Chapter 63
"Seorang tabib sakti hadir di sini, masa racun ular bisa melukai kami?"
"Cuma, Saudara Ki, aku khawatir..."
"Mengapa? Parahkah luka yang dideritanya?"
"Nyawanya sih tidak perlu dikhawatirkan, yang kita risaukan adalah kepandaian silat yang dimilikinya."
Ketika mendengar perkataan tersebut, Ki Thian bin dengan suara yang lemah segera berseru sambil tertawa nyaring, "Ki Thian bin bisa mempertahankan selembar nyawa pun sudah merupakan suatu keberuntungan, masa berani mengharapkan yang muluk-muluk lagi?"
Sik Tiong Giok segera berpaling ke arah Pui Cu Yu, kemudian bertanya, "Pui Cianpwee, apakah kau mempunyai cara yang bisa memulihkan kembali ilmu silat yang dimiliki Ki Locianpwe?"
Pui Cu Yu termenung sejenak, kemudian baru menyahut, "Ada sih ada, cuma obat mustika itu yang sukar diperoleh."
"Entah obat apa saja yang dibutuhkan dan bagaimanakah sulitnya?"
"Obat itu adalah darah kelabang seribu tahun dan jengger bangau berusia ratus tahun."
"Hei, bukankah bahan obat yang kau sebutkan sangat beracun? Kena sedikit saja bisa mengakibatkan kematian, mana bisa digunakan sebagai bahan obat?" tanya Sik Tiong Giok dengan terkejut bercampur keheranan.
"Kini Saudara Ki sudah keracunan hebat. Dengan dipergunakannya kedua macam bahan obat tersebut, sebenarnya aku berniat hendak mempergunakan sistem racun melawan racun untuk memunahkan racun tersebut. Hanya masalahnya, mungkin dia pun tak akan tahan menghadapi keadaan tersebut."
Sik Tiong Giok segera termenung setelah mendengar ucapan itu. Satu ingatan melintas dalam benaknya, segera ia berpikir, "Menolong diri sendiri, menolong orang lain, nampaknya aku harus melakukan perjalanan menuju ke Bukit Pay Lau San."
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar Kakek Bangau Sakti berteriak keras, "Hai, Pui Tua! Kau si tukang jual jamu, jangan berbicara seenaknya dengan ngoceh tak karuan. Belum pernah kudengar ada orang memakai darah kelabang untuk mengobati racun ular."
Pui Cu Yu segera mengangkat kepalanya. Ketika melihat Kakek Bangau Sakti, ia segera berkata pula sambil tertawa, "Wah, ini namanya jodoh. Dengan kehadiran kau si Bangau Sakti, maka tidak sulit kuperoleh darah bangau berusia seratus tahun. Cuma, kau keberatan tidak?"
"Tidak bisa," Kakek Bangau Sakti segera menggeleng. "Bangau tersebut sudah terluka cukup parah, lebih baik biarkan ia beristirahat dulu. Masa kita akan mengambil darahnya lagi?"
Ku Tiok Lojin tertawa terbahak-bahak, mendadak ia menyela, "Bagi orang kuno, mengorbankan selembar jiwa pun tidak keberatan, masa untuk setetes darah itik liar pun kau keberatan? Apakah tidak membuat hati orang kecewa saja?"
Dengan wajah merah padam, cepat-cepat Kakek Bangau Sakti berkata lagi, "Siapa bilang aku tidak bersedia? Cuma saat ini masih belum bisa kupenuhi, harus menanti dua hari lagi. Bila luka yang diderita bangauku telah sembuh, darah itu baru diambil. Sudah mengerti?"
"Baik, anggap saja aku memang sudah mendengar sangat jelas," Ku Tiok Lojin tertawa. "Hei, Pui Tua, sekarang darah bangau sudah tersedia, apa lagi yang kurang?"
"Masih kurang darah kelabang berusia seribu tahun. Aku rasa darah ini yang paling sukar diperoleh."
Mendadak Sik Tiong Giok menimbrung, "Kau tidak usah khawatir, aku dapat berusaha keras untuk mendapatkan benda tersebut. Sekarang lebih baik kalian bawa dulu Ki Locianpwe pulang ke Say Leng Sia, biar mereka ayah dan anak berkumpul menjadi satu. Aku akan usahakan darah tersebut secepatnya."
"Tolong tanya, sementara ini Pangeran Cilik berdiam di mana?" tanya Siau Kun.
Sebelum Sik Tiong Giok menjawab, tiba-tiba dari arah pintu terdengar seseorang menjawab, "Untuk sementara waktu ia berdiam di Istana Cui Wi Kiong. Ah, tentunya kalian tak usah khawatir, bukan?"
Ketika mendengar seruan tersebut, semua orang segera berpaling. Ternyata orang yang muncul dari depan pintu adalah Kakek Naga Sakti.
Cepat-cepat Sik Tiong Giok bertanya, "Toa Supek, barusan kau pergi ke mana?"
"Aku telah bertemu dengan seorang sahabat karibku sehingga berbincang-bincang beberapa saat," kata Kakek Naga Sakti sambil tertawa. "Siapa tahu keramaian di sini telah selesai. Pat Huang Sin Mo kabur dengan membawa luka, tapi bagaimana dengan perempuan ular itu?"
"Dia pun kabur setelah melukai sebuah sayap bangaumu."
"Kalau begitu kau sudah tak mungkin tenang lagi," ucap Kakek Naga Sakti tertawa, "begitupun ada baiknya. Sudah banyak tahun kita tak pernah menempuh perjalanan bersama-sama, sekarang memang kita harus banyak berkumpul."
"Toa Supek, kau telah bertemu siapa?" sela Sik Tiong Giok lagi.
"Kau tak akan kenal dengan orang ini, namun justru amat bermanfaat bagimu. Dia adalah Tee Heng Ay Siu (Kakek Cebol Berjalan di Tanah) Kongsun Swan."
"Eeei, kok bisa dia?" tiba-tiba Ku Tiok Lojin menjerit kaget, "nampaknya badai sudah mulai melanda dunia persilatan, sampai-sampai si Tikus Bawah Tanah yang sudah lama mengundurkan diri dari dunia persilatan pun muncul kembali."
Kakek Naga Sakti tertawa, "Jangan lagi dia, Leng San Sam Yu pun tak akan bisa melewati hidupnya tenang. Aku telah mengundangnya untuk berjumpa di Istana Cui Wi Kiong, ayo kita harus berangkat."
Baru saja dia hendak membalikkan badan, sorot matanya segera bertemu dengan Pertapa Nelayan Berangan Baja, Siau Kun. Sambil menghentikan langkahnya, ia berkata, "Siau Lote, kalian harus secepatnya kembali ke Say Leng Sia. Ingat, hati-hati dengan serangan, jangan bertindak ceroboh. Bisa jadi Rasu Serigala Langit akan datang mencari gara-gara, mengerti?"
Sik Tiong Giok menjadi tertegun, buru-buru ia bertanya, "Supek, benarkah itu? Kalau begitu aku harus secepatnya pulang ke rumah."
"Saat ini sih belum sampai segawat demikian, tapi lebih berhati-hati toh ada baiknya juga. Kau masih ada urusan, pulanglah dua hari kemudian."
Sementara masih berbicara, tubuhnya sudah berada di luar pintu, Ku Tiok Lojin dan Kakek Bangau Sakti segera mengikuti pula di belakangnya. Dengan demikian tinggal Sik Tiong Giok, Siau Kun, Pui Cu Yu, Ciu Siang, dan Siu Cing. Namun, setelah berbincang sebentar, mereka pun berlalu dari situ.
Memandang sehingga semua orang sudah pergi jauh, si Hoa Tuo Bertangan Racun Pui Cu Yu baru berkata kepada Siau Kun, "Saudara Siau, kita harus pergi pula dari sini. Siapa tahu kalau sudah terjadi sesuatu di Say Leng Sia?"
Siau Kun manggut-manggut. "Ya, kita memang harus secepatnya pulang. Bisa jadi di tempat kita telah terjadi sesuatu."
Kedua orang tersebut berunding lagi beberapa saat, kemudian dengan Ki Beng membopong ayahnya, Ki Thian Bin, mereka berangkat meninggalkan Hwee Nia dan kembali ke Say Leng Sia.
Sementara itu, suasana dalam Istana Cui Wi Kiong diliputi oleh kegembiraan, apalagi segenap orang gagah dari segala penjuru dunia telah berkumpul di situ. Sebagai anggota persilatan, mereka boleh dibilang tidak terlalu terikat oleh adat istiadat, oleh sebab itulah pembicaraan dan gurauan di antara mereka berlangsung bebas dan leluasa.
Setelah memperhatikan suasana di dalam istana tersebut, mendadak Kakek Bangau Sakti menghela napas sambil memuji, "Ku Loko memang seorang arsitek yang sangat pandai. Tak nyana kau bisa memilih tempat seperti ini untuk membangun surga dunia, membuat aku benar-benar terbuka matanya."
Ku Tiok Lojin segera mengejek sambil tertawa, "Sesungguhnya kau memang katak dalam tempurung. Berapa besar sih dunia yang sempat kau lihat? Belum pernah melihat Perkampungan Pek Im San Ceng, bukan?"
"Haaahhh... haaahhh... biarpun aku belum pernah menyaksikan pemandangan dari Perkampungan Pek Im San Ceng, namun bisa kuduga pasti bukan gedung mentereng seperti Cui Wi Kiong ini. Aku khawatir jangan-jangan cuma sebuah kebun bambu saja."
Kakek Naga Sakti segera menimbrung pula, "Biarpun pemandangan Istana Cui Wi Kiong amat indah, sayangnya justru tak bisa mengisi perutku yang lapar."
Siong Hee Lojin yang mendengar perkataan tersebut segera tertawa tergelak, "Haaaahh... haaaahh... kehadiran teman lama membuat tempat ini bertambah semarak, masa aku tidak menyiapkan perjamuan yang lezat untuk kalian?"
Sekalipun dia berkata begitu, namun tubuhnya masih tetap duduk tak bergerak, sedangkan pelayan pun tak seorang pun yang nampak memunculkan diri di situ.
Kakek Bangau Sakti segera melotot sekejap ke arah Ku Tiok Lojin, sebaliknya Ku Tiok Lojin cuma tersenyum sambil melengos ke arah lain. Si Lengan Baja Ciu Siang menelan air liurnya yang meleleh keluar dan si Kalajengking Kecil Siu Cing mengerdipkan matanya berulang kali.
Sementara semua orang masih keheranan dibuatnya, tiba-tiba Siong Hee Lojin mengulapkan tangannya.
"Traaaaang..." Tiba-tiba terdengar suara dentingan yang amat nyaring.
Menyusul suara dentingan tersebut, tiba-tiba pintu penyekat bergeser ke samping dan muncullah tujuh orang gadis berbaju hijau yang berjalan mendekat sambil membawa tujuh buah baki besar berisikan arak dan hidangan. Bagaikan berjalan di antara mega, ketujuh orang gadis itu menuruni tangga dan menghampiri mereka.
Kakek Naga Sakti yang menyaksikan kejadian tersebut kontan saja bersorak memuji, "Bagus, tidak kusangka kalau tua bangka ini mempunyai permainan sebagus ini."
"Ehmm, arak wangi, arak wangi!" kata Kakek Bangau Sakti pula dengan kening berkerut.
Sementara semua orang masih terkesima dibuatnya, beberapa orang gadis itu sudah tiba di hadapan mereka, berlutut, dan mempersembahkan bakinya ke atas seraya berkata, "Silakan minum arak!"
Semenjak kemunculan beberapa orang gadis tadi, bau arak yang harum semerbak sudah memancar ke mana-mana. Apalagi setelah berada di hadapan mereka, baunya bertambah tebal. Kakek Bangau Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia segera mengambil cawan arak itu dan sekali teguk menghabiskan isinya, setelah itu baru teriaknya, "Ehmm... arak wangi! Arak wangi!"
Kakek Naga Sakti pun mengangkat cawannya dan menghabiskan isinya, lalu berkata sambil tertawa, "Sayang... sayang..."
"Betul, meskipun araknya wangi, sayang kekurangan sesuatu..." sambung Ku Tiok Lojin pula.