Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 71

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 71

"Siapa yang mencari kau? Aku sedang mencari orang lain, Nona."

"Apakah nona itu sudah bersedia untuk kawin denganmu?"

Sik Tiong Giok kontan mendelik. Serunya, "Eeeh, kalau bicara jangan sembarangan! Siapa yang bersedia kawin denganku?"

"Lantas siapakah dia? Mengapa menarik perhatianmu?"

Sik Tiong Giok benar-benar dibuat mati kutu oleh perilaku nona ini. Terpaksa ia menceritakan pengalamannya secara ringkas. Setelah selesai mendengar kisah tersebut, Cu Siau Hong seperti baru memahami sesuatu. Ia segera berseru, "Ooooh... rupanya kau maksudkan Bun Ciang-cu yang berhasil lolos dari jeram Cong Liong Kian?"

"Dia bernama Bun Un, sedangkan ayahnya memanggilnya Ciang-cu. Maksudnya, nona itu adalah anak semata wayangnya, mengerti?"

"Aku tidak mengerti. Apa sangkut pautku dengan Ciang-cu? Aku duga dia tentu sudah kabur dengan orang lain."

"Mungkin seperti kau juga, mati-matian mengikuti di belakang orang..." seru Sik Tiong Giok sambil mendelik gusar. Sambil berkata, dia berjalan keluar dari tempat itu.

Tiba-tiba terdengar Cu Siau Hong membentak keras, "Berhenti, hei manusia she Sik! Kau harus berbicara sejelasnya. Aku mengikutimu bukan dikarenakan suatu maksud tertentu. Pokoknya asal kau mengembalikan pedangku itu, aku segera akan pergi. Siapa yang sudi mengikuti kau? Kau tak usah sok gaya."

Menghadapi seorang nona yang begitu binal, Sik Tiong Giok boleh dibilang sudah mati kutu dan sama sekali kehabisan akal. Terpaksa ia hanya menggelengkan kepala sambil menghela napas dan segera berlalu dari situ. Cu Siau Hong pun dengan senyum dikulum mengikuti di belakangnya.

Sepanjang perjalanan, mereka berdua tidak berkata apa-apa. Setelah keluar dari dusun Kang Sun, mereka berangkat ke selatan. Menjelang senja, mereka telah tiba di Ko Kiau dan menginap di sana. Keesokan harinya, mereka meneruskan perjalanan dengan melewati Tiang Sah.

Yang mengherankan adalah Cu Siau Hong. Di saat orang lain enggan mengajaknya pergi bersama, dia justru memaksakan kehendaknya untuk mengikuti orang. Namun, sekarang di saat orang lain sudah menyanggupi, dia justru pergi tanpa pamit. Begitu lewat kota Tiang Sah, dia pun ikut lenyap tak berbekas. Diam-diam Sik Tiong Giok merasa gembira sekali setelah menyaksikan kejadian tersebut. Khawatir jika gadis itu mengintilnya lagi, ia tidak berani berdiam di kota Tiang Sah.

Begitu meninggalkan kota, pemuda itu berganti menuju ke arah barat dan menempuh perjalanan semalam suntuk. Menjelang kentongan kedua malam itu, Sik Tiong Giok sudah tiba di bawah bukit Soat Hong San. Di sana, ia mulai menjumpai kesulitan. Di kaki bukit tersebut terdapat sebuah dusun kecil bernama Yan Si. Dusun itu sangat kecil sehingga boleh dibilang tidak terdapat sebuah rumah penginapan pun. Meskipun ada rumah gubuk, dalam waktu seperti ini tidak ada orang yang akan membukakan pintu baginya.

Apalagi ia tidak mengenal situasi di sana. Ke manakah ia harus mencari tempat untuk berteduh?

Sementara ia masih ragu-ragu, mendadak dari kejauhan berkumandang suara bentakan keras disusul seseorang menjerit kesakitan, lalu bergema suara benturan yang keras sekali. Sik Tiong Giok sangat terkejut mendengar semuanya itu. Cepat-cepat ia memburu ke sumber suara.

Di ujung dusun itu terdapat sebuah rumah yang amat pendek. Seorang pemuda berdiri di depan pintu dan sedang membentak ke arah ruangan, "Anjing tua, aku Han Seng bermaksud baik hendak membereskan jenazahmu agar nama besarmu dulu tidak sampai berakhir dengan keadaan yang mengenaskan..."

Ketika mendengar suara tersebut, Sik Tiong Giok segera mengamati pemuda itu dengan saksama. Ia merasa wajah orang ini seperti pernah dikenalnya, hanya saja untuk sesaat ia lupa untuk mengingat-ingatnya kembali.

Dalam pada itu, orang yang berada di balik rumah telah bergeser pula ke depan pintu. Di balik cahaya rembulan yang redup, terlihat jelas bahwa orang itu adalah seorang kakek yang berambut kusut. Sambil bersandar di depan pintu dengan mata tajam seperti binatang buas yang terluka, ia mengawasi Han Seng dengan mata melotot. Badannya basah oleh darah; tampaknya ia sedang diliputi oleh hawa amarah yang membara.

Terdengar Han Seng berkata lagi sambil tertawa senang, "Anjing tua, lebih baik berpikir lebih terbuka. Kau toh sudah terkena jarum Si Kut Ciam-ku dan tak mungkin bisa hidup lebih lama, mengapa tidak kau serahkan saja barang kesayanganmu itu agar aku pun bisa mengaturkan urusan akhirmu?"

Beberapa patah kata ini diutarakan olehnya dengan suara yang keras, nyaring, dan buas, membuat Sik Tiong Giok segera teringat kembali siapa gerangan orang itu. "Aaah, rupanya dia," pikirnya.

Mendadak kakek itu membentak keras, "Binatang keparat... kau ingin mampus!"

Di tengah bentakan tersebut, pergelangan tangannya segera diayunkan ke depan. Sekilas cahaya perak meluncur dari tangannya dan menyerang Han Seng. Ternyata Han Seng cukup licik; ia segera membungkukkan badan untuk menghindar. Cahaya perak itu menyambar lewat dari atas kepalanya. Sungguh keras tenaga sambitan tersebut, benda tadi meluncur lagi sejauh beberapa kaki sebelum akhirnya menancap di atas sebatang pohon besar. Ternyata benda itu adalah sebilah pisau belati.

Sik Tiong Giok yang menyaksikan kejadian tersebut diam-diam dibuat terkesiap. Ia berpikir, "Aaah, sungguh tidak kusangka kalau kakek tua ini memiliki tenaga yang begitu besar."

Dalam pada itu, Han Seng sudah tertawa terbahak-bahak sambil berseru keras, "Haaahh... haaahhh, anjing tua! Tidak kusangka kau masih memiliki tenaga yang cukup besar setelah terluka keracunan. Hanya sayang, sasaranmu masih meleset. Mana mungkin kau dapat menimpuk secara jitu?"

Belum habis ia berkata, mendadak kakek itu sudah menerobos keluar dari ruangan dan langsung menerjang ke arah Han Seng sambil membentak keras, "Biar tidak tertimpuk... coba kau lihat bacokanku ini!"

Menyaksikan hal tersebut, paras muka Han Seng segera berubah hebat. Dengan cepat, ia membalikkan badan dan segera melarikan diri terbirit-birit. Ketika kakek itu melayang sampai di tengah jalan, tiba-tiba saja tenaga dalam yang dimilikinya buyar. Badannya bergetar keras dan terjatuh ke atas tanah. Sepasang tangannya mencengkeram tiada hentinya. Tanah yang keras itu terkorek hingga muncul sebuah liang yang besar sekali. Dari sini dapat dilihat betapa gusar dan kalapnya ia. Namun, apa daya, ia sudah terluka akibat keracunan. Dalam keadaan demikian, tidak mungkin baginya untuk menyusul lelaki bernama Han Seng tersebut.

Sik Tiong Giok menjadi tidak tega setelah menyaksikan kejadian itu. Ia segera memunculkan diri dan berseru sambil mendehem, "Ehmmm... Lotiang..."

Mendengar teguran tersebut, si kakek segera mendongakkan kepalanya. Tampak sepasang matanya merah membara seperti darah. Tampangnya di samping menyeramkan, tampak juga mengenaskan. Dari keadaan kakek itu, tanpa terasa Sik Tiong Giok teringat kembali dengan keadaan ayah angkatnya, si Kakek Serigala. Diam-diam ia menghela napas dan segera maju dua langkah lagi ke depan.

Keadaan kakek tersebut terlihat semakin bertambah kalap. Tiba-tiba saja ia membentak keras, "Siapakah kau? Ayo pergi, jangan kau dekati diriku..."

Sambil berteriak, tangannya masih mencakar-cakar tanah dengan mata melotot besar penuh amarah. Keadaannya persis seperti seekor binatang buas yang terluka dan siap menerkam mangsanya.

"Lotiang, aku benar-benar datang untuk menolongmu, aku sama sekali tidak bermaksud mencelakai dirimu..." kata Sik Tiong Giok segera.

"Cuuh, menolongku?" Kakek tersebut segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram. "Haaahh... haaahh.. menolong apa?"

"Lotiang, kau jangan salah menilai orang," kembali Sik Tiong Giok membantah.

"Aku salah menilai?" kakek itu mendelik tiba-tiba. "Hmm, kau tak lebih sama seperti orang-orang itu, yang menjadi sasaranmu adalah benda yang berada di tanganku. Jangan harap bisa membohongi aku."

"Aku sama sekali tidak sudi dengan benda mustikamu itu, aku hanya berniat hendak menolongmu, harap kau percaya kepadaku." Sambil berkata, tubuhnya kembali maju selangkah ke depan.

Mendadak kakek itu meluruskan badannya, lalu sambil merentangkan sepasang cakarnya, ia membentak gusar, "Berhenti! Jika kau berani mendekat selangkah lagi, jangan lihat aku sudah terluka parah, aku tetap sanggup membereskan dirimu."

Sik Tiong Giok yang menyaksikan kejadian tersebut segera mengerutkan dahinya rapat-rapat. Dengan gusar ia berteriak, "Kalau kau tidak percaya kepadaku, ya sudahlah. Nampaknya niatku menjadi orang baik memang sukar terlaksana..."

"Orang baik?" kakek itu menyegak dengan marah. "Aku tidak percaya di kolong langit masih ada orang baik. Enyah, ayo cepat enyah dari sini!"

Setelah berulang kali dibentak-bentak kakek itu, Sik Tiong Giok menjadi mendongkol juga dibuatnya. Ia segera mendengus dingin, membalikkan badan, dan beranjak pergi dari situ.

Memandang bayangan punggung Sik Tiong Giok yang menjauh, mendadak kakek itu seperti merasakan sesuatu. Titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya. Mendadak ia berteriak keras, "Anak muda, kembali kau..."

Mendengar perkataan itu, Sik Tiong Giok menghentikan langkahnya seraya berpaling, tanyanya, "Apakah Lotiang percaya kepadaku?"

Kakek itu termenung sejenak, kemudian setelah menghela napas panjang, katanya, "Semoga saja aku bisa percaya kepadamu, namun akan kucoba nasib baikmu. Mari bimbing aku kembali ke dalam rumah."

Sekalipun Sik Tiong Giok gampang tersinggung, namun ia tak ingin melukai perasaan seorang kakek yang sudah terluka parah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia membimbing kakek itu masuk ke dalam rumah.

Rumah gubuk itu jelek sekali dan kotor; di sana tidak ada pembaringan. Di sudut ruangan hanya terdapat setumpuk jerami dan sebuah meja kecil dengan beberapa mangkuk pecah terletak di sisi jerami. Sedangkan di balik jerami tersebut, terdapat pula sebuah bungkusan berwarna kuning.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment