Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 64

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 64

Ternyata arak di dalam cawan itu berwarna hijau dan kental seperti lem, lagi pula baunya harum semerbak.

Sambil minum, Siong Hee Lojin berkata, "Arak ini sudah berusia tiga puluh tahun. Tak nyana hari ini kalian bisa berkunjung kemari, maka khusus kuhidangkan bagi kalian, hanya sayang persediaannya tidak banyak."

Sik Tiong Giok yang mendengar perkataan itu segera menyela, "Boanpwee belum pernah minum arak. Bila di antara locianpwee sekalian ada yang berminat, aku bersedia menghadiahkan arak ini."

Sambil menjilat ujung bibirnya, Ku Tiok Lojin segera berseru, "Pangeran cilik, kau harus menghadiahkan arak tersebut untukku."

"Tunggu dulu," cepat Kakek Bangau Sakti berseru, "siapa yang duluan, dialah yang berhak." Sebenarnya dia berada di sisi Kakek Naga Sakti, sementara berbicara tubuhnya sudah bergerak ke depan dan siap menyambar arak yang berada di hadapan Sik Tiong Giok.

"Hei itik liar, kau betul-betul kurang ajar!" dengan gugup Ku Tiok Lojin berseru.

Di tengah pembicaraan, tubuhnya menerjang pula ke depan. Siapa sangka, di saat kedua orang itu saling berebut, ternyata mereka telah menyambar tempat yang kosong karena cawan arak yang berada di baki itu sudah lenyap tak berbekas. Kedua orang itu menjadi tertegun, lalu saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan, Sik Tiong Giok serta dayang yang memegang baki itu pun dibuat tertegun sampai membelalakkan matanya.

Sebuah cawan arak yang sudah jelas berada di atas baki, dalam sekejap mata telah lenyap begitu saja. Bagaimana mungkin mereka tidak dibuat terkejut bercampur keheranan. Tiba-tiba terdengar Siong Hee Lojin berseru sambil tertawa terbahak-bahak, "Ilmu berjalan di dalam bumi memang luar biasa, terutama ilmu mencurinya sungguh menjagoi dunia persilatan. Hari ini sepasang mataku benar-benar sudah terbuka lebar."

Ketika mendengar perkataan itu, semua orang segera berpaling. Ternyata di hadapan Siong Hee Lojin telah berdiri seorang manusia cebol yang tingginya hanya tiga depa. Bentuknya persis bocah cilik, namun jenggotnya yang panjang telah memutih. Ia sedang mengawasi semua orang sambil tertawa. Yang muncul tak lain adalah kakek cebol "berjalan di bumi", Kongsun Swan. Rupanya dia menerobos keluar dari tanah untuk menyerobot cawan berisi arak tadi.

Sambil mendengus, Kakek Bangau Sakti segera berseru, "Hei tikus bumi, kedatanganmu sungguh amat kebetulan!"

"Aaah, ini namanya kalau lagi rezeki. Kalau dihitung-hitung, sih, bukan suatu kebetulan..." jawab si kakek cebol tertawa.

Baru saja dia mengangkat cawannya dan siap diteguk isinya, mendadak terdengar seseorang berseru pula sambil tertawa geli, "Kalau memang rezeki ditentukan oleh Thian, maka arak tersebut tidak boleh diberikan kepada si tikus bumi macam kau. Lebih baik buat aku saja."

Di tengah gelak tawa tersebut, saat si kakek cebol masih tertegun, cawan arak yang berada di tangannya sudah melayang ke udara. Kemudian, dari balik pintu muncul seorang manusia. Ternyata cawan arak itu sudah berpindah ke tangan orang tadi. Diiringi gelak tawa yang keras, dia sudah meneguk habis isi cawan tersebut. Ketika semua orang berpaling ke depan pintu, ternyata orang itu adalah seorang kakek berdandan Lam Khek Sian Ang. Ia berdiri di depan pintu dengan senyum dikulum.

Si cebol Kongsun Swan kontan saja mendelik besar-besar seraya berteriak keras, "Pek Soat Loji, kau benar-benar tak tahu malu!"

Ternyata kakek ini adalah loji dari Leng San Sam-yu, Pek Im Loji. Ketika mendengar teriakan dari si kakek cebol, dia segera tertawa tergelak sambil berseru, "Apa sih arti dari secawan arak? Kau si tikus bumi benar-benar berjiwa sempit."

"Hmm... berdasarkan perkataanmu itu, aku, Kongsun Swan, sudah tahu kalau kalian memang merasa berat hati untuk menyuguhkan arak. Jangan bilang orang pelit, bagaimana dengan kalian sendiri?"

"Oooh, kalau begitu kau si tikus bumi baru pertama kali kemari, itu mah gampang untuk dikerjakan. Biar lotoa kami yang menggotong guci arak tersebut kemari agar kau bisa minum sepuasnya." Siong Hee Lojin menyambung pula, "Arak Hu Leng Ciu yang wangi tadi sudah tidak ada persediaan lain, terpaksa aku hanya mempersembahkan arak lain saja."

Sementara pembicaraan berlangsung, dayang telah mempersiapkan meja perjamuan dan meletakkan hidangan. Tak lama kemudian, guci arak pun telah dipersiapkan. Maka semua orang pun mengambil tempat duduk, pelayan memenuhi cawan mereka dengan arak. Sekalipun arak yang dihidangkan tidak sekental tadi, namun harum juga baunya; jelas merupakan barang pilihan.

Sementara semua orang masih berpesta dengan riang gembira, tiba-tiba dari kejauhan sana terdengar seseorang berteriak keras, "Hei, kalau ingin pergi ke Ciu Wi Kiong, kita harus lewat mana?"

Semua orang segera menghentikan pestanya setelah mendengar seruan tersebut, namun Siong Hee Lojin masih tetap acuh tak acuh dan meneruskan minum arak. Si kakek cebol segera menggapai ke arah si kalajengking kecil, Siu Cing, dan membisikkan sesuatu ke sisi telinganya. Ketika mendengar bisikan itu, Siu Cing tak dapat menahan rasa gelinya sehingga tertawa cekikikan.

"Tikus bumi, kau sedang berbuat apa?" Kakek Bangau Sakti menegur sambil tertawa.

Kakek cebol tertawa pula, "Rahasiaku ini tak boleh disampaikan ke lubang telinga keenam, apalagi bukan urusanmu. Lebih baik minum arak saja."

Pek Im Loji segera menimbrung, "Aku tahu persoalan ini pasti bukan suatu persoalan yang baik. Coba lihat, sampai muridku pun kena dididik sampai rusak."

Siong Hee Lojin segera tertawa, "Aaaah, pokoknya yang pasti si tikus bumi hanya bisa mengeluarkan ide jahat. Siapa tahu kau pun lagi mengatur rencana untuk mempermainkan orang?"

"Untuk menghadapi kerbau kasar semacam ini, kurang cocok bila orang dewasa semacam kita yang pergi menghadapinya," kata si kakek cebol sambil tertawa, "maka lebih baik biar diusir oleh seorang bocah saja, dengan demikian tak akan mengganggu pula kegembiraan kita minum arak."

Siu Cing sebenarnya merasa gembira setelah memperoleh petunjuk kakek cebol, namun ia merasa takut juga setelah gurunya ikut berbicara. Buru-buru ia menyela, "Supek cebol, coba kau lihat apakah aku mampu?"

"Kalau cuma kau sih tak becus..." si kakek cebol melotot besar, "cuma bila si dayang setan pun berada di sini, dengan kerja sama kalian berdua, niscaya kerbau dungu itu akan dibuat kesal setengah mati..."

Menyinggung kembali soal dayang kecil, tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Sik Tiong Giok. Segera pikirnya, "Aaah, hampir saja aku lupa, sudah sekian lama berdiam di Istana Cui Wi Kiong, kenapa tidak kujumpai si dayang jelek Li Peng? Jangan-jangan dia tidak berada di sini...?"

Baru saja ingatan tersebut melintas, mendadak dari beranda depan terdengar seseorang berseru sambil tertawa cekikikan, "Gara-gara pulang terlambat, hampir saja aku kehilangan kesempatan yang begitu baik. Paman Guru Cebol, kali ini kau tak bisa mangkir lagi."

Ketika mendengar suara itu, si kakek cebol segera menyembunyikan diri ke belakang Siong Hee Lojin. Ketika Sik Tiong Giok mendongakkan kepalanya, dia saksikan orang tersebut adalah si gadis jelek Li Peng. Dengan keheranan, ia lantas berpikir, "Eeeh, benar-benar suatu kejadian aneh. Tak nyana nona ini sangat hebat, baru saja dia disinggung, orangnya telah muncul pula di depan mata."

Sementara itu, si gadis jelek Li Peng seperti walet telah meloncat masuk ke dalam ruangan dan langsung menerjang ke belakang tubuh Siong Hee Lojin sambil berteriak, "Paman Guru Cebol, kau tidak akan bisa menghindarkan diri sebagai seorang angkatan tua, mana kau akan mengingkari janjimu?"

Tiba-tiba Siong Hee Lojin membentak keras, "Anak Ping, mengapa kau begitu tak tahu sopan santun? Ayo cepat mengundurkan diri!"

Dengan membuka mulutnya lebar-lebar, terpaksa si gadis jelek Li Peng menghentikan langkahnya. Kemudian serunya merdu, "Siapa suruh Paman Guru Cebol mengingkari perkataan sendiri? Kalau ingin menyalahkan, dia orang tua yang mesti disalahkan."

Kakek cebol Kongsun Swan segera menongolkan kepalanya dari balik ketiak Siong Hee Lojin, setelah itu teriaknya pula, "Budak setan, kapan sih aku berjanji sesuatu kepadamu? Siapa yang telah mengingkari janji?"

"Hmmmm, macam begitu pun kau berani mengaku sebagai paman guru. Bicaranya tak bisa dipercayai, huuh, tak tahu malu." Sambil berkata, dia lantas membuat muka setan sambil mengejek.

Kakek Naga Sakti yang menyaksikan adegan ini segera berkata pula sambil tertawa, "Hei tikus bumi, sebetulnya kau sudah berjanji apa terhadap budak Ping...?"

Dengan cepat kakek cebol menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya, "Tidak, tidak, aku tidak menjanjikan apa pun. Aku hanya menyuruh dia melaksanakan sebuah tugas dan setelah itu dia pun datang minta upah kepadaku. Coba bayangkan saja, haruskah upahnya dibayar olehku? Padahal demi orang lain?"

"Siapa yang kau maksudkan bagi orang lain? Katakan dulu."

Tapi si gadis jelek Li Peng telah berteriak keras, "Tak bisa, aku hanya tahu mencari Paman Guru Cebol seorang. Bukankah kau yang mengurusku?"

Ku Tiok Lojin menimbrung pula sambil tertawa, "Tikus bumi, sebenarnya siapa sih yang kau maksudkan orang lain?"

"Dia, pangeran cilik itu," sahut kakek cebol sambil menunjuk ke arah Sik Tiong Giok.

"Aku...?" Sik Tiong Giok menjerit kaget.

"Kenapa? Apakah kau si bocah hendak mungkir?" seru kakek cebol sambil melotot.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment