Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 67

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 67

"Susiok," dengan kening berkerut Li Peng berseru lagi, "apakah sudah tiada cara yang lain lagi?"

"Cara sih masih ada, cuma harus menyerempet bahaya."

Mendadak Li Peng mengerutkan dahinya seraya berseru, "Bagi kita yang hidup di dalam dunia persilatan, bukankah setiap saat dan di mana pun kita sedang menyerempet bahaya? Asalkan kita bisa mendapatkan obat mustika untuk menolong orang, kenapa mesti takut untuk menyerempet bahaya?"

"Baik," kata kakek cebol kemudian sambil tertawa, "kalau memang kau memiliki keberanian tersebut, akan aku beritahukan cara untuk mengobati luka racun itu. Sebenarnya obatnya hanya empedu kelabang langit saja, apakah kau dapat memperolehnya?"

Setelah tertegun sejenak, Li Peng segera bertanya, "Siapa yang tahu kelabang langit itu berdiam di mana dan ke mana pula kita harus mencari?"

Kakek cebol menarik napas sejenak, lalu sahutnya, "Sekarang ada seekor kelabang langit yang akan memunculkan diri ke atas permukaan tanah. Beranikah kau untuk mencoba?"

"Di mana?" tanya Li Peng.

"Di bawah tebing Ci Im Gay, bukit Pay Lau San. Kau berani ke sana...?"

"Mengapa tidak? Cuma..."

"Cuma kau merasa berat hati untuk meninggalkan bapak gadunganmu, bukan?" tukas kakek cebol bayangan tanah sambil tertawa.

Li Peng segera melototkan matanya bulat-bulat seraya berseru, "Siapa bilang aku merasa berat hati? Tapi demi membalas dendam, mau tidak mau aku mesti bersabar, cuma ini pun merupakan usul dari guruku..."

"Jangan-jangan si Tua Ku telah memberitahukan asal-usulmu..." tanya si kakek cebol.

"Ehm, itulah sebabnya aku menjadi serba salah. Oh, Paman Guruku yang baik, dapatkah kau carikan jalan terbaik untukku?"

Kakek cebol termenung sejenak, kemudian ujarnya dengan suara dalam, "Baiklah, biar kupikirkan dulu. Sekarang kita kembalikan dulu si bocah muda ini." Sembari berkata, dia lantas membungkukkan badan, mengempit tubuh Sik Tiong Giok, lalu meluncur ke depan menyeberangi jembatan dalam lautan mega.

Li Peng dan Siu Cing saling berpandangan sekejap, kemudian mereka pun menyusul kembali ke Istana Ciu Wi Kiong. Waktu itu suasana dalam ruangan sudah sepi karena perjamuan telah bubar. Semua orang sedang duduk bersila sambil mengatur napas, tapi kemunculan si kakek cebol yang riuh seketika membangunkan kembali semua orang.

Melihat keadaan Sik Tiong Giok tersebut, Kakek Naga Langit merasa hatinya jadi kecut. Dia segera mendelik ke arah kakek cebol sambil berseru, "Hei, tikus tanah, semuanya gara-gara kau! Tahukah kau bahwa Tio Song hanya mempunyai seorang keturunan saja? Bila dia sampai terjadi sesuatu, akan kulihat bagaimanakah pertanggungjawabanmu terhadap sahabat-sahabat lain."

Kakek cebol segera tertawa. "Bagaimana kalau kau jangan gelisah dulu? Sekarang si Tua Ku berada di sini, aku tidak percaya kalau dia hanya berpeluk tangan saja membiarkan bocah ini menderita."

"Hei, bencana toh terjadi gara-gara ulahmu, masa kau melimpahkan tanggung jawabnya kepadaku?" seru Siong He Lojin sambil tertawa. "Wah, nampaknya aku terus mencampuri persoalan ini..."

Sambil berbicara, dia pun menghampiri pemuda tersebut. Menggunakan kesempatan itu, kakek cebol membebaskan jalan darah dari Sik Tiong Giok, namun si anak muda itu masih tak sadarkan diri. Dalam sekilas pandangan, Siong He Lojin dapat menyaksikan pula wajah murung yang meliputi wajah Li Peng. Satu ingatan segera melintas dalam benaknya, dengan suara dalam ia lantas berseru, "Ping Ji, cepat ambil semangkuk air bersih!"

Tak selang berapa saat kemudian Li Peng sudah muncul dengan membawa semangkuk air. Siong He Lojin segera mengeluarkan sebutir pil dan dicairkan dalam air, kemudian dengan gunting ia merobek pakaian pemuda tersebut. Tampaklah lengan kanan itu sudah membengkak sebesar dua inci lebih, warnanya merah kehitam-hitaman sehingga nampak amat mengerikan.

Sambil menghela napas, Siong He Lojin berkata, "Sungguh berbahaya, untung bocah ini memiliki dasar tenaga dalam yang cukup sempurna, kalau tidak mungkin sulit untuk dikatakan." Sambil berkata, dia mengambil lagi sebutir pil dan dijejalkan ke dalam mulut Sik Tiong Giok, lalu memerintahkan kepada Li Peng untuk memoleskan air bercampur obat tadi di atas lengan kanan Sik Tiong Giok yang membengkak itu.

Kurang lebih seperminum teh kemudian, bengkak yang mengerikan itu lambat laun semakin mengempis dan hilang. Baru saat itulah Siong He Lojin menghembuskan napas sambil berkata pelan, "Kehebatan racun pukulan Kiu Yu Tok Ciang benar-benar bukan hanya nama kosong belaka. Sekarang, kendatipun nyawanya sudah tidak terancam lagi, namun lengan kanannya masih menjadi tanda tanya besar. Syukur kalau masih bisa dipergunakan lagi, bila sampai cacat seumur hidup. Aai, manusia dengan bakat sebaik ini masa harus menerima kenyataan yang sepahit ini?"

"Hmm, kalau bukan gara-gara si tikus bumi yang memerintahkan kepadanya untuk menyambut musuh, tak mungkin dia akan mengalami seperti ini," seru Kakek Bangau Sakti cepat.

"Hei, itik liar, kau jangan bicara sembarangan!" bentak kakek cebol dengan cepat. "Sekalipun hari ini aku si cebol tidak menyuruhnya, tiga bulan kemudian racun dalam tubuhnya akan bekerja juga. Masa aku saja yang disalahkan?"

"Kami tidak menyalahkan dirimu," Kakek Naga Langit segera berkata, "kami hanya merasa sayang bila bocah dengan bakat sebaik ini harus menjadi cacat seumur hidup!"

"Tapi kita toh bukannya tak ada jalan untuk membuat tubuhnya tak sampai menjadi cacat..." kata kakek cebol sambil tertawa.

"Kau maksudkan pengobatan dengan kelabang langit?" sela Ku Tiok Lo In sambil tertawa.

"Betul, empedu Goan Wan dari kelabang langit merupakan benda mustika dunia persilatan. Bila benda mustika tersebut sampai terjatuh ke tangan si makhluk beracun, tak disangkal lagi dunia persilatan akan menjadi kacau balau tak karuan. Sebaliknya, bila diperoleh kaum sesat, maka ibarat harimau yang tumbuh sayap, sudah pasti dunia persilatan akan dicekam musibah yang paling besar."

"Maka dari itu kau ingin menyerempet bahaya untuk mengambil benda tersebut?" tanya Kakek Bangau Sakti.

"Sekalipun kami tak berani melakukannya, siapa yang berani menjamin kalau pihak kaum sesat tak bermaksud untuk memperoleh mustika itu? Bila benda tersebut sampai terjatuh ke tangan mereka, bukankah kita semua tak bisa hidup dengan tenang?"

Siong He Lojin segera manggut-manggut. "Ya, apa yang dikhawatirkan Saudara Kongsun (kakek cebol) memang benar. Aku pun sudah berpikir sampai ke situ, hanya saja pekerjaan tersebut bukan pekerjaan yang gampang."

"Kita tak boleh angkat tangan karena pekerjaan tersebut sulit. Bila benda itu sampai diperoleh kaum sesat, jangan lagi sulit bergerak, mau hidup pun bukan suatu pekerjaan yang mudah."

Siong He Lojin termenung beberapa saat lamanya, kemudian ia baru berkata, "Baiklah! Tapi kapan kelabang langit baru akan memunculkan diri?"

"Aku sudah memperhitungkan secara jelas, makhluk beracun itu sepantasnya menampakkan diri pada tengah hari Toan Yang."

"Itu berarti masih ada waktu selama tiga bulan. Kita masih sempat melakukan persiapan."

"Persoalan itu tak bisa ditunda lagi, lebih baik mulai sekarang kita lakukan persiapan agar sampai waktunya tak sampai kelabakan dibuatnya."

Siong He Lojin segera manggut-manggut, mereka baru berpisah setelah melakukan perundingan beberapa waktu.

Dalam pada itu, Sik Tiong Giok telah dibaringkan di sudut ruangan. Meskipun ia nampak seperti pingsan, padahal sejak tadi sudah mendusin kembali. Dalam hati kecilnya, dia sedang memikirkan satu persoalan. Pikirnya, "Gara-gara luka sekecil ini, berapa orang cianpwe itu sampai bersiap-siap menyerempet bahaya. Aah... aku tak boleh membiarkan mereka berbuat begitu."

Karenanya secara diam-diam ia mencoba untuk mengatur pernapasan. Segera dijumpai keadaannya sudah jauh membaik, sekalipun ada beberapa bagian jalan darahnya masih kurang lancar, namun garis besarnya tidak terlalu mengganggu. Karenanya dia segera berpikir kembali, "Aku yang terjatuh harus bangun sendiri, paling baik jika segala sesuatu dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Kalau toh mereka bisa mendatangi Pay Lau San, mengapa aku, Sik Tiong Giok, tidak dapat?"

Maka dari itu, setelah mengambil keputusan, dia pun meneruskan sandiwaranya berlagak belum sadar. Sampai para dayang menggotongnya masuk pesanggrahan dan membaringkannya di pembaringan, dia baru membuka matanya sambil diam-diam tertawa kecil.

Kemudian dia melompat turun dari pembaringan, mengenakan pakaian, dan membereskan semua buntalannya. Setelah melihat keadaan di sana tiada orang lain, tubuhnya langsung menerobos keluar lewat jendela dan meluncur ke arah selatan. Dengan menempuh perjalanan semalaman suntuk, keesokan harinya dia telah meninggalkan bukit Bok Cau San, tapi pemuda ini tak berani berhenti karena khawatir Siong He Lojin sekalian menyusul dirinya.

Setelah menempuh perjalanan seharian penuh, malamnya ia sudah sampai di Peng Kang. Ia tak berani menginap di dalam kota, dengan meneruskan perjalanan sejauh lima li ke selatan, akhirnya tibalah pemuda itu di sebuah dusun di tepi sungai. Waktu itu kentongan pertama baru saja menjelang, semua orang sudah terlelap tidur sehingga suasana di sekitar situ amat sepi.

Pada saat itulah mendadak dari kejauhan sana terdengar seseorang berteriak minta tolong. Tanpa terasa Sik Tiong Giok menjadi tertegun dan mengalihkan pandangan matanya memperhatikan sekejap ke sekeliling tempat itu. Namun suasana amat sepi dan tak kelihatan seorang manusia pun. Akhirnya pada jarak sepuluh kaki di depan sana ia menjumpai sebuah kuil kecil, dari arah situlah suara tersebut berkumandang datang.

Tanpa berpikir panjang lagi pemuda itu segera berlarian menuju ke arah kuil tersebut. Pintu kuil itu tertutup rapat, di atas pintu tergantung sebuah papan nama yang lamat-lamat terbaca olehnya tiga huruf besar yang berbunyi: 'Tay Hu Si'. Setelah berada di depan kuil itu, suara teriakan tadi kedengaran semakin jelas lagi. Ia mencoba untuk mendorong pintunya, namun pintu kuil terkunci rapat-rapat sehingga sukar dibuka. Saat itulah dia mendengar seseorang menjerit lengking.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment