Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 60

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 60

"Nak, kau harus mengasah otakmu tajam-tajam, mengerti?" Sementara pembicaraan masih berlangsung, sepasang mata Sik Tiong Giok terus mengawasi Liau Huan Taysu dan sitosu buas yang tergeletak di tanah. Ia lalu berkata sambil tertawa, "Supek, aku tidak membohongimu. Coba lihat, bukankah tidak satu pun dari mereka berdua berhasil meloloskan diri?"

"Ya, kau memang hebat!" Kakek Naga Sakti tertawa senang. "Bila dibandingkan dengan Kakek Serigala Langit di masa lampau, kau memang jauh lebih tangguh. Sudah sepatutnya mereka menerima ganjaran demikian. Apa aku yang keji? Dengan begitu, aku dan kau bisa memberikan pertanggungjawaban kepada Ji Supek-mu."

Menyinggung soal Kakek Bangau Sakti, tiba-tiba melintas dalam benak Kakek Naga Sakti. Buru-buru ia berkata, "Bila tidak kau singgung, hampir saja aku melupakannya. Ayo berangkat! Kita harus segera menyusul ke tebing Bee Hwee Nia. Entah bagaimana hasil pertandingan Ji Supek-mu dengan perempuan ular tersebut?"

"Betul!" sahut Sik Tiong Giok dengan kening berkerut. "Memang sudah seharusnya kita menyusul mereka." Selesai berkata, ia menyimpan kitab pusaka itu ke dalam sakunya, kemudian mereka berdua berangkat menuju ke depan.

Ketika tengah hari baru lewat, mereka tiba di tebing Bee Hwee Nia. Tiba-tiba, dari bawah tebing terdengar suara orang sedang mengumpat. Kakek Naga Sakti segera memberi tanda kepada Sik Tiong Giok. Dengan langkah sangat berhati-hati dan bersembunyi di balik pepohonan rimbun, mereka melongok ke bawah.

Di bawah tebing terdapat tanah lapang yang luasnya mencapai setengah li. Lamat-lamat tampak sebuah rumah berdiri di sana. Di depan rumah, kelihatan seseorang sedang bertarung melawan seekor bangau, sedangkan di tanah lapang berdiri tiga orang. Seseorang berpakaian aneh adalah Pat Huang Sin Mo Mo Siacu, sedangkan dua orang lainnya adalah Kakek Sakti An Ning serta Ku Tiok Lojin. Jika ditinjau keadaannya, mereka sudah kalah.

Tiba-tiba Kakek Bangau Sakti berkata, "Hei, bambu kurus, bagaimana keadaanmu? Benarkah kau tak mampu menyambut seluruh jurus serangan dari anak iblis tersebut?"

Sesudah mengembuskan napas panjang, Ku Tiok Lojin menjawab, "Itik liar, kau tak usah berkata lagi. Iblis terkutuk ini memang benar-benar menjengkelkan. Setiap jurus serangannya berhasil menghajar kita secara telak, sebaliknya setiap serangan yang kita lancarkan tak ada yang mengena. Biar seratus jurus pun, apa gunanya?"

Sementara itu, Pat Huang Sin Mo tampak tidak sabar. Tiba-tiba ia berteriak, "Sudah selesaikah kalian berunding? Bila tak mampu menyambut sepuluh jurus seranganku, lebih baik cepat beritahu kepadaku, di manakah Sik Tiong Giok, si bocah cilik itu, sekarang?" Mendengar perkataan tersebut, kedua orang itu hanya bisa saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Kakek Bangau Sakti termenung sebentar. Ia merasa malu sekaligus marah. Akhirnya, sambil menggertakkan gigi, ia berseru, "Baik, biar aku yang turun ke gelanggang lebih dulu!" Di tengah bentakan keras, sepasang telapak tangannya diayunkan ke depan, melepaskan pukulan yang mahadahsyat. Namun, sekali berkelebat, Pat Huang Sin Mo sudah menyelinap ke samping dan lenyap dari pandangan.

Tiba-tiba Ku Tiok Lojin berteriak keras, "Hei Itik Liar, hati-hati belakangmu!" Kakek Bangau Sakti mendengus dingin. "Hmm, lihatlah seranganku yang kedua." Sambil berbicara, ia membalikkan lengan dan melancarkan satu bacokan lagi. Ia menyangka pihak lawan pasti akan menghindar lagi. Siapa sangka, saat ia berbalik, bayangan tubuh Pat Huang Sin Mo kembali lenyap tak berbekas. Baru saja ia terkejut, dari belakang terdengar seseorang mencemooh sambil tertawa dingin, "Orang she An, kedua seranganmu itu masih kurang sempurna. Mengapa kau tidak mencoba menerima satu pukulanku sebagai contoh?"

Baru saja perkataan itu berkumandang, seseorang berseru dengan lantang, "Apa hebatnya pukulanmu itu? Paling banter cuma kucing berkaki tiga!" Mendengar seruan itu, Pat Huang Sin Mo segera membalikkan badan. Tak jauh di hadapannya berdiri Sik Tiong Giok. Tanpa terasa, Pat Huang Sin Mo mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak. "Hah, hah, hah... bocah keparat, kau belum mampus rupanya?"

"Seandainya aku sudah mampus, siapa lagi yang akan datang untuk melenyapkan iblis macam dirimu?" sahut Sik Tiong Giok dengan nada dingin.

Pat Huang Sin Mo mendengus. "Bagus, hari ini akan kulihat bagaimana kau mengorbankan nyawamu." Di tengah bentakan, lengannya diputar kencang dan segulung angin pukulan menyambar ke depan. Sik Tiong Giok mengetahui kemampuan tenaga dalam lawannya, sehingga ia tidak gegabah. Ia cepat-cepat menggeser posisi ke samping sambil melepaskan pukulan balasan.

Ketika dua gulung angin pukulan bertemu, timbullah suara ledakan yang memekakkan telinga. Tenaga dalam Sik Tiong Giok masih kalah setingkat, kuda-kudanya goyah dan ia mundur tiga langkah dengan sempoyongan. Bahu kirinya terasa sakit, bagaikan ditindih batu cadas seberat ratusan kati. Meski kalah, keadaannya masih lebih baik dibandingkan tempo hari. Sejak memasuki Istana Cui Wi Kiong, ilmu silatnya berkembang pesat di bawah bimbingan Siong He Lojin; hanya tenaga dalamnya yang masih kurang.

Pat Huang Sin Mo terkekeh menyeramkan. "Heeh, heeh, heeh... bocah keparat, dalam pertarungan lampau kau berhasil lolos, tapi hari ini, aku tak akan membiarkan kau hidup terus." Pukulan mahadahsyat kembali dilontarkan, anginnya kuat seperti amukan ombak. Sik Tiong Giok tidak mundur, ia menghimpun tenaga dan menyambut serangan tersebut.

Blam! Suara ledakan keras bergema. Pat Huang Sin Mo menjerit kaget karena tubuhnya terpental mundur sejauh satu kaki lebih. Bukan hanya Pat Huang Sin Mo yang terkejut, Kakek Bangau Sakti dan Ku Tiok Lojin pun membelalakkan mata lebar-lebar. Mereka tidak percaya Sik Tiong Giok yang muda belia memiliki tenaga dalam sempurna hingga sanggup memukul mundur Pat Huang Sin Mo.

Pat Huang Sin Mo berpikir dengan heran, "Benar-benar aneh, hanya beberapa hari tak bersua, kenapa tenaga dalam bocah keparat ini bisa meningkat sedemikian besar? Jangan-jangan dia memiliki ilmu sesat?"

Ia tidak tahu bahwa selama beberapa hari ini, Sik Tiong Giok mendapatkan petunjuk dari Siong He Lojin tentang bagaimana menggabungkan dua kekuatan menjadi satu—yaitu menambahkan tenaga sendiri dengan tenaga pukulan lawan untuk serangan balik. Selain itu, Sik Tiong Giok telah melatih ilmu pukulan *Cap Ji Jian Jiu* yang termasyhur karena kecepatan dan ketepatannya. Saat dua angin pukulan bertemu, ia mengembalikan tenaga gabungan itu ke tubuh lawan.

Untung saja ilmu silat iblis tua itu cukup tangguh, sehingga ia berhasil menarik tenaga pukulan tersebut dan lolos dari maut. Meski tidak berhasil melukai iblis itu, serangan Sik Tiong Giok membuat nyalinya ciut. Ia mengawasi lawan mudanya lekat-lekat, melompat ke hadapan Sik Tiong Giok, dan berseru sambil tertawa dingin, "Bocah keparat, kau memang amat cerdas. Sambut sekali lagi seranganku ini!" Belum selesai ia berkata, bayangan tubuhnya sudah berkelebat. Sebelum Sik Tiong Giok sadar akan bahaya, iblis itu sudah menyerang dari belakang tubuhnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment