Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 57

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 57

"Sute," kata Liau Huan kemudian, "pernah kau dengar tentang ksatria yang memotong lengannya sendiri? Kita harus menahan sakit dan mencoba mengeluarkan jarum-jarum tersebut; sebab jika sampai masuk ke dalam usus, riwayat kita bisa habis."

"Anak jadah keparat itu benar-benar bajingan," umpat So Tay Siu penuh kebencian. "Ia tak mau menyerang bagian lain, justru lubang anus orang yang diincarnya."

"Aaai, sebetulnya salah kita sendiri, kenapa kepala kita yang masuk duluan?" Diteror oleh rasa sakit yang luar biasa, kedua orang itu tidak banyak berbicara lagi. Mereka segera menggertak gigi dan mencoba dengan segenap tenaga.

Mendadak kedua orang itu menjerit kesakitan...

Akhirnya, beberapa batang jarum cemara itu berhasil juga dipaksa keluar dari dalam lubang anus. Darah bercampur kotoran manusia segera berceceran di mana-mana; baunya bukan alang kepalang. Biarpun rasa sakitnya sudah dapat diatasi, kedua orang itu benar-benar lelah dan kehabisan tenaga. Mereka saling berpandangan sekejap lalu tertawa getir. Sambil menggertak gigi, mereka mengobati lukanya kemudian mengembuskan napas panjang.

Pada saat itulah, Sik Tiong Giok telah berhasil merobohkan batu nisan di muka kuburan. Dengan perasaan terkejut, So Tay Siu segera berseru, "Suheng, aneh sekali, mengapa ada angin yang berhembus lewat?"

Liau Huan Taysu segera merasakan pula keadaan yang kurang beres. Setelah memeriksa setiap bagian di sekitar gua, tiba-tiba diketahui pintu rahasia sudah bocor. Maka ia segera berseru, "Jangan-jangan si bajingan keparat itu siap menyerbu ke dalam dengan kekerasan. Cepat kita siapkan senjata rahasia; bila ia berani masuk, kita segera menyerangnya habis-habisan."

Baru selesai ia berkata, tiba-tiba terdengar So Tay Siu berteriak lagi, "Aduh celaka, Suheng, anak jadah itu melepaskan api!"

"Tak usah khawatir," hibur Liau Huan sambil tertawa. "Gua ini amat luas dan lembap, di mana-mana terdapat lubang angin. Memangnya api yang mereka lepaskan dapat berbuat apa terhadap kita?"

Tak lama kemudian, asap mulai memasuki ruang gua disertai bau merica yang amat menusuk penciuman. Mereka mulai terbatuk-batuk dan bersin berulang kali. Air mata ikut pula jatuh bercucuran.

Dalam keadaan demikian, Liau Huan Taysu mulai mengumpat, "Uhuk... uhuk... anak jadah... haa... makanya... uhuk... uhuk..."

Batuk dan bersin yang datang secara berulang membuat pendeta tersebut tak sanggup lagi meneruskan kata-katanya. Karena ruang gua sudah tak bisa dipertahankan lagi, terpaksa mereka harus angkat kaki dari situ dan melarikan diri menuju ke sebelah utara.

Sesudah berlarian sejauh tujuh-delapan li, Liau Huan Taysu dan So Tay Siu mulai merasakan lubang anusnya kembali nyeri dan sakitnya bukan kepalang. Darah mulai bercucuran pula dengan derasnya. Begitu sakit dan tersiksanya, yang akhirnya membuat So Tay Siu tak sanggup menahan diri lagi dan menjerit-jerit kesakitan.

"Sute, tahanlah sejenak lagi," kata Liau Huan Taysu dengan napas terengah-engah. "Aku sendiripun merasa kesakitan yang luar biasa. Bila kita sampai dibekuk si anak jadah tersebut, kau anggap nyawa kita masih dapat diselamatkan?"

Tiga-lima li kembali sudah lewat, kali ini So Tay Siu tak sanggup berjalan lagi. Ia terjungkal ke atas tanah dan berkata dengan napas terengah, "Aku... aku sudah tak sanggup lagi. Jangankan seribu langkah, setengah langkah pun sudah tak kuat. Suheng, bubuhilah obat di lukaku." Sambil berkata, dia meloloskan kembali celana yang dikenakannya.

Dengan perasaan tak berdaya, terpaksa Liau Huan Taysu mengeluarkan obat luka dan dibubuhkan pada mulut luka sambil berkata, "Sute, masa kau tak mampu bertahan lagi? Bagaimana kalau kita berjalan beberapa li lagi?"

"Aku lebih suka mati saja, setengah langkah pun aku sudah tak sanggup untuk berjalan lagi." Belum selesai ia berkata, tiba-tiba dari arah belakang kedengaran suara Sik Tiong Giok sedang berkata sambil tertawa.

"Hai keledai gundul liar, tak nyana kalau kau tidak puas hanya bermain perempuan saja. Lelaki pun ternyata kau gemari juga, wah... wah... kalau begitu kau termasuk orang homo, ya. Betul, memang paling enak menjadi manusia yang doyan perempuan dan laki, jadi komplit namanya..."

Dengan cepat kedua orang itu berpaling. Mereka menjumpai Sik Tiong Giok sedang berdiri tujuh-delapan kaki di belakang sana dengan senyum dikulum. Rasa terkejut tak terlukiskan lagi. Tak sempat membetulkan tali celananya lagi, So Tay Siu segera mengambil langkah seribu dengan penuh ketakutan.

Tiga-empat li kembali sudah ditempuh. Darah bercampur kotoran manusia telah menodai celana kedua orang itu. Setiap langkah kaki mereka menimbulkan rasa sakit yang benar-benar tak terkirakan.

"Aduh biyung," So Tay Siu mulai berteriak-teriak, "daripada kabur dalam keadaan demikian, lebih baik mati saja dibunuh orang!" Tubuhnya kembali roboh terjengkang ke atas tanah dan tak sanggup bergerak lagi.

Sesungguhnya Liau Huan Taysu sendiri pun sudah tak sanggup untuk mempertahankan diri. Apalagi melihat So Tay Siu sudah berbaring di atas tanah, ingin sekali ia berbaring pula untuk beristirahat. Siapa tahu baru saja berhenti berjalan, sepasang kakinya menjadi lemas dan roboh terjengkang ke atas tanah. Dengan membuka mulutnya lebar-lebar untuk membantu napasnya yang tersengal, ia berkata, "Uhuk... uhuk... selama ini kau... kau sudah terlalu banyak tidur, kini janganlah beristirahat dulu."

"Mau istirahat boleh saja, asal kalian berdoa tidak khawatir ditembusi lubangnya dengan ranting kayu," Sik Tiong Giok kembali mengejek dari belakang.

Mendengar suara ejekan itu, Liau Huan Taysu maupun So Tay Siu seketika lupa dengan rasa lelah dan sakitnya. Mereka segera melompat bangun dan menoleh ke belakang. Entah sedari kapan Sik Tiong Giok sudah berdiri di bawah pohon sambil tertawa, sedangkan di tangannya memegang dua batang ranting pohon sepanjang lima-enam inci yang besarnya seperti telur itik.

Menyaksikan hal tersebut, kedua orang itu menjadi ketakutan dan segera mengambil langkah seribu. Lebih kurang dua li kemudian, mereka benar-benar sudah tak mampu bertahan lagi, tapi perasaan takut yang mencekam membuat mereka tak berani berhenti.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari hadapan mereka muncul seseorang yang menghadang jalan.

"Berhenti!" bentak orang itu keras-keras.

Mendengar bentakan tersebut, tergopoh-gopoh kedua orang itu membalikkan badan dan segera melarikan diri terbirit-birit. Siapa tahu saking cepatnya mereka membalikkan diri, membuat kedua orang itu kehilangan keseimbangan badan. Tak ampun lagi, "Bluk!" keduanya roboh terjengkang ke atas tanah.

Terutama sekali So Tay Siu yang sudah pecah nyalinya, saking sakitnya ia sampai terkencing-kencing dan bergulingan di atas tanah. Keadaannya benar-benar amat mengenaskan. Liau Huan Taysu jauh lebih tabah. Setelah terjatuh, ia segera mencoba untuk bangkit kembali sambil berpikir, "Biarpun aku harus mati, paling tidak harus kulihat macam apakah tampang lawan?"

Berpikir begitu, ia pun mendongakkan kepalanya, tapi dengan cepat ia berteriak gembira, "Paman guru, tolonglah aku!"

Mendengar itu, So Tay Siu ikut pula mendongakkan kepalanya. Ia menjumpai seorang tosu tua telah berdiri di hadapannya sambil memegang sebuah butim. Orang itu bukan lain adalah gurunya sendiri, si Kebutian Baja To It Cing.

"Suhu... uhuk... uhuk... Suhu..."

Menjumpai keadaan murid serta keponakan muridnya yang begitu mengenaskan, si Kebutian Baja To It Cing segera naik pitam. Sambil mendengus dingin ia menegur, "Kalian berdua benar-benar manusia yang tak berguna! Coba kalian saksikan keadaanmu itu, sungguh bikin jengkel hatiku saja."

Tiba-tiba senjata kebutannya ditebaskan ke depan. Segulung angin pukulan yang keras segera menyambar ke muka. Liau Huan Taysu dan So Tay Siu segera menjerit kesakitan dan terguling sejauh tujuh-delapan depa dari posisi semula.

Mendadak terdengar seseorang berseru dengan nyaring, "Sapek, coba kau lihat sendiri, kalau yang kecil tidak digebuki mana mungkin si hidung kerbau tua ini bakal memunculkan diri?"

"Bocah cilik, kau memang hebat," suara yang parau bergema kemudian. "Aku tidak mengerti, kenapa kau bisa memperhitungkan secara tepat kalau si hidung kerbau tua ini bakal menampilkan diri?"

"Oooh, soal itu sih baru kupelajari dari kakekku. Apa kau lupa dengan undangan yang dia berikan kepadaku itu?"

"Haaah... haeah... haaa... setan cilik, rupanya kau sudah mendapat petunjuk."

Si Kebutian Baja To It Cing yang mendengar tanya jawab tersebut segera mendongakkan kepalanya. Ia menjumpai ada seorang kakek dan seorang pemuda berdiri tak jauh dari situ. Sang pemuda tidak ia kenal, tapi yang tua dikenalnya sebagai Kakek Naga Sakti Sin Bun. Hal tersebut membuat hatinya terkesiap.

Dengan kening berkerut, ia segera terbahak-bahak sambil berkata keras, "Haaahh... haaah... haah... bagus sekali kedatanganmu. Tadinya aku sedang berpikir-pikir siapa gerangan yang berani melukai anak muridku, ternyata adalah kau si Kakek Naga Sakti."

Kakek Naga Sakti lalu tertawa tergelak. "Haah, haahh... haah... To It Cing, sejak berpisah tiga puluh tahun sudah lewat, aku sudah menduga bahwa cepat atau lambat kau tentu akan balik kembali ke daratan Tiongkok. Tapi begitu pun lebih baik, jadi aku tak usah bersusah payah pergi ke Ho Lau San untuk menyambangimu."

Si Kebutian Baja To It Cing mendengus dingin. "Hmm, hutangmu semenjak tiga puluh tahun berselang tak pernah kulupakan sedetik pun. Cuma aku lihat perbuatanmu yang telah mencelakai anak muridku dengan cara yang begitu keji, kelewat merendahkan derajat dirimu sendiri."

"Haah... haah... haah... To It Cing, yang melukai anak muridmu itu orang lain. Jangan kau tuduh diriku semau hatimu sendiri."

"Hmm, siapakah dia?"

Sik Tiong Giok yang berada di samping segera membusungkan dadanya dan berkata, "Aku adalah Pangeran Serigala Langit Sik Tiong Giok, dan akulah yang telah melukai si keledai gundul yang tolol itu."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment