Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 72

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 72

Sementara itu, si kakek sudah duduk di atas tumpukan jerami sambil mengatur pernapasan. Selang sesaat kemudian, ia membuka kembali matanya dan mengawasi pemuda itu dengan sorot mata yang berkilat.

Kini hawa amarah yang semula menyelimuti wajahnya telah lenyap; sebagai gantinya, ia tampak tenang dan serius.

Akhirnya, pelan-pelan kakek itu bertanya, "Bocah muda, apakah kau pun belajar ilmu silat?" Sik Tiong Giok manggut-manggut.

"Apakah kau kenal denganku?" kakek itu bertanya lebih jauh.

Sik Tiong Giok segera menggeleng.

Maka kakek itu menghela napas panjang lalu berkata, "Sudah hampir sepuluh tahun lamanya aku diam di sini. Orang persilatan memang jarang sekali mengetahui tentang diriku. Siapa sangka sepuluh tahun kemudian ternyata ada begitu banyak orang yang datang mencariku."

"Apakah mereka mempunyai dendam atau sakit hati dengan Locianpwe?"

"Antara aku dengan mereka boleh dibilang sama sekali tak terikat dendam atau sakit hati apa pun, tapi gara-gara sebuah benda, mereka jadi kalap dan menganggap aku sebagai musuhnya."

"Benda mestika apa sih? Aku rasa benda tersebut tentu sangat berharga."

"Sekalipun benda itu tidak seberapa berharga, namun justru mempunyai hubungan dengan jaya atau tidaknya dunia persilatan." Mendengar ucapan tersebut, Sik Tiong Giok merasakan hatinya bergetar keras. Cepat-cepat dia bertanya, "Benda mestika apakah itu?"

"Apakah kau punya suatu maksud?" bentak kakek itu dengan wajah berubah.

Sik Tiong Giok segera tersenyum. "Haaah, aku hanya bertanya saja. Siapa sih yang kesudian dengan mestika-mu itu? Biar diberikan kepadaku pun belum tentu aku mau..."

Kakek itu segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Sik Tiong Giok dan mengawasi dengan saksama. Lalu, setelah menghela napas, katanya, "Aaaai, mungkin kau belum mengetahui betapa pentingnya benda tersebut. Bila terjatuh ke tangan orang jahat, niscaya dunia persilatan akan tertimpa musibah lagi. Untuk melindungi benda ini, aaaio... apa yang bisa kulakukan sekarang?"

"Parahkah luka yang kau derita itu?"

"Aku sudah terkena jarum beracun 'Si Kut Tok Ciam' dari Ji-seng Yau-coa (Siluman Ular Tujuh Bintang), An Kiau Nio. Racunnya sudah menyusup ke dalam tubuhku sehingga mati-hidupku boleh dibilang sudah ditetapkan akan berakhir. Aaai... bila aku belum mengatur segala sesuatunya sampai tuntas, bagaimana mungkin aku bisa mati dengan perasaan lega...?"

Setelah menghela napas panjang, nada suaranya semakin lama semakin pelan dan akhirnya tinggal suara gumaman belaka. Sik Tiong Giok yang menyaksikan keadaan tersebut menjadi semakin tak tega. Ia tak berani lagi menyinggung soal benda mestika tersebut, maka sambil menundukkan kepala, ia terbungkam dalam seribu bahasa.

Pada saat itulah, mendadak dari luar rumah terdengar seseorang berkata sambil tertawa merdu, "Tio Leng Kong, firman wasiat dalam kotak kemala itu tak boleh kau bawa pulang ke neraka. Bagaimanapun harus diwariskan kepada seseorang, bukan?"

Paras muka si kakek segera berubah. Tiba-tiba ia membentak keras, "Siapa di situ?"

"An Kiau Nio," jawab orang di luar sambil tertawa merdu, "sobat lamamu, bukan? Masa suara sobat lama pun sudah tidak kau kenal lagi?"

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, dari depan pintu muncul dua orang. Seorang adalah wanita cantik berbaju sederhana—mungkin ia adalah Siluman Ular Tujuh Bintang, An Kiau Nio—sedangkan yang lain adalah si tikus cecunguk, Han Seng.

Tio Leng Kong, atau si kakek itu, segera melototkan matanya bulat-bulat sambil membentak keras, "An Kiau Nio, kau masih berani datang menjumpaiku?"

Siluman Ular Tujuh Bintang, An Kiau Nio, kembali tertawa cekikikan. Katanya, "Sesungguhnya aku memang datang untuk menengok apakah kau sudah mampus atau belum, agar aku pun bisa membereskan mayatmu nanti."

"Hmm, terima kasih banyak atas maksud baikmu itu. Sayang sekali aku belum akan mampus dalam waktu singkat," dengus Tio Leng Kong.

Kembali An Kiau Nio tertawa. "Aku rasa kau pun sudah cukup lama hidup di dunia ini. Tapi bila kau memang punya rencana untuk hidup terus, kami pun punya beberapa syarat untuk dipertukarkan. Asal kau serahkan kotak kemala Ciok Hap Ciau tersebut kepadaku, aku pun akan memberi penawar racun untukmu. Coba, bagaimana pendapatmu tentang barter yang adil ini?"

Paras muka Tio Leng Kong berubah menjadi dingin menyeramkan. Sudah jelas ia merasa gusar sekali. Bentaknya kemudian, "Kau... kau... perempuan siluman!"

Sekali lagi An Kiau Nio tertawa terkekeh-kekeh. "Tio Leng Kong, apakah kau tak sudi meraih kehormatan dan sengaja mencari hukuman? Saat ini, asal nyonya muda ini mengayunkan telapak tangan, maka jangan harap kau bisa hidup lebih lama lagi. Asalkan kau sudah mampus pun, kotak mestika itu tetap akan terjatuh ke tanganku. Buat apa sih kau mesti berpikiran kolot?"

Pucat pias wajah Tio Leng Kong. Dengan napas tersengal-sengal katanya, "Kau... kau benar-benar berhati keji, aku lebih suka..." Dalam keadaan gusarnya, ia sampai berbicara dengan suara gemetar dan tak mampu melanjutkan kata-katanya.

An Kiau Nio tertawa dingin. Mendadak dia berkelebat ke muka dan mendekati Tio Leng Kong sampai sejauh empat depa darinya, kemudian serunya dengan dingin, "Bawa kemari atau tidak!" Sambil mengucapkan kata-kata tersebut, selangkah demi selangkah ia maju menghampiri Tio Leng Kong.

Sik Tiong Giok tak mampu menahan diri lagi. Ia menyelinap keluar dari balik kegelapan dan menghadang di hadapan An Kiau Nio sambil membentak ketus, "Keluar kau dari sini!"

Ketika melihat kehadiran seseorang dari balik kegelapan secara mendadak, An Kiau Nio segera mundur selangkah dengan perasaan terkejut. Namun, setelah mengerling sekejap dan mengetahui bahwa orang itu adalah seorang bocah cilik, dia segera tidak memandangnya dengan sebelah mata pun.

Kepada Tio Leng Kong kembali ia berseru dengan suara dingin, "Oooh, sungguh tak kusangka kau masih menyembunyikan tukang pukul di sini..." Sementara masih berbicara, mendadak ia mengayunkan telapak tangannya, melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke depan dada Sik Tiong Giok.

Pada saat itu pula tiba-tiba terdengar Han Seng menjerit kaget, "Aaah, rupanya kau bocah keparat!"

Mendengar seruan tersebut, cepat-cepat An Kiau Nio menarik kembali serangannya sambil mundur, lalu sambil mengerling ke arah Han Seng, tanyanya, "Siau Han, kau tahu siapakah orang ini?"

"Dia adalah orang yang menolong tua bangka Pui di Soat-lam dan menghadang Jian-nian Hiap..."

"Kau maksudkan dia adalah Pangeran Serigala?"

"Benar, dia adalah si bocah keparat yang disebut Pangeran Serigala itu."

An Kiau Nio segera berpaling dan memperhatikan sekejap wajah Sik Tiong Giok, kemudian ujarnya, "Sungguh tak kuduga kalau Pangeran Serigala adalah kau."

"Hmm, kalau benar kenapa? Kalau tidak benar, kenapa pula?" ejek Sik Tiong Giok dingin.

"Konon ilmu silat yang dimiliki Pangeran Serigala diperoleh dari didikan langsung Kakek Serigala, aku masih sedikit tidak percaya..."

Belum habis perkataan tersebut diutarakan, dari luar pintu terdengar seseorang menyambung, "Bagus sekali! Aku lagi heran mengapa tak dapat mengejarmu. Rupanya kau sedang berkelahi dengan orang di sini. Tidak bisa jadi, babak pertama ini mesti kau serahkan kepadaku!"

Bersamaan dengan ucapan tersebut, muncul seorang gadis berbaju hijau dari luar pintu. Namun, nona itu mempunyai raut muka yang jelek sekali sehingga tak sedap dipandang, membuat beberapa orang yang berada dalam ruangan itu sama-sama tertegun dibuatnya.

Sik Tiong Giok segera menjerit kaget, "Aaah, rupanya kau Nona Li. Kau pun sudah sampai di sini...?"

Ternyata dia adalah si gadis jelek, Li Peng. Setelah mengerling sekejap ke arah pemuda itu, katanya dingin, "Kenapa? Setelah kau minggat, apakah aku tak akan mampu untuk menyusulmu?" Sik Tiong Giok segera terbungkam dalam seribu bahasa.

Sebaliknya, An Kiau Nio menyela dari samping, "Hey, budak jelek, bukankah kau ingin berkelahi? Ayoh, silakan melancarkan serangan dengan segera."

Li Peng mencibirkan bibirnya yang lebar lagi tebal itu kemudian tertawa, "Bila aku sudah turun tangan, kau pasti akan mampus tanpa ampun lagi."

"Aaaah, sama sekali tidak kusangka budak jelek semacam kau pun bisa marah. Kalau memang punya kemampuan, ayoh dikeluarkan semua..." ejek An Kiau Nio sambil tertawa.

Sembari berkata, tiba-tiba saja ia melancarkan sebuah serangan mencengkeram tubuh Li Peng. Gadis jelek itu sama sekali tidak menampakkan perubahan mimik wajahnya; diiringi suara tertawa merdu, tahu-tahu saja ia sudah menyelinap ke samping.

Begitu serangannya mengenai sasaran yang kosong, An Kiau Nio segera membentak nyaring. Lengannya diputar kencang dan jurus serangan yang dilepas pun berubah arah, dari cengkeraman menjadi jotosan; jari tangannya segera disodok ke muka, menghantam dada Li Peng.

Menghadapi datangnya ancaman kali ini, ternyata Li Peng tidak berusaha untuk menghindar. Sambil memutar tangan, ia mendesak maju ke depan, lalu sambil merendahkan tubuhnya, ia menerobos keluar lewat bawah ketiak An Kiau Nio dengan jurus "Tikus Sawah Mencuri Buah".

Dalam sekejap mata itulah An Kiau Nio sudah merasakan keadaan yang tidak beres. Cepat-cepat dia mundur ke belakang, mengayunkan tangannya melepaskan sebuah bacokan. Namun, tindakan tersebut masih terlambat selangkah. Tahu-tahu...

Breet!

Celana yang dikenakan olehnya sudah tersambar oleh jari tangan Li Peng sehingga robek sepanjang dua depa lebih.

Li Peng segera tertawa cekikikan sambil berseru, "Waduh, kau nampak sangat menarik dalam keadaan begini, lagi pula lebih mempesonakan hati. Bagaimana kalau tukar dulu pakaianmu sebelum melanjutkan pertarungan ini?"

An Kiau Nio adalah seorang perempuan jalang yang sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Dia sama sekali tidak peduli terhadap kejadian itu; malahan tangannya segera merogoh ke dalam saku untuk mengambil segenggam jarum beracun "Penembus Tulang" kemudian diayunkan ke muka, melepaskan ancaman.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment