Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 76

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 76

"Kau tak usah ambil peduli mengapa aku bersikap demikian. Jika kau tahu diri, ayo cepat pergi meninggalkan tempat ini."

"Baik, aku segera pergi," seru Li Peng mendongkol.

Tampaknya nona ini merasa dirinya terhina. Tanpa melanjutkan kata-katanya, dia segera membalikkan badan dan berlalu dari situ.

Sik Tiong Giok mengawasi sampai bayangan tubuh nona itu lenyap dari pandangan, baru ia kembali ke rumah bobrok itu untuk mengubur jenazah Tio Leng Kong. Kemudian, dia memendam kotak kemala tadi ke dalam tanah. Setelah tidak menemukan jejak apa pun, dia membakar rumah gubuk tersebut baru pergi meninggalkan tempat itu.

Entah apa sebabnya, dia merasa menaruh kesan yang mendalam sekali terhadap Tio Leng Kong. Hal ini membuat perasaannya sangat berat, bahkan beberapa kali air matanya bercucuran.

Fajar telah menyingsing, sinar matahari memancar ke empat penjuru, dan kehidupan baru pun mulai berlangsung.

Hanya Sik Tiong Giok yang berjalan menyusuri jalan bukit dengan wajah murung dan sedih. Berulang kali ia menghela napas panjang sambil bergumam, "Aduh, mengapa aku hari ini? Hatiku begitu murung dan masgul." Karena murung, pemuda itu pun teringat akan arak. Pikirnya, "Sering aku dengar arak bisa melenyapkan kemurungan, mengapa aku tidak pergi meneguknya secawan?" Ia teringat akan arak karena tidak tahu sampai di manakah daya pengaruh alkohol terhadap tubuh, semangatnya segera bangkit kembali. Jika bisa, ia ingin segera memasuki rumah penjual arak dan minum sampai mabuk.

Tengah hari itu dia sudah memasuki Toa Kang Ko. Tempat ini merupakan sebuah bandar yang sangat ramai karena menjadi kota persimpangan antara jalan darat dengan jalan air; tidak heran kalau kotanya ramai sekali.

Di tepi sungai berdiri sebuah rumah makan yang memakai merek Hong Bok Loo. Rumah makan ini sangat termasyhur. Selain pelayanannya baik, hidangannya pun lezat. Tidak heran kalau banyak tamu yang bersantap di situ. Sik Tiong Giok langsung menuju ke rumah makan itu. Ketika akan melangkah masuk, terendus olehnya bau arak yang wangi. Pemuda itu tampak agak sangsi sejenak, namun kemudian meneruskan langkahnya naik ke loteng tingkat kedua, mencari tempat dekat jendela, dan segera memesan arak serta sayur.

Menanti hidangan datang, ia pun meneguk secawan arak dengan lahapnya sambil berpikir, "Oh... ehmm... ehmm... rupanya begini rasanya arak, getir lagi pedas." Perlu diketahui, baru pertama kali ini Sik Tiong Giok minum arak. Lagi pula, dalam tegukan pertama ia habiskan seisi cawannya kontan; mukanya berubah menjadi merah padam dan jantungnya berdebar keras.

Mendadak ia mendengar seseorang tertawa seram sambil berseru, "Haah... haaah... haaah... bocah kecil, akan kulihat kau hendak kabur ke mana!"

Menyusul kemudian terdengar seorang bocah menyahut dengan nada yang nyaring pula, "Buat apa kau mencampuri urusanku? Aku pun ingin minum arak!"

Tak lama kemudian terdengar orang naik ke atas loteng. Muncul dua orang, yang berjalan di muka adalah seorang bocah berusia sebelas atau dua belas tahunan, namun gayanya seperti orang dewasa. Dengan langkah lebar, dia naik ke ruang loteng.

Dalam sekilas pandangan saja, Sik Tiong Giok sudah mengenali dia sebagai si kalajengking kecil Siu Cing. Cepat-cepat ia menundukkan kepalanya dan pura-pura tidak melihat. Di belakang Siu Cing mengikuti tiga orang lelaki bertubuh kekar yang semuanya memancarkan hawa membunuh yang membara, namun seperti merasa jeri pula terhadap bocah itu.

Setelah naik ke atas loteng, mereka langsung mencari tempat duduk. Siu Cing yang menempati kursi utama langsung berkata kepada ketiga orang lelaki itu sambil tertawa, "Hari ini kalian bertiga mengundangku bersantap, tentunya tidak merasa penasaran, bukan?"

Ketiga orang lelaki itu segera mendengus dingin. Kemudian, salah seorang di antaranya membentak, "Setan cilik, kau tak usah keburu merasa bangga dulu. Coba saja kalau toaya sekalian tidak teledor, tak mungkin kami akan terpecundangi olehmu. Sekarang asalkan kau kembalikan barang milik toaya sekalian, apa gunanya mentraktir kau makan besar?"

Siu Cing segera tertawa terkekeh-kekeh, "Bukankah kalian anak murid Pat Huang Sin Mo? Aku hanya tahu kau bernama Si Kiu, semenjak kapan ganti nama menjadi Toaya?"

"Tak disangka matamu cukup tajam. Betul, toayamu memang bernama si Tangan Setan Si Kiu."

"Lantas setan apa lagi dengan kedua orang ini?" tanya Siu Cing sambil tertawa.

"Dia adalah sam tayyamu, si Cakar Setan Ui Kak. Sudah kau ingat baik-baik, setan cilik?"

"Kalau begitu, kalian bertiga ini adalah tayya? Wah, aku mesti pergi meninggalkan kalian kalau begitu. Selamat tinggal," seru Siu Cing sambil tertawa lagi. Sambil berkata, dia segera bangkit berdiri dan siap meninggalkan tempat tersebut.

Si Tangan Setan Si Kiu menjadi gelisah sekali. Dia segera menghalangi jalan perginya sambil membentak, "Setan cilik, kau hendak ke mana?"

"Berhubung di sini hadir tiga orang tayya, terpaksa aku mesti angkat kaki dari sini. Toh aku masih ada urusan lain, biarlah kuselesaikan dulu pekerjaanku sebelum datang menemui kalian lagi."

"Boleh saja kalau mau pergi," bentak Cakar Setan Ui Kak dengan marah, "tapi kau tinggalkan dulu barang kami, kalau tidak... hmmm!"

"Kenapa, ingin berkelahi? Jangan anggap aku takut kepada kalian. Cuma tempat ini bukan tempat untuk berkelahi. Kalau toh kalian bisa mengungguli diriku, belum tentu barang itu bisa diperoleh kembali."

"Hmm, bila kau tidak menyerahkan benda itu, lihat saja tayya akan membacokmu atau tidak?"

Siu Cing segera tertawa, "Sekalipun kalian akan mencincangku lalu menanaknya sampai matang dan diberikan kepada gembong iblis tua itu, belum tentu luka yang dideritanya dapat disembuhkan. Lebih baik tahulah diri; bila ingin mendapatkan kembali benda itu, kalian mesti mau menuruti pula perkataanku."

"Bocah keparat, apalagi yang kau kehendaki?" tanya si Mata Setan Khu Lim dengan gemas.

Siu Cing kembali tertawa terbahak-bahak. "Haah, haaah... haaah, itu mah gampang sekali. Biarlah aku menjadi toaya dan kalian menjadi pegawaiku. Asalkan kalian bersedia, urusan pun mudah dirundingkan lagi."

Mendengar perkataan tersebut, ketiga setan itu saling berpandangan sekejap. Mereka tahu bocah yang berada di hadapannya ini sukar dihadapi, terpaksa mereka menghela napas panjang.

"Baiklah," kata Tangan Setan Si Kiu kemudian, "kami akan mempersilakan kau untuk menjadi tayya sekali ini!"

"Nah, begitu baru cocok dengan seleraku. Ayo pesan sayur, setelah direcoki kalian sekian lama, aku mulai merasa lapar."

Dalam waktu singkat, sayur dan arak pun segera dihidangkan. Si kalajengking kecil Siu Cing memang kecil orangnya, banyak tipu muslihatnya. Setelah berhasil menundukkan ketiga murid Pat Huang Sin Mo ini, dia segera bersantap dengan lahapnya seakan-akan di situ tidak tampak orang lain. Sementara ketiga setan berdiri di belakang Siu Cing seperti pelayan saja. Tak heran kalau mereka melotot penuh rasa gusar bercampur mendongkol.

Kejadian tersebut dengan cepat memancing rasa heran dari semua tamu yang hadir dalam rumah makan itu. Mereka tak habis mengerti dengan cara apakah seorang bocah berusia sebelas atau dua belas tahun bisa menundukkan tiga orang lelaki bengis.

Pada saat itulah kembali terdengar suara langkah manusia menaiki anak tangga, lalu muncul tiga orang perempuan cantik yang memakai baju ringkas berwarna putih, merah, dan hijau dengan ikat kepala yang indah, serta pedang tersoren di punggung. Begitu melihat kemunculan ketiga orang itu, suasana dalam rumah makan itu segera menjadi kacau balau. Banyak di antara mereka yang segera membayar rekening dan meninggalkan tempat tersebut, sedangkan yang bernyali besar pun segera menyingkir ke sudut-sudut ruangan yang terpencil.

Ternyata ketiga orang itu adalah tiga walet di antara lima walet dari Telaga Tongting yang termasyhur namanya di dalam dunia persilatan. Mereka adalah si baju merah Cu Thian Yan, si baju hijau Bwee Soat Yan, dan si baju putih Liang Siang Yan.

Begitu sampai di atas loteng, dalam sekilas pandangan saja ketiga orang itu sudah melihat kehadiran ketiga setan dan kalajengking kecil Siu Cing. Liang Siang Yan segera tertawa terkekeh-kekeh sambil menegur, "Aduh, sejak kapan anak murid iblis tua sakti menjadi pegawai orang lain?"

Godaan tersebut kontan saja membuat paras muka ketiga setan itu berubah menjadi merah padam. Sambil tertawa jengah, si Tangan Setan Si Kiu segera berkata, "Harap Ngo Koh jangan menggoda. Hari ini kami tiga bersaudara benar-benar telah dipecundangi orang. Kami benar-benar dibuat mati kutu oleh ulah bocah keparat tersebut."

Mendengar perkataan mana, ketiga burung walet itu sama-sama dibuat tertegun dan segera memandang ke arah Siu Cing dengan mata melotot besar. Mereka sama sekali tidak mengira kalau seorang bocah cilik pun mampu menaklukkan tiga setan yang ganas. Kejadian ini benar-benar di luar dugaan mereka dan membuat ketiga orang perempuan itu menjadi tidak percaya.

Siu Cing pun seorang bocah yang aneh. Berada dalam keadaan demikian, ternyata ia sama sekali tidak jeri. Malahan setelah membuat muka setan terhadap ketiga walet itu, dia melanjutkan daharnya dengan amat lahap.

Setan perempuan berbaju hijau, Bwee Soat Yan, segera tertawa sambil berkata, "Benar-benar ombak belakang Sungai Yangtze mendorong ombak depan. Semangat tidak pernah membedakan usia. Tidak kusangka kau, si bocah cilik, pun sanggup menaklukkan anak murid dari PHSM."

Siu Cing segera tertawa cekikikan, "Ah, mana, mana? Untuk menghadapi beberapa setan mah bukan sesuatu yang luar biasa."

"Aku lihat kau tentu menggunakan akal muslihat. Kalau tidak dengan mengandalkan kepandaian silatmu itu, mustahil akan memberikan hasil yang bagus."

Sambil tertawa Siu Cing segera menggeleng, "Itu mah sukar untuk dikatakan. Seandainya benar-benar berkelahi, belum tentu aku tak becus."

"Setan cilik, kau tak usah terkebur dulu," tukas si Cakar Setan Ui Kak dengan gemas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment