Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 62

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 62

Sayang sekali, betapapun sempurnanya ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, bagaimana mungkin ia dapat menandingi kecepatan gerak bangau saktinya? Terdengar suara pekikan keras, sesosok bayangan putih terbang menembusi angkasa, kemudian bagaikan meteor, ia menukik ke bawah dan menyambar kepala iblis wanita itu lagi.

Perempuan tersebut menjadi kaget setengah mati. Bagaikan sukma melayang meninggalkan raganya, ia berpikir dalam hati, "Aduh, celaka!" Belum habis ia berpekik, segulung desingan angin serangan yang sangat kuat telah menyambar tiba. Tahu-tahu, tubuhnya terasa enteng dan lengannya bagaikan tertumbuk oleh benda yang sangat berat; ia segera terlempar sejauh tiga sampai empat kaki dari posisi semula.

Masih untung saja ia tidak panik dalam bahaya. Dengan menyusutkan badannya sekuat tenaga, ia menerobos masuk ke dalam sebuah celah di atas batu tebing. Celah tebing itu lebarnya hanya satu depa dan persis dilalui saja, dengan demikian bangau tersebut tak mampu lagi untuk melakukan pengejaran lebih jauh.

Setelah berada di dalam celah sempit itu, Coa Ci Moli mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap sinar surya di luar sana, kemudian sambil menghela napas, ia berpikir, "Aai, akhirnya berhasil juga kuloloskan diri dari pengejaran musuh. Akan kulihat dengan cara apa kau, si binatang bersayap, bisa mengejarku kemari. Hmm, asalkan aku, Pek Soh Cing, dapat keluar dari wilayah Kiu Nia dalam keadaan selamat, aku bersumpah akan membekuk kau, si binatang, dan meremas-remasnya sampai mampus."

Sementara ia masih menyumpah, tiba-tiba terasa ada angin tajam menyambar datang. Sewaktu ia mendongakkan kepalanya, pucat piaslah paras muka perempuan ini. Rupanya si bangau yang gagal mengejar musuhnya segera mempraktikkan kebolehannya dalam menangkap ular dengan mematuki batuan di sekitar celah tebing itu. Akibatnya, batu dan pasir berguguran ke dalam celah tersebut dengan sangat hebatnya.

Dengan cepat, Coa Ci Moli memperhatikan sekeliling tempat itu. Ternyata, celah itu lebarnya dua depa dengan panjang tidak sampai satu kaki. Bila hancuran batu berguguran tiada hentinya, biar tak sampai mati tertimpuk batu, paling tidak ia pun bakal mati terkubur hidup-hidup. Coa Ci Moli mulai kebingungan setengah mati; ia tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Mendadak, bahunya kejatuhan batu cadas yang amat besar. Rasa sakit akibat kejatuhan batu itu membuat perempuan tersebut meringis sambil melelehkan air mata.

Sementara ia masih kebingungan mencari tempat persembunyian, tiba-tiba sorot matanya menangkap semak belukar tak jauh di sampingnya. Satu ingatan segera melintas, pikirnya, "Mengapa aku tidak bersembunyi di balik semak belukar saja? Daripada kejatuhan batu, kan enakan berada di situ?" Dalam keadaan demikian, perempuan tersebut tidak berkesempatan untuk berpikir lebih jauh. Dengan cepat, ia menerjang ke arah semak belukar itu.

Namun, sebuah batu besar kembali menjatuhi pinggulnya, kontan saja membuat perempuan itu menjerit kesakitan. "Aduuuhh..." Tapi menyusul kemudian jeritan kaget yang memanjang, "Aaaah..." Ternyata di balik semak tersebut terdapat sebuah lubang yang dalamnya tak terkirakan. Serta-merta ia mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke dalam. "Plung!" Kalau didengar dari suara pantulannya, gua itu seperti tidak terlalu dalam.

Padahal hujan batu telah berhamburan dengan derasnya. Pada hakikatnya, Coa Ci Moli tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk berpikir lebih jauh. Maka, tanpa berpikir panjang lagi, ia melompat masuk ke dalam gua itu, memasang obor, kemudian memperhatikan sekeliling tempat itu yang merupakan sebuah lorong panjang.

Dengan diterangi cahaya obor, selangkah demi selangkah perempuan itu maju ke depan. Mendadak, dari arah belakang terdengar suara gemuruh yang amat keras. Tampaknya si bangau itu semakin kalap dan mematuk batuan makin gencar. Menjumpai keadaan tersebut, dengan perasaan geli perempuan itu lantas berpikir, "Akan kulihat apa yang bisa kau lakukan terhadapku, binatang sialan! Kau anggap bisa membunuh aku dengan guguran batu tersebut?"

Ketika sudah berjalan puluhan kaki jauhnya, mendadak dari arah depan sana terdengar suara air yang amat gemuruh keras. Ketika ia mencoba mendongakkan kepalanya, tampak setitik cahaya menyorot masuk dari situ; pancuran air tersebut membentuk sebuah air terjun yang sangat deras. Ternyata melewati air terjun, obornya padam terkena hawa dingin dan percikan air yang keras. Untung saja masih ada cahaya yang menyorot ke dalam sehingga secara lamat-lamat ia dapat melihat keadaan di sekeliling tempat itu.

Di depan matanya sekarang terbentang sebuah gua batu karang. Suara gemuruh secara lamat-lamat berkumandang dari balik gua itu, sedangkan di mulut gua berdiri sebuah tugu yang bertuliskan: 'LUI SIN TONG!' Ketika membaca ketiga huruf tersebut, bagaikan disengat oleh ular beracun, Coa Ci Moli merasakan hatinya bergetar keras. Tanpa berpikir panjang, ia membalikkan badan kemudian melarikan diri ke depan. Siapa tahu dalam gugupnya ia tak sempat lagi memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu; seharusnya ia melewati air terjun kemudian lari keluar gua, namun perempuan tersebut justru malah kabur ke dalam gua.

Menanti ia menyadari kesalahan tersebut dan bersiap-siap untuk balik kembali keluar gua, mendadak terdengar suara gemuruh yang keras sekali. Kemudian dari langit-langit gua muncul sebuah batu besar yang persis menghambat jalan perginya. Atas terjadinya peristiwa tersebut, Coa Ci Moli menjadi gugup bercampur gelisah. Tanpa berpikir panjang lagi, ia mendorong batu besar itu dengan sepenuh tenaga. Sayang sekali tenaganya terlampau kecil, ibaratnya seekor capung mendorong batu besar; jangan lagi bergeser, bergoyang sedikit pun tidak.

Pada saat inilah, tiba-tiba dari celah tanah gua tersebut muncul asap putih yang kian lama kian menebal, sementara suara gemuruh pun dari kecil makin lama semakin besar. Akhirnya, bagaikan selaksa kuda yang lari bersama, Coa Ci Moli dibuat pusing tujuh keliling, menyusul kemudian roboh terjengkang ke atas tanah dan tidak sadarkan diri.

Perlu diketahui, tempat ini merupakan lorong air menuju ke sungai; orang setempat menamakannya Tay Lui Ko. Setiap tengah hari lewat, dari dasar bumi akan timbul suara gemuruh yang amat memekikkan telinga dan sejak ribuan tahun berselang sudah dianggap sebagai tempat yang keramat. Itulah sebabnya tempat tersebut dinamakan Lui Sin Tong. Gara-gara ingin menghindari guguran batu cadas, Coa Ci Moli telah salah memasuki gua Lui Sin Tong. Akibatnya, ia terkurung di dalam gua tersebut dan harus membayar semua dosa-dosa yang pernah diperbuatnya.

Di saat Coa Ci Moli terperangkap di dalam gua Lui Sin Tong, Sik Tiong Giok sekalian juga telah menyusul ke situ; sementara si bangau masih mematuk tiada hentinya. Kakek bangau sakti segera melongok ke dalam gua itu sekejap. Ketika tidak dijumpai bayangan manusia, buru-buru ia berseru kepada bangau tersebut, "Hok Ji, orangnya saja sudah kabur, buat apa kau mengumbar terus amarahmu?" Bangau itu berpekik keras, lalu memandang sekejap ke bawah celah. Sesudah itu, ia baru menggosok-gosokkan lehernya pada pangkuan kakek bangau sakti dan berlalu dari situ.

Dalam pada itu, di dalam rumah gubuk, Ki Thian Bin sedang berpelukan dengan putranya diiringi isak tangis yang amat mengharukan. Hoa Tuo bertangan racun, Pui Cu Yu, dan Pertapa nelayan bertangan baja, Siau Kun, masih duduk bersila mengatur pernapasan. Hanya si lengan baja, Ciu Siang, dan kalajengking kecil, Siu Cing, masih ribut bertaruh.

Terdengar Siu Cing sedang berkata, "Aku tebak si perempuan ular itu pasti tak mampu mengungguli si bangau putih, kau berani bertaruh denganku?"

"Aku tebak si bangau putih yang tak mampu memenangkan perempuan ular. Masa kau pernah mendengar ada burung bisa mengungguli manusia? Kenapa aku tidak berani bertaruh? Kau ingin bertaruh apa?"

"Baik, jika aku yang kalah, maka aku akan mengakui dirimu sebagai guruku, bagaimana dengan kau?"

"Jika aku yang kalah, aku pun akan mengakuimu sebagai suhu!"

Belum selesai mereka berbicara, mendadak dari belakang mereka mendengar seseorang berkata sambil tertawa, "Kalian berdua sama-sama kalah, sebab ketika Coa Ci Moli berhasil melukai sebuah sayap si burung bangau, ia sendiri pun kena dikejar oleh si burung hingga kabur."

Mendengar perkataan tersebut, keduanya segera berpaling. Ternyata, orang yang berdiri di belakang mereka adalah Pangeran Serigala, Sik Tiong Giok. Tiba-tiba saja Ciu Siang melompat sambil berteriak, "Pangeran cilik, sejak kapan kau datang kemari? Kenapa tidak memanggil Ciu Siang?"

Teriakan tersebut dilakukan dengan suara yang amat keras sehingga mengejutkan Pui Cu Yu dan Siau Kun. Ketika membuka matanya dan menjumpai Pangeran Serigala Sik Tiong Giok berada di hadapannya, cepat-cepat mereka bangkit berdiri dan memberi hormat.

"Hamba menjumpai Pangeran cilik!"

"Aaaah, kalian memang gemar banyak adat saja," kata Sik Tiong Giok sambil menggelengkan kepalanya dan tertawa, "bagaimana dengan luka yang kalian derita, tidak parah, bukan?"

Siau Kun tertawa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment