Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 65

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 65

Sik Tiong Giok tertegun, lalu dengan cepat berkata, "Aku tidak bakal memungkiri, tetapi aku harus mengetahui terlebih dahulu persoalan macam apakah itu?"

"Baik, aku mau bertanya kepadamu. Ketika kau mengintip perempuan orang lain berlatih kepalan, kemudian tertangkap dan dikurung dalam peti, siapa yang menolongmu keluar?"

Wajah Sik Tiong Giok memerah. Ia segera bangkit berdiri dan memberi hormat kepada gadis jelek bernama Li Peng seraya berkata, "Ooh, rupanya Nona yang telah menolongku. Budi yang begini besarnya harus dibalas di kemudian hari. Sekarang, terimalah dulu rasa terima kasihku."

Gadis jelek Li Peng mengentak-entakkan kakinya berulang kali ke atas tanah, lalu berseru, "Siapa yang menolongmu? Aku hanya melaksanakan tugas dari Paman Guru Cebol untuk memancingmu datang ke Istana Cui Wi Kiong ini."

Sekali lagi Sik Tiong Giok tertegun, tapi dengan cepat ia memberi hormat kepada kakek cebol sambil berkata, "Kalau begitu, pasti Locianpwee yang menolongku."

Kakek cebol tertawa terbahak-bahak. "Haah... tepat sekali. Nah, anak muda, kau harus membayar upah ini."

"Tentu saja Boanpwee akan menuruti perintah. Entah apa yang diinginkan oleh Nona Ping?"

"Sebetulnya gampang sekali," sahut Kakek Cebol sambil tertawa tergelak. "Cukup asal kau memberikan seluruh tubuhmu kepadanya."

Begitu ucapan tersebut diutarakan, Sik Tiong Giok menjadi tersipu-sipu dengan wajah memerah, sebaliknya para jago yang lain tertawa terbahak-bahak.

Gadis jelek Li Peng berkelebat cepat ke hadapan Kakek Cebol dan mencengkeram lengannya sambil berseru, "Aku tak mau tahu, kau si Paman Cebol benar-benar bicara ngawur!"

Ketika lengannya dicengkeram oleh Li Peng, agaknya Kakek Cebol tahu kalau dia tidak akan berhasil kabur. Maka ia berkata, "Baiklah, akan kuajarkan Jurus Bayangan Setan Mencakar Sukma kepadamu, cuma..." Ia lantas membisikkan sesuatu ke telinga Li Peng yang disambut si nona dengan suara tawa cekikikan, "Paman Guru Cebol benar-benar mempunyai banyak tipu muslihat. Tak kusangka kalau kau bisa memperoleh cara semacam ini."

"Bukankah kau senang nakal?" Kakek Cebol berkata sambil tertawa. "Nah, kalau mau nakal, nakallah sejadinya. Kalau ingin muntah pun, muntahlah sejadinya."

"Baik, sekali lagi aku akan menuruti perkataan ini. Cuma kau tak boleh mungkir lagi," kata Li Peng sambil tertawa.

Setelah melirik sekejap ke arah Sik Tiong Giok, ia lantas menggapai ke arah Siu Cing sambil berkata lagi, "Siu Sute, kita harus segera berangkat. Hati-hati kalau orang lain sampai menyerbu kemari, bisa gawat jadinya."

"Aku masih khawatir kalau tak mampu mengungguli lawan. Bila sampai rugi, tidak sepadan dengan pengorbanannya..." ucap Siu Cing tertawa.

"Asal Paman Guru Cebol hadir di sini, dia pasti tak akan membuat kita rugi. Ayo berangkat!"

Pada saat itulah, orang yang berada di seberang Istana Cui Im Kiong sudah tak sabar menanti. Ia tidak tahu bagaimana caranya menyeberangi Jembatan Hay Thian Kiau dan sudah bersiap-siap untuk beranjak dari situ.

Ketika secara tiba-tiba menyaksikan sepasang muda-mudi muncul melewati awan, satu ingatan segera melintas di benaknya. Pikirnya, "Aaaah, mungkinkah si tua bangka itu telah menjadi dewasa sungguhan sehingga muridnya pun datang dengan menunggang awan? Jangan-jangan di bawah awan tersebut terdapat suatu rahasia."

Baru saja ingatan tersebut melintas, Li Peng dan Siu Cing telah muncul di atas daratan. Ketika diamati, ternyata mereka hanya bocah berusia belasan tahun. Yang lelaki berwajah tampan membawa gaya seperti bocah dewa, sebaliknya yang perempuan meski bertubuh indah, namun wajahnya benar-benar jelek.

Baru saja ia mengamati lawannya, Li Peng telah membentak nyaring, "Hei, siapakah kau? Berani amat mengusik ketenangan nirwana, emangnya kau sudah bosan hidup?"

Siu Cing dengan sorot mata yang saksama mengamati orang itu. Ternyata lawannya seorang lelaki yang berperawakan tinggi kekar, muka bulat, alis mata tebal, mulut lebar, dan mata besar. Tampangnya sedikit agak gagah dan perkasa.

Ketika mendengar perkataan itu, orang itu mengelus jenggotnya yang panjang dan menuding ke arah Li Peng. "Apakah kalian berdua adalah muridnya Siong Hee si tua bangka itu? Mengapa kalian baru muncul setelah aku berteriak sampai setengah harian? Kurang ajar betul..."

Li Peng tertawa dingin. "Sungguh aneh, kami menjadi murid siapa, apa sangkut pautnya dengan dirimu? Apakah kami mesti menengok keluar gara-gara mendengar gonggongan anjing saja?"

Meluap amarah orang itu setelah mendengar kata-kata yang bernada menghina tersebut. Setelah mendengus, ia ujar, "Apakah Ku Keng si tua bangka itu berdiam di sini? Ayo cepat suruh dia keluar! Katakan, aku si Tangan Darah Penggetar Langit, Lu Ma, telah berkunjung kemari. Sudah sepantasnya bila ia datang menyambut kedatanganku."

"Aduuuh, galaknya," kembali Li Peng mengejek sambil tertawa dingin. "Apa sih arti dari julukanmu itu? Tangan Darah Penggetar Langit... huuh, aku lihat otakmu rada miring. Mungkin saking pusingnya, sehingga mengucapkan kata-kata secara mengawur."

"Suci," sela Siu Cing pula, "mengapa aku belum pernah mendengar orang membicarakan tentang ini? Apakah di dalam dunia persilatan memang terdapat manusia dengan julukan tersebut?"

"Huuh, sesungguhnya dia memang bukan manusia, mana mungkin punya nama di dalam dunia persilatan?"

Tangan Darah Penggetar Langit, Lu Ma, betul-betul naik pitam. Serunya kemudian penuh amarah, "Dua setan busuk, kalian benar-benar bedebah! Coba kalian tidak kuingat usiamu masih muda dan tak tahu urusan, sekali kuayunkan tanganku, niscaya kalian akan kehilangan nyawa. Ayo cepat suruh Ku Keng si tua bangka itu datang menjumpaiku."

"Huuuh, rupanya mulutmu itu masih bisa juga membual besar. Kalau memang merasa punya ilmu, ayo keluarkan saja. Asalkan bisa mengungguli diriku berdua, sudah pasti ada orang dewasa yang akan memberi pelajaran kepadamu. Tapi bila tak ada keyakinan, lebih baik sipitkan ekor dan kabur saja."

Perlu diketahui, si Tangan Darah Penggetar Langit Lu Ma adalah jagoan yang punya nama besar di dalam golongan sesat. Kepandaian silatnya sama sekali tidak berada di bawah kemampuan Pat Huang Sin Mo, cuma wataknya berangasan dan paling tak tahan menghadapi hasutan orang lain. Ia bisa muncul di situ karena mendapat hasutan dari si Nikou siluman, Man Tou. Dalam anggapannya, ia sudah memiliki kepandaian silat yang tiada tandingannya di kolong langit, sehingga Sionghe Lojin pun tidak dianggap sebelah mata.

Di tengah bentakan tersebut, telapak tangannya segera diayunkan ke depan. Segulung angin serangan yang bercampur bau amis langsung menyambar tubuh kedua orang itu.

Siu Cing segera menjerit keras, "Suci, kepandaian silat apakah itu? Huuh, bau sekali!"

"Kepandaian apa, paling banter juga ilmu pukulan kencing anjing yang paling bau dan apek. Ayo cepat menyingkir..." Li Peng tertawa cekikikan. Sambil mengejek musuhnya, kedua orang itu kembali menyingkir ke samping dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

"Blaaamm...!"

Di mana angin pukulannya menyambar lewat, sebatang pohon yang amat besar segera terhajar sehingga patah menjadi dua dan roboh ke tanah. Namun, bayangan tubuh dari Li Peng maupun Siu Cing sama sekali tak terlihat, hal ini menunjukkan kalau serangannya mengenai sasaran yang kosong.

"Cepat benar gerakan tubuh kedua setan cilik ini..." Tangan Darah Penggetar Langit Lu Ma menjerit kaget.

Baru saja ia hendak memutar tubuhnya, tiba-tiba dari balik lautan awan muncul lagi seseorang. Ia adalah seorang bocah muda yang tampan dan gagah. Dengan senyum dikulum, terdengar pemuda itu berkata, "Tenaga yang Anda miliki benar-benar luar biasa, hanya sayang digunakan bukan pada tempatnya. Mending kalau digunakan menghadapi pohon dan kayu yang tak bernyawa, coba kalau dipakai untuk menghadapi manusia, percuma..."

Pada saat itu si Tangan Darah Penggetar Langit Lu Ma sedang dipengaruhi oleh amarah yang amat membara. Ketika mendengar perkataan tersebut, sepasang matanya segera melotot besar. Bentaknya keras-keras, "Jadi kau si bocah keparat yang kurang puas? Beranikah kau menyambut sebuah pukulanku?"

Baru saja perkataan itu selesai, mendadak dari atas pohon di belakang tubuhnya telah berkumandang suara seruan dari Li Peng, "Pangeran Cilik, tua bangka ini terlalu menggemaskan, kau sudah seharusnya memberi pelajaran yang setimpal kepadanya!"

"Betul," sambung Siu Cing, "lebih baik bunuh saja dirinya sampai mampus."

Pemuda yang baru saja muncul ini bukan lain adalah Pangeran Serigala Langit, Sik Tiong Giok. Tak disangkal lagi, kedatangannya pun atas permintaan dari Kakek Cebol, Kongsun Swan.

"Kalian tak usah khawatir," katanya sambil tersenyum, "aku pastikan tidak akan mengampuninya."

Pada dasarnya, si Tangan Darah Penggetar Langit Lu Ma adalah seorang manusia liar yang tak sudi tunduk kepada siapapun. Sudah barang tentu ia pun tidak akan tahan mendengar ejekan lawan. Sambil berteriak penuh amarah serunya, "Bocah keparat, kau jangan mengibul dulu! Mari, mari, coba kita lihat siapa yang akan memberi pelajaran kepada siapa."

Selesai berkata, tenaga dalamnya segera dihimpun dan ia mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah bacokan maut. Perlu diketahui, kepandaian silat yang diandalkan si Tangan Darah Penggetar Langit Lu Ma adalah Ilmu Pukulan Darah. Ini menunjukkan kalau ia memiliki kemampuan yang luar biasa di dalam permainan tangan kosong.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment