Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 74

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 74

Sementara itu, An Kiau Nio yang mendengar kata "Cui Wi Kiong" menjadi terkesiap. Otomatis gerakannya bertambah lamban, akibatnya ia kehilangan posisi yang menguntungkan dan tubuhnya segera terkurung oleh bayangan pedang lawan.

Sementara itu, bocah sakti Iblis Langit, Ang Cun, telah memandang dua orang yang bertarung itu sekejap, kemudian katanya kepada Sik Tiong Giok, "Bocah keparat, ayo minggir dari situ!"

"Kau tetap bersikeras hendak masuk?"

"Kecuali kau menghalangiku!"

"Boleh saja, cuma sebelum masuk ke dalam, kau mesti merobohkan aku lebih dulu." Bocah Sakti Iblis Langit segera mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak.

"Haah... haah... haah... bocah keparat, ingin kulihat sampai di manakah kepandaian silat yang berhasil kau latih itu." Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, ia segera meloloskan senjata kipas yang aneh bentuknya, kemudian sambil dikebaskan berulang kali, ia berkata, "Bocah keparat, ayo cabut keluar senjatamu."

"Hmmm, belum pernah aku membawa senjata bila sedang keluar rumah," jengek Sik Tiong Giok.

Bocah Sakti Iblis Langit segera mendengus dingin, "Hmmm, apakah kau berniat menghadapi serangan kipas iblisku ini dengan tangan kosong?"

"Selamanya aku belum pernah bertarung melawan orang dengan menggunakan senjata. Biarpun kuhadapi senjata kipas mautmu dengan tangan kosong, aku tak akan merasa dirugikan." Kembali Bocah Sakti Iblis Langit tertawa seram, "Haaah... haaah... haaah... bocah tekebur, silakan kau melancarkan serangan lebih dulu. Lagi pula aku adalah angkatan tua, sudah sepantasnya bila mengalah satu jurus untukmu."

"Hmmm, kau menyebut dirimu sebagai angkatan tua, mengapa sih pelit amat? Kalau tak mau mengalah ya tak usah mengalah, kalau mau mengalah, paling tidak harus mengalah beberapa jurus." Berbicara soal kemampuan, si Bocah Sakti Iblis Langit ini boleh dibilang termasuk jagoan kelas satu di dunia persilatan. Tenaga dalamnya tidak berada di bawah kemampuan Pat Huang Sin Mo. Selain itu, ilmu *Kun Goan It Khi Kang* yang dimilikinya terhitung satu ilmu sakti, sedangkan kipas mautnya memiliki jurus serangan yang luar biasa. Sudah barang tentu dia tak memandang sebelah mata pun terhadap seorang bocah ingusan.

Maka sambil tertawa terbahak-bahak ia berkata, "Mengingat kau masih muda dan tak tahu urusan, aku mengalah tiga jurus untukmu." Belum selesai ia berkata, Sik Tiong Giok sudah mengiakan dan mendesak ke muka sambil melancarkan sebuah pukulan dengan jurus "Menghancurkan Lembut Naga Sakti".

Serangan itu cepat dan tenaga yang terkandung sangat kuat. Melihat datangnya ancaman ini, Bocah Sakti Iblis Langit terkejut sekali. Cepat-cepat dia menghindarkan diri ke samping kiri, kemudian setelah maju ke depan, dia melompat mundur kembali sejauh tiga depa sambil berkata dengan tertawa, "Jurus pertama!"

Sik Tiong Giok segera menyerang kembali dengan jurus "Naga Muncul Mega Menutup". Serangan ini disertai dengan desingan angin pukulan yang amat kuat. Serangan ini benar-benar sangat dahsyat sehingga mendesak si Bocah Sakti Iblis Langit harus menghindar kian kemari dengan penuh kebingungan.

Melihat itu, pemuda kita balas berseru keras, "Inilah jurus keduaku!" Dalam bentakan itu, badannya kembali melompat ke tengah udara, siap menerjang kembali ke bawah.

Pada saat itulah dari balik rumah terdengar Tio Leng Kong berteriak keras, "Manusia bedebah, kau ingin mampus!" Menyusul kemudian terdengar lagi suara getaran yang keras sekali, disusul sesosok tubuh mencelat keluar dari atap rumah sambil menjerit kesakitan.

Empat orang yang sedang bertarung sama-sama tertegun oleh kejadian tersebut. Sik Tiong Giok segera membalikkan badan dan langsung menubruk masuk ke dalam rumah bobrok itu. Di bawah tiang rumah yang roboh berserakan, tampak tubuh Tio Leng Kong tergeletak bermandikan darah segar, sebilah pedang menancap di dadanya.

Dengan perasaan gelisah, Sik Tiong Giok berteriak, "Locianpwe... locianpwe... sadarlah..."

Sementara itu, si Bocah Sakti Iblis Langit, Ang Cun, telah melompat masuk pula sambil berseru, "Lo Tio... Tio tua..."

Pelan-pelan Tio Leng Kong membuka mata dan memandang sekejap ke arah Sik Tiong Giok dengan lemah, kemudian dengan napas tersengal katanya, "Kotak kemala itu... kotak... kotak kemala itu..."

"Kau maksudkan kotak kemala itu sudah direbut orang? Siapakah orang itu?"

"Dia... dia adalah manusia... manusia she Han."

Sementara itu, Li Peng ikut menerjang masuk pula ke dalam rumah gubuk. Ia menyaksikan sesosok mayat tergeletak kaku di balik semak di luar rumah, dadanya sudah hancur dan isi perutnya berhamburan keluar ke mana-mana. Maka ketika mendengar perkataan tersebut, cepat-cepat ia berkata, "Empek tua, orang she Han itu sudah mampus oleh pukulanmu itu."

"Kotak... kotak kemala itu..." napas Tio Leng Kong semakin tersengal-sengal.

Ketika mendengar ucapan itu, baru saja Sik Tiong Giok hendak melompat keluar, Bocah Sakti Iblis Langit sudah keburu melompat lebih dulu ke sisi mayat Han Seng. Hal ini kontan saja menggusarkan pemuda kita. Ia mendengus dingin, tapi tiba-tiba saja kakinya terasa ditarik orang. Ketika ia menunduk, tampak kakinya sedang ditarik oleh tangan Tio Leng Kong. Maka dengan keheranan tanyanya, "Locianpwe, kau..."

Sekulum senyuman penuh penderitaan tersungging di ujung bibir Tio Leng Kong. Selain itu, tangannya masih tetap memegangi kaki Sik Tiong Giok kencang-kencang. Satu ingatan segera melintas dalam benak Sik Tiong Giok. Sekali lagi ia menundukkan kepalanya, tampak di antara tumpukan jerami muncul seujung kain kuning. Cepat-cepat ia berseru lagi, "Lo..."

Belum habis ia berkata, mendadak dari luar rumah sudah kedengaran si Bocah Sakti Iblis Langit sedang membentak penuh kegusaran, "Budak sialan, kau ingin mampus?"

Ternyata di saat ia sedang melayang turun ke atas tanah tadi, mendadak dari balik semak muncul sesosok bayangan manusia yang menyambar jenazah Han Seng, kemudian secepat kilat pula melarikan diri dari situ. Menanti si Bocah Sakti Iblis Langit tiba di sana, bayangan manusia tadi sudah kabur sejauh dua kaki lebih dari posisi semula.

Bocah Sakti Iblis Langit bukan manusia sembarangan; dalam sekilas pandangan saja ia sudah melihat bahwa orang yang kabur dengan melarikan mayat Han Seng itu adalah siluman ular tujuh bintang, An Kiau Nio. Itulah sebabnya dia segera mendengus marah.

Justru pada saat itu pula Li Peng berteriak keras, "Siluman perempuan itu sudah melarikan kotak kemala..."

Akibat dari teriakan ini, si Bocah Sakti Iblis Langit menjadi semakin naik darah. Ia mendesis sinis lalu melakukan pengejaran yang amat ketat. Li Peng yang menyaksikan kejadian itu segera bersiap sedia pula untuk melakukan pengejaran, tapi Sik Tiong Giok segera menghalanginya sambil berseru, "Nona Li, biarkan saja mereka pergi, ayo cepat membantu aku..."

"Apa yang harus kubantu?" tanya Li Peng sambil melompat balik ke tempat semula.

"Mari, coba kau singkirkan tiang tersebut agar aku bisa membebaskan Tio Locianpwe dari himpitan tiang kayu."

Mereka berdua segera bekerja keras menyingkirkan kayu-kayu besar itu, tapi saat itu pula selembar jiwa Tio Leng Kong sudah melayang meninggalkan raganya. Sambil menghela napas, Li Peng berkata, "Sayang sekali kotak kemala itu sudah direbut orang. Apakah kita perlu untuk mengejar mereka dan merebutnya kembali?"

"Mungkin yang berhasil mereka rebut bukan yang asli. Jika dugaanku tak salah, kotak kemala tersebut masih berada di sini."

"Dari mana kau bisa tahu?" tanya Li Peng sambil mengerdipkan matanya berulang kali.

Sambil menyepak kain kuning di bawah kakinya, sahut Sik Tiong Giok, "Coba kau lihat, kain pembungkus kuning itu masih berada di sini..." Sambil berkata, ia segera menyingkirkan jerami dan mengeluarkan bungkusan kain kuning itu. Ketika dibuka, ternyata isinya adalah sebuah kotak kemala yang besar.

Mendadak Li Peng berseru keras, "Aii, coba lihat, mengapa di atas bungkus itu ada tulisannya?"

"Oooo, ditulis dengan darah."

Sik Tiong Giok segera membuka bungkusan kain kuning itu dan memeriksa tulisan tersebut. Ternyata tulisannya masih baru dan darah yang digunakan menulis pun masih kelihatan segar. Terbaca olehnya tulisan tersebut berbunyi demikian: "Kotak kemala Gio Hap Ih Ciau adalah benda kepercayaan yang diberikan kaisar yang lalu kepada Tiong Gi Si. Sayang nyawaku mesti melayang sehingga tak dapat mempertahankan benda ini lagi. Bila benda ini kebetulan terjatuh ke tangan orang budiman, tolong serahkan kepada Cho Hui Loni di Bukit Hoa San. Sebaliknya, kalau direbut orang jahat, dunia akan terancam bencana. Aku benar-benar sudah tak berkekuatan lagi..."

Selesai membaca tulisan itu, Li Peng segera mengerdipkan matanya berulang kali sambil berkata, "Berapa besar sih pentingnya benda ini? Mengapa mereka harus memperebutkannya?"

"Sudah jelas benda ini merupakan tanda kekuatan dari kelompok Tiong Gi Si. Dengan mengandalkan benda ini maka kita bisa memerintahkan partai besar untuk berbakti kepada kita. Sudah barang tentu penting sekali artinya."

"Apakah kita harus menghantar benda itu ke atas Bukit Hoa San...?"

"Kita telah mendapat titipan untuk berbuat demikian, tentu saja aku harus menghantar sampai ke tempat tujuan. Tapi sekarang... mana mungkin kita punya waktu?"

"Kalau begitu bawa saja di dalam saku."

"Tidak bisa," Sik Tiong Giok segera menggeleng, "membawanya di dalam saku sama artinya dengan mencari kesulitan buat diri sendiri. Akibatnya tentu tak terbayangkan sekarang."

"Lantas bagaimana baiknya?"

Sik Tiong Giok termenung sejenak, tiba-tiba serunya, "Aaah, aku punya akal..." Baru saja berkata sampai di situ, mendadak ucapannya tertelan kembali. Sambil mengawasi gadis di hadapannya, ia berseru agak tergagap, "Kau..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment