasa untuk dipergunakan di tengah hari bolong begini."

"Diasapi malam nanti pun boleh saja, yang penting aku harus menyiksa mereka secukupnya sebelum dibekuk."

"Wah, wah. Tidak kusamkan kebinalanmu sudah mencapai taraf seperti ini. Bila ayah angkatmu kebetulan hadir di sini, dia tentu akan kagum juga kepadamu."

Sik Tiong Giok tertawa. "Ini namanya anak harus melebihi sang bapak, bukan begitu?"

"Kau jangan merasa bangga. Bila kau tak berhasil mengasapi kedua rase itu sampai keluar tempat persembunyiannya, ingin kulihat bagaimanakah kau memberikan pertanggungjawaban kepada ji supek."

Sambil berbincang-bincang dan bergurau, mereka pun duduk di samping kuburan sambil mengawasi gerak-gerik lawan. Suatu ketika, tiba-tiba Sik Tiong Giok membalikkan badan dan tahu-tahu tubuhnya sudah lenyap dari pandangan. Setengah hari sudah lewat, malam pun sudah mulai menjelang, namun si anak muda itu belum juga muncul kembali.

Sekalipun Kakek Naga Sakti tahu kalau Sik Tiong Giok sedang mengusahakan bahan untuk membuat api, semestinya persiapan semacam itu tidak perlu membutuhkan waktu yang terlampau lama. Sementara ia masih menunggu dengan gelisah, Sik Tiong Giok muncul sambil membopong seikat ranting kayu. Dengan cepat ia pun menegur, "Bocah cilik, ke mana sih kau selama ini?"

"Perlu mengumpulkan ranting itu untuk mengasapi si kelinci liar."

"Tapi kan tak perlu membuang waktu selama itu, ayo cepat katakan apa lagi yang kau lakukan!"

Sik Tiong Giok tertawa, "Aku cuma pergi ke dusun terdekat untuk mencari merica kering, agar membuat sedapnya bau asap nanti."

Kakek Naga Sakti segera tergelak geli. Ia pun tidak banyak berbicara lagi. Serentak kedua orang itu bekerja untuk membongkar gua tadi, kemudian menjejalkan ranting kering bercampur merica ke dalam mulut gua. Begitu disulut, api pun berkobar dengan amat besarnya. Asap yang tebal bercampur dengan bau merica yang menusuk hidung segera menyusup ke dalam mulut gua itu.

Tiba-tiba Kakek Naga Langit berkata, "Bocah cilik, aku lihat cara ini kurang baik, masa mereka tak bisa memadamkan dengan mempergunakan air?"

Kembali Sik Tiong Giok tertawa. "Soal ini sudah kupikirkan. Itulah sebabnya sengaja kucampuri merica agar mereka terbatuk-batuk sampai mengucurkan air mata begitu mengendus baunya. Untuk menghindar saja tak sempat, mana mungkin mereka punya kesempatan untuk memadamkannya?"

Kemudian, setelah berhenti sejenak, ia meneruskan, "Menurut dugaanku, lorong gua ini pasti bukan cuma satu. Si keledai gundul itu pun tak akan berani memadamkan api, maka satu-satunya jalan baginya adalah kabur melalui lorong lain."

Menyusul kemudian, mereka berdua berbisik-bisik lagi dengan suara lirih. Kakek Naga Sakti tersenyum dan manggut-manggut. Tak lama kemudian, kedua orang itu sudah keluar dari hutan dan mulai memasang mata serta telinga baik-baik untuk memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu.

Lebih kurang seperempat jam kemudian, dari balik sebatang pohon yang ditutupi semak belukar, muncul asap yang mengepul ke udara dan kian lama kian bertambah tebal. Kemudian, secara tiba-tiba terdengar suara orang terbatuk-batuk yang ditahan. Dari balik semak muncul manusia berkepala gundul, lalu disusul pula dengan seorang tosu. Kedua orang itu bukan lain adalah Liau Huan Taysu dan si tosu So Tay Siu.

Kedua orang itu memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian melarikan diri ke utara. Sik Tiong Giok segera memberi tanda kepada Kakek Naga Sakti, kemudian berbisik, "Supek, ayo berangkat, kita ikuti ke mana perginya kedua orang itu."

Ternyata, sekembalinya ke dalam gua setelah telinga mereka dikutungi tadi, Liau Huan Taysu dan So Tay Siu segera mengobati luka tersebut dengan obat penghenti darah. Tak lama kemudian, darah sudah berhenti mengalir. Namun, jarum cemara yang menembusi pantat dan lubang anus itu justru mendatangkan rasa sakit yang tak terkirakan lagi. Sekalipun sebagian sudah dicabut, ada pula yang menembusi daging pantat dan susah dicabut, terutama yang menembusi lubang anus. Boleh dibilang hal tersebut membatasi gerak-gerik mereka; jangankan untuk bergerak, bernapas agak keras pun tak berani.

"Suheng," keluh So Tay Siu di tengah jalan, "aku sudah benar-benar tak sanggup menahan diri, lebih baik kita menyerah saja."

"Mari kita coba untuk menekannya keluar dari lubang anus, siapa tahu jarum-jarum terkutuk itu bisa dikeluarkan," kata Liau Huan.

Maka kedua orang itu pun berjongkok dan mencoba menekan keluar jarum-jarum yang menancap di dalam lubang anus tersebut. Siapa tahu ketika mereka mencoba untuk memompa perutnya, rasa sakit yang luar biasa menyerang usus mereka. Sedemikian menderita dan tersiksa, sehingga air mata bercucuran keluar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment