Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 73

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 73

Hujan jarum itu ditujukan ke arah Li Peng tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Jarum-jarum itu muncul bagaikan rombongan lebah. Dalam keadaan begini, sekalipun Li Peng memiliki kepandaian silat sepuluh kali lipat lebih hebat, rasanya sulit untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut.

Dalam situasi yang sangat kritis inilah mendadak terdengar Tio Leng Kong menjerit kaget, "Aduh, celaka!" Menyusul kemudian dari belakang sebatang pohon besar, bergema suara gelak tawa yang keras sekali, "Ha ha ha." Setelah gelak tawa itu, mendadak terasa segulung angin pukulan menyambar dan menghantam gumpalan jarum beracun penembus tulang tersebut hingga terpental ke empat penjuru.

Tampaknya Li Peng merasa tidak senang dengan kejadian tersebut. Ia berseru sambil mendengus, "Hmm, aku sudah tahu kalau si cebol tak akan bisa menahan diri. Siapa sih yang menyuruh kau turun tangan?" Bersamaan dengan perkataan tersebut, tiba-tiba dari balik pohon muncul seseorang. Ia adalah seorang kakek cebol yang bermuka jelek dan berbaju merah. Rambutnya disisir ke atas menjadi sebuah kepang, sehingga kelihatan seperti seorang bocah yang berusia tujuh atau delapan tahunan.

Terdengar kakek cebol itu tertawa tergelak kembali, kemudian sambil mendelik ke arah Li Peng ia menegur, "Budak, kau sudah salah sangka. Aku turun tangan bukan dikarenakan ingin menolongmu!" Tentu saja Li Peng tidak kenal dengan orang ini, maka ia hanya bisa tertegun dengan mata terbelalak setelah mendengar perkataan tersebut.

Sebaliknya, si siluman ular tujuh bintang, An Kiau Nio, segera menjerit kaget, "Ang Loya Cu, rupanya kau?"

"Benar, tidak nyana kau masih kenal dengan aku," ujar kakek cebol berwajah jelek itu dengan suara dingin.

"Apakah sepuluh tahun pantanganmu meninggalkan Hoa San sudah sampai pada waktunya untuk bebas?"

"Belum sampai waktunya," jawab An Kiau Nio dengan gugup, "tapi budak sedang melaksanakan perintah majikan yang tidak berani kubantah."

"Hmmm, karena itu kau telah terjun kembali ke dunia keramaian untuk berbuat kejahatan lagi?"

Melihat si kakek cebol yang kian marah, An Kiau Nio menjadi ketakutan setengah mati sehingga cepat-cepat menjatuhkan diri, berlutut ke atas tanah, dan merengek, "Budak benar-benar berbuat demi menolong majikanku saja. Sama sekali tidak terlintas dalam benak budak untuk melanggar larangan tersebut. Harap Loya Cu sudi memaafkan."

Kakek cebol itu tampak agak tertegun setelah menyaksikan kejadian itu, kemudian katanya lagi, "Apa yang sudah terjadi atas majikanmu sehingga kau melanggar pantangan dengan terjun kembali ke dalam dunia persilatan?"

"Majikan kami terkurung di dalam Gua Lui In Tong di Tebing Be Hwee Nia. Saban hari beliau harus menerima siksaan akibat disambar guntur yang menggelegar. Keadaannya sudah payah sekali, apakah budak harus berpeluk tangan belaka menyaksikan kejadian seperti ini?"

"Aah... masa ada kejadian seperti ini? Lantas di manakah letak kesulitannya?" kata kakek cebol itu dengan perasaan terkejut bercampur tercengang.

"Gui Lui In Tong itu dalamnya mencapai ratusan kaki di dalam perut bumi. Apabila kita tak berhasil membongkar bukit tersebut, maka jangan harap bisa menyelamatkan jiwa majikanku."

"Lantas apa maksudmu datang kemari untuk berkelahi dengan orang? Apakah dengan berbuat demikian maka kau akan memperoleh kemampuan untuk membelah bukit?"

"Aku datang kemari karena hendak meminjam suatu benda dari si tua bangka Tio Lai. Apabila berhasil, maka benda tersebut dapat kupakai untuk memohon seseorang agar bersedia menolong majikanku..."

"Siapakah orang yang kau maksudkan?"

"Di antara jago-jago yang terdapat di dalam dunia persilatan saat ini, rasanya hanya si kakek cebol berjalan dalam tanah, Kongsun Swan, seorang yang mampu menerobos masuk ke dalam lambung bukit. Hanya saja..."

"Benar, hanya saja si tua bangka itu sulit untuk dimintai pertolongannya, bukan?" kakek cebol itu manggut-manggut.

"Itulah sebabnya aku punya rencana untuk meminjam kotak mustika tersebut. Bila kuperoleh, tentu saja dia pun akan bersedia pula untuk membantuku."

"Apakah kotak mustika sudah kau peroleh?"

Sambil menghela napas, An Kiau Nio menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya, "Tio Leng Kong terlalu keras kepala..."

"Kalau begitu, biar aku saja yang berunding dengannya..." cepat-cepat kakek cebol itu berkata.

Belum habis ia berkata, mendadak dari kejauhan terdengar seseorang menukas, "Ia sedang menderita luka keracunan, jiwanya sudah amat kritis, soal apalagi yang hendak dirundingkan?"

Ketika kakek cebol mendongakkan kepalanya, ia melihat seorang pemuda berdiri di depan rumah bobrok tersebut, maka sambil mendengus dingin segera ia menegur, "Siapakah kau?"

"Pangeran Serigala, Sik Tiong Giok!" jawab pemuda itu dengan sorot mata berkilat.

Mendengar nama itu, si kakek cebol agak tertegun, lalu katanya lagi dingin, "Ooh, kau adalah Pangeran Serigala yang belum lama terjun dalam dunia persilatan. Apa hubunganmu dengan Kakek Serigala?"

"Kau tak usah menanyakan persoalan ini. Kalau tahu diri, ayo cepat tinggalkan tempat ini!" Kemudian sambil berpaling ke arah Li Peng, kembali ia berujar, "Nona Li, jangan kau biarkan siluman perempuan itu melarikan diri, kita harus meminta obat penawar racun darinya."

"Kau tak usah khawatir, dia tak bakal bisa kabur dari sini," sahut Li Peng sambil tertawa.

Kakek cebol itu pun tidak banyak berbicara lagi, ia segera berjalan menuju ke rumah bobrok tersebut. Baru saja ia tiba di depan pintu, mendadak Sik Tiong Giok melintangkan badannya menghalangi jalan orang itu sambil menegur keras-keras, "Apa yang hendak kau lakukan?"

"Aku hendak masuk ke dalam untuk melihat keadaan luka dari Tio Loji. Akan kulihat apakah lukanya separah yang kau katakan barusan."

"Tidak bisa, siapa tahu kalian mempunyai niat busuk di balik alasan tersebut. Hemm, jika ingin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melarikan kotak mustika Gio Hap Ih Ciau, hal ini tak akan berhasil kau lakukan secara gampang."

Kakek cebol itu segera mendengus penuh kegusaran, "Hemm, bocah keparat, kau berani memaksa aku untuk turun tangan?"

"Kau anggap aku takut kepadamu?" Belum habis ia berkata, tiba-tiba dari balik rumah bobrok itu berkumandang suara seseorang yang amat lirih, "Anak muda, apakah orang yang hendak menyerangmu seseorang yang berdandan seperti bocah nakal?"

"Tio Tua, kau masih ingat denganku? Betul, aku adalah bocah sakti iblis langit, Ang Cun. Bagaimana keadaanmu?"

Tio Leng Kong segera menghela napas panjang, lalu sahutnya, "Tubuhku sudah terluka oleh serangan jarum beracun penembus tulang yang dilepaskan An Kiau Nio, si perempuan busuk itu. Aku lihat jiwaku tak bisa bertahan sampai besok pagi."

Kakek cebol itu segera menjerit kaget, "Aaah, masa ada kejadian seperti ini? Kalau begitu aku harus menengok dulu keadaanmu."

"Tidak usah," tiba-tiba Tio Leng Kong tertawa seram, "aku telah bersumpah tak akan menjumpai dirimu lagi."

Agaknya ucapan tersebut segera membuat bocah sakti iblis langit, Ang Cun, menjadi tertegun, "Kau pernah bersumpah demikian, mengapa pula begitu?"

Tio Leng Kong tertawa dingin, "Hmm, aku dengar kau sudah menyerah kepada Yashu Khan dan sekarang menjadi pemimpin dari sepuluh pengawal berkuda. Aku, sebagai rakyat dari dinasti yang lewat, tak sudi tunduk dan bersahabat dengan pihak lawan. Buat apa pula aku mesti berjumpa muka denganmu?"

"Tio Tua," bocah sakti iblis langit, Ang Cun, segera menukas, "kau jangan berkata begitu. Setiap orang kan mempunyai pandangan yang berbeda, masa kau menuduhku berubah pikiran? Apalagi kita kan tak usah terlalu keras kepala dan ngotot terhadap suatu masalah?"

Pada saat itulah, mendadak dari belakang tubuhnya terdengar seseorang membentak keras, "Perempuan siluman, mau ke mana kau?"

Ternyata siluman ular tujuh bintang, An Kiau Nio, berusaha untuk kabur dengan memanfaatkan kesempatan itu, tapi usaha tersebut segera dihadang oleh Li Peng. Menyaksikan kejadian tersebut, ia segera mendengus dingin seraya berseru, "Budak, apa yang kau andalkan untuk menghambat kepergianku?"

"Jika kau tidak percaya kalau aku punya kemampuan, silakan saja dibuktikan sendiri." Sambil berkata, ia meloloskan pedangnya sambil menggetarkan tangan. Senjata tersebut dengan membawa desingan angin tajam langsung membacok ke muka.

An Kiau Nio yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi sangat terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka kalau lawannya, seorang bocah cilik berwajah jelek, ternyata memiliki tenaga dalam yang begitu sempurna. Dari ayunan pedangnya itu bisa diketahui kalau kepandaian silat yang dimiliki gadis tersebut bukan sembarangan. Dalam keadaan demikian, tentu saja ia tak berani bertindak gegabah. Cepat-cepat tubuhnya menghindar ke samping lalu menyembunyikan diri sejauh lima enam depa.

Menyusul kemudian, ia mendengus dingin dan mendesak maju ke depan. Sambil melakukan terkaman, senjata andalannya, "sapu tangan dupa hitam pembingung sukma"-nya, segera diayunkan ke depan.

Tio Leng Kong yang berada di dalam ruangan meskipun tidak dapat melihat keadaan di luar, namun ia dapat mendengar suasana pertarungan di luar rumah tersebut. Cepat-cepat ia berteriak keras, "Siapa yang sedang bertempur di luar? Hati-hati dengan sapu tangan pembingung sukma dari perempuan siluman itu!"

An Kiau Nio yang mendengar ucapan itu kontan saja mengumpat penuh kegusaran, "Anjing tua, kematian sudah di ambang pintu, siapa suruh kau masih ngebacot terus?"

Sebaliknya, Li Peng segera berkata sambil tertawa terkekeh-kekeh, "Empek tua, kau tak usah khawatir, orang dari Istana Cui Wi Kiong kebal terhadap segala macam racun."

Dalam pembicaraan tersebut, tangannya segera diputar kencang dengan jurus "putri naga mengibaskan baju". Pedangnya segera berubah menjadi tujuh delapan batang banyaknya dan melindungi seluruh badannya rapat-rapat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment