Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 59

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 59

Kakek Naga Sakti menyodokkan senjatanya ke muka dengan jurus "Naga Sakti Pulang ke Samudra".

Menghadapi kejadian ini, To It Cing segera mengeluarkan jurus "Menyingkap Angkasa Melihat Sang Surya" untuk menghantam kepala naga tersebut.

"Cring!" Akibatnya, tangkai senjata kebutnya itu dihisap oleh kepala naga tersebut.

Ternyata kepala naga yang dipasang Kakek Naga Sakti pada tongkatnya itu berfungsi sebagai besi semberani yang khusus menghisap senjata lawan.

To It Cing baru tertegun sesudah senjatanya terhisap lawan. Sekuat tenaga dia mencoba membetot, siapa tahu senjatanya bagaikan sudah tumbuh akarnya, sama sekali tak mampu ditarik kembali.

Pada detik yang bersamaan, ekor naga menyambar tiba secara mendadak dan mengancam kepala To It Cing.

Di dalam gugupnya, secara tiba-tiba To It Cing melepaskan sebuah pukulan untuk menyambut datangnya sapuan lawan. Akibatnya, telapak tangan yang beradu dengan ekor naga itu terasa amat sakit. Seketika itu juga hawa murninya buyar; hal tersebut menyebabkan paras mukanya berubah pucat.

Kakek Naga Sakti tertawa dingin. Ekor naga tersebut segera disodokkan ke ulu hati To It Cing sambil ujarnya dengan suara dingin: "Tiga puluh tahun berselang aku pernah minta ampuni selembar jiwamu, maka hari ini aku tak dapat mengampuni dirimu lagi." Sambil berkata ia memperketat serangannya; agaknya To It Cing segera akan tewas di ujung senjata lawan.

Liau Huan Taysu dan So Tay Siu yang melihat kejadian ini segera saling berpandangan sekejap. Kemudian padri bengis itu berkata: "Sute, sudah kau lihat paman guru hampir berangkat pulang ke akhirat, lebih baik kita cepat-cepat kabur saja!" So Tay Siu manggut-manggut, kemudian pelan-pelan merangkak bangun, mencoba untuk menghimpun tenaga, kemudian melarikan diri terbirit-birit.

Mendadak terdengar seseorang membentak keras.

"Tunggu dulu!" Liau Huan Taysu berdua jadi tertegun sesudah mendengar suara bentakan tersebut. Dalam kagetnya, mereka memperlambat langkah kakinya.

Mendadak terdengar lagi seseorang membentak dengan suara yang amat keras.

"Kalian anggap masih bisa kabur dari sini? Tinggalkan dulu nyawa kalian!" Setelah mendengar perkataan yang terakhir ini, kedua orang tersebut baru sadar bahwa mereka harus melarikan diri secepatnya.

Sayang sekali, baru saja kabur sejauh tujuh langkah, tiba-tiba dari arah belakang sudah terasa datangnya sambaran angin tajam yang menghembusi tubuh mereka.

Ternyata Sik Tiong Giok telah mengayunkan dua batang senjata pendek yang persis menancap di atas pantat kedua orang itu hingga tembus pada bagian mukanya.

Diiringi jerit kesakitan yang memilukan hati, kedua orang tersebut segera roboh terjengkang ke atas tanah dan tidak bergerak lagi.

Pada saat itulah, dari atas sebuah batu karang telah melayang turun sesosok bayangan tubuh manusia yang langsung mendorong senjatanya ke tongkat Kakek Naga Sakti.

Begitu merasa akan datangnya serangan angin tajam, cepat-cepat Kakek Naga Sakti menarik kembali senjatanya sambil mengangkat kepala. Ternyata orang itu adalah seorang nikou tua.

Nikou tersebut berwajah keren dan penuh kewibawaan; andaikata rambutnya tidak beruban, orang pasti mengira ia baru berusia dua puluh tahunan.

Nikou tersebut langsung menghadang di hadapan Kakek Naga Sakti, kemudian sambil mengawasi To It Cing, katanya sambil tertawa dingin: "To It Cing, sejak kapan kau kembali lagi ke daratan Tiongkok? Apakah kau sudah lupa dengan sumpahmu dulu?" Tampaknya To It Cing merasa takut sekali dengan nikou tua tersebut. Buru-buru dia memberi hormat berulang kali sambil katanya: "Pinto tak berani melupakan sumpahku di masa lalu, tapi apakah lopousat juga tidak mengizinkan kepadaku untuk pulang menengok sanak keluarga?"

"Tapi mengapa kalian justru saling bertarung?"

"Sin Bun telah melukai anak muridku, apakah aku harus duduk sambil berpeluk tangan belaka?"

Nikou tua itu memandang sekejap ke arah Kakek Naga Sakti, kemudian katanya pula: "Sin Sicu sudah lanjut usia, mengapa kau masih begitu mudah dipengaruhi hawa amarah? Lebih baik janganlah mencampuri urusan orang lagi."

Kakek Naga Sakti tertawa terbahak-bahak. Sebelum mengucapkan sesuatu, Sik Tiong Giok telah menyela. "Anak murid mereka telah merampas kuil dengan kekerasan, berbuat mesum di tempat suci, lalu mempergunakan kuil sebagai tempat menyembunyikan perempuan. Bukan cuma begitu, mereka pun membunuh dan merampok. Ulah mereka telah menodai kesucian ajaran Buddha, apakah perbuatan seperti ini pun tak boleh dicampuri?"

Nikou tua itu segera berkerut kening, lalu ajarnya kepada Kakek Naga Sakti: "Siapa sih Siau Sicu ini?"

"Dia adalah anak keturunan Tio Song, calon pemimpin dunia persilatan saat ini." Sedangkan Sik Tiong Giok segera menyela: "Aku adalah Pangeran Serigala Langit, Sik Tiong Giok!"

Paras muka nikou tua itu agak berubah sesudah mendengar perkataan tersebut. Diawasi wajah Sik lekat-lekat, lama kemudian dia baru menghela napas panjang dan berkata: "Amitabha... nak, semoga Buddha melindungimu."

"Apakah Lo Pousat tidak menaruh belas kasihan terhadap bocah ini?" sela Kakek Naga Sakti sambil tertawa.

Sekulum senyuman yang tak pernah terkulum di wajahnya segera menghiasi ujung bibir nikou tua itu, ujarnya kemudian: "Pinni tidak mempunyai apa-apa kecuali tubuhku ini, sayang aku tak dapat menghadiahkan apa-apa."

"Lo Pousat cukup menghadiahkan setetes air yang ada dalam botol itu saja, rasanya pemberian tersebut sudah lebih dari cukup untuk bocah ini."

Nikou tua itu kembali tersenyum dan mengangguk pelan.

Buru-buru Kakek Naga Sakti menarik tangan Sik Tiong Giok sambil berkata: "Nak, cepat berlutut dan mengucapkan terima kasih, kesempatan sebaik ini tak akan kau jumpai dalam waktu lain."

Sik Tiong Giok agak tertegun sejenak, tapi sesudah memandang sekejap ke arah Kakek Naga Sakti, ia berlutut seraya berseru: "Sik Tiong Giok memberi hormat buat Lociapwee."

"Nak, kau seharusnya memanggil Cou Koh kepadanya," sela Kakek Naga Sakti.

"Sudahlah," nikou tua itu menghela napas panjang. "Sekarang aku sudah menjadi murid Buddha, aku tak ingin dibebani dengan segala adat istiadat orang awam. Nak, kau cukup memanggil Gho Lonie saja kepadaku."

"Begitupun baik juga," Kakek Naga Sakti manggut-manggut. "Cuma akan menurunkan derajat Tuan Putri."

"Aaai, Thian An Kuncu yang dulu sudah tewas di tangan Thio Hongnui. Aku adalah aku, urusan yang sudah lewat buat apa mesti disinggung kembali?" Berbicara sampai di situ, dia mengeluarkan sebuah gulungan dan melemparkannya ke hadapan Sik Tiong Giok sambil ujarnya: "Benda ini merupakan peninggalan Tay Coa Hongtee di masa lalu. Semoga kau dapat memandang benda ini sebagai warisan leluhurmu. Bila menjumpai kesulitan, tiga bulan kemudian kau boleh datang ke puncak Hu Yong Hong di Bukit Hoa San untuk menjumpai diriku."

Selesai berkata, dia berpaling memandang ke arah To It Cing, namun orang yang dicari sudah lenyap dari pandangan mata. Karena itu ujarnya kemudian kepada Kakek Naga Sakti: "Kalau begitu Lonie mohon diri lebih dulu." Dia pun tidak menunggu Kakek Naga Sakti memberi jawaban, tubuhnya sudah berkelebat sejauh satu kaki lebih, kemudian dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Sik Tiong Giok masih berlutut di atas tanah dengan wajah termangu-mangu hingga bayangan si nikou tua itu lenyap. Dia baru memungut gulungan surat itu dan bangkit berdiri, katanya kemudian bimbang: "Toa Supek, siapa sih nikou tua itu? Mengapa kalian nampak ketakutan terhadapnya? Apakah dia memiliki ilmu silat yang sangat tinggi?"

Kakek Naga Sakti segera menghela napas panjang: "Asalnya dia adalah adik dari Toa Tiong Hongtee dari Kerajaan Song. Kalau dihitung-hitung, masih merupakan Cou Koh (adik Kakek)-mu. Berbicara soal ilmu silat, dia pun terhitung jagoan nomor wahid di kolong langit, tentu saja kemampuannya luar biasa. Cepat kau periksa benda apakah yang diberikan kepadamu itu."

Sik Tiong Giok menurut dan segera membuka gulungan kain surat tersebut. Ternyata isinya adalah sejilid kitab; pada sampul depan kitab tersebut tertuliskan beberapa huruf yang berbunyi: "Kangou Cap Pwee Tah", karya Tay Cou.

Sementara Sik Tiong Giok masih tertegun karena tidak mengerti, sebaliknya Kakek Naga Sakti meloncat-loncat kegirangan, serunya dengan wajah berseri: "Bocah cilik, kau benar-benar punya rezeki bagus. Dengan mengandalkan isi kitab tersebut, sudah cukup bagimu untuk menjagoi dunia persilatan."

"Toa Supek, aku tidak mengerti apa sih yang disebut Kangou Cap Pwee Tah itu?"

"Yang dinamakan Kangou Cap Pwee Tah adalah sejilid kitab pusaka ilmu silat yang amat tangguh, kau tahu? Dengan mengandalkan kepandaian inilah Tay Cou Hongtee pernah memukul rata seluruh kolong langit di masa lampau dan mendirikan Dinasti Song."

"Benarkah ilmu silat yang tercantum di dalamnya begitu hebat dan luar biasa?"

"Tentu saja yang dimaksudkan sebagai Kangou Cap Pwee Tah meliputi kelebihan-kelebihan yang dimiliki berbagai aliran ilmu silat yang ada di dalam dunia persilatan saat ini, baik ilmu senjata, ilmu tangan kosong, maupun tenaga dalam. Hampir semuanya terkandung di dalamnya yang kemudian dipetik inti sarinya dengan tercipta menjadi delapan belas jurus, itulah sebabnya dinamakan Delapan Belas Pukulan Dunia Persilatan. Bayangkan sendiri, masa tidak ampuh?"

Sik Tiong Giok menjadi gembira sekali sesudah mendengar perkataan itu, katanya kemudian sambil tertawa: "Apabila jurus-jurus silat tersebut demikian tangguhnya, bila telah berhasil mempelajarinya, bukankah aku bakal tiada tandingannya lagi di kolong langit?"

"Bila ingin menjadi seseorang yang tiada tandingannya di kolong langit, maka seseorang bukan cuma harus mengandalkan keberanian saja, tapi kecerdasan otaklah yang memegang peranan penting," kata Kakek Naga Sakti sambil tertawa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment