Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 58

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 58

"Ada apa? Kau tidak puas?" Si Kebutaan Baja, To It Cing, menjadi amat gusar. Sambil melototkan matanya bulat-bulat, dia membentak keras, lalu senjatanya dikebutkan ke depan hingga menimbulkan sambaran angin serangan yang amat kuat.

Angin serangan tersebut menyambar ranting dan dedaunan hingga berguguran ke tanah. Bagaikan sambaran petir, serangan itu langsung menerjang ke arah Sik Tiong Giok.

Kakek Serigala Langit yang menyaksikan kejadian itu segera tertawa terbahak-bahak, "Haahh... haaaah... haah... To It Cing, aku lihat kepandaian dan silatmu telah memperoleh kemajuan yang pesat. Mari kita berdua saja yang bertarung!" Sembari berkata, dia lantas menancapkan tongkat penakluk naganya ke atas tanah, kemudian sepasang tangannya diayunkan ke depan, melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Ketika angin pukulan yang dilancarkan To It Cing bertemu dengan serangan tersebut, pancaran hawa serangan segera menyebar ke empat penjuru dan hilang lenyap begitu saja.

Diam-diam terkejut juga Kakek Naga Sakti setelah menyaksikan peristiwa tersebut. Pikirnya, "Hmm, baru berapa tahun tidak bersua, nampaknya kepandaian silat yang dimiliki kakek hidung kerbau ini sudah memperoleh kemajuan yang lumayan!" Sik Tiong Giok dapat pula menyaksikan kedahsyatan dari angin serangan tersebut; tanpa terasa dia menjulurkan lidahnya dengan penuh kekaguman.

Sebaliknya, To It Cing yang menyaksikan kekuatan angin pukulan dari Kakek Naga Sakti pun dibuat terkesiap. Katanya kemudian dengan suara dalam, "Sin Bun, mari kita perhitungkan dulu utang-utang lamamu. Ayo, cepat kau persembahkan batok kepalamu!"

Kakek Naga Sakti tertawa terbahak-bahak, "Haaah... haah... haaah... aku sudah lama mempersiapkan diri untuk menyambut pembalasanmu. Ayo, silakan!" Lalu, dicabut kembali tongkat penakluk naganya dan bersiap-siap melancarkan serangan.

Sik Tiong Giok segera menyerobot maju ke muka dan berseru, "Supek, biar tecu saja yang membereskan si hidung kerbau tua ini."

"Bocah cilik, kau benar-benar tidak tahu diri," cegah Kakek Naga Sakti sambil merentangkan tongkat penakluk naganya ke depan. "Jelek-jelek begini, orang lain sudah hidup selama enam puluh tahun lamanya, mana kau sanggup menghadapinya? Apalagi di antara kami pun masih terikat utang lama, sudah sepatutnya bila kami memanfaatkan kesempatan ini untuk menyelesaikan utang-piutang tersebut." Seusai berkata, dia lantas memutar senjata tongkatnya dan menerobos maju lagi ke depan, kemudian berhenti pada jarak satu kaki di hadapan lawan.

Begitulah untuk beberapa saat lamanya kedua orang itu saling berhadapan tanpa berbicara ataupun bergerak. Lama-kelamaan Sik Tiong Giok dibuat keheranan juga. Pikirnya, "Jangan-jangan kedua orang ini sudah padam ambisinya karena dimakan usia? Mengapa hingga kini belum juga turun tangan?"

Tapi dengan cepat ia dapat merasakan keanehan dari situasi yang dihadapinya. Ternyata, di hadapan kedua orang itu sudah timbul segulung angin pusaran yang amat kencang; begitu kencangnya pusaran tersebut membuat pepohonan di sekelilingnya turut bergetar keras.

Ketika ia mencoba mengamati lagi keadaan kedua orang itu, tampak Kakek Naga Sakti melintangkan telapak tangannya di depan dada dan perlahan didorong ke muka, sementara tangan yang lain tetap menggenggam tongkat penakluk naga yang ditekankan ke atas tanah sehingga melesak ke dalam satu depa lebih.

Di pihak lain, To It Cing melintang pula tangannya di dada dengan senjata kebutannya ditunjukkan ke depan. Getaran keras pun muncul di sekeliling tubuhnya. Setanak nasi sudah lewat, tapi tenaga dalam yang dimiliki kedua orang itu masih tetap berimbang; siapa pun tak berhasil mengalahkan lawannya.

Mendadak To It Cing mendengus lalu berkata, "Sin Bun, kalau pertarungan semacam ini dilanjutkan terus, sampai kapan pertarungan ini selesai? Bagaimana kalau kita berganti dengan cara lain saja?"

"Begitupun boleh juga. Kepandaian apa yang kau miliki, ayo keluarkan semua. Tiga puluh tahun tak bersua, ingin kulihat kepandaian khusus apakah yang kau miliki."

"Baik, jangan menyesal nanti!" To It Cing tertawa dingin. Tiba-tiba dia menyelipkan kembali senjata kebutannya di belakang tubuh, kemudian selangkah demi selangkah mendekati Kakek Naga Sakti sambil berseru, "Sin Bun, kau sendiri yang ingin mampus, jangan kau salahkan diriku."

Kakek Naga Sakti menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. Tubuhnya bergetar keras, peluh sebesar kacang kedelai bercucuran membasahi keningnya. Dalam keadaan demikian, ia tidak sanggup menjawab barang sepatah kata pun.

Dalam waktu singkat, selisih jarak di antara kedua orang itu sudah tinggal tiga depa saja, sementara sepasang kaki si Kakek Naga Sakti sudah melesak sedalam lutut.

Liau Huan Taysu dan So Tay Siu yang menyaksikan kejadian ini menjadi amat girang. Sekalipun harus menahan rasa sakit, mereka beranggapan Kakek Naga Sakti pasti akan mampus kali ini. Berbeda dengan Sik Tiong Giok, makin dipandang hatinya merasa semakin gelisah. Ia sadar, biarpun ia sendiri yang terjun ke arah lawan, belum tentu akan memperoleh keuntungan apa-apa, tapi ia pun tak bisa membiarkan Toa Supek-nya terancam oleh musuh.

Sementara ia masih cemas bercampur gelisah, tiba-tiba Kakek Naga Sakti menekankan tongkatnya ke atas tanah dan melompat mundur sejauh beberapa kaki ke belakang. Dengan membelakangi sebatang pohon, dia berseru sambil tertawa terbahak-bahak, "Haaahah... haah... haah... To It Cing, ternyata kemampuanmu tak lebih cuma begitu saja. Apabila aku sampai dipecundangi olehmu, harus kutaruh ke mana wajahku ini?"

Tiba-tiba dia membalikkan badan dan menempelkan wajahnya di atas batang pohon, seakan-akan ia benar-benar tak punya muka lagi untuk bertemu dengan orang. To It Cing sendiri pun dibuat tercengang oleh kejadian tersebut. Namun, setelah ia membalikkan tubuh dan menyaksikan keadaan pohon tersebut, hatinya terperanjat. Sambil mundur selangkah, pikirnya kemudian, "Tak heran kau tua bangka ini dapat menggetarkan seluruh dunia persilatan, ternyata dia memang mempunyai tenaga dalam yang sukar diukur dengan kata-kata." Rupanya di mana Kakek Naga Sakti membenamkan wajahnya tersebut, pada dahan pohon itu segera muncul cetakan wajahnya yang persis seperti diukir saja.

Untuk beberapa saat lamanya, semua kembali dibuat tertegun dan berdiri melongo. Dari sini dapatlah diduga taraf kepandaian silat yang dimiliki masing-masing pihak. Sik Tiong Giok sendiri pun merasa terperanjat sesudah melihat kejadian ini. Suasana hening mencekam seluruh tempat itu, sedemikian heningnya sehingga terasa agak mengerikan.

Lama kemudian, To It Cing berkata lagi dengan suara lantang, "Sin Bun, dalam hal tenaga dalam pun kita berimbang dan sukar untuk menemukan siapa yang lebih unggul di antara kita. Bagaimana jika kita teruskan dengan pertarungan mati-hidup saja?"

Kakek Naga Sakti tertawa terbahak-bahak, "Haah... haah... haah... beginipun ada baiknya juga, cuma sayang aku masih ada persoalan yang belum terpenuhi, jadi berat juga kalau disuruh mati duluan."

To It Cing kembali mendengus dingin, "Sin Bun, kau tidak usah banyak bacot lagi. Bila raja akhirat sudah menetapkan kau harus mampus pada kentongan kedua, siapa yang sanggup menahanmu sampai kentongan kelima?" Bagaikan seekor burung rajawali dia segera melompat setinggi beberapa kaki; di tengah udara kembali bentaknya, "Manusia she Sin, ayo terima kematianmu!"

Diiringi bentakan keras, senjata kebutannya bagaikan sebuah sapu besar langsung menyapu ke depan. Kakek Naga Sakti berpekik keras, tongkat penakluk naganya diputar kencang-kencang; seperti putaran roda saja bergetar menimbulkan deruan angin kencang.

Bentrokan kekerasan terjadi berulang-ulang, sementara desiran angin serangan mencekam daerah seluas tiga-lima kaki, mengakibatkan dedaunan yang tumbuh di sekeliling tempat itu menjadi rontok dan gundul.

Mendadak suasana berubah menjadi hening, sedangkan kedua sosok bayangan manusia yang sedang bertempur sengit itu hilang lenyap tak berbekas. Sik Tiong Giok menjadi sangat terperanjat; buru-buru dia memeriksa sekejap sekeliling tempat itu, kemudian baru diketahui bahwa kedua orang tersebut sudah berada di luar arena pertarungan.

Waktu itu senjata kebutan milik To It Cing sudah gundul, tinggal gagangnya yang kaku, sedangkan tongkat penakluk naga milik Kakek Naga Sakti mengepulkan asap putih. Tiba-tiba To It Cing tertawa dingin sambil mengejek, "Sin Bun, coba lihat, senjatamu sudah hangus. Aku lihat sudah tak mungkin dapat dipergunakan lagi, lebih baik dibuang saja."

Kakek Naga Sakti tertawa terbahak-bahak, "Haah... haaaah... haaaah... To It Cing, buntut kerbaumu juga sudah pada lepas tinggal tangkai-tangkainya melulu, memangnya masih bisa dipakai untuk bertarung lagi?"

Merah membara sepasang mata To It Cing sesudah mendengar perkataan itu. Segera bentaknya, "Siapa bilang tak bisa dipakai lagi untuk bertarung?" Dengan mengayunkan tangkai senjatanya, dia menerjang maju lagi ke muka. Kakek Naga Sakti mengerti bahwa serangan yang dilancarkan lawan kali ini pasti disertai dengan segenap kekuatan yang dimilikinya. Ia tak berani bertindak gegabah; senjata toyanya segera disiapkan pula untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

"Traang...!"

Ketika sepasang senjata itu saling beradu, terjadilah suara bentrokan keras yang mengakibatkan kedua orang itu sama-sama tergetar mundur ke belakang. Kakek Naga Sakti segera menjumpai kesempatan baik yang tak boleh disia-siakan begitu saja. Dia pencet tombol rahasia yang berada pada toyanya itu sehingga tongkat tersebut terbelah menjadi dua, dan dari dalamnya melompat keluar sebuah kepala naga yang segera menerkam senjata lawan. To It Cing sangat terkejut setelah menyaksikan kejadian ini; cepat-cepat dia menarik kembali senjatanya dan melompat mundur ke belakang, memanfaatkan kesempatan itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment