Chapter 69
"Aku merasa amat mengenal wajah Nona, tapi untuk sesaat tidak teringat olehku, dari mana aku bisa menebaknya?" Tiba-tiba nona itu memperlihatkan wajahnya dari balik altar, kemudian berkata, "Coba kau perhatikan wajahku lebih saksama, apakah masih belum mengenaliku?"
Setelah memperhatikan wajah nona itu dengan lebih saksama, tiba-tiba Sik Tiong Giok berseru keras, "Aaaaah, rupanya kau adalah Bun Un, kenapa kau sampai di sini?" Sambil berkata demikian, dia berjalan maju ke depan.
Mendadak Bun Un membentak lagi, "Berhenti, kau tidak boleh kemari!"
"Kenapa?" Sik Tiong Giok tertegun, "apakah di depan sana ada sesuatu yang berbahaya?"
"Sesuatu yang berbahaya sih tak ada, tapi kau tidak boleh mendekati aku."
"Aaai, kalian anak perempuan memang sangat aneh," gumam Sik Tiong Giok sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, "kalau toh tiada sesuatu yang berbahaya, apalagi yang kau takuti?"
"Kau tidak takut, aku takut sekali, Tolol!" bentak Bun Un segera.
Sik Tiong Giok segera terbungkam, dia tidak habis mengerti apa sebabnya nona itu menunjukkan sikap yang begitu aneh.
Selang beberapa saat kemudian, Bun Un baru berkata lagi, "Sik Tiong Giok, sebenarnya apa yang hendak kau lakukan di dalam Lembah To Bwee Kok di Bukit Kui Boen San?"
"Bukankah semenjak di Jeram Soh Liong Kian sudah kukatakan kepadamu, aku mendapat permintaan dari ayahmu untuk datang menolongmu?"
"Tapi kau toh tidak menolongku, justru aku sendiri yang kabur dari To Bwee Kok?"
"Tapi barusan aku toh sudah turun tangan membunuh kedua orang lelaki itu?"
"Sekalipun kau yang membunuh mereka, tapi menolong orang kan mesti menolong sampai selesai. Sekarang aku mau tahu apa yang hendak kau kerjakan?"
Sambil menghela napas, Sik Tiong Giok berkata, "Sekarang aku ada urusan hendak pergi ke Pau Lau San, bagaimana mungkin bisa mengantarmu ke Say Leng Sia? Sebentar, coba kupikirkan apakah ada cara lain yang lebih baik..."
Melihat si anak muda itu sama sekali tidak memahami maksud perkataannya, tanpa terasa Bun Un segera berseru, "Ah, kau memang tolol!" Satu ingatan segera melintas dalam benaknya, sambil tertawa Bun Un berseru, "Tentu saja, seandainya kau bisa menemukan kembali pakaianku."
"Apa kau bilang?" seru pemuda itu tercengang.
Bun Un termenung lagi sejenak, kemudian baru berkata, "Aku maksudkan pakaianku. Jika kau belum mengerti juga, jelas kau memang tolol."
Sekali lagi Sik Tiong Giok dibuat tertegun. Mendadak seperti memahami akan sesuatu, segera katanya sambil tertawa, "Aah, betul! Aku memang tolol, masa aku lupa kalau kau tidak mengenakan pakaian... ya... bagaimana kalau kuambil pakaian dari manusia-manusia laknat itu?"
"Kalau apa boleh buat, ya... sudahlah, tapi bersedia toh kau membantu untuk mengambilkan?"
Dengan perasaan serba salah, Sik Tiong Giok menggelengkan kepalanya berulang kali. Dengan cepat dia melepaskan pakaian yang dikenakan kedua sosok mayat itu dan segera dilemparkan ke arah Bun Un.
Tak selang berapa saat kemudian, Bun Un sudah selesai berpakaian dan dia segera muncul dari balik altar. Sik Tiong Giok segera mengamati nona itu dari atas sampai ke bawah. Meskipun wajahnya tetap sayu, namun pakaian yang dikenakan ternyata cukup serasi, sehingga tanpa terasa ia bertepuk tangan sambil tertawa tergelak.
Dengan gemas Bun Un mengerling sekejap ke arahnya kemudian berseru dengan manja, "Hmmm, dalam keadaan begini pun kamu masih bisa menertawakan aku. Sungguh membuat aku makin malu..." Ketika membayangkan persoalan yang memedihkan hati, tak terbendung lagi air matanya segera jatuh bercucuran.
Melihat itu, Sik Tiong Giok segera menghentikan tertawanya dan berkata dengan nada minta maaf, "Nona Bun, semuanya memang kesalahan aku, tidak seharusnya kutertawakan dirimu. Maaf..."
Dengan wajah masih basah oleh air mata, Bun Un mengerling sekejap ke arahnya, kemudian menghela napas panjang, "Aaaaii... masa aku akan menyalahkan dirimu? Andaikata kau tidak datang tepat pada saatnya, aku tentu sudah dinodai oleh kedua orang bajingan keparat itu, dan akibatnya aku tak akan bisa hidup lagi..."
"Aku pernah melihat ketangguhan ilmu silatmu, mengapa kau bisa terjatuh ke tangan manusia cecunguk macam mereka?" Tiba-tiba Sik Tiong Giok bertanya keheranan.
"Semenjak jalan darah Gwa Leng Hiat-ku ditotok oleh si Bayangan Setan Coa Toan, murid dari Pat Huang Sin Mo itu, segenap kemampuanku telah punah."
"Apakah kedua orang itu adalah murid Pat Huang Sin Mo juga?"
"Bukan!" Bun Un menggeleng, "Coa Toan telah dibunuh mereka dan mayatnya dibuang di kaki Bukit Beng Cau San. Mereka segera melarikan aku sampai di sini. Bila tidak bertemu dengan kau, entah bagaimana akibatnya. Dapatkah kau membebaskan jalan darahku yang tertotok?"
Sik Tiong Giok termenung sejenak, lalu katanya, "Walaupun aku banyak mengetahui cara membebaskan jalan darah yang tertotok dari berbagai aliran, namun sama sekali tidak mengerti tentang aliran silat dari iblis tersebut. Seandainya toa-supek-ku berada di sini, urusan tentu akan beres."
"Aaaah, kau masih mempunyai seorang toa-supek? Belum pernah kudengar tentang soal ini, siapakah dia?"
"Dia adalah Kakek Naga Langit..."
"Ooooh, Kakek Naga Langit... kalau begitu kau benar-benar adalah ahli waris dari Kakek Serigala?" seru Bun Un semakin tercengang.
Sik Tiong Giok tertawa, "Dia adalah ayah angkatku, kalau tidak, masa aku pun memakai nama marga Sik? Konon di masa lalu si Kakek Serigala banyak mempelajari ilmu silat dari berbagai aliran, apakah ilmu silat tersebut tidak diwariskan kepadamu?"
Setelah mendengar perkataan gadis tersebut, Sik Tiong Giok sekali lagi memutar otak untuk berpikir. Semua ilmu membebaskan totokan yang pernah dipelajari mulai diingat kembali dari awal, namun hasilnya kemudian tetap nihil.
Pada saat itulah, mendadak dari atas atap kuil itu kedengaran seseorang berseru dengan suara yang tua tapi nyaring, "Bocah muda, kegagahan Kakek Serigala di masa lampau hakikatnya dibuat buyar oleh perbuatanmu itu. Silakan berpikir terus, mau kulihat kau sudah belajar sampai di mana saja."
Sik Tiong Giok terkejut sekali setelah mendengar seruan itu, cepat-cepat dia membentak keras, "Siapa kau?"
"Aku!"
Dengan cepat Sik Tiong Giok menerobos keluar dari ruangan dan naik ke atap rumah. Tapi di situ hening dan tak tampak sesosok bayangan manusia pun. Segera bentaknya lagi, "Sobat, siapakah kau? Mengapa tidak segera menampakkan dirimu?"
Pihak lawan sama sekali tidak menjawab, tapi Bun Un yang berada dalam ruang kuil tiba-tiba mendengus tertawa. Satu ingatan segera melintas dalam benaknya, dengan cepat dia melompat turun. Namun, di situ pun tak tampak bayangan manusia. Nona Bun, tanpa terasa ia segera memekik, "Aduh celaka, aku sudah termakan oleh siasat memancing harimau turun gunung dari lawan sehingga nona terjatuh kembali ke mulut harimau. Jika kejadian ini sampai tersiar di tempat luaran, aku benar-benar membuat suhu jadi malu."
Pada saat itulah dari luar pintu kuil kedengaran lagi seseorang berseru sambil tertawa, "Huuuh, hanya mengandalkan sedikit kemampuan semacam itu pun masih ingin berkelana di dalam dunia persilatan..."
Tidak sampai lawan menyelesaikan kata-katanya, Sik Tiong Giok sudah menerobos keluar dari pintu, kemudian sambil merendahkan badannya, dia lepaskan sebuah pukulan dahsyat ke atas atap rumah.
"Blaaammm..." Diiringi suara benturan keras, tiang dan atap berguguran ke atas tanah dengan hebatnya. Namun, pukulan tersebut tidak berhasil menghantam musuhnya, bahkan bayangan pun tak tampak. Sik Tiong Giok baru terkejut; dia tahu sudah berjumpa dengan tokoh berilmu tinggi dari dunia persilatan.
Maka dia tak berani berayal lagi, cepat-cepat dia tarik kembali serangannya kemudian melompat ke tengah halaman dengan gerakan naga berkelebat. Sesudah memperhatikan sekejap sekitar tempat itu, dia melompat naik ke atap rumah. Di kejauhan sanalah dia saksikan sesosok bayangan manusia sedang menghilang di balik kegelapan.
Sambil mendengus, Sik Tiong Giok berseru dengan gemas, "Manusia durjana, kau berani mencari gara-gara dengan diriku..." Begitu ingatan tersebut melintas lewat, tubuhnya ikut pula melayang ke depan. Dalam keadaan begini, Sik Tiong Giok tidak ambil pusing lagi apakah dia boleh mengerahkan tenaga dalamnya atau tidak. Dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya, dia langsung meluncur ke depan dan melakukan pengejaran secara ketat.
Berbicara soal kepandaian yang dimiliki Sik Tiong Giok sekarang, boleh dibilang jarang sekali dijumpai dalam dunia persilatan, terutama ilmu lariannya yang boleh dibilang termasuk ilmu silat yang hebat sekali. Tidak sampai satu jam kemudian, bayangan manusia yang diikuti sedari tadi makin lama semakin mendekat. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu pun sungguh amat hebat; sekalipun harus membopong tubuh seseorang, ternyata dia masih sanggup bergerak dengan kecepatan luar biasa.
Dalam beberapa lompatan saja dia sudah tiba di tepi sungai, lalu berlarian menelusuri tepi sungai tersebut. Biarpun Sik Tiong Giok telah mengejar dengan sekuat tenaga, namun gerakan tubuh orang yang berlari di depan pun tak kalah cepatnya, jarak mereka masih tetap selisih sejauh enam tujuh kaki.
Dari kejauhan sana sudah nampak Tiang Lok Si, di luar dusun terdapat pula sebuah hutan lebar, ke situlah orang itu menelinapkan diri. Bagi umat persilatan berlaku satu pantangan, yaitu jangan mengejar musuh yang memasuki hutan. Tapi Sik Tiong Giok sedang dicekam oleh amarah yang membara; dia tak ambil pusing terhadap segala pantangan tersebut. Begitu sampai di luar hutan, tanpa membuang waktu lagi dia menerobos masuk ke dalam.
Tapi hutan itu sangat lebat sekali, tak sesosok bayangan manusia pun yang terlihat di situ. Sik Tiong Giok semakin tak berani berayal lagi, dengan cepat dia menerobos hutan itu hingga tiba di tepi sungai. Siapa tahu di situ pun sama sekali tidak ditemukan sesosok bayangan manusia. Karena itu, cepat-cepat si anak muda itu balik kembali ke tempat semula, kenyataannya di sana pun tidak ditemukan seorang manusia pun.