Chapter 70
Satu jam sudah lewat tanpa terasa, namun bayangan manusia yang dicari belum ditemukan juga. Akhirnya, dengan tubuh yang mulai lelah, ia berpikir, "Sekarang aku masih punya urusan penting lainnya untuk dikerjakan. Bodoh sekali aku ini, buat apa aku mesti berdiam diri terus di sini?" Begitu ingatan tersebut melintas, ia pun berpikir lebih jauh.
"Bukankah aku telah berjanji pada Ban Locianpwee untuk menyelamatkan putrinya? Mana mungkin aku harus membatalkan di tengah jalan? Harus kuletakkan ke mana wajahku nanti?" Pikir punya pikir, belum juga ia menemukan keputusan yang pasti; ia tidak tahu haruskah mengobati lukanya sendiri lebih dahulu atau menolong orang lain.
Pada saat itulah, mendadak terdengar seseorang membentak keras, "Lihat serangan!" Dengan perasaan terkejut, Sik Tiong Giok segera mendongakkan kepalanya. Tampak sebuah titik hitam meluncur datang dengan kecepatan luar biasa. Tergopoh-gopoh ia segera menyambar dan berusaha menangkap benda tersebut, namun dengan cepat pula ia melepaskan kembali genggamannya.
"Koookk..." Ternyata benda yang dilempar ke arahnya itu adalah seekor katak. Katak tersebut sudah mati karena terhimpit saat ia kaget tadi. Belum pernah Sik Tiong Giok dipermainkan orang seperti ini. Amarahnya segera berkobar, sambil menghimpun tenaga dalamnya, ia melepaskan sebuah serangan ke arah pohon besar sambil membentak, "Bila kau memang memiliki kepandaian, mengapa tidak segera menampakkan diri untuk bertarung?"
"Krraaaakk...!" Batang pohon itu segera tumbang menjadi dua bagian akibat terkena serangan tersebut. Terdengar orang itu kembali mengejek sambil tertawa dingin, "Bocah macam kau benar-benar tak berguna. Apa gunanya kau marah-marah besar? Tampaknya kau sudah bosan hidup..." Bersama dengan ucapan tersebut, tampak sesosok bayangan manusia meluncur masuk ke dalam hutan dengan kecepatan tinggi.
Sudah barang tentu Sik Tiong Giok tak mau melepaskan musuhnya begitu saja; ia segera melakukan pengejaran secara ketat. Bayangan manusia itu keluar dari hutan dan lari menyusuri sungai. Gerakan tubuhnya cepat sekali, dan sekejap kemudian sudah berada jauh. Sik Tiong Giok adalah seorang anak muda yang berdarah panas, tentu saja ia tak rela membiarkan lawannya kabur begitu saja. Tanpa memedulikan akibatnya nanti, ia segera mengerahkan segenap kemampuannya sambil mengejar dari belakang.
Saat ini fajar sudah menyingsing, kabut tebal menyelimuti tepi sungai membuat pemandangan terhalang. Ketika sudah mengejar sejauh lima li lebih, mendadak ia menyaksikan seseorang berdiri di tepi sungai. Tanpa melihat siapa orang itu, ia segera membentak keras, "Sobat, hendak ke mana kau? Ayoh, bertarung dulu sebanyak lima ratus gebrakan sebelum pergi! Coba lihat kemampuan siapa yang lebih hebat."
Ketika mendengar perkataan tersebut, orang itu segera membalikkan badan dan menegur sambil tertawa, "Hei, sejak kapan aku menyalahimu? Mengapa kau mengajak aku berkelahi?" Sik Tiong Giok segera mengawasi lawannya dengan lebih saksama, lalu ia berteriak kaget, "Hei, mengapa bisa kau?"
"Kau ini benar-benar manusia tak tahu diri," kembali orang itu mengomel, "aku toh sama sekali tidak mengganggumu, mengapa kau malah menantang aku berkelahi?" Sik Tiong Giok benar-benar terkejut, terutama setelah mendengar suara orang itu. Pikirnya, "Masa si gadis jelek Li Peng telah mengejar sampai di sini?" Berpikir sampai di situ, ia kembali mengawasi lawannya, namun dengan cepat pemuda itu menjerit kaget, "Hei, kenapa bisa kau, Nona Siau Hong?"
Orang ini memang tidak lain adalah Cu Siau Hong, yang cantik jelita bak bidadari. Ia mengerling sekejap ke arah Sik Tiong Giok, katanya dingin, "Kenapa kalau aku? Aku tahu kamu memang tidak suka denganku!"
"Tapi aku pun tak pernah membencimu!" kata Sik Tiong Giok sambil tersenyum.
"Lantas mengapa kau menyerangku begitu bersua? Untung saja aku dapat menghindar dengan cepat. Kalau sampai mati terkena pukulanmu, bukankah berabe?"
"Aku sedang mengejar seseorang, sungguh tak menyangka akan menjumpaimu di sini. Tapi... kenapa kau bisa sampai di sini?"
Cu Siau Hong mengerutkan dahinya seakan-akan khawatir air matanya jatuh berlinang. Katanya kemudian, "Aku datang mencarimu."
"Mencari aku? Ada urusan apa?" tanya Sik Tiong Giok keheranan.
"Ayah sudah tidak menginginkanku lagi. Aku pun tak punya sanak keluarga, terpaksa aku datang mencarimu."
"Tapi aku pun bukan sanak keluargamu, apa gunanya kau mencari aku? Apalagi saat ini pun aku masih ada urusan, tak mungkin aku dapat mengurusimu."
"Aku tidak membutuhkan perhatianmu, cukup asal kau mengizinkan aku selalu mengikutimu!"
Dengan cepat Sik Tiong Giok menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya, "Tidak bisa, aku masih ada urusan penting. Mustahil bagiku untuk mengajakmu pergi ke mana-mana."
"Kenapa... Jadi kau keberatan?" Cu Siau Hong mengerutkan dahinya.
"Aku benar-benar masih ada urusan." Mendadak Cu Siau Hong menarik mukanya dan berseru, "Baik, kalau begitu kembalikan pedangku! Dengan membawa pedang tersebut, Ayah tentu akan mencintaiku lagi." Sambil berkata, ia lantas menyodorkan tangannya ke depan, "Ya, sebenarnya kita memang bukan sanak keluarga. Masa pedang mustika pun dipinjamkan orang? Bila sudah selesai digunakan, kau harus mengembalikannya padaku, atau mungkin kau hendak menggelapkan pedang tersebut?"
Sik Tiong Giok tertegun dan berdiri termangu-mangu seperti patung. Sebagaimana diketahui, pedang yang diperolehnya dari tangan Cu Siau Hong itu sudah dirampas pula oleh selir kesayangan Pat Huang Sin Mo. Bayangkan saja, ke mana ia harus menemukan kembali pedang mustika itu? Melihat keadaan ini, Cu Siau Hong segera melotot, lalu berseru sambil mendengus dingin, "Aku tahu kau tak akan mampu menyerahkannya kembali kepadaku. Ayoh cepat katakan, kau telah memberikannya kepada siapa?"
"Maaf, pedangmu telah dirampas orang. Biarlah kucarikan sebilah pedang yang lebih baik lagi untuk mengganti pedangmu itu," kata Sik Tiong Giok sambil menghela napas.
"Bagus sekali," tiba-tiba Cu Siau Hong berteriak keras, "kau harus ganti dengan pedang yang lebih bagus. Bagaimana kalau tidak berhasil? Hmm, manis benar perkataanmu itu, tapi siapa tahu kau sedang membohongi aku?"
"Aku tak akan membohongi dirimu," cepat-cepat Sik Tiong Giok membantah, "sesungguhnya pedang itu sudah dirampas orang, apa yang bisa kulakukan sekarang?"
"Aku tidak percaya, siapa sih yang mampu merampas benda mustika dari tangan seorang Pangeran Serigala?"
Sik Tiong Giok segera tertawa getir. "Setiap manusia tentu ada saatnya teledor, demikian juga diriku. Siapa bilang aku tak pernah dipecundangi orang?"
"Aku tak peduli. Pokoknya jika kau tidak mengembalikan pedang tersebut kepadaku, aku akan mengikuti terus ke mana pun kau pergi." Dengan perasaan tak berdaya, Sik Tiong Giok menggelengkan kepalanya berulang kali. Katanya, "Nona, bagaimana kalau kau jangan memaksaku terus-menerus?"
"Siapa sih yang memaksamu?" teriak Cu Siau Hong semakin keras. "Wahai Pangeran Serigala, kau harus gunakan nuranimu untuk berbicara. Gara-gara kau merampas pedangku, Ayahku menjadi marah dan tidak menginginkanku lagi. Tolong tanya, siapa yang telah memaksa siapa?"
"Hei, mengapa sih kau berteriak-teriak?"
"Aku hendak memberitahukan semua orang di dunia ini agar mereka semua tahu kalau Pangeran Serigala pandai mempermainkan anak perempuan saja; dia bukan seorang pahlawan."
Sik Tiong Giok sama sekali tidak menyangka kalau Cu Siau Hong adalah seorang gadis yang sukar dihadapi. Ia tidak mengira nona yang tampaknya sangat mengenaskan sewaktu bertemu di Tebing Ki Cui Gan tempo hari, sekarang telah berubah menjadi manusia lain. Ia tidak mirip seperti Cu Siau Hong lagi, tapi lebih mirip si nona jelek Li Peng. Berpikir sampai di situ, tanpa terasa ia mengawasi kembali wajah nona tersebut dengan lebih saksama.
Merasakan dirinya diawasi dengan gusar, Cu Siau Hong segera berseru keras, "Hei, buat apa kau mengawasi diriku terus? Tidak ada jalan lain, kau harus mengembalikan pedangku jika kau menginginkan aku tidak mengikutimu. Tidak ada pedang, berarti aku harus mengikutimu."
"Baik, kalau mau ikut, silakan ikut. Akan kulihat berapa lama kau bisa mengikuti aku," ucap Sik Tiong Giok sambil menghela napas.
"Pokoknya selama kau belum bisa mengembalikan pedangku, aku akan mengikutimu terus sepanjang masa..."
Mendengar itu, Sik Tiong Giok segera tertawa kecil. Serunya, "Kalau sampai begitu, aku pasti akan menyiksa nona dan aku pun makin merasa bersalah padamu..."
Cu Siau Hong bukan gadis yang bodoh; tentu saja ia dapat mendengar arti di balik perkataan tersebut. Pipinya kontan saja berubah menjadi merah padam. Serunya dengan cepat, "Hei, apa yang kau bayangkan? Hati-hati, jangan sampai edan! Hmm, asal kau mengembalikan pedangku, siapa sih yang kemudian ingin mengikutimu terus?"
Sik Tiong Giok tersenyum dan tidak berdebat terus dengannya. Ia segera membalikkan badan dan berlalu dari situ. Tiba-tiba Cu Siau Hong berteriak lagi, "Hei, kau hendak pergi ke mana?"
"Buat apa kau menanyakan soal itu? Kalau memang mau ikut, silakan saja mengikuti aku terus-menerus."
Cu Siau Hong tersenyum misterius. Ia pun tidak berbicara lagi dan segera berjalan mengikuti di belakang Sik Tiong Giok. Tengah hari itu, Sik Tiong Giok kembali ke Kuil Tay Hu Si. Ketika masuk ke dalam ruangan, ia tidak menjumpai Bun Un. Maka, sambil menghentakkan kakinya dengan gemas, ia berseru, "Ke mana perginya budak itu?"
"Siapa? Aku toh mengikutimu terus?" tukas Cu Siau Hong.