Chapter 66
Kepandaian silat yang dimiliki Pangeran Serigala Sik Tiong Giok bukan sembarangan. Selain telah mendapatkan tenaga dalam sebesar enam puluh tahun hasil latihan dari Kakek Serigala Langit, dia pun telah memperoleh petunjuk dari Siong He Lojin. Sudah barang tentu kemampuannya luar biasa.
Maka ketika melihat datangnya serangan lawan, dia segera menghimpun tenaga dalamnya di pusar dan menyambut serangan itu dengan kekerasan.
"Blaam!" Ketika sepasang telapak tangan saling bertemu, kepulan asap putih segera membumbung di angkasa.
Akibatnya, Sik Tiong Giok tergetar mundur sejauh dua langkah. Sebaliknya, Pukulan Darah Lu Ma pun terdorong sejauh dua langkah.
Si Pukulan Darah Penggetar Langit, Lu Ma, menjadi kaget bercampur tercengang. Segera terpikir olehnya, "Tidak kusangka lawan yang masih muda belia pun memiliki kemampuan hebat. Mengapa dia mampu menahan seranganku?" Dia tahu pukulan dari Sik Tiong Giok itu menggunakan teknik meminjam tenaga; semakin besar kekuatan lawan, maka dampak tenaga pantulannya juga semakin besar. Untung saja dalam gebrakan pertama hanya dipakai tenaga sebesar lima bagian, kalau tidak, niscaya kerugian lebih besar yang akan diterimanya.
Setelah tertegun beberapa saat, Lu Ma mengawasi lawannya sekali lagi. Tampak olehnya Sik Tiong Giok masih tetap berdiri tenang di tempat semula.
Kejadian tersebut segera mengobarkan amarahnya.
Setelah mendengus dingin, serunya, "Bocah keparat, beranikah kau menyambut pukulanku lagi?"
"Hmmm!" Sik Tiong Giok tertawa. "Berapa besar sih kemampuan yang kau miliki? Silakan saja pergunakan semua, aku tak keberatan."
"Baik!" Tangan Darah Penggetar Langit, Lu Ma, berteriak keras. Sepasang telapak tangannya segera didorong ke muka sejajar dada. Angin pukulannya menyambar lewat, terasa desingan dan gemuruh suara yang keras.
Sekali lagi Siu Cing berteriak keras, "Aduh baunya, pukulan kencing anjing..."
Sik Tiong Giok tak berani beralih. Tubuhnya berkelebat ke samping, lalu dengan teknik meminjam tenaga, dia menggunakan tenaga dorongan telapak tangan kanannya untuk menyongsong ancaman tersebut.
Ketika kedua gulungan angin pukulan saling bertemu, terjadilah angin puyuh yang amat keras. Namun, Sik Tiong Giok segera melontarkan pula telapak tangan kirinya ke depan. Angin serangan ini membuat hasil gabungan dari kedua gulungan angin pukulan itu berputar seperti gasing dan memental balik.
Menyaksikan kejadian ini, Lu Ma menjadi terkejut sekali. Dengan cepat dia memperkuat kuda-kudanya sambil mendorongkan telapak tangan ke depan. Angin pukulan yang menderu segera menerjang ke arah Sik Tiong Giok.
Tampaknya Sik Tiong Giok dibuat agak tegang juga. Sambil merendahkan bahu dan menekuk siku, dia menghimpun segenap tenaga dalamnya. Lalu, dengan wajah serius, telapak tangan kanannya ditarik kembali sementara tangan kirinya didorong ke depan. Dalam waktu singkat, terjadi deruan angin puyuh yang bergerak maju-mundur tiada menentu.
Li Peng, yang bersembunyi di atas pohon, merasa amat khawatir bila tenaga dalam yang dimiliki Sik Tiong Giok tidak memadai, sehingga lama-kelamaan dia pasti akan rugi sendiri. Maka setelah memberi tanda kepada Siu Cing, mereka berdua serentak turun tangan sambil membentak, "Lihat serangan!" Segulung jarum cemara segera mengurung tubuh Lu Ma, diiringi desingan angin serangan yang tajam.
Di dalam suatu pertarungan adu tenaga, memecah perhatian merupakan pantangan terbesar. Suara bentakan itu segera menggetarkan perasaannya; cepat-cepat dia menarik tenaga pelindung badannya dan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Pada saat itu pula, secara tiba-tiba Sik Tiong Giok membuyarkan tangan kirinya, kemudian menyusul perputaran lengan, telapak tangan kanannya didorong pula ke depan.
Dengan demikian, Lu Ma masuk perangkap. Dia tidak menyangka musuh bakal membuyarkan serangannya secara tiba-tiba. Dengan lenyapnya tenaga perlawanan tersebut, dia pun kehilangan keseimbangan. Apalagi berhubung dia menggunakan tenaganya kelewat kuat, untuk sesaat sulit baginya untuk menarik diri. Tubuhnya kontan saja terjerembap ke muka. Namun, dengan demikian dia terhindar pula dari serangan jarum cemara yang gencar itu.
"Huuh, sungguh berbahaya!" pekiknya di dalam hati.
Cepat-cepat dia mencoba menahan tubuhnya agar tidak sampai mencium tanah, namun tak disangka sama sekali pukulan tangan kanan Sik Tiong Giok telah menyusul. Saat angin pukulannya menyambar lewat, terdengar Lu Ma mendengus tertahan. Tubuhnya bagaikan bola yang bergulir, mencelat sejauh tiga atau empat kaki.
Kejadian ini segera disambut Siu Cing dan Li Peng dengan tempik sorak yang gegap gempita. Sambil bertepuk tangan, Siu Cing berseru, "Haaaahh... haaaahh... Pukulan Darah Penggetar Langit gagal menggetar langit, akibatnya kepala berguling, lalu berguling masuk ke dalam jamban!"
Merasakan kerugian yang amat besar ini, sekalipun ada keinginan untuk melanjutkan pertarungan, kekuatannya sudah tiada lagi. Maka sambil menenangkan perasaan, dia melotot sekejap ke arah ketiga lawannya, kemudian membalikkan badan dan kabur dari tempat tersebut.
Kembali Siu Cing berteriak sambil tertawa, "Hey, kalau jalan hati-hati sedikit! Bila sampai berjungkal dan bergulingan, jangan-jangan akan terguling lagi ke dalam lubang jamban."
Sebaliknya, Li Peng lebih mengutamakan keselamatan Sik Tiong Giok. Dia lari menghampiri pemuda tersebut. Namun, ketika tiba di hadapan Sik Tiong Giok, tiba-tiba saja nona itu tertegun. Ternyata Sik Tiong Giok masih berada dalam posisi semula: satu tangan melindungi dada, tangan yang lain didorong ke muka, dengan sepasang mata melotot besar mengawasi tempat kejauhan tanpa bergerak sedikit pun.
Siu Cing segera menghampiri pula. Dengan wajah tegang, dia bertanya, "Suci, mengapa dengan Pangeran Cilik?"
"Aku sendiri pun tidak tahu," jawab Li Peng sambil menggelengkan kepalanya.
"Si Pukulan Bau pun sudah dihajarnya sampai kabur, mengapa dia masih juga memasang gaya?" Siu Cing mengedipkan mata berulang kali. Mendadak ia mendapat akal, buru-buru ia berseru, "Suci, mari kita menggotongnya ke dalam!"
Li Peng mengangguk dan mereka berdua segera maju ke depan. Baru saja akan menggotong tubuh Sik Tiong Giok, mendadak terdengar seseorang membentak keras, "Tahan, kalian jangan menyentuhnya!"
Sesosok bayangan manusia segera muncul. Ternyata dia adalah kakek cebol, Kongsun Swan. Dihampirinya Sik Tiong Giok, lalu secara tiba-tiba dia menotok lima buah jalan darah penting di tubuh pemuda itu sebelum menghembuskan napas panjang.
Cepat-cepat Li Peng bertanya, "Paman Guru Cebol, mengapa... mengapa dengannya?"
Setelah menghela napas, si kakek cebol berkata, "Kesemuanya ini gara-garaku. Aku lupa kalau dia sudah terkena pukulan beracun Kiu Yu Tok Ciang dan tak boleh mempergunakan tenaga dalam lagi. Akibatnya, mungkin dia tidak akan mampu bertahan selama setengah tahun lagi. Tubuhnya akan membusuk dan akhirnya meninggal dunia."
Baru selesai perkataan tersebut diutarakan, Li Peng telah menjerit kaget, "Aduh, bagaimana baiknya sekarang? Paman Guru Cebol, kau harus mencarikan sebuah akal yang bagus."
Dengan cepat kakek cebol menggelengkan kepalanya berulang kali. "Apa pula yang dapat kulakukan? Sekalipun Hoa Sua menjelma kembalipun belum tentu dia sanggup mengobati luka beracun ini."
Li Peng menjadi gelisah sekali sehingga air matanya jatuh bercucuran. Segera katanya kemudian, "Tidak bisa! Kau yang telah mengutusnya agar bertarung melawan orang, dan sekarang dia terluka parah. Bagaimanapun juga kau harus bertanggung jawab."
Siu Cing yang berada di sisinya segera ikut menimbrung, "Paman Guru Cebol, apabila kau benar-benar tidak akan mengurusinya, maka mulai hari ini aku, Siu Cing, tak akan mengakui kau sebagai jagoan dari golongan lurus lagi. Mana ada pendekar yang berpeluk tangan saja membiarkan orang lain sekarat?"
Direcoki kedua orang itu, si kakek cebol benar-benar menjadi kewalahan. Akhirnya ia berkata, "Cara menolong sih ada saja, cuma terlalu sukar. Aku khawatir tidak gampang untuk dipraktikkan."
Mendengar masih ada cara lain, cepat-cepat Li Peng berkata lagi, "Su Siok memang selamanya begini. Kalau toh masih ada cara untuk menolongnya, mengapa tidak kau katakan sedari tadi?"
Kakek cebol tertawa getir. "Sekalipun aku katakan sedari tadi, kalau tak dapat dilaksanakan, bukankah sama saja tak berguna?"
"Coba kau utarakan, siapa tahu ada orang yang mampu melakukannya?"
"Kiu Yu Tok Ciang adalah ilmu pukulan andalan Pat Huang Sin Mo. Barang siapa terkena sapuannya, maka selain mendapat pil penawar racun bikinannya, tak seorang pun dapat menyembuhkan luka itu. Yang enteng satu tahun, yang parah setengah tahun kemudian tubuhnya akan membusuk sebelum akhirnya mati."
"Asalkan ada obat penawar racunnya saja sudah cukup, kita kan bisa pergi meminta kepada Pat Huang Sin Mo?" kata Siu Cing dengan kening berkerut.
"Pat Huang Sin Mo mempunyai dendam sakit hati sedalam lautan dengan kita. Apakah dia akan memberikan obat penawar racun tersebut kepada kita?"
"Jika dia tak mau kasih, kita rampas dengan kekerasan!" teriak bocah itu penuh bersemangat.
Mendengar perkataan tersebut, si kakek cebol segera tertawa terbahak-bahak. "Haaaahhh... benar-benar anak macan yang tak takut langit bumi! Bocah Siu, jangan lagi kau, biarpun ketiga sesepuh perguruanmu mau bersama pun belum tentu mampu menandingi kemampuan lawan..."
"Wah, kalau begitu apa daya..." Siu Cing segera merentangkan tangannya tanda menyerah.