Chapter 68
"Bajingan tengik, aku akan beradu jiwa dengan kalian!" Terdengar suara seorang lelaki yang tertawa tergelak dan berseru dengan kasar, "Mestika kecil, jangan adu jiwa. Toaya keberatan jika kau berbuat begitu. Ha... ha..."
Menyusul kemudian, terdengar suara lelaki lain berseru, "Lo Sam, kau tekan badannya di atas tanah. Akan kukerjai dia lebih dulu, kemudian baru giliranmu."
Lelaki pertama mendengus, "Hemm, Jiko, enak benar kalau bicara. Bocah perempuan ini hasil culikanku, masa kau yang akan mengerjai dirinya duluan? Lebih baik kau saja yang membantu aku untuk menekan tubuhnya; biar aku bekerja dulu, kemudian baru kau."
Dari semua pembicaraan itu, Sik Tiong Giok segera tahu apa yang telah terjadi. Dengan cepat, dia melompat masuk melewati pekarangan. Di ruang tengah, di bawah cahaya lentera yang terang benderang, tampak seorang lelaki berpakaian ringkas sedang menindih seorang nona. Pakaian luar nona itu sudah dilepas sehingga hanya tersisa pakaian dalam yang minim. Lelaki kasar tadi sedang berusaha mencopot celana dalam nona tersebut.
Sementara itu, seorang lelaki bercodet memegangi sepasang tangan sang nona sambil mencium pipi dan bibirnya. Ia tertawa seraya berkata, "Sayangku, Locu sudah mengembara ke seantero jagat. Sudah banyak perempuan yang kutiduri, namun belum pernah menjumpai perempuan secantik kau..."
Hampir pingsan nona itu saking marahnya. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha meronta dan melepaskan diri.
Sik Tiong Giok tak dapat membendung amarahnya. Ia membentak keras, "Bajingan keparat! Manusia bedebah, berani benar kalian mengganggu gadis! Serahkan nyawa anjingmu!"
Kedua lelaki kekar itu terkejut mendengar bentakan yang menggelegar, terutama saat usaha mereka hampir berhasil. Serentak mereka mendongakkan kepala. Namun, setelah mengetahui bahwa orang tersebut tak lebih dari seorang pemuda berusia enam belas atau tujuh belas tahun, rasa kaget itu seketika hilang. Mereka tidak memandang sebelah mata pun terhadap seorang pemuda ingusan.
Lelaki yang sedang berusaha mencopot celana dalam nona itu melepaskan pekerjaannya dan membentak dengan penuh amarah, "Bocah keparat, siapa suruh kau mencampuri urusan Toaya-mu? Huuh, kau sudah bosan hidup tampaknya?"
Sambil berkata, ia meloloskan senjatanya dan berseru kepada rekannya, "Jiko, kau jangan lepaskan nona itu. Biar kujagal dulu bajingan cilik ini sebelum bersenang-senang." Dengan gerakan cepat, ia melompat ke hadapan Sik Tiong Giok dan berteriak, "Bocah keparat, kau sendiri yang mencari mampus. Jangan salahkan kalau Hek-sam-ya-mu bertindak keji!" Sembari berkata, goloknya diayunkan, melepaskan bacokan kilat.
Sik Tiong Giok mengayunkan tangannya untuk menyambut ancaman tersebut dengan tangan kosong. Lelaki itu kaget dan berseru, "Hei, tidak kusangka kau bocah keparat pun seorang ahli ilmu silat!" Ia menarik kembali goloknya, membalikkan pergelangan tangan, lalu menusuk dada lawan secepat kilat.
Sik Tiong Giok sebenarnya telah terluka saat bertarung melawan si Pukulan Dardah Pengempur Langit. Oleh karena itu, ia tidak berani menggunakan tenaga dalamnya kelewat batas, sehingga untuk sementara ia tidak mampu berbuat banyak terhadap lelaki kekar itu.
Pada saat itulah, lelaki yang satunya berseru sambil tertawa terbahak-bahak, "Lo Sam, pertahankan dirimu baik-baik. Maaf, aku sudah tak kuat menahan diri lagi. Aku akan mendahuluimu meniduri nona ini!"
Lelaki yang sedang bertarung melawan Sik Tiong Giok berteriak, "Jiko, kau tak boleh curang! Ada rezeki kita nikmati bersama, ada bencana kita tanggulangi bersama. Bagaimana kalau kita nikmati nona cilik itu setelah menghabisi keparat ini?"
Namun, lelaki yang bernama Jiko itu tidak peduli. Secara brutal, ia kembali berusaha melepas celana dalam nona tersebut.
Sik Tiong Giok benar-benar geram. Ia memperketat serangannya, lalu menggunakan gerakan "Egosan Serigala" untuk menyelinap ke depan. Pada saat bersamaan, nona yang berada di atas tanah melawan sekuat tenaga.
"Breeet..." Akhirnya pakaian dalam nona itu robek dan terbuka sama sekali. Nona itu dalam keadaan bugil, membuat bagian tubuhnya yang paling rahasia terlihat jelas. Ia menjadi ketakutan dan merintih memilukan. Sebaliknya, lelaki itu tertawa keras, "Haa, haa, haa..."
Tiba-tiba gelak tawanya terhenti. Lelaki itu meronta dan kepalanya terjatuh di antara belahan paha sang nona. Lelaki yang bertarung melawan Sik Tiong Giok mengira rekannya sedang menjilati nona itu. Ia tertawa, "Jiko, kau jangan berbuat begitu. Masa kau tak tahu bagian itu baunya apek? Haa, haa, haa, tampaknya kau sudah keblinger saking kebeletnya."
Sik Tiong Giok merasa gelisah. Ia tidak lagi mempedulikan luka-lukanya dan melancarkan pukulan dahsyat. Angin pukulan yang bagaikan amukan puyuh itu menggulung lelaki lawannya. Lelaki itu hendak menjerit ketakutan, namun tubuhnya sudah keburu terpental menumbuk dinding belakang kuil.
"Blaaamm..." Dinding kuil jebol dan tubuh lelaki itu hancur tertimpa batu-batu dinding. Nyawanya pun melayang.
Sementara itu, si nona yang sempat tak sadar diri terbangun mendengar suara benturan keras. Melihat lelaki yang hendak memperkosanya berada di atasnya, ia melompat bangun, menunggangi punggung lelaki itu, dan menghajar kepalanya berulang kali.
Melihat tubuh nona yang bugil tanpa sehelai benang pun, wajah Sik Tiong Giok memerah. Ia tidak berani memandang lebih lama dan segera berpaling. Si nona terus memukul hingga ia merasa heran karena lawannya tidak lagi mengeluarkan suara. Ia memperhatikan lebih seksama dan mendapati lelaki itu sudah menjadi mayat, dengan darah bercucuran dari hidung dan mulut, serta sekeping hancuran genting tertancap di keningnya.
Ia tertegun lalu menjerit keras, "Aduh... tolong..." Ia melompat bangun dan menubruk ke sisi Sik Tiong Giok.
Ketika Sik Tiong Giok mendengar jeritan tersebut, ia membalikkan badan. Nona itu jatuh lemas ke dalam pelukannya. Sik Tiong Giok segera merentangkan tangan dan memeluknya erat. Ia merasakan tubuh yang halus dan lembut serta bau harum semerbak. Ketika ia menundukkan kepala, ia berseru tertahan karena menyadari tengah memeluk seorang gadis dalam keadaan polos.
Nona itu pun menyadari keadaannya. Ia tidak menjerit kaget, melainkan berjongkok di tanah sambil menangis tersedu-sedu. Sik Tiong Giok jadi gelagapan, tertegun tak tahu apa yang harus dilakukan.
Mendadak pemuda itu merasa heran, "Sungguh aneh, kenapa aku merasa begitu kenal dengan wajah nona ini?"
Sementara itu, sang nona berpikir, "Aneh, kenapa suara orang ini sangat kukenal? Siapakah dia?" Ia mengangkat kepala dan memperhatikan wajah lawan dari celah jari tangannya. Tiba-tiba gadis itu menjerit nyaring dan menyembunyikan diri ke belakang altar.
Sik Tiong Giok menjerit kaget, "Hei, hei, kenapa kau? Hei..." Bagaimanapun ia berteriak, gadis itu tidak menghiraukan. Akhirnya, dengan cemas pemuda itu mengejar ke depan.
Saat hampir mencapai sisi altar, nona itu berseru cemas, "Sik Tiong Giok, kau tak boleh mendekat kemari!"
Sik Tiong Giok terbelalak, "Sungguh aneh, dari mana dia bisa mengenali diriku?" Ia menghentikan langkah dan menegur, "Nona, siapakah kau?"
"Aku tidak akan menyebutkan namaku, tetapi aku rasa kau adalah Pangeran Serigala Sik Tiong Giok, betul bukan?" kata nona itu lembut.
"Benar, aku adalah Sik Tiong Giok, tapi siapa nona?"
"Apakah kau tak bisa menebaknya?" Sik Tiong Giok tertawa.